Kamis, 22 Mei 2008

Mengapa hidup kadang tidak ramah pada kita ? mungkin pertanyaan ini pernah atau kadang, bahkan sering kita lontarkan pada diri kita sendiri ? dan pernahkah ada jawaban yang kita punya saat pertanyaan itu terus-menerus muncul ?
Beberapa hari yang lalu teman kerjaku dari Nepal terlihat sedih. Pasalnya, karena kesalahan kecil yang dibuatnya membuatnya berhadapan dengan ancaman transfer tempat kerja. Selain itu, secara staff baru, Ia merasa Ia juga berusaha bekerja semaksimal mungkin untuk memberikan performa kerja sebagaimana yang diharapkan manajemen. Sebagai staff yang lebih lama, aku berusaha mendorongnya untuk tidak larut memikirkan baik ancaman transfer, maupun kesalahannya. Sakit memang ketika sebuah usaha yang jujur tidak mendapatkan sebuah apresiasi justru malah dituduh tidak bertanggung jawab apalagi hanya karena kesalahan yang begitu sepele.
Beberapa waktu yang lalu, aku mendapat kabar bahwa seorang kameramen al-Jazeera asal Sudan bernama Sami al-Hajj akhirnya dibebaskan setelah kurang lebih enam tahun mendekam di penjara Guantanamo yang konon paling seram atas tuduhan yang tidak pernah dilakukannya. Ia sendiri dihukum penjara tanpa melalui proses pengadilan. Saat itu ia meninggalkan seorang bayi laki-laki yang kini sudah berusia enam tahun. Apa itu Guantanamo, bagaimana dan siapa saja yang menghuninya, aku tidak dapat membayangkan bagaimana image seram yang ada padanya sebagai penjara yang paling mengerikan di dunia. Menurutnya, tikus lebih di perlakukan manusiawi dari pada manusia sendiri. Syit ! what a hell ! benakku.

Sekitar sebulan yang lalu, aku menyaksikan akting si cantik Angelina Jolie dalam A Mighty Heart. Sebuah film yang diangkat dari kisah nyata. Ia memerankan tokoh Marianne pearl dengan sangat bagus dimana Ia menjadi seorang istri wartawan yahudi yang diculik dan akhirnya di bunuh dengan keji oleh para teroris ketika kunjungannya ke Karachi beberapa tahun yang lalu pasca peristiwa 11 september. Dalam cerita itu di gambarkan mereka adalah sepasang pengantin baru yang sedang bahagia karena sang istri sedang mengandung. Kesamaan visi dan idealisme membuat mereka bertemu dan sebuah tanggung jawab profesi membawanya berada di Karachi. Terlepas dari tuduhan sebagai mata-mata, keyahudian Danny Pearl sang suami ternyata menjadi momok yang membahayakan nyawanya yang berada di tengah-tengah ektremis kelompok muslim Karachi. Dan identitas yahudi ini pun tidak pernah Ia tutupi ketika orang menanyakan agamanya sebab dengan pikiran positif dan terbukanya, mungkin baginya tidak ada yang keliru dengan itu. Seluruh keluarganya Yahudi maka Ia pun terlahir sebagai seorang Yahudi, tentu saja bukan keinginannya.
Dan beberapa bulan yang lalu, seorang penjual gorengan bunuh diri di Serang, Banten. Mahalnya biaya hidup dan ketidak seimbangan antara daya beli, kebutuhan dan pendapatan, membuatnya putus asa dan terpaksa menghabisi nyawanya dengan meninggalkan istri dan beberapa anak-anaknya yang masih berusia sekolah dan pertumbuhan.
