
Sekitar beberapa tahun yang lalu saya menonton sebuah film tentang perselisihan antara muslim Pakistan dan hindu serta sikh India yang pada saat itu masih bersatu di bawah pemerintahan kolonialisme Inggris pada sepanjang abad 18 hingga pertengahan abad 19. Pada puncaknya kedua kelompok agama ini dipisahkan untuk menempati wilayah yang berbeda. Kelompok muslim yang berada di India terpaksa harus bermigrasi ke wilayah Pakistan. Sementra kelompok sikh dan hindu yang berada di Pakistan juga terpaksa harus bermigrasi ke wilayah India.
Sebuah film yang digarap apik dimana aktor berdarah India Yahudi, yang juga memenangkan penghargaan atas perannya ini, Ben Kingsley terlibat di dalamnya. Ia berperan sebagai Mahatma Gandhi salah satu tokoh kunci yang mewakili agama hindu dan sikh.
Pada dasarnya Gandhi tidak menyetujui pemisahan ini. Pengungsian massal ini di pandangnya terlalu membawa resiko yang sangat mahal. Bukan hanya materil tapi juga tidak menjamin kedua kelompok yang berselisih ini akan berdamai dan persoalan ketegangan keduanya pun akan selesai begitu saja. Namun usaha-usaha diplomasi yang dilakukannya pun tidak membawa hasil sebagaimana impiannya atas India yang mayoritas berpenduduk Hindu dan Sikh bisa berdampingan dengan Pakistan yang mayoritas muslim. Secara sendirian Ia berhadapan dengan sejumlah tokoh penting terutama dari kelompok muslim Pakistan yang menghendaki pemisahan wilayah India dengan Pakistan diantaranya Muhammad Ali Jinnah dan Jawaharlal Nehru atas Hindu dan Sikh. Gagasan Gandhi mengenai integrasi ini membawa kematian pada akhirnya. Ia tewas ditangan ekstemis hindu yang menganggap Gandhi telah menodai keyakinan agamanya.
Hari ini sejak lebih dari dua tahun saya tinggal di negara yang banyak dari jumlah penduduknya berasal dari kedua negara tesebut; India dan Pakistan. Saya pun sempat merasakan tinggal dalam satu kamar bersama perwakilan dari kedua negara tersebut selama lebih dari setahun. Amu yang berasal dari India dan Shazia yang berasal dari Pakistan. Kedua temanku ini lahir dari generasi yang tidak merasakan secara langsung getirnya kehilangan tanah air, keluarga dan harta karena perang agama yang terjadi pada beberapa dekade silam. Selain itu mereka berasal dari keluarga mapan dan terdidik. Sehingga sentimen sentimen kebencian yang masih tersisa hingga saat ini tidak dirasakan oleh kedua temanku ini. Lain halnya bila mereka berasal dari keluarga serba kekurangan. Di luar sana bukan berarti kebencian dan sinisme diantara kedua bangsa ini pupus. Sebab ketengangan ini tidak bisa dilepaskan dari sejarah pahit masa silam maupun ketidak adilan baik secara ekonomi, sosial dan politik yang dialami kedua bangsa hingga saat ini.
Sehari-hari saya berbaur dengan warga India dan Pakistan selain dengan warga Arab dan Filipina. Kadangkala hal-hal remeh bisa menjadi cukup serius dan membawa perdebatan sengit yang tak jarang memunculkan sentimen kebangsaan dan agama pada akhirnya. Hal ini seringkali terjadi. Tentu saja bukan berarti warga negara yang bukan Pakistan dan India tidak melakukan hal yang sama.
Meskipun kedua negara tersebut kini tengah menancapkan pembangunan dan menunjukan sejumlah kemajuan di berbagai bidang kehidupan sejak kemerderkaaanya dari kolonialisme Inggris yang menjajah negeri itu kira-kira selama satu setengah abad, namun jumlah penduduk yang hidup di bawah garis kemiskinan masih sangat signifikan jumlahnya. Bukan hanya itu, kedua negara yang berselisih ini juga masih memiliki masalah internal lain di dalamnya seperti perpecahan antara kelompok dan suku juga munculnya sejumlah kelompok-kelompok ekstemis yang acapkali menteror kehidupan dan pembangunan yang sedang berjalan hingga saat ini. Hal-hal yang dikhawatirkan Gandhi nampaknya terbukti. Masalah India dan Pakistan tidak cukup bisa teratasi hanya dengan memisahkan kedua kelompok beragama tersebut dalam wilayah yang berbeda. Tapi harus menyetuh akar masalah yang paling fundamental ; keadilan sosial dan pembentukan budaya toleransi antar kelompok beragama.

