Suatu hari aku bertemu mantan pacar secara online. Pada saat yang bersamaan itu adalah momen tahun baru. Aku mengucapkan selamat tahun baru padanya disertai doa dan harapan untuknya. Diantaranya, semoga selalu sehat, panjang umur, dan menjadi diri sendiri. Harapan dan doa itu tentu saja tulus dari hati.
Respon darinya agak sinis –tentu saja itu persepsiku, dan mungkin bukan yang sesungguhnya—dan lucu. Katanya,” memang kalo bukan jadi diri sendiri mau jadi apa? Pujangga cinta?”.
Kenyataannya saya memang jarang mendengar atau hampir tidak pernah mendengar doa semacam itu. Tidak heran kalau reaksi teman saya itu demikian. Tapi buat saya itu sangat penting dan mendasar.
Pertama, semoga selalu sehat. Apa yang bisa kita lakukan untuk hidup kita seandainya kebutuhan ini tidak terpenuhi. Bisakah kita bekerja dengan optimal, berpikir dengan jernih, dan memberikan yang terbaik bagi diri kita apalagi bagi orang-orang yang kita cintai. Tentu saja tidak.
Kedua, panjang umur. Hingga detik ini, bagaimanapun situasinya, menjalani hidup ini bagiku gampang-gampang susah dan seru-seru aja. Rasa syukur atas anugerah yang tak terhingga yang hidup berikan buatku. Potensi atau asset diri yang banyak dan akses untuk mengenal dunia dan kehidupannya secara lebih luas. Di Dubai aku belajar ragam budaya dan bahasa. Belajar hidup mandiri. Belajar bersabar. Belajar lebih mengenal diri sendiri melalui orang lain. Dan buatku itu seru. Dulu, aku cenderung menghindari masalah-masalah hidup. Tapi semakin aku dewasa, justru masalah yang berat semakin tampak biasa saja. Hidup yang seru ini rasanya sayang untuk diabaikan.
Ketiga, menjadi diri sendiri. Ini yang sulit. Pernahkan kita mengalami keadaan dimana hati kecil kita bertentangan dengan apa yang kita kerjakan? Pernahkah kita merasa gengsi untuk meminta maaf padahal hati kecil kita mengatakan kita salah ? pernahkah kita merasa bukan diri kita? Saya pastikan. Bukan hanya pernah, tapi itulah kita.
Keadaan ini berlangsung akrab dalam keseharian dan hidup kita. Sejak kecil kita senantiasa digiring untuk melakukan hal-hal yang jadi standar orang dewasa. Sudah dewasa pun kita lagi-lagi digiring untuk mengikuti standar orang-orang kebanyakan. Orang-orang kebanyakan pun sebenarnya sedang digiring untuk mengikuti standar siapa yang paling mempunyai kekuasaan untuk menentukan standar. Standar penguasa negarakah, standar pemimpin agamakah, standar yang punya modal kah, dan lain-lain. Manusia dan kehidupannya semakin terseret jauh berputar-putar di dalam arus yang sama. Hingga kita tidak punya waktu untu lebih mengenal diri kita lebih dekat.
Mulailah luangkan waktu untuk mengenal diri kita lebih dekat. Saya percaya, dalam setiap diri kita ini ada pesan tuhan yang tersembunyi. Setiap diri kita ini adalah mahluk spiritual yang memiliki aspek-aspek ketuhanan di dalamnya. Hanya saja seringkali ego kita sebagai manusia yang tidak berani mengakuinya. Kita sering terlalu malas untuk merawat aspek kedirian itu. Terlalu angkuh untuk mengakui kekeliruan dan kelemahan diri, terlalu takut untuk ditolak karena berbeda, dan terlalu-terlalu yang lainnya.
Pernahkah kita sejenak merenung, bagaimana seandainya kita lahir bukan dari perut ibu kita. Atau kita dibesarkan bukan oleh orang tua kita. Atau kita terlahir bukan dari tanah air kita. Dan lain-lain. Tentu saja kita bukan akan menjadi kita yang sekarang. Itu sudah pasti. Tapi kenapa kita berasal dari ibu kita, besar dilingkungan itu. Sementara semakin dewasa kita semakin melihat keragaman dengan segala aspek rinciannya. Apa hikmahnya?
Seorang bijak pernah berkata, “ we live in a house of mirrors and think we are looking out of the windows “. Kita ini hidup di rumah kaca yang saling menjiplak satu sama lain. Tapi kita selalu berpikir bahwa kita lah yang paling tahu. Kita sering merasa yang paling benar. Padahal kita hanya meniru satu sama lain. Sadar tidak sadar. Suka tidak suka. Itulah kita.
Bebaskan diri kita dari kungkungan kewajiban-kewajiban yang tidak perlu. Kumpulkan keberanian untuk mengikuti kata hati. Tidak ada kata terlambat. Semua bisa dimulai kapanpun. Dari pada tidak sama sekali. Tidak menjadi diri kita maupun menjadi diri kita adalah persoalan memilih. Dan setiap pilihan tentu ada resikonya masing-masing. Lagi-lagi, pada saatnya nanti setiap kita akan kembali menjadi tanah dan tulang belulang.
Kita berasal dari tanah dan akan kembali ke tanah. Dibutuhkan kearifan untuk berani menjadi diri sendiri. Dan dibutuhkan proses yang lama untuk menemukan kearifan itu.
Selamat tahun baru 2010. Be your Self !!