Dan barangkali setahun yang lalu. Tiga orang anak kecil meninggal sia-sia dibunuh sang ibu yang khawatir tidak dapat membesarkan anaknya dengan baik. Menurutnya membunuhnya lebih baik dari pada menyaksikan ketidakbahagiaan ketiga buah hatinya. Oh my God …
Sekitar dua minggu yang lalu, sebagian rekan kerjaku berduka ketika badai topan dahsyat meluluh lantakkan sebagian wilayah di negaranya, Myanmar. Beberapa dari mereka, termasuk korban. Meskipun keluarganya selamat, namun topan dahsyat itu telah menghancurkan rumah mereka. Rasanya habis jatuh tertimpa tangga, melihat kondisi politik di negaranya yang memanas, dibarengi datangnya bencana alam yang mengejutkan. Selanjutnya, menyusul kemudian gempa di China yang menewaskan puluhan ribu nyawa melayang sia-sia.
Sayed Ali, seorang bapak di Afganistan, terpaksa menjual anak perempuannya yang baru tumbuh remaja seharga 2000 $ karena untuk menyelamatkan anak-anaknya yang lain dari kematian karena kelaparan. Negara yang akut dilanda konflik dan peperangan ini mengakibatkan merajalelanya jumlah pengangguran dan kelaparan. Sayed Ali hanya seorang dari puluhan ribu bahkan mungkin ratusan ribu lainnya yang bernasib serupa. Sehari-hari , Ia mengais bekas sisa makanan yang dikumpulkannya jadi satu tempat untuk dibawa pulang. Dengan perih Ia berbohong pada keluarganya bahwa Ia diberi atau membeli makanan itu. Ketika ditanya tentang anak perempuannya, dikatakannya bahwa Ia tidak akan pernah memaafkan dirinya seumur hidupnya.
Sekitar tiga hari yang lalu, sebutlah Siti, seorang pembantu rumah tangga di Sharjah, negara bagian dekat Dubai. Selama 20 bulan bekerja, majikannya tidak pernah membayar upahnya yang dijanjikan sebesar 600 dirham perbulan. (beberapa kali lipat dari gajiku yang bekerja hanya 8 jam, plus public holiday, off, dan vacation, juga staffmeal). Ia bekerja dari pagi hingga jam satu malam tanpa libur. Ia pun tidak pernah diberi kesempatan untuk menghubungi keluarganya karena handphonenya di tahan sang majikan. Bersyukur sekarang Ia bisa sedikit menghirup udara dan berada di tangan konsulat RI di Dubai.

Saat ini Dubai sedang musim panas. Konon pada puncaknya, temperatur bisa mencapai hingga di atas 50 derajat celcius. Sebab di media tidak pernah tercatat hingga sebanyak itu. Tahun lalu aku bisa merasakan tingkat kepanasan itu. Diam di rumah adalah pilihan yang terbaik pada saat itu. Bisnis restoranku pun sepi. Customer lebih memilih berlibur ke luar negeri atau tinggal di rumah. Musim dingin lebih singkat dari musim panas. Terus terang, meskipun bagi sebagian orang yang terbiasa dingin, terutama teman-teman Libanon ku yang kebagian datangnya salju di negara mereka bila musim tiba, bagiku, musim dingin di Dubai, benar-benar membuat badanku kaku sulit bergerak. Sementara itu, dibawah gedung tempatku tinggal, ada beberapa orang yang menghuni pelataran yang digunakan sebagai tempat parkir mobil. Mereka kujumpai sedang terlelap tidur setiap kali aku berangkat kerja, yang hanya beralaskan kardus dengan posisi tangan dilipat dan kaki ditekuk. Aku tahu, mereka pasti merasa dingin sekali. Tapi aku juga tidak tahu siapa dan dari mana mereka datang, tidakkah mereka punya tempat tinggal, kalau memang mereka bekerja di wilayah proyek konstruksi depan gedungku, tidakkah perusahaan menjaminkan asrama bagi mereka? Cerita ini barangkali mirip dengan berita yang kubaca di koran lokal beberapa minggu yang lalu. Puluhan imigran yang terbengkalai ketika mereka tiba di Dubai dengan status illegal. Mereka datang melalui agen tak resmi yang memalsukan berbagai dokumen sebagai persyaratan untuk bekerja di Dubai. Sebagian besar berasal dari India, Pakistan, srilangka, dan Bangladesh. Berminggu-minggu mereka menempati sebuah taman di kawasan Karamah, wilayah lain yang dekat dengan Deira. Kusaksikan gambar sejumlah orang terbaring dengan tatapan kosong.

