Saturday, January 2, 2010

Be Your Self !


Suatu hari aku bertemu mantan pacar secara online. Pada saat yang bersamaan itu adalah momen tahun baru. Aku mengucapkan selamat tahun baru padanya disertai doa dan harapan untuknya. Diantaranya, semoga selalu sehat, panjang umur, dan menjadi diri sendiri. Harapan dan doa itu tentu saja tulus dari hati.

Respon darinya agak sinis –tentu saja itu persepsiku, dan mungkin bukan yang sesungguhnya—dan lucu. Katanya,” memang kalo bukan jadi diri sendiri mau jadi apa? Pujangga cinta?”.

Kenyataannya saya memang jarang mendengar atau hampir tidak pernah mendengar doa semacam itu. Tidak heran kalau reaksi teman saya itu demikian. Tapi buat saya itu sangat penting dan mendasar.

Pertama, semoga selalu sehat. Apa yang bisa kita lakukan untuk hidup kita seandainya kebutuhan ini tidak terpenuhi. Bisakah kita bekerja dengan optimal, berpikir dengan jernih, dan memberikan yang terbaik bagi diri kita apalagi bagi orang-orang yang kita cintai. Tentu saja tidak.

Kedua, panjang umur. Hingga detik ini, bagaimanapun situasinya, menjalani hidup ini bagiku gampang-gampang susah dan seru-seru aja. Rasa syukur atas anugerah yang tak terhingga yang hidup berikan buatku. Potensi atau asset diri yang banyak dan akses untuk mengenal dunia dan kehidupannya secara lebih luas. Di Dubai aku belajar ragam budaya dan bahasa. Belajar hidup mandiri. Belajar bersabar. Belajar lebih mengenal diri sendiri melalui orang lain. Dan buatku itu seru. Dulu, aku cenderung menghindari masalah-masalah hidup. Tapi semakin aku dewasa, justru masalah yang berat semakin tampak biasa saja. Hidup yang seru ini rasanya sayang untuk diabaikan.

Ketiga, menjadi diri sendiri. Ini yang sulit. Pernahkan kita mengalami keadaan dimana hati kecil kita bertentangan dengan apa yang kita kerjakan? Pernahkah kita merasa gengsi untuk meminta maaf padahal hati kecil kita mengatakan kita salah ? pernahkah kita merasa bukan diri kita? Saya pastikan. Bukan hanya pernah, tapi itulah kita.

Keadaan ini berlangsung akrab dalam keseharian dan hidup kita. Sejak kecil kita senantiasa digiring untuk melakukan hal-hal yang jadi standar orang dewasa. Sudah dewasa pun kita lagi-lagi digiring untuk mengikuti standar orang-orang kebanyakan. Orang-orang kebanyakan pun sebenarnya sedang digiring untuk mengikuti standar siapa yang paling mempunyai kekuasaan untuk menentukan standar. Standar penguasa negarakah, standar pemimpin agamakah, standar yang punya modal kah, dan lain-lain. Manusia dan kehidupannya semakin terseret jauh berputar-putar di dalam arus yang sama. Hingga kita tidak punya waktu untu lebih mengenal diri kita lebih dekat.

Mulailah luangkan waktu untuk mengenal diri kita lebih dekat. Saya percaya, dalam setiap diri kita ini ada pesan tuhan yang tersembunyi. Setiap diri kita ini adalah mahluk spiritual yang memiliki aspek-aspek ketuhanan di dalamnya. Hanya saja seringkali ego kita sebagai manusia yang tidak berani mengakuinya. Kita sering terlalu malas untuk merawat aspek kedirian itu. Terlalu angkuh untuk mengakui kekeliruan dan kelemahan diri, terlalu takut untuk ditolak karena berbeda, dan terlalu-terlalu yang lainnya.

Pernahkah kita sejenak merenung, bagaimana seandainya kita lahir bukan dari perut ibu kita. Atau kita dibesarkan bukan oleh orang tua kita. Atau kita terlahir bukan dari tanah air kita. Dan lain-lain. Tentu saja kita bukan akan menjadi kita yang sekarang. Itu sudah pasti. Tapi kenapa kita berasal dari ibu kita, besar dilingkungan itu. Sementara semakin dewasa kita semakin melihat keragaman dengan segala aspek rinciannya. Apa hikmahnya?

Seorang bijak pernah berkata, “ we live in a house of mirrors and think we are looking out of the windows “. Kita ini hidup di rumah kaca yang saling menjiplak satu sama lain. Tapi kita selalu berpikir bahwa kita lah yang paling tahu. Kita sering merasa yang paling benar. Padahal kita hanya meniru satu sama lain. Sadar tidak sadar. Suka tidak suka. Itulah kita.

Bebaskan diri kita dari kungkungan kewajiban-kewajiban yang tidak perlu. Kumpulkan keberanian untuk mengikuti kata hati. Tidak ada kata terlambat. Semua bisa dimulai kapanpun. Dari pada tidak sama sekali. Tidak menjadi diri kita maupun menjadi diri kita adalah persoalan memilih. Dan setiap pilihan tentu ada resikonya masing-masing. Lagi-lagi, pada saatnya nanti setiap kita akan kembali menjadi tanah dan tulang belulang.

Kita berasal dari tanah dan akan kembali ke tanah. Dibutuhkan kearifan untuk berani menjadi diri sendiri. Dan dibutuhkan proses yang lama untuk menemukan kearifan itu.

Selamat tahun baru 2010. Be your Self !!

Sunday, August 16, 2009

“You can buy almost anything in Dubai, and now You can buy a friend !!”


Ada sebuah tren yang muncul belakangan di Dubai. Yaitu sebuah jasa penyaluran TEMAN. Jasa ini hanya diperuntukan bagi perempuan yang membutuhkan teman di Dubai. Harga yang di tawarkan mulai dari 800 dirham atau kira-kira dua juta rupiah perhari untuk menemani belanja di mal dan ngobrol sambil minum kopi. Jasa penyaluran TEMAN EKSLUSIF atau ‘Exlusively yours’ ini harganya dapat bervariasi tergantung permintaan dari klien.

Tujuan usaha ini professional. May Russel sebagai pemilik dan menejernya mengatakan bahwa banyak para pebisnis yang datang ke Dubai mengajak istri mereka dan tidak dapat menemani sang istri berkeliling karena bekerja. Sementara itu, sebagai pendatang baru, tidak mudah untuk menemukan teman yang dapat dipercaya untuk menemani. Jasa inilah bisa dijadikan alternatif yang aman.

Tidak hanya itu, jasa ini juga melayani para perempuan yang hidupnya kesepian. Sebagai kota besar yang sedang pesat membangun, dimana orang banyak disibukkan oleh pekerjaan, hingga tidak ada waktu berteman, jasa ini pun salah satu cara mengatasinya. Dan banyak alasan lain yang mendasari usaha ini di jalankan.

Meskipun industri ini relatif baru di Dubai, namun ini lumrah berlaku di kota-kota besar di Amerka. Jasa ini dinamakan the female chaperone service. Bagi perempuan yang ingin datang ke sini dan membutuhkan TEMAN, bisa kunjungi websitenya di www.eyint.com

Mengapa usaha ini hanya diperuntukkan bagi perempuan, sebab kota ini memang tidak terlalu ramah terutama terhadap perempuan. Untuk tidak mengeneralisasi, banyak fakta yang menunjukkan keadaan dimana perempuan masih begitu rentan berjalan sendirian di tempat-tempat tertentu termasuk pergi dengan jasa taksi.

