“ Aku ingin mendaki puncak tantangan, menerjang batu granit kesulitan, menggoda marabahaya, dan memecahkan misteri dengan sains. Aku ingin menghirup berupa-rupa pengalaman lalu terjun bebas menyelami labirin liku-liku hidup yang ujungnya tak dapat disangka. Aku mendamba kehidupan dengan kemungkinan-kemungkinan yang bereaksi satu sama lain seperti benturan molekul uranium : meletup tak terduga-duga, menyerap, mengikat, mengganda, berkembang, terurai, dan berpencar ke arah yang mengejutkan. Aku ingin ke tempat-tempat yang jauh, menjumpai beragam bahasa dan orang-orang asing. Aku ingin berkelana, menemukan arahku dengan membaca bintang gemintang. Aku ingin mengarungi padang dan guru-gurun, ingin melepuh terbakar matahari, limbung dihantam angin, dan menciut dicengkeram dingin. Aku ingin kehidupan yang menggetarkan, penuh dengan penaklukan. Aku ingin hidup ! ingin merasakan saripati hidup !”
Ini adalah sebuah penggalan kata-kata yang tertuang dalam novel ke tiga dari tetralogi laskar pelangi yang berjudul Edensor. Novel ini juga merupakan nominator khatulistiwa literary award tahun 2007. Novel kisah pengalaman pribadi sang penulis Andrea Hirata ini bercerita mengenai bagian dari kisah perjalanan hidupnya dalam pencarian jati diri dan cinta. Tema yang tidak baru pada dasarnya, Namun kita akan tenggelam dan terinspirasi menyimak lika-liku hidup yang dijalaninya sebagai anak desa yang miskin namun berani mewujudkan mimpinya untuk melanjutkan pendidikan hingga ke Paris.
Ikal, demikian tokoh utama dalam cerita ini, yang juga merupakan nama kecil Andrea Hirata adalah seorang anak yang lahir dari pedalaman desa belitong, Bangka Belitung. Lingkungan yang membesarkannya adalah lingkungan buta huruf. Bersama kesembilan teman-teman sekolahnya sejak SD hingga SMP, Ikal, Arai, Lintang, Mahar adalah diantara anak-anak cerdas yang lahir dari perut bumi pertiwi ini. Bakat-bakat alam kecerdasan yang menonjol dari mereka masing-masing, dibuktikan secara alami, nyata dan luar biasa. (laskar pelangi)
Sejak kanak-kanak, masa remaja hingga dewasa terutama Ikal dan Arai, dua tokoh utama dalam novel ini, terbiasa bekerja di sela-sela kegiatan sekolahnya. Jalan hidupnya yang keras mengajarinya banyak hal tentang pentingnya memiliki dan mewujudkan mimpi untuk keluar dari lingkaran kemiskinan yang melilitnya melalui pendidikan apapun resikonya. Ikal dan Arai adalah juga dua orang berjiwa petualang yang senang belajar (Sang Pemimpi). Kecerdasannya dibuktikan lewat prestasi akademisnya yang menonjol. Semangat inilah yang mendatangkan pelukan semesta untuk merengkuh impian mereka hingga ke Paris. Meskipun malang bagi Arai, di tengah perjalanan studinya, Ia terserang penyakit pernafasan genetis yang membuatnya harus menjalani perawatan dan kembali ke tanah air.
Dua kutipan yang coba ku ingat di awal tulisannya adalah : “Jika hidup ini seumpama rel kereta api dalam eksperimen relativitas Einstein, maka pengalaman demi pengalaman yang menggempur kita dari waktu ke waktu adalah cahaya yang melesat-lesat di dalam gerbong di atas rel itu. Relativitasnya berupa seberapa banyak kita dapat mengambil pelajaran dari pengalaman yang melesat-lesat itu. Analogi Eksperimen itu tak lain, karena kecepatan cahaya bersifat sama dan absolute, dan waktu relative tergantung kecepatan gerbong, maka pengalaman yang sama dapat menimpa siapa saja, namun sejauh mana, dan secepat apa pengalaman yang tadi memberi pelajaran pada seseorang, hasilnya akan berbeda, relative satu sama lain”.
Menyimak kisah yang tertuang dalam novel Edensor ini, memberikanku satu lagi pelajaran tentang buah dari optimisme dan kerja keras. Aku jadi ingat rekan-rekan kerjaku yang semakin hari tampak semakin lupa pada kedua spirit ini. Tawa yang pudar, semangat hidup yang rapuh kerap mewarnai hari-hari ku di tempat kerja. Mungkinkah dunia yang ada di benak mereka itu hanya dunia yang terbatas pada apa yang mereka jalani sehari-hari? Berkutat dengan rutinitas kerja yang membosankan, mengandalkan nasib pada manajemen yang dikelola orang-orang tanggung, sementara dalam diri tidak punya keberanian bahkan lintasan pikiran untuk “bermimpi” dan melahirkan “dunia-dunia alternatif” yang mungkin saja berpeluang mewujud tanpa MERUSAK dunia sehari-hari yang secara relatif “kurang menjanjikan”. Just break your own pack !!! Oh..come on Guys..keep up your spirit !!! where’s your positive energy ???
Sementara di halaman paling awal, sebuah kutipan yang diinterpretasikannya dari Harun Yahya adalah : “Hidup dan nasib bisa tampak berantakan, misterius, fantastis, dan sporadis, namun setiap elemennya adalah sub system keteraturan dari sebuah desain holistic yang sempurna. Menerima kehidupan berarti menerima kenyataan bahwa tak ada hal sekecil apapun terjadi karena kebetulan. Ini fakta penciptaan yang tak terbantahkan.”

I always believe that whatever happens in our lives, there’s always reason behind that. We have our own pieces of mosaics to mend as our own pictures. Find them out then reveal the secret. Life is a blessing. So, don’t waste your time and energy for being depressed of –could be—nothing. Open your mind and Enjoy Guys…!
***********
No comments:
Post a Comment