Friday, July 31, 2009

Hidup adalah kesunyian hidup masing-masing


Ini adalah tulisan seorang teman waktu sama-sama di FORMACI.Saat ini Ia sedang mengambil kuliah hukum di universitas Melbourne Australia. semoga bisa menginspirasi.

Hidup adalah kesunyian nasib masing-masing, kawan! Siapa yang menyangka K pernah bercita-cita jadi artis sinetron? Siapa yang menyangka pula dia akan menginap beberapa tahun di hotel prodeo? Siapa yang menyangka seorang kawan yang selalu berprestasi, punya bakat yang hebat sebagai pemimpin, tiba-tiba jadi aktivis Jamaah Tablig? Siapa yang menyangka seorang kawan yang begitu jenaka, sedikit 'ngawur' tiba-tiba jadi ajengan? Dan banyak lagi cerita yang bisa anda tambahkan.

Siapa yang menyangka Hirata akan mendarat di Eropa, menyusuri gang-gang di Venice, menikmati senang dan menantangnya belajar di Sorbonne, sementara Lintang tetap mondar-mandir dengan truknya di Belitong mengangkut pasir. Seorang kawan dekatku harus tetap menghemat waktu tidur malam karena harus menjaga warung burjonya. Seorang kawanku yang lain sedang bergulat dengan arsip-arsip kuno di sudut kota Kairo. Aku sedang berdebar-debar menunggu anak pertamaku lahir dari sudut jalan Decarle. Seperti Hirata dan Lintang, dulu kami bersama-sama, belajar di sebuah tempat yang sama, dengan guru yang sama, di lingkungan yang sama. Namun nasib yang sunyi menyeretku ke mari, dan mereka ke sana. Ah.. hidup.

Qabil dan Habil lahir dari satu rahim yang sama, Hawa. Namun kenapa yang satu jadi mahluk setengah dewa sementara yang lain jadi durjana? Bawang Merah dan Bawang Putih adik kakak, dididik oleh orang tua yang sama, tapi kenapa mereka menjadi pribadi yang berbeda. Kenapa?

Hidup akan terus berlangsung. Mungkin K kelak justru jadi presiden dan aku pulang kampung jadi petani. Mungkin kawanku yang setiap malam begadang menjaga warungnya 20 tahun yang akan datang sudah menjadi bos kios selular (dia bilang akan buka usaha baru) atau jadi pengusaha sukses. Siapa tahu? Hidup mengalir ke arah yang tak terduga sebelumnya. Chairil Anwar menggambarkan semua ini dengan sebuah kalimat indah: hidup adalah kesunyain nasib masing-masing. Seorang kawan menambahkan: hidup adalah kesetiaan kita pada proses.

Kita boleh makan makanan yang sama, ngaji pada guru dan kyai yang sama, belajar menggunakan sylabus yang sama, bahkan lahir dari rahim yang sama, tapi kenapa setiap kita berbeda? Setiap kita akan menapaki jalan hening nasib. Langkah-langkah itu jarang sekali kita sadari. Namun kalau ada kawan yang sepuluh tahun tak bersua dengan kita, kita bisa melihat jejak keheningan nasib hidupnya. Juga jejak dari kesetiaannya pada usaha dan proses.

Aku jadi ingat Fromm, Erich Fromm. Dia seorang psikolog aliran psikoanalisa. Aku mengkajinya dulu di Fromaci. Samar-samar teorinya masih menempel di benakku. Kata dia, setiap kita, setiap manusia, adalah mahluk unik. Tak ada satupun wajah yang sama, tak ada satupun sidik jari yang serupa. Bahkan kepribadianpun tidak ada yang sepenuhnya identik. Kata dia, yang membuat semua ini terjadi adalah karena kita manusia ini adalah mahluk yang 'menjadi', 'to be'. Wahib dengan bagus menggambarkan bahwa dirinya bukanlah Wahib, dia adalah 'mewahib'. Jadi, anda bukan Koko, tapi 'mengkoko', 'mengjoko', 'mengumam', dan 'menzezen' (Uh sangat janggal dan aneh, apalagi membaca urutan nama yang terakhir!). Setiap kita, K, Udin, Zezen, dan anda adalah mahluk yang akan terus menjadi, 'becoming', berproses dan berubah. Berubah adalah esensi manusia. Tidak ada gambaran utuh K karena K akan senantiasa bermetamorfosa, berubah, menjadi.

Itu adalah hakikat dasar manusia. Sebelum anakku lahir, aku sama sekali tidak punya gambaran seperti apakah dia. Mungkin akan tergambar sedikit wajahnya: ia akan merupakan gabungan wajahku dan wajah istriku. Namun aku sama sekali tidak akan tahu siapa dia, siapa anakku, sampai dia lahir, berproses, satu persatu mengumpulkan kecakapan membangun ke-diriannya. Itulah yang membedakan antara anakku dengan kursi indah dari Jepara. Sebelum sebuah kursi 'lahir' ke dunia, si pengrajin sudah memperoleh gambaran dan pengetahuan utuh tentang kursi yang ingin 'dilahirkannya'. Kalau saya menulis kata 'botol' atau 'kuris' di benak anda pasti akan ada sebuah gambaran umum yang mana setiap kita pasti akan memeiliki kesamaan dalam menggambarkannya. Namun jika aku menulis 'Wahid' atau 'Firman' setiap kita pasti akan memiliki gambaran berdeda. Manusia adalah mahluk yang eksistensinya ada mendahului esensinya, sementara benda adalah mahluk yang mana esensinya ada sebelum menjelma dalam kenyataan.

Itulah kenapa hidup menjadi hening. Kita akan menapaki jalur kita masing-masing, dalam hening. Hakikat kita akan terus menjadi, 'becoming' karena kita bukan benda. Semoga semuanya akan berubah, menjadi ke arah yang lebih baik, bergerak ke pendulum kedewasaan dan kebijaksanaan. Berproses dalam damai. Peace...

Decarle, 28/07/09


Terimakasih Zezen. Semoga anakmu terlahir secerdas bapaknya dan menentramkan kedua orangtuanya :)