Selanjutnya, tentu saja informasi ini hanya berlaku bagi mereka yang berkantong tebal. Kondisi dimana orang butuh teman, kesepian, malu, takut, adalah keadaan alamiah manusia tak terkecuali mereka yang hidupnya pas-pasan. Lalu bagaimana bila mereka tidak sanggup menyewa sebuah jasa TEMAN EKSLUSIF ini? Tidak usah gelisah. Percayakan pada diri sendiri untuk mengatasinya. Masih banyak cara untuk mengatasi rasa sepi, bosan, malu, takut dan lain-lain meskipun dalam keadaan kantong yang pas-pasan. Tidak semua hal dapat dibeli dengan uang. Apalagi membeli seorang teman. Uang bukanlah segalanya.

Aku jadi ingat, suatu hari aku pernah mempunyai pekerjaan sampingan sebagai TEMAN perempuan lokal. Sebagai seorang muslim konservatif, Ia tidak diperbolehkan berjalan jauh sendirian. Ia pun mempercayaiku untuk menemaninya. Hingga saat ini aku tidak pernah tahu rupa wajahnya karena selalu ditutupi cadar. Seluruh pakaiannya hitam yang lazimnya dinamakan abaya. Kami bertemu secara tidak sengaja saat ia berkunjung ke restoranku. Saat itu aku tidak berniat menjadi TEMAN perjalanannya. Aku hanya menawarkan diri untuk mencarikan TEMAN untuknya melalui teman-temanku. Sebab saat itu aku berpikir pekerjaan ini pasti membosankan.

Saat aku menawari teman-temanku untuk pekerjaan ini di sela-sela hari libur mereka, awalnya mereka antusias tapi kemudian mereka merasa ragu saat tahu bahwa pekerjaan mereka hanya menemani sang nyonya selama perjalanan. Rata-rata temanku itu non muslim dan bagi mereka tradisi berbusana yang dikenakan sang nyonya ini aneh meskipun tidak bagiku. Bukan hanya caranya berpakaian namun alasan menemani ini pun buat mereka terdengar aneh. Meskipun pada akhirnya mereka mengerti saat kujelaskan. Akan tetapi bukan berarti mereka menerima pekerjaan ini. Apa boleh buat, akulah yang jadi teman sang nyonya ini pada akhirnya.

Ada banyak hal menarik yang tidak dapat kuceritakan secara khusus di sini bagaimana bentuk perTEMANan kami. Singkatnya, karena ia butuh TEMAN yang bisa di panggilnya setiap saat ia melakukan perjalanan, dan akupun tidak selalu punya waktu untuk menemaninya ( hanya hari libur ), perTEMANan kamipun hanya berlangsung beberapa saat. Yang aku tahu hanya namanya dan nomor telepon. Mungkin kalau suatu saat kami berpapasan di suatu tempat, aku tidak dapat mengenalinya. Hanya ia yang mengenaliku. Kadang-kadang lucu juga kalau ingat itu.

Lalu bagaimana bila rasa bosan dan sepi hinggap atau kadang-kadang merasa takut sendiri ?

Aku hanya bisa menggambarkan secara umum. Hal yang paling mendasari untuk melakukan sesuatu apapun itu adalah tujuan. Tentukan tujuan utama kita. Biasanya adalah untuk memperoleh lebih banyak uang dan pengalaman. Pertama kali aku berencana untuk bekerja dan tinggal di sini, hal yang aku siapkan sejak awal adalah informasi tentang hal yang terkait dengan tempat yang aku diami saat ini. Mulai dari budaya, masyarakatnya, detail pekerjaan, peraturan-peraturan, dan lain-lain.

Kedua, mental. Setelah mengetahui dengan jelas informasi yang dibutuhkan, siapkanlah mental yang positif. Buatlah serangkaian alternatif positif yang bisa dijadikan antisipasi bila hal-hal tidak menyenangkan terjadi.

Mental yang positif diantaranya respek. Jangan berusaha menghakimi sesuatu yang tampak berbeda dengan apa yang biasa kita pahami. Berusaha untuk berpikir terbuka terhadap orang lain yang berbeda. Belajarlah untuk fleksibel.

Hal yang membuat kita merasa bosan adalah tujuan hidup yang kabur. Biasanya lingkungan pergaulan mempunyai pengaruh yang kuat atas cara berpikir kita dan atas setiap keputusan yang kita ambil. Berusahalah untuk tidak terpengaruh dan bangunlah rasa percaya dengan kemampuan diri sendiri untuk dapat mengubah keadaan betapapun buruknya. Tentu saja dalam prosesnya ini tidak mudah. Satu persatu teman kita biasanya pergi entah karena alasan ketidakcocokan dengan cara berpikir kita atau karena tidak tahan dengan cobaan hidup yang dialami.

Hal yang juga sangat penting untuk menjadi bekal bekerja di negeri orang adalah keterampilan. Jangan pernah sekali-kali pergi bekerja ke luar negeri tanpa memiliki keterampilan yang jelas. Terutama keterampilan bahasa. Persiapkan segala sesuatunya dengan matang. Dan jangan pernah berhenti belajar, berpikir kreatif, dan tekun.

Terakhir, berapapun penghasilan kita, Menabunglah. Menabunglah. Menabunglah. Tidak semua orang beruntung dalam hidup dan pekerjaan mereka. Tapi bukan berarti harapan hidup kedepan yang lebih baik terkunci. Membiasakan diri menabung adalah menanamkan harapan hidup di masa depan. Orang yang tidak biasa menabung artinya orang yang tidak yakin akan masa depannya. Kalau tidak yakin dengan masa depan yang lebih baik, janganlah menciptakan mimpi apapun di benak kita. Sebab percuma saja. Mimpi itu tidak akan menjadi nyata. Ini hanya masalah pilihan keyakinan.

Mencari teman sebetulnya gampang-gampang susah. Aku mempunyai kategori dalam mengelompokkan orang-orang yang kukenal. Ada teman bekerja, ada teman kamar, ada temannya teman, dll. Tapi teman yang memiliki pola berpikir yang sama inilah yang sulit. Ada banyak cara untuk sekedar menambah teman pergaulan diantaranya bergabung dengan kegiatan arisan atau amal yang juga banyak diadakan di Dubai. Memang biasanya ini buat mereka yang berkantong cukup lumayan. Atau juga kamu bisa bergabung dengan berbagai kelompok pecinta olahraga seperti sepeda, jogging, dll. Bergabung dengan kegiatan seperti ini lebih natural untuk menemukan teman dan tidak perlu keluar biaya yang terlalu banyak dari pada menyewa jasa di atas. Sebab bagi yang berkantong tebal yang sanggup menyewa jasa TEMAN INSTAN ini, bukan berarti persoalan mereka berhenti sampai di situ. Sebab TEMAN EKSLUSIF itu bukanlah teman yang sebetulnya kita butuhkan. Lebih dari itu,Jiwa kitalah teman sejati kita. Rawatlah jiwa itu, dan janganlah membiarkan jiwa itu pergi dari diri kita. 

Saturday, August 15, 2009

Untuk Kita yang Mencintai Hidup dan Perbedaan


Sekitar beberapa tahun yang lalu saya menonton sebuah film tentang perselisihan antara muslim Pakistan dan hindu serta sikh India yang pada saat itu masih bersatu di bawah pemerintahan kolonialisme Inggris pada sepanjang abad 18 hingga pertengahan abad 19. Pada puncaknya kedua kelompok agama ini dipisahkan untuk menempati wilayah yang berbeda. Kelompok muslim yang berada di India terpaksa harus bermigrasi ke wilayah Pakistan. Sementra kelompok sikh dan hindu yang berada di Pakistan juga terpaksa harus bermigrasi ke wilayah India.