Gambaran ketidakramahan ini hanya nol koma sekian sekian dari betapa tak terhitungnya cerita tentang kegetiran demi kegetiran hidup yang berserak di muka bumi ini. Kegetiran manakah yang kita alami sehari-hari ? adakah kegetiran yang kita alami dari sesuatu yang kita tak berdaya mengubahnya, ataukah itu drama kegetiran yang kita ciptakan sendiri dan masih dapat kita modifikasi, susun ulang, atau kita ubah ? Dan dimanakah posisi kita, ditengah-tengah ancaman kepunahan sebagian ekosistem dibumi yang tak terelakkan akibat efek pemanasan global ini, adakah setitik embun yang bisa kita teteskan untuk meredakan hidup yang kadang getir ini ? pernahkah kita bersyukur saat kita masih bisa bangun pagi, melihat sinar matahari masuk lewat jendela kamar kita, dan kita masih bisa menghirup segar udara pagi, menikmati indahnya bangun, melemaskan otot sebelum beranjak melangkah menuju kamar mandi, merasakan sejuknya disiram air, dan harumnya sentuhan sabun mandi, lalu nikmatnya menyantap sarapan pagi sebelum kembali melakukan aktivitas bekerja.
Selama di Dubai, aku banyak bersentuhan dengan warga negara Libanon. Beberapa dari mereka kukenal dengan sangat baik. Paras yang indah dan kekayaan alam yang berlimpah, mengenal Libanon dari dekat melalui orang-orangnya, sangat disayangkan kini kondisi politik di negaranya kian memanas. Mereka sangat kental persaudaraan sesama bangsanya dan kental nasionalismenya. Setiap kali aku berkunjung ke tempat mereka, kerapkali yang dibicarakan adalah masalah negerinya. Tayangan pidato Hassan Nasrullah pun akhirnya menjadi makananku sehari-hari. Musik dan lagu-lagu yang seringkali diputar adalah lagu-lagu arab dan lagu-lagu patriotismenya kelompok Hizbullah. Sayangnya mereka mempunyai gaya hidup yang mahal. Mempunyai negara yang kacau balau dan tinggal di Dubai yang kering dan membosankan plus biaya hidup yang mahal, seperti buah simalakama.

Beberapa tahun yang lalu, aku ingat sebuah film berjudul Life is Beautiful atau dalam judul lainnya yang berbahasa Italia yaitu La Vida Bella. Sebuah komedi satir yang dimainkan Roberto Benigni sebagai seorang yahudi asal Italia yang terseret dalam jebakan kamp konsentrasi pada perang dunia dua saat rezim Nazi berkuasa di Jerman. Dalam cerita itu Ia selalu menciptakan tawa dalam setiap kejadian pahit yang dialaminya. Sebagai manusia dan laki-laki pada umumnya, Ia juga mengalami jatuh cinta pada seorang wanita, pacaran, menikah dan berkeluarga. Di tengah-tengah dunia yang sedang berperang, dan terlahir sebagai komunitas etnis minoritas yang diperlakukan diskriminatif bahkan terancam dimusnahkan, Ia seakan-akan berusaha menciptakan dan berada dalam dunia tawanya sendiri.