Bila kamu pernah menyimak sebuah film yang memenangkan oscar baru-baru ini berjudul Slumdog Millionare, banyak kisah dari tokoh utamanya di masa kecil hingga dewasa yang menggambarkan tentang itu semua di dalamnya. Atau bila kamu pernah menonton film lain yang berjudul Partition, juga menceritakan hal senada dimana seorang pasangan berbeda agama muslim dan hindu sikh yang mempunyai seorang anak kecil dipisahkan satu sama lain oleh keluarga mereka. Dan tentu saja masih berserakan kisah-kisah yang sama terlepas dari perselisihan antara India dan Pakistan yang selalu menyayat hati.
Kolonial Inggris yang berabad-abad silam menyebarkan kekuasaannya di sebagian besar wilayah di bumi ini, pada bulan agustus enam dekade silam akhirnya mengakui kedaulatan beberapa bangsa di Asia diantaranya India dan Malaysia setahun kemudian. Persatuan India akhirnya dipisahkan menjadi dua wilayah India dan Pakistan. Sehingga hari kemerdekaan keduanya berselang satu hari. India dianggap merdeka setelah Pakistan. Dan hari selanjutnya Indonesia yang merdeka dari Kolonial Belanda dua tahun lebih awal meskipun setelah kemerdekannya Indonesia masih berada dalam penjajahan Jepang hingga meletusnya Bom di dua kota kunci Jepang Hirosima dan Nagasaki oleh tentara sekutu pada perang dunia ke dua hingga membebaskan Indonesia pada akhirnya.
Sekali-kali kita perlu melihat gambaran kehidupan ini dari kaca mata lain. Sekali-kali pikiran kita perlu melompat jauh melampaui dari apa yang biasa kita alami dan pahami. Kita akan menemukan satu buah pemahaman tentang hidup yang lebih luas dan kita menjadi semakin kecil di dalamnya. Namun bukan berarti kita tidak memiliki kekuatan untuk dapat mengubah keadaan sekecil apapun itu. Mahatma Gandhi adalah tokoh bagi warga India, sebagaimana keluarga Butho adalah tokoh bagi warga Pakistan. Dan Kita pun memiliki tokoh-tokoh pejuang kemerdekaan di masa silam diantaranya Sukarno-Hatta. Apa yang membuat perjuangan mereka berhasil dan tidak mudah orang melupakannya adalah komitmen mereka atas apa yang mereka yakini untuk di perjuangkan.
Baru-baru ini setelah pemilihan presiden beberapa pekan yang lalu, kembali Indonesia dikejutkan oleh ledakan bom yang terjadi di tempat yang pernah terjadi sebelumnya. Entah motifnya apa, terlepas dari siapa pelakunya, tidakkah ini mengherankan bagi kita yang berpikir jernih. Adakah yang lebih berharga dari hidup selain melanjutkannya hingga tuntas tanpa memutuskan jalurnya dengan menghancurkan diri sendiri dan orang lain. Tidakkah ini mengherankan bagi mereka yang berakal sehat bahwa kita semua hanya terdiri dari darah dan daging dengan sumber yang sama tapi terlahir ke dunia ini dengan pilihan berbeda yang sudah ditetapkan. Siapa yang ingin hidup miskin, cacat,bodoh, gagal, dan hancur sia-sia? Bukankah kita ingin terlahir sempurna tanpa cacat, lahir dari keluarga berada, terdidik, dll. Benarkah itu semua takdir yang sama sekali tidak dapat diubah? Belajarlah lagi pada sejarah.
Tentu saja hidup ini kadang-kadang sulit. Tapi bisakah kita sejenak untuk tidak berpikir bahwa menjalani hidup itu begitu sulit. Bisakah kita percayakan pada kemampuan diri untuk dapat mengubahnya. Hidup kadangkala memang tidak adil tampaknya. sebagian orang begitu beruntung dan sebagiannya lagi tidak. Namun bukalah mata hati dan pikiran kita, bukankah begitu banyak orang-orang dalam sejarah yang menjadi mutiara bagi masyarakat di sekitarnya baik skala kecil maupun lintas benua dan sejarah, padahal mereka berasal dari "lumpur yang kotor" yang tampaknya juga mustahil bisa mengubah "dunia".
Hidup hanyalah masalah pilihan. Bagi kita yang menghendaki perubahan, hidup berjuang terseok-seok adalah lebih baik dari pada mati konyol dan kalah sebagai pecundang sebelum pertempuran usai.
Untuk India, Pakistan, Indonesia, malaysia dan negara-negara yang merayakan kemerdekaan pada bulan ini, Selamat !!! perjalanan masih panjang. bukan hanya Chairil Anwar akupun bahkan ingin hidup lebih dari seribu tahun lagi. Sekali hidup berarti dan sudah itu mati, kawan !
Katanya...
Peace :)
No comments:
Post a Comment