Sebuah film yang digarap apik dimana aktor berdarah India Yahudi, yang juga memenangkan penghargaan atas perannya ini, Ben Kingsley terlibat di dalamnya. Ia berperan sebagai Mahatma Gandhi salah satu tokoh kunci yang mewakili agama hindu dan sikh.

Pada dasarnya Gandhi tidak menyetujui pemisahan ini. Pengungsian massal ini di pandangnya terlalu membawa resiko yang sangat mahal. Bukan hanya materil tapi juga tidak menjamin kedua kelompok yang berselisih ini akan berdamai dan persoalan ketegangan keduanya pun akan selesai begitu saja. Namun usaha-usaha diplomasi yang dilakukannya pun tidak membawa hasil sebagaimana impiannya atas India yang mayoritas berpenduduk Hindu dan Sikh bisa berdampingan dengan Pakistan yang mayoritas muslim. Secara sendirian Ia berhadapan dengan sejumlah tokoh penting terutama dari kelompok muslim Pakistan yang menghendaki pemisahan wilayah India dengan Pakistan diantaranya Muhammad Ali Jinnah dan Jawaharlal Nehru atas Hindu dan Sikh. Gagasan Gandhi mengenai integrasi ini membawa kematian pada akhirnya. Ia tewas ditangan ekstemis hindu yang menganggap Gandhi telah menodai keyakinan agamanya.

Hari ini sejak lebih dari dua tahun saya tinggal di negara yang banyak dari jumlah penduduknya berasal dari kedua negara tesebut; India dan Pakistan. Saya pun sempat merasakan tinggal dalam satu kamar bersama perwakilan dari kedua negara tersebut selama lebih dari setahun. Amu yang berasal dari India dan Shazia yang berasal dari Pakistan. Kedua temanku ini lahir dari generasi yang tidak merasakan secara langsung getirnya kehilangan tanah air, keluarga dan harta karena perang agama yang terjadi pada beberapa dekade silam. Selain itu mereka berasal dari keluarga mapan dan terdidik. Sehingga sentimen sentimen kebencian yang masih tersisa hingga saat ini tidak dirasakan oleh kedua temanku ini. Lain halnya bila mereka berasal dari keluarga serba kekurangan. Di luar sana bukan berarti kebencian dan sinisme diantara kedua bangsa ini pupus. Sebab ketengangan ini tidak bisa dilepaskan dari sejarah pahit masa silam maupun ketidak adilan baik secara ekonomi, sosial dan politik yang dialami kedua bangsa hingga saat ini.

Sehari-hari saya berbaur dengan warga India dan Pakistan selain dengan warga Arab dan Filipina. Kadangkala hal-hal remeh bisa menjadi cukup serius dan membawa perdebatan sengit yang tak jarang memunculkan sentimen kebangsaan dan agama pada akhirnya. Hal ini seringkali terjadi. Tentu saja bukan berarti warga negara yang bukan Pakistan dan India tidak melakukan hal yang sama.

Meskipun kedua negara tersebut kini tengah menancapkan pembangunan dan menunjukan sejumlah kemajuan di berbagai bidang kehidupan sejak kemerderkaaanya dari kolonialisme Inggris yang menjajah negeri itu kira-kira selama satu setengah abad, namun jumlah penduduk yang hidup di bawah garis kemiskinan masih sangat signifikan jumlahnya. Bukan hanya itu, kedua negara yang berselisih ini juga masih memiliki masalah internal lain di dalamnya seperti perpecahan antara kelompok dan suku juga munculnya sejumlah kelompok-kelompok ekstemis yang acapkali menteror kehidupan dan pembangunan yang sedang berjalan hingga saat ini. Hal-hal yang dikhawatirkan Gandhi nampaknya terbukti. Masalah India dan Pakistan tidak cukup bisa teratasi hanya dengan memisahkan kedua kelompok beragama tersebut dalam wilayah yang berbeda. Tapi harus menyetuh akar masalah yang paling fundamental ; keadilan sosial dan pembentukan budaya toleransi antar kelompok beragama.


Bila kamu pernah menyimak sebuah film yang memenangkan oscar baru-baru ini berjudul Slumdog Millionare, banyak kisah dari tokoh utamanya di masa kecil hingga dewasa yang menggambarkan tentang itu semua di dalamnya. Atau bila kamu pernah menonton film lain yang berjudul Partition, juga menceritakan hal senada dimana seorang pasangan berbeda agama muslim dan hindu sikh yang mempunyai seorang anak kecil dipisahkan satu sama lain oleh keluarga mereka. Dan tentu saja masih berserakan kisah-kisah yang sama terlepas dari perselisihan antara India dan Pakistan yang selalu menyayat hati.

Kolonial Inggris yang berabad-abad silam menyebarkan kekuasaannya di sebagian besar wilayah di bumi ini, pada bulan agustus enam dekade silam akhirnya mengakui kedaulatan beberapa bangsa di Asia diantaranya India dan Malaysia setahun kemudian. Persatuan India akhirnya dipisahkan menjadi dua wilayah India dan Pakistan. Sehingga hari kemerdekaan keduanya berselang satu hari. India dianggap merdeka setelah Pakistan. Dan hari selanjutnya Indonesia yang merdeka dari Kolonial Belanda dua tahun lebih awal meskipun setelah kemerdekannya Indonesia masih berada dalam penjajahan Jepang hingga meletusnya Bom di dua kota kunci Jepang Hirosima dan Nagasaki oleh tentara sekutu pada perang dunia ke dua hingga membebaskan Indonesia pada akhirnya.

Sekali-kali kita perlu melihat gambaran kehidupan ini dari kaca mata lain. Sekali-kali pikiran kita perlu melompat jauh melampaui dari apa yang biasa kita alami dan pahami. Kita akan menemukan satu buah pemahaman tentang hidup yang lebih luas dan kita menjadi semakin kecil di dalamnya. Namun bukan berarti kita tidak memiliki kekuatan untuk dapat mengubah keadaan sekecil apapun itu. Mahatma Gandhi adalah tokoh bagi warga India, sebagaimana keluarga Butho adalah tokoh bagi warga Pakistan. Dan Kita pun memiliki tokoh-tokoh pejuang kemerdekaan di masa silam diantaranya Sukarno-Hatta. Apa yang membuat perjuangan mereka berhasil dan tidak mudah orang melupakannya adalah komitmen mereka atas apa yang mereka yakini untuk di perjuangkan.

Baru-baru ini setelah pemilihan presiden beberapa pekan yang lalu, kembali Indonesia dikejutkan oleh ledakan bom yang terjadi di tempat yang pernah terjadi sebelumnya. Entah motifnya apa, terlepas dari siapa pelakunya, tidakkah ini mengherankan bagi kita yang berpikir jernih. Adakah yang lebih berharga dari hidup selain melanjutkannya hingga tuntas tanpa memutuskan jalurnya dengan menghancurkan diri sendiri dan orang lain. Tidakkah ini mengherankan bagi mereka yang berakal sehat bahwa kita semua hanya terdiri dari darah dan daging dengan sumber yang sama tapi terlahir ke dunia ini dengan pilihan berbeda yang sudah ditetapkan. Siapa yang ingin hidup miskin, cacat,bodoh, gagal, dan hancur sia-sia? Bukankah kita ingin terlahir sempurna tanpa cacat, lahir dari keluarga berada, terdidik, dll. Benarkah itu semua takdir yang sama sekali tidak dapat diubah? Belajarlah lagi pada sejarah.

