Mengenang Saif Saeed Ghubash..
Berberapa waktu yang lalu tepatnya tanggal 2 - 3 Desember UAE merayakan hari jadinya yang ke 36. Perayaan ini di meriahkan oleh berbagai acara dan atribut yang melambangkan angka 36 dan bendera UAE. Hingga abaya yang dikenakan sebagian perempuan lokalnya pun diberi pita bercorak hitam, merah, hijau dan putih sebagai warna dari bendera UAE. Seperti di bundaran depan restoranku di sekitar kawasan Up Town mirdiff ini, penuh dengan orang-orang yang mengikuti aneka games dalam karnaval pada malam harinya. Ada juga pertunjukkan akrobat dan musik shows oleh artis-artis lokal. Tentu saja suasana ini menguntungkan restoranku yang juga letaknya sangat strategis. Hampir setiap malam padat pengunjung. Terutama pada saat weekend, kamis malam hingga sabtu malam, suasana bisnis di restoranku cukup sibuk hingga kadang kewalahan dan sebagian diantara kami telat untuk break. Selain karena menyambut hari jadinya ini, bulan Desember adalah juga jelang hari natal dan tahun baru. Dubai, dimana terdapat ragam budaya dan agama, juga tidak lepas dari atribut pohon natal di sana sini.
Berbicara tentang negara UAE sebagai negara muslim arab yang terbuka, tidak terlepas dari jasa seorang menteri negara pertama untuk urusan luar negeri Saif Saeed Ghubash periode 70 an. Siapakah dia? Mari kita mengenalnya lebih dekat melalui keluarga dan para sahabatnya:
Mutiara dari Ras Khaimah, salah satu negara bagian di UAE, sosok Saif Ghubash masih jelas teringat dalam lembar sejarah bangsa ini; modern, self-made --yang maju atas usaha sendiri-- , berpendidikan, terbuka, tapi pada saat yang sama ia juga orang yang memegang kuat pada akar tradisi. Bangsa ini tidak hanya mengenangnya pada masa hidupnya, namun juga saat kematiannya yang dramatis. Bukan hanya karena kematiannya disebabkan atas pembunuhan berencana dengan alasan yang tidak pernah jelas, namun juga karena Ia merupakan penggagas dan pelopor berdirinya UAE sebagai negara federasi dengan kerja kerasnya yang luar biasa.
Ghubash dibunuh pada tanggal 23 oktober 30 tahun yang lalu, di bandara Abu Dhabi saat sedang memberikan salam perpisahan pada mantan menteri luar negeri Syiria saat itu, Abdul Halim Khaddam yang sedang melakukan kunjungan ke UAE. Diduga, sasaran pembunuhan sebenarnya ditujukan padanya, namun peluru yang hendak menyerangnya meleset dan menewaskan Ghubash saat perjalanan ke rumah sakit saat itu.
Omar Saif Ghubash mengenang sang ayah sebagai seorang pekerja keras. Di ceritakan oleh rekan-rekan ayahnya di Jerman, Ghubash pernah bekerja di pertambangan di Jerman karena untuk menunjang kondisi keuangannya. Omar menyerukan untuk tidak melupakan sang ayah yang mempunyai kebebasan untuk melakukan perjalanan, memiliki kecerdasan dalam mempelajari dan menguasai berbagai bahasa dan berwawasan luas. Menurutnya, sang ayah sangat menikmati hidupnya. Sebuah percakapan yang menarik dan buku-buku yang bagus dan inspiratiflah yang lebih membuatnya senang dari pada mempunyai uang yang banyak. Kualitas hidup yang ditujukkan pada anak-anaknya adalah bahwa apapun tidak ada yang tidak mungkin dalam hidup ini serta nikmatilah hidup hingga tak ada lagi yang tersisa untuk bisa dinikmati.
Untuk itu, bagi Omar besaudara dan seorang ibunya yang berkebangsaan Rusia ini, setelah apa yang menimpa sang ayah dan rasa kehilangan yang tak mungkin bisa digantikan dengan apapun, duduk dan menangisi kepedihan hati atas rasa kehilangan yang terus-menerus bukan cara yang tepat, sementara pada saat yang sama ketika kita menoleh sekeliling dan menyaksikan ada banyak orang yang membutuhkan perhatian kita, itulah yang lebih utama. Bahwa kita harus peduli pada sekeliling kita sebagaimana kita juga membutuhkan kepedulian orang lain pada saat berada dalam posisi yang sama dengan mereka.
Menutur Omar, Ia mengenal ayahnya dalam caranya memandang hidup. Mengapa sang ayah sangat concern dalam melakukan banyak hal karena Ia mengerti dan paham atas penderitaan orang-orang. Ia juga belajar tentang pentingnya mengamati, berekplorasi, berfikir, dan untuk tidak berputus asa. Menurut apa yangdiceritakan ibunya, pada usianya ke 35, sang ayah tidak pernah putus asa meskipun tidak memilki uang sepeserpun. Meskipun usianya baru 6 tahun saat kematian sang ayah, Omar tetap bisa merasakan sosok sang ayah yang hangat, penuh cinta, kebaikan dan selalu siap mendengar setiap keluhan.
The prize – Banipal
Dalam kenangan Ghubash, keluarganya merupakan dukungan utama dalam memperoleh the Banipal Prize for Arabic Literary Translation. Penghargaan terhadap karya terjemahan yang digarap selama lima tahun ini adalah usaha yang lumayan memakan waktu. Karya yang dipublikasikan dalam bahasa Inggris inipun bertujuan untuk menambah literatur tentang profile dunia arab kontemporer serta bentuk penghargaan terhadap arti pentingnya karya-karya yang dihasilkan oleh para translator secara perseorangan. Hal lain yang lebih penting juga adalah dengan adanya tambahan literature ini akan semakin mendorong para penterjemah menghasilkan karya-karya terjemahan yang lebih banyak lagi, serta melalui ini pula dapat mempermudah barat dalam memahami dunia arab.