Dalam banyak hal, aku merasa beruntung ketika aku terlahir ke dunia dalam kondisi fisik yang baik, nyaris sempurna. Orang tua yang sederhana dan bertanggung jawab, saling support dalam perekonomian keluarga. Mereka memberiku keleluasaan mengenal dunia seperti apa yang kuinginkan, meskipun pada awalnya sulit mendapatkan restu dan kepercayaan mereka, namun cinta mereka meluluskan pendirianku pada akhirnya. Aku pun terlahir di tengah-tengah komunitas homogen yang dominan dari berbagai unsurnya. Aku lahir sebagai perempuan yang pada umumnya tertarik pada laki-laki. Tentu berbeda bila aku memiliki kecenderungan seks sesama jenis, resistensi masyarakat akan sangat kuat menentangku, keluargakupun mungkin akan merasa aib memilikiku. Aku juga terlahir sebagai seorang muslim di tengah-tengah mayoritas warga muslim di wilayahku, di kotaku, dan di negaraku. Tradisi dan keyakinan islam yang diajarkan padaku juga yang mayoritas muslim menganutnya. Tentunya kondisi ini mengamankanku. aku tidak tahu apa yang akan menimpaku bila aku terlahir ditengah-tengah keluarga yang menganut keyakinan ajaran islam seperti yang dianut Ahmadiyah, Salamullah, dan minoritas lainnya. Meskipun mereka sama-sama berasal dari agama yang sama. Aku juga tidak tahu bila aku terlahir sebagai seorang nasrani yang sulit masuk sekolah negeri seperti di sumatera barat, kecuali jika aku memakai jilbab, betapa mungkin aku juga akan merasa sangat tertekan, aku juga tidak tahu bila aku terlahir di wilayah yang penguasanya memaksakan warga perempuannya memakai jilbab, yang menghukumku bila aku keluar malam, dan sebagainya. Aku juga tidak tahu bila aku terlahir dari keluarga minoritas Tionghoa atau Konghucu yang hidup ditengah-tengah penguasa dan masyarakat yang tidak mengakui kepercayaan kami, apalagi memfasilitasi kami untuk beribadah. Aku juga tidak tahu bila aku terlahir dalam sebuah kawasan konflik dan peperangan, dimana aku tidak dapat leluasa menikmati masa kanak-kanak dan remajaku apalagi bersekolah karena adanya wajib militer sejak dini atau kesukaran lainnya. Aku juga tidak tahu bila aku terlahir sebagai warga kulit hitam di Afrika Selatan, atau wilayah lainnya yang mendiskreditkan kami. Aku beruntung. Hidup dan nasib baik benar-benar berada dipihakku. Namun jiwaku tetap gelisah, sebab semua yang kusebutkan tadi, benar-benar terjadi. Mereka hidup ditengah-tengah kita di belahan bumi yang lain. Jauh, tapi hidup dan nyata dalam keseharian kita. Pernahkah kita sejenak merenungkan semua ini?

Sesulit apapun kondisi ekonomi negeriku, aku tidak pernah tidak punya makanan. Separah apapun kekeringan yang melanda bumi, aku tidak pernah kehausan. Sedahsyat apapun bencana alam yang menimpa saudara-saudaraku, aku bersyukur, aku tetap mempunyai tempat tinggal yang layak. Lalu, adakah alasan untuk aku selalu berkeluh kesah ? rasanya waktu begitu berharga bila selalu diisi dengan keluhan. Apa yang kita takutkan dalam hidup ini barangkali hanya sebuah drama yang kita ciptakan sendiri. Toh, sesuatu yang besar yang kita takutkan pasti terjadi, sebuah kematian. siapa yang bisa menghindari itu. Kita berpacu dengan waktu, bangunlah, beranjak, cuci muka, bercermin, lakukanlah sesuatu untuk hidup kita, sebab usia terus mengerogoti jasad kita. Dimanapun adanya, apalagi di kota-kota besar seperti Dubai, orang begitu sibuk dengan urusan perut, gengsi, dan perlombaan citra dan kekayaan. rasanya segalanya menjadi murah ketika persahabatan, cinta, keluarga, diukur dengan semua itu untuk mengikatnya. Bukankah uang yang kita cari hanya alat. Realitanya segala sesuatu perlu uang. Namun uang bukan segalanya. Kitalah yang menentukan untuk menjadi siapa yang kita inginkan.
Untuk teman-temanku, semoga tetap bisa menikmati hidup ini betapapun sulitnya. percayalah, diatas kesulitan akan selalu ada kemudahan dan jalan keluar. Bukankah orang-orang sukses mengajarkan bahwa untuk bisa sukses perlu jatuh berkali-kali. Dan mengapa harus takut dianggap tidak sukses kalau sukses adalah diri kita sendiri. bersabarlah dan tetap tersenyum.
Bersambung...