Tentu saja hidup ini kadang-kadang sulit. Tapi bisakah kita sejenak untuk tidak berpikir bahwa menjalani hidup itu begitu sulit. Bisakah kita percayakan pada kemampuan diri untuk dapat mengubahnya. Hidup kadangkala memang tidak adil tampaknya. sebagian orang begitu beruntung dan sebagiannya lagi tidak. Namun bukalah mata hati dan pikiran kita, bukankah begitu banyak orang-orang dalam sejarah yang menjadi mutiara bagi masyarakat di sekitarnya baik skala kecil maupun lintas benua dan sejarah, padahal mereka berasal dari "lumpur yang kotor" yang tampaknya juga mustahil bisa mengubah "dunia".

Hidup hanyalah masalah pilihan. Bagi kita yang menghendaki perubahan, hidup berjuang terseok-seok adalah lebih baik dari pada mati konyol dan kalah sebagai pecundang sebelum pertempuran usai.

Untuk India, Pakistan, Indonesia, malaysia dan negara-negara yang merayakan kemerdekaan pada bulan ini, Selamat !!! perjalanan masih panjang. bukan hanya Chairil Anwar akupun bahkan ingin hidup lebih dari seribu tahun lagi. Sekali hidup berarti dan sudah itu mati, kawan !
Katanya...

Peace :)

Friday, July 31, 2009

Hidup adalah kesunyian hidup masing-masing


Ini adalah tulisan seorang teman waktu sama-sama di FORMACI.Saat ini Ia sedang mengambil kuliah hukum di universitas Melbourne Australia. semoga bisa menginspirasi.

Hidup adalah kesunyian nasib masing-masing, kawan! Siapa yang menyangka K pernah bercita-cita jadi artis sinetron? Siapa yang menyangka pula dia akan menginap beberapa tahun di hotel prodeo? Siapa yang menyangka seorang kawan yang selalu berprestasi, punya bakat yang hebat sebagai pemimpin, tiba-tiba jadi aktivis Jamaah Tablig? Siapa yang menyangka seorang kawan yang begitu jenaka, sedikit 'ngawur' tiba-tiba jadi ajengan? Dan banyak lagi cerita yang bisa anda tambahkan.

Siapa yang menyangka Hirata akan mendarat di Eropa, menyusuri gang-gang di Venice, menikmati senang dan menantangnya belajar di Sorbonne, sementara Lintang tetap mondar-mandir dengan truknya di Belitong mengangkut pasir. Seorang kawan dekatku harus tetap menghemat waktu tidur malam karena harus menjaga warung burjonya. Seorang kawanku yang lain sedang bergulat dengan arsip-arsip kuno di sudut kota Kairo. Aku sedang berdebar-debar menunggu anak pertamaku lahir dari sudut jalan Decarle. Seperti Hirata dan Lintang, dulu kami bersama-sama, belajar di sebuah tempat yang sama, dengan guru yang sama, di lingkungan yang sama. Namun nasib yang sunyi menyeretku ke mari, dan mereka ke sana. Ah.. hidup.

Qabil dan Habil lahir dari satu rahim yang sama, Hawa. Namun kenapa yang satu jadi mahluk setengah dewa sementara yang lain jadi durjana? Bawang Merah dan Bawang Putih adik kakak, dididik oleh orang tua yang sama, tapi kenapa mereka menjadi pribadi yang berbeda. Kenapa?

Hidup akan terus berlangsung. Mungkin K kelak justru jadi presiden dan aku pulang kampung jadi petani. Mungkin kawanku yang setiap malam begadang menjaga warungnya 20 tahun yang akan datang sudah menjadi bos kios selular (dia bilang akan buka usaha baru) atau jadi pengusaha sukses. Siapa tahu? Hidup mengalir ke arah yang tak terduga sebelumnya. Chairil Anwar menggambarkan semua ini dengan sebuah kalimat indah: hidup adalah kesunyain nasib masing-masing. Seorang kawan menambahkan: hidup adalah kesetiaan kita pada proses.

Kita boleh makan makanan yang sama, ngaji pada guru dan kyai yang sama, belajar menggunakan sylabus yang sama, bahkan lahir dari rahim yang sama, tapi kenapa setiap kita berbeda? Setiap kita akan menapaki jalan hening nasib. Langkah-langkah itu jarang sekali kita sadari. Namun kalau ada kawan yang sepuluh tahun tak bersua dengan kita, kita bisa melihat jejak keheningan nasib hidupnya. Juga jejak dari kesetiaannya pada usaha dan proses.

Aku jadi ingat Fromm, Erich Fromm. Dia seorang psikolog aliran psikoanalisa. Aku mengkajinya dulu di Fromaci. Samar-samar teorinya masih menempel di benakku. Kata dia, setiap kita, setiap manusia, adalah mahluk unik. Tak ada satupun wajah yang sama, tak ada satupun sidik jari yang serupa. Bahkan kepribadianpun tidak ada yang sepenuhnya identik. Kata dia, yang membuat semua ini terjadi adalah karena kita manusia ini adalah mahluk yang 'menjadi', 'to be'. Wahib dengan bagus menggambarkan bahwa dirinya bukanlah Wahib, dia adalah 'mewahib'. Jadi, anda bukan Koko, tapi 'mengkoko', 'mengjoko', 'mengumam', dan 'menzezen' (Uh sangat janggal dan aneh, apalagi membaca urutan nama yang terakhir!). Setiap kita, K, Udin, Zezen, dan anda adalah mahluk yang akan terus menjadi, 'becoming', berproses dan berubah. Berubah adalah esensi manusia. Tidak ada gambaran utuh K karena K akan senantiasa bermetamorfosa, berubah, menjadi.

Itu adalah hakikat dasar manusia. Sebelum anakku lahir, aku sama sekali tidak punya gambaran seperti apakah dia. Mungkin akan tergambar sedikit wajahnya: ia akan merupakan gabungan wajahku dan wajah istriku. Namun aku sama sekali tidak akan tahu siapa dia, siapa anakku, sampai dia lahir, berproses, satu persatu mengumpulkan kecakapan membangun ke-diriannya. Itulah yang membedakan antara anakku dengan kursi indah dari Jepara. Sebelum sebuah kursi 'lahir' ke dunia, si pengrajin sudah memperoleh gambaran dan pengetahuan utuh tentang kursi yang ingin 'dilahirkannya'. Kalau saya menulis kata 'botol' atau 'kuris' di benak anda pasti akan ada sebuah gambaran umum yang mana setiap kita pasti akan memeiliki kesamaan dalam menggambarkannya. Namun jika aku menulis 'Wahid' atau 'Firman' setiap kita pasti akan memiliki gambaran berdeda. Manusia adalah mahluk yang eksistensinya ada mendahului esensinya, sementara benda adalah mahluk yang mana esensinya ada sebelum menjelma dalam kenyataan.

Itulah kenapa hidup menjadi hening. Kita akan menapaki jalur kita masing-masing, dalam hening. Hakikat kita akan terus menjadi, 'becoming' karena kita bukan benda. Semoga semuanya akan berubah, menjadi ke arah yang lebih baik, bergerak ke pendulum kedewasaan dan kebijaksanaan. Berproses dalam damai. Peace...

Decarle, 28/07/09


Terimakasih Zezen. Semoga anakmu terlahir secerdas bapaknya dan menentramkan kedua orangtuanya :)

Wednesday, May 20, 2009

Lentera Hati

Jum'at, 29 Agustus 2008

Ini adalah tulisan dari mantan pimpinan redaksi Metro TV Andy F Noya. Beliau juga merupakan favorit saya untuk acara "Kick Andy" yang diasuhnya. Semoga bisa menginspirasi..

Banyak yang bertanya mengapa saya mengundurkan diri sebagai pemimpin redaksi Metro TV. Memang sulit bagi saya untuk meyakinkan setiap orang yang bertanya bahwa saya keluar bukan karena ¡pecah kongs dengan Surya Paloh, bukan karena sedang marah atau bukan dalam situasi yang tidak menyenangkan. Mungkin terasa aneh pada posisi yang tinggi, dengan power yang luar biasa sebagai pimpinan sebuah stasiun televisi berita, tiba-tiba saya mengundurkan diri.

Dalam perjalanan hidup dan karir, dua kali saya mengambil keputusan sulit. Pertama, ketika saya tamat STM. Saya tidak mengambil peluang beasiswa ke IKIP Padang. Saya lebih memilih untuk melanjutkan ke Sekolah Tinggi Publisistik di Jakarta walau harus menanggung sendiri beban uang kuliah. Kedua, ya itu tadi, ketika saya memutuskan untuk mengundurkan diri dari Metro TV.

Dalam satu seminar, Rhenald Khasali, penulis buku Change yang saya kagumi, sembari bergurau di depan ratusan hadirin mencoba menganalisa mengapa saya keluar dari Metro TV. Andy ibarat ikan di dalam kolam. Ikannya terus membesar sehingga kolamnya menjadi kekecilan. Ikan tersebut terpaksa harus mencari kolam yang lebih besar.

Saya tidak tahu apakah pandangan Rhenald benar. Tapi, jujur saja, sejak lama saya memang sudah ingin mengundurkan diri dari Metro TV. Persisnya ketika saya membaca sebuah buku kecil berjudul Who Move My Cheese.Bagi Anda yang belum baca, buku ini bercerita tentang dua kurcaci. Mereka hidup dalam sebuah labirin yang sarat dengan keju. Kurcaci yang satu selalu berpikiran suatu hari kelak keju di tempat mereka tinggal akan habis. Karena itu, dia selalu menjaga stamina dan kesadarannya agar jika keju di situ habis, dia dalam kondisi siap mencari keju di tempat lain. Sebaliknya, kurcaci yang kedua, begitu yakin sampai kiamat pun persediaan keju tidak akan pernah habis.

Singkat cerita, suatu hari keju habis. Kurcaci pertama mengajak sahabatnya untuk meninggalkan tempat itu guna mencari keju di tempat lain. Sang sahabat menolak. Dia yakin keju itu hanya dipindahkan oleh seseorang dan nanti suatu hari pasti akan dikembalikan. Karena itu tidak perlu mencari keju di tempat lain. Dia sudah merasa nyaman. Maka dia memutuskan menunggu terus di tempat itu sampai suatu hari keju yang hilang akan kembali. Apa yang terjadi, kurcaci itu menunggu dan menunggu sampai kemudian mati kelaparan. Sedangkan kurcaci yang selalu siap tadi sudah menemukan labirin lain yang penuh keju. Bahkan jauh lebih banyak dibandingkan di tempat lama.

Pesan moral buku sederhana itu jelas: jangan sekali-kali kita merasa nyaman di suatu tempat sehingga lupa mengembangkan diri guna menghadapi perubahan dan tantangan yang lebih besar. Mereka yang tidak mau berubah, dan merasa sudah nyaman di suatu posisi, biasanya akan mati digilas waktu.

Setelah membaca buku itu, entah mengapa ada dorongan luar biasa yang menghentak-hentak di dalam dada. Ada gairah yang luar biasa yang mendorong saya untuk keluar dari Metro TV. Keluar dari labirin yang selama ini membuat saya sangat nyaman karena setiap hari keju itu sudah tersedia di depan mata. Saya juga ingin mengikuti lentera jiwa saya. Memilih arah sesuai panggilan hati. Saya ingin berdiri sendiri.

Maka ketika mendengar sebuah lagu berjudul Lentera Hati yang dinyanyikan Nugie, hati saya melonjak-lonjak. Selain syair dan pesan yang ingin disampaikan Nugie dalam lagunya itu sesuai dengan kata hati saya, sudah sejak lama saya ingin membagi kerisauan saya kepada banyak orang.
Dalam perjalanan hidup saya, banyak saya jumpai orang-orang yang merasa tidak bahagia dengan pekerjaan mereka. Bahkan seorang kenalan saya, yang sudah menduduki posisi puncak di suatu perusahaan asuransi asing, mengaku tidak bahagia dengan pekerjaannya. Uang dan jabatan ternyata tidak membuatnya bahagia. Dia merasa lentera jiwanya ada di ajang pertunjukkan musik. Tetapi dia takut untuk melompat. Takut untuk memulai dari bawah. Dia merasa tidak siap jika kehidupan ekonominya yang sudah mapan berantakan. Maka dia menjalani sisa hidupnya dalam dilema itu. Dia tidak bahagia.

Ketika diminta untuk menjadi pembicara di kampus-kampus, saya juga menemukan banyak mahasiswa yang tidak happy dengan jurusan yang mereka tekuni sekarang. Ada yang mengaku waktu itu belum tahu ingin menjadi apa, ada yang jujur bilang ikut-ikutan pacar (yang belakangan ternyata putus juga) atau ada yang karena solider pada teman. Tetapi yang paling banyak mengaku jurusan yang mereka tekuni sekarang -- dan membuat mereka tidak bahagia -- adalah karena mengikuti keinginan orangtua.

Dalam episode Lentera Jiwa (tayang Jumat 29 dan Minggu 31 Agustus 2008), kita dapat melihat orang-orang yang berani mengambil keputusan besar dalam hidup mereka. Ada Bara Patirajawane, anak diplomat dan lulusan Hubungan Internasional, yang pada satu titik mengambil keputusan drastis untuk berbelok arah dan menekuni dunia masak memasak. Dia memilih menjadi koki. Pekerjaan yang sangat dia sukai dan menghantarkannya sebagai salah satu pemandu acara masak-memasak di televisi dan kini memiliki restoran sendiri. Saya sangat bahagia dengan apa yang saya kerjakan saat ini, ujarnya. Padahal, orangtuanya menghendaki Bara mengikuti jejak sang ayah sebagai dpilomat.

Juga ada Wahyu Aditya yang sangat bahagia dengan pilihan hatinya untuk menggeluti bidang animasi. Bidang yang menghantarkannya mendapat beasiswa dari British Council. Kini Adit bahkan membuka sekolah animasi. Padahal, ayah dan ibunya lebih menghendaki anak tercinta mereka mengikuti jejak sang ayah sebagai dokter.Simak juga bagaimana Gde Prama memutuskan meninggalkan posisi puncak sebuah perusahaan jamu dan jabatan komisaris di beberapa perusahaan. Konsultan manajemen dan penulis buku ini memilih tinggal di Bali dan bekerja untuk dirinya sendiri sebagai public speaker.

Pertanyaan yang paling hakiki adalah apa yang kita cari dalam kehidupan yang singkat ini? Semua orang ingin bahagia. Tetapi banyak yang tidak tahu bagaimana cara mencapainya.

Karena itu, beruntunglah mereka yang saat ini bekerja di bidang yang dicintainya. Bidang yang membuat mereka begitu bersemangat, begitu gembira dalam menikmati hidup. Bagi saya, bekerja itu seperti rekreasi. Gembira terus. Nggak ada capeknya, ujar Yon Koeswoyo, salah satu personal Koes Plus, saat bertemu saya di kantor majalah Rolling Stone. Dalam usianya menjelang 68 tahun, Yon tampak penuh enerji. Dinamis. Tak heran jika malam itu, saat pementasan Earthfest2008, Yon mampu melantunkan sepuluh lagu tanpa henti. Sungguh luar biasa. Semua karena saya mencintai pekerjaan saya. Musik adalah dunia saya. Cinta saya. Hidup saya, katanya.

Berbahagialah mereka yang menikmati pekerjaannya. Berbahagialah mereka yang sudah mencapai taraf bekerja adalah berekreasi. Sebab mereka sudah menemukan lentera jiwa mereka.

Terimakasih Mas Andy atas tulisannya. Keep inspiring, stay smart and happy ...

Edensor

Sabtu, 23 Agustus, 2008

Aku ingin mendaki puncak tantangan, menerjang batu granit kesulitan, menggoda marabahaya, dan memecahkan misteri dengan sains. Aku ingin menghirup berupa-rupa pengalaman lalu terjun bebas menyelami labirin liku-liku hidup yang ujungnya tak dapat disangka. Aku mendamba kehidupan dengan kemungkinan-kemungkinan yang bereaksi satu sama lain seperti benturan molekul uranium : meletup tak terduga-duga, menyerap, mengikat, mengganda, berkembang, terurai, dan berpencar ke arah yang mengejutkan. Aku ingin ke tempat-tempat yang jauh, menjumpai beragam bahasa dan orang-orang asing. Aku ingin berkelana, menemukan arahku dengan membaca bintang gemintang. Aku ingin mengarungi padang dan guru-gurun, ingin melepuh terbakar matahari, limbung dihantam angin, dan menciut dicengkeram dingin. Aku ingin kehidupan yang menggetarkan, penuh dengan penaklukan. Aku ingin hidup ! ingin merasakan saripati hidup !”

Ini adalah sebuah penggalan kata-kata yang tertuang dalam novel ke tiga dari tetralogi laskar pelangi yang berjudul Edensor. Novel ini juga merupakan nominator khatulistiwa literary award tahun 2007. Novel kisah pengalaman pribadi sang penulis Andrea Hirata ini bercerita mengenai bagian dari kisah perjalanan hidupnya dalam pencarian jati diri dan cinta. Tema yang tidak baru pada dasarnya, Namun kita akan tenggelam dan terinspirasi menyimak lika-liku hidup yang dijalaninya sebagai anak desa yang miskin namun berani mewujudkan mimpinya untuk melanjutkan pendidikan hingga ke Paris.

Ikal, demikian tokoh utama dalam cerita ini, yang juga merupakan nama kecil Andrea Hirata adalah seorang anak yang lahir dari pedalaman desa belitong, Bangka Belitung. Lingkungan yang membesarkannya adalah lingkungan buta huruf. Bersama kesembilan teman-teman sekolahnya sejak SD hingga SMP, Ikal, Arai, Lintang, Mahar adalah diantara anak-anak cerdas yang lahir dari perut bumi pertiwi ini. Bakat-bakat alam kecerdasan yang menonjol dari mereka masing-masing, dibuktikan secara alami, nyata dan luar biasa. (laskar pelangi)

Sejak kanak-kanak, masa remaja hingga dewasa terutama Ikal dan Arai, dua tokoh utama dalam novel ini, terbiasa bekerja di sela-sela kegiatan sekolahnya. Jalan hidupnya yang keras mengajarinya banyak hal tentang pentingnya memiliki dan mewujudkan mimpi untuk keluar dari lingkaran kemiskinan yang melilitnya melalui pendidikan apapun resikonya. Ikal dan Arai adalah juga dua orang berjiwa petualang yang senang belajar (Sang Pemimpi). Kecerdasannya dibuktikan lewat prestasi akademisnya yang menonjol. Semangat inilah yang mendatangkan pelukan semesta untuk merengkuh impian mereka hingga ke Paris. Meskipun malang bagi Arai, di tengah perjalanan studinya, Ia terserang penyakit pernafasan genetis yang membuatnya harus menjalani perawatan dan kembali ke tanah air.

Dua kutipan yang coba ku ingat di awal tulisannya adalah : “Jika hidup ini seumpama rel kereta api dalam eksperimen relativitas Einstein, maka pengalaman demi pengalaman yang menggempur kita dari waktu ke waktu adalah cahaya yang melesat-lesat di dalam gerbong di atas rel itu. Relativitasnya berupa seberapa banyak kita dapat mengambil pelajaran dari pengalaman yang melesat-lesat itu. Analogi Eksperimen itu tak lain, karena kecepatan cahaya bersifat sama dan absolute, dan waktu relative tergantung kecepatan gerbong, maka pengalaman yang sama dapat menimpa siapa saja, namun sejauh mana, dan secepat apa pengalaman yang tadi memberi pelajaran pada seseorang, hasilnya akan berbeda, relative satu sama lain”.

Menyimak kisah yang tertuang dalam novel Edensor ini, memberikanku satu lagi pelajaran tentang buah dari optimisme dan kerja keras. Aku jadi ingat rekan-rekan kerjaku yang semakin hari tampak semakin lupa pada kedua spirit ini. Tawa yang pudar, semangat hidup yang rapuh kerap mewarnai hari-hari ku di tempat kerja. Mungkinkah dunia yang ada di benak mereka itu hanya dunia yang terbatas pada apa yang mereka jalani sehari-hari? Berkutat dengan rutinitas kerja yang membosankan, mengandalkan nasib pada manajemen yang dikelola orang-orang tanggung, sementara dalam diri tidak punya keberanian bahkan lintasan pikiran untuk “bermimpi” dan melahirkan “dunia-dunia alternatif” yang mungkin saja berpeluang mewujud tanpa MERUSAK dunia sehari-hari yang secara relatif “kurang menjanjikan”. Just break your own pack !!! Oh..come on Guys..keep up your spirit !!! where’s your positive energy ???

Sementara di halaman paling awal, sebuah kutipan yang diinterpretasikannya dari Harun Yahya adalah : “Hidup dan nasib bisa tampak berantakan, misterius, fantastis, dan sporadis, namun setiap elemennya adalah sub system keteraturan dari sebuah desain holistic yang sempurna. Menerima kehidupan berarti menerima kenyataan bahwa tak ada hal sekecil apapun terjadi karena kebetulan. Ini fakta penciptaan yang tak terbantahkan.”


I always believe that whatever happens in our lives, there’s always reason behind that. We have our own pieces of mosaics to mend as our own pictures. Find them out then reveal the secret. Life is a blessing. So, don’t waste your time and energy for being depressed of –could be—nothing. Open your mind and Enjoy Guys…!

***********

Hidup, Manusia, dan Segala Tingkah Polahnya (bag II)

Kamis, 22 Mei 2008

Mengapa hidup kadang tidak ramah pada kita ? mungkin pertanyaan ini pernah atau kadang, bahkan sering kita lontarkan pada diri kita sendiri ? dan pernahkah ada jawaban yang kita punya saat pertanyaan itu terus-menerus muncul ?

Beberapa hari yang lalu teman kerjaku dari Nepal terlihat sedih. Pasalnya, karena kesalahan kecil yang dibuatnya membuatnya berhadapan dengan ancaman transfer tempat kerja. Selain itu, secara staff baru, Ia merasa Ia juga berusaha bekerja semaksimal mungkin untuk memberikan performa kerja sebagaimana yang diharapkan manajemen. Sebagai staff yang lebih lama, aku berusaha mendorongnya untuk tidak larut memikirkan baik ancaman transfer, maupun kesalahannya. Sakit memang ketika sebuah usaha yang jujur tidak mendapatkan sebuah apresiasi justru malah dituduh tidak bertanggung jawab apalagi hanya karena kesalahan yang begitu sepele.

Beberapa waktu yang lalu, aku mendapat kabar bahwa seorang kameramen al-Jazeera asal Sudan bernama Sami al-Hajj akhirnya dibebaskan setelah kurang lebih enam tahun mendekam di penjara Guantanamo yang konon paling seram atas tuduhan yang tidak pernah dilakukannya. Ia sendiri dihukum penjara tanpa melalui proses pengadilan. Saat itu ia meninggalkan seorang bayi laki-laki yang kini sudah berusia enam tahun. Apa itu Guantanamo, bagaimana dan siapa saja yang menghuninya, aku tidak dapat membayangkan bagaimana image seram yang ada padanya sebagai penjara yang paling mengerikan di dunia. Menurutnya, tikus lebih di perlakukan manusiawi dari pada manusia sendiri. Syit ! what a hell ! benakku.


Sekitar sebulan yang lalu, aku menyaksikan akting si cantik Angelina Jolie dalam A Mighty Heart. Sebuah film yang diangkat dari kisah nyata. Ia memerankan tokoh Marianne pearl dengan sangat bagus dimana Ia menjadi seorang istri wartawan yahudi yang diculik dan akhirnya di bunuh dengan keji oleh para teroris ketika kunjungannya ke Karachi beberapa tahun yang lalu pasca peristiwa 11 september. Dalam cerita itu di gambarkan mereka adalah sepasang pengantin baru yang sedang bahagia karena sang istri sedang mengandung. Kesamaan visi dan idealisme membuat mereka bertemu dan sebuah tanggung jawab profesi membawanya berada di Karachi. Terlepas dari tuduhan sebagai mata-mata, keyahudian Danny Pearl sang suami ternyata menjadi momok yang membahayakan nyawanya yang berada di tengah-tengah ektremis kelompok muslim Karachi. Dan identitas yahudi ini pun tidak pernah Ia tutupi ketika orang menanyakan agamanya sebab dengan pikiran positif dan terbukanya, mungkin baginya tidak ada yang keliru dengan itu. Seluruh keluarganya Yahudi maka Ia pun terlahir sebagai seorang Yahudi, tentu saja bukan keinginannya.

Dan beberapa bulan yang lalu, seorang penjual gorengan bunuh diri di Serang, Banten. Mahalnya biaya hidup dan ketidak seimbangan antara daya beli, kebutuhan dan pendapatan, membuatnya putus asa dan terpaksa menghabisi nyawanya dengan meninggalkan istri dan beberapa anak-anaknya yang masih berusia sekolah dan pertumbuhan.

Dan barangkali setahun yang lalu. Tiga orang anak kecil meninggal sia-sia dibunuh sang ibu yang khawatir tidak dapat membesarkan anaknya dengan baik. Menurutnya membunuhnya lebih baik dari pada menyaksikan ketidakbahagiaan ketiga buah hatinya. Oh my God …

Sekitar dua minggu yang lalu, sebagian rekan kerjaku berduka ketika badai topan dahsyat meluluh lantakkan sebagian wilayah di negaranya, Myanmar. Beberapa dari mereka, termasuk korban. Meskipun keluarganya selamat, namun topan dahsyat itu telah menghancurkan rumah mereka. Rasanya habis jatuh tertimpa tangga, melihat kondisi politik di negaranya yang memanas, dibarengi datangnya bencana alam yang mengejutkan. Selanjutnya, menyusul kemudian gempa di China yang menewaskan puluhan ribu nyawa melayang sia-sia.

Sayed Ali, seorang bapak di Afganistan, terpaksa menjual anak perempuannya yang baru tumbuh remaja seharga 2000 $ karena untuk menyelamatkan anak-anaknya yang lain dari kematian karena kelaparan. Negara yang akut dilanda konflik dan peperangan ini mengakibatkan merajalelanya jumlah pengangguran dan kelaparan. Sayed Ali hanya seorang dari puluhan ribu bahkan mungkin ratusan ribu lainnya yang bernasib serupa. Sehari-hari , Ia mengais bekas sisa makanan yang dikumpulkannya jadi satu tempat untuk dibawa pulang. Dengan perih Ia berbohong pada keluarganya bahwa Ia diberi atau membeli makanan itu. Ketika ditanya tentang anak perempuannya, dikatakannya bahwa Ia tidak akan pernah memaafkan dirinya seumur hidupnya.

Sekitar tiga hari yang lalu, sebutlah Siti, seorang pembantu rumah tangga di Sharjah, negara bagian dekat Dubai. Selama 20 bulan bekerja, majikannya tidak pernah membayar upahnya yang dijanjikan sebesar 600 dirham perbulan. (beberapa kali lipat dari gajiku yang bekerja hanya 8 jam, plus public holiday, off, dan vacation, juga staffmeal). Ia bekerja dari pagi hingga jam satu malam tanpa libur. Ia pun tidak pernah diberi kesempatan untuk menghubungi keluarganya karena handphonenya di tahan sang majikan. Bersyukur sekarang Ia bisa sedikit menghirup udara dan berada di tangan konsulat RI di Dubai.


Saat ini Dubai sedang musim panas. Konon pada puncaknya, temperatur bisa mencapai hingga di atas 50 derajat celcius. Sebab di media tidak pernah tercatat hingga sebanyak itu. Tahun lalu aku bisa merasakan tingkat kepanasan itu. Diam di rumah adalah pilihan yang terbaik pada saat itu. Bisnis restoranku pun sepi. Customer lebih memilih berlibur ke luar negeri atau tinggal di rumah. Musim dingin lebih singkat dari musim panas. Terus terang, meskipun bagi sebagian orang yang terbiasa dingin, terutama teman-teman Libanon ku yang kebagian datangnya salju di negara mereka bila musim tiba, bagiku, musim dingin di Dubai, benar-benar membuat badanku kaku sulit bergerak. Sementara itu, dibawah gedung tempatku tinggal, ada beberapa orang yang menghuni pelataran yang digunakan sebagai tempat parkir mobil. Mereka kujumpai sedang terlelap tidur setiap kali aku berangkat kerja, yang hanya beralaskan kardus dengan posisi tangan dilipat dan kaki ditekuk. Aku tahu, mereka pasti merasa dingin sekali. Tapi aku juga tidak tahu siapa dan dari mana mereka datang, tidakkah mereka punya tempat tinggal, kalau memang mereka bekerja di wilayah proyek konstruksi depan gedungku, tidakkah perusahaan menjaminkan asrama bagi mereka? Cerita ini barangkali mirip dengan berita yang kubaca di koran lokal beberapa minggu yang lalu. Puluhan imigran yang terbengkalai ketika mereka tiba di Dubai dengan status illegal. Mereka datang melalui agen tak resmi yang memalsukan berbagai dokumen sebagai persyaratan untuk bekerja di Dubai. Sebagian besar berasal dari India, Pakistan, srilangka, dan Bangladesh. Berminggu-minggu mereka menempati sebuah taman di kawasan Karamah, wilayah lain yang dekat dengan Deira. Kusaksikan gambar sejumlah orang terbaring dengan tatapan kosong.


Gambaran ketidakramahan ini hanya nol koma sekian sekian dari betapa tak terhitungnya cerita tentang kegetiran demi kegetiran hidup yang berserak di muka bumi ini. Kegetiran manakah yang kita alami sehari-hari ? adakah kegetiran yang kita alami dari sesuatu yang kita tak berdaya mengubahnya, ataukah itu drama kegetiran yang kita ciptakan sendiri dan masih dapat kita modifikasi, susun ulang, atau kita ubah ? Dan dimanakah posisi kita, ditengah-tengah ancaman kepunahan sebagian ekosistem dibumi yang tak terelakkan akibat efek pemanasan global ini, adakah setitik embun yang bisa kita teteskan untuk meredakan hidup yang kadang getir ini ? pernahkah kita bersyukur saat kita masih bisa bangun pagi, melihat sinar matahari masuk lewat jendela kamar kita, dan kita masih bisa menghirup segar udara pagi, menikmati indahnya bangun, melemaskan otot sebelum beranjak melangkah menuju kamar mandi, merasakan sejuknya disiram air, dan harumnya sentuhan sabun mandi, lalu nikmatnya menyantap sarapan pagi sebelum kembali melakukan aktivitas bekerja.

Selama di Dubai, aku banyak bersentuhan dengan warga negara Libanon. Beberapa dari mereka kukenal dengan sangat baik. Paras yang indah dan kekayaan alam yang berlimpah, mengenal Libanon dari dekat melalui orang-orangnya, sangat disayangkan kini kondisi politik di negaranya kian memanas. Mereka sangat kental persaudaraan sesama bangsanya dan kental nasionalismenya. Setiap kali aku berkunjung ke tempat mereka, kerapkali yang dibicarakan adalah masalah negerinya. Tayangan pidato Hassan Nasrullah pun akhirnya menjadi makananku sehari-hari. Musik dan lagu-lagu yang seringkali diputar adalah lagu-lagu arab dan lagu-lagu patriotismenya kelompok Hizbullah. Sayangnya mereka mempunyai gaya hidup yang mahal. Mempunyai negara yang kacau balau dan tinggal di Dubai yang kering dan membosankan plus biaya hidup yang mahal, seperti buah simalakama.


Beberapa tahun yang lalu, aku ingat sebuah film berjudul Life is Beautiful atau dalam judul lainnya yang berbahasa Italia yaitu La Vida Bella. Sebuah komedi satir yang dimainkan Roberto Benigni sebagai seorang yahudi asal Italia yang terseret dalam jebakan kamp konsentrasi pada perang dunia dua saat rezim Nazi berkuasa di Jerman. Dalam cerita itu Ia selalu menciptakan tawa dalam setiap kejadian pahit yang dialaminya. Sebagai manusia dan laki-laki pada umumnya, Ia juga mengalami jatuh cinta pada seorang wanita, pacaran, menikah dan berkeluarga. Di tengah-tengah dunia yang sedang berperang, dan terlahir sebagai komunitas etnis minoritas yang diperlakukan diskriminatif bahkan terancam dimusnahkan, Ia seakan-akan berusaha menciptakan dan berada dalam dunia tawanya sendiri.

Dalam banyak hal, aku merasa beruntung ketika aku terlahir ke dunia dalam kondisi fisik yang baik, nyaris sempurna. Orang tua yang sederhana dan bertanggung jawab, saling support dalam perekonomian keluarga. Mereka memberiku keleluasaan mengenal dunia seperti apa yang kuinginkan, meskipun pada awalnya sulit mendapatkan restu dan kepercayaan mereka, namun cinta mereka meluluskan pendirianku pada akhirnya. Aku pun terlahir di tengah-tengah komunitas homogen yang dominan dari berbagai unsurnya. Aku lahir sebagai perempuan yang pada umumnya tertarik pada laki-laki. Tentu berbeda bila aku memiliki kecenderungan seks sesama jenis, resistensi masyarakat akan sangat kuat menentangku, keluargakupun mungkin akan merasa aib memilikiku. Aku juga terlahir sebagai seorang muslim di tengah-tengah mayoritas warga muslim di wilayahku, di kotaku, dan di negaraku. Tradisi dan keyakinan islam yang diajarkan padaku juga yang mayoritas muslim menganutnya. Tentunya kondisi ini mengamankanku. aku tidak tahu apa yang akan menimpaku bila aku terlahir ditengah-tengah keluarga yang menganut keyakinan ajaran islam seperti yang dianut Ahmadiyah, Salamullah, dan minoritas lainnya. Meskipun mereka sama-sama berasal dari agama yang sama. Aku juga tidak tahu bila aku terlahir sebagai seorang nasrani yang sulit masuk sekolah negeri seperti di sumatera barat, kecuali jika aku memakai jilbab, betapa mungkin aku juga akan merasa sangat tertekan, aku juga tidak tahu bila aku terlahir di wilayah yang penguasanya memaksakan warga perempuannya memakai jilbab, yang menghukumku bila aku keluar malam, dan sebagainya. Aku juga tidak tahu bila aku terlahir dari keluarga minoritas Tionghoa atau Konghucu yang hidup ditengah-tengah penguasa dan masyarakat yang tidak mengakui kepercayaan kami, apalagi memfasilitasi kami untuk beribadah. Aku juga tidak tahu bila aku terlahir dalam sebuah kawasan konflik dan peperangan, dimana aku tidak dapat leluasa menikmati masa kanak-kanak dan remajaku apalagi bersekolah karena adanya wajib militer sejak dini atau kesukaran lainnya. Aku juga tidak tahu bila aku terlahir sebagai warga kulit hitam di Afrika Selatan, atau wilayah lainnya yang mendiskreditkan kami. Aku beruntung. Hidup dan nasib baik benar-benar berada dipihakku. Namun jiwaku tetap gelisah, sebab semua yang kusebutkan tadi, benar-benar terjadi. Mereka hidup ditengah-tengah kita di belahan bumi yang lain. Jauh, tapi hidup dan nyata dalam keseharian kita. Pernahkah kita sejenak merenungkan semua ini?


Sesulit apapun kondisi ekonomi negeriku, aku tidak pernah tidak punya makanan. Separah apapun kekeringan yang melanda bumi, aku tidak pernah kehausan. Sedahsyat apapun bencana alam yang menimpa saudara-saudaraku, aku bersyukur, aku tetap mempunyai tempat tinggal yang layak. Lalu, adakah alasan untuk aku selalu berkeluh kesah ? rasanya waktu begitu berharga bila selalu diisi dengan keluhan. Apa yang kita takutkan dalam hidup ini barangkali hanya sebuah drama yang kita ciptakan sendiri. Toh, sesuatu yang besar yang kita takutkan pasti terjadi, sebuah kematian. siapa yang bisa menghindari itu. Kita berpacu dengan waktu, bangunlah, beranjak, cuci muka, bercermin, lakukanlah sesuatu untuk hidup kita, sebab usia terus mengerogoti jasad kita. Dimanapun adanya, apalagi di kota-kota besar seperti Dubai, orang begitu sibuk dengan urusan perut, gengsi, dan perlombaan citra dan kekayaan. rasanya segalanya menjadi murah ketika persahabatan, cinta, keluarga, diukur dengan semua itu untuk mengikatnya. Bukankah uang yang kita cari hanya alat. Realitanya segala sesuatu perlu uang. Namun uang bukan segalanya. Kitalah yang menentukan untuk menjadi siapa yang kita inginkan.

Untuk teman-temanku, semoga tetap bisa menikmati hidup ini betapapun sulitnya. percayalah, diatas kesulitan akan selalu ada kemudahan dan jalan keluar. Bukankah orang-orang sukses mengajarkan bahwa untuk bisa sukses perlu jatuh berkali-kali. Dan mengapa harus takut dianggap tidak sukses kalau sukses adalah diri kita sendiri. bersabarlah dan tetap tersenyum.

Bersambung...