Salah satu sahabat dekat Ghubash adalah Zaki Anwar Nusseibeh, seorang wakil kepala kewenangan warisan dan kebudayaan Abu Dhabi dan sebagai penasihat menteri urusan kepresidenan. Ghubash dan Nusseibeh pertama kali bertemu ketika Ghubash bekerja pada keme nterian luar negeri sebagai sekertaris pada tahun 1971. Dia diperkenalkan oleh Dr Ebrahim Ebrahim yang membawanya pada acara kementerian untuk menyelenggarakan sebuah seminar bagi para diplomat baru. Dr Ebrahim berkata pada Nusseibeh : “ you have to meet this fantastic person. I wont tell you anything about him, just come and meet him “
Pada saat itu Nusseibeh menjabat sebagai penterjemah Shaikh Zayed Bin Sultan Al Nahyan. Dia juga bekerja di Departemen Informasi yang kemudian menjadi menteri
Informasi setelah negara federasi terbentuk.Diceritakan Nusseibeh, pertemuan pertama melalui makan malam itu mengawali sebuah hubungan persahabatan yang lama, dekat dan luar biasa. Menurutnya, Ghubash tidak seperti pada umumnya warga UAE. Secara kesan fisik, ia selalu mengenakan jas. Ia tidak pernah memakai kandoora seperti warga lokal UAE lainnya. Pada usia mudanya Ia adalah seorang yang memiliki pemikiran liberal bahkan kekiri-kirian. Yang mengagumkan pada diri Ghubash adalah betapa intelek dan juga berwawasan internasional seorang Ghubash yang dikenalnya. Tapi pada saat yang sama Ia juga sangat memegang kuat tradisi, budaya dan warisan yang dimilki Islam, Arab, dan UAE khususnya.
Sekilas mengenai perjalanan intelektualnya, Ghubash pada awalnya belajar Fikih dan Sharia di kota kelahirannya Ras Al Khaimah. Ia memulai dari sekolah dasar pendidikan arab dan Islam. Ghubash meninggalkan tanah kelahirannya pada usia 14 tahun untuk belajar. Tahun 1949, Ia pergi ke Bahrain dan masuk sekolah formal. Selanjutnya Ia berkeliling dunia belajar di berbagai negara tidak hanya bahasa yangdipelajarinya namun juga budaya dan peradabannya. Ghubash hidup selama bertahun-tahun dalam kondisi yang keras dan sulit ketika Ia berkeliling dunia. Ia harus tidur di mesjid-mesjid ketika Ia belajar di Bahrain sebab tidak sanggup membayar sewa kamar. Ia pun terpaksa harus bangun pagi sekali sebelum petugas datang dan bersiap untuk berangkat sekolah. Dalam perjalanan studinya di berbagai negara, Ghubash belajar banyak hal. Ia juga mendapatkan beberapa beasiswa. Gelar akademisnya di peroleh dari Itali, Jerman, Perancis dan terakhir di Rusia, dimana Iapun menikah di sana. Suatu kesempatan Ia pernah bercerita bahwa Ia menyewa jas untuk menikah karena Ia tidak memiliki satupun. Setelah memperoleh gelar sarjana, Ia kembali ke tanah air pada tahun 1969. Menurut Nusseibeh dia memiliki pengetahuan yang fenomenal mengenai sastra serta puisi-puisi tradisional dan modern tidak hanya sastra dan puisi arab namun juga Itali, Jerman, Inggris, dan Amerika.
Pada akhirnya ia menemukan jawaban mengapa Ghubash dapat menguasai semua itu sebab ia merupakan teman dari para penulis dan penyair muda yang berasal dari negara-negara yang ia kunjungi. Mengutip kesannya mengenai Ghubash, menurutnya Ghubash seorang yang mengagumkan,” the more you sat with him, the more you discovered what kind of a person he was; humane, a person of the world and a very strong supporter of the Palestinian goals”.
Menurut Nusseibeh, Ia ingat seorang wakil PLO di Itali, Waeel Zaitar, yang juga seorang penyair dan penulis, adalah salah satu teman dekatnya Ghubash. Ia juga dibunuh oleh teroris palestina. Namun saat Ia masih hidup, Ia sempat berkomentar tentang sahabatnya, bahwa Ghubash dimatanya adalah seorang yang internasional in outlook namun very Arab deep down.
Sosok Ghubash dikenal karena posisinya dalam memperjuangkan keadilan. Dalam kementerian, Ia dikenal sebagai seorang yang keras pendirian, moderat, dan tidak membawa pandangan-pandangan ekstrim apapun. Menurut Nusseibeh, tentu saja selalu ada pihak yang secara khusus menyerangnya sebab Ia belajar di Rusia, menikah dengan seorang berkebangsaan Rusia, selalu mengenakan jas dalam penampilannya, kekiri-kirian, dan selalu memperjuangkan keadilan dan kesetaraan sosial, meskipun demikian Ia bukan seorang yang revolusioner.

Dimata para sahabatnya, Ghubash adalah seorang yang cinta negaranya, seorang sahabat yang setia dan hangat. Ia juga seorang yang memilki semangat hidup, sederhana, rendah hati dan memiliki selera humor yang bagus. Ia juga menunjukkan penghargaan dan penghormatan terhadap para ahli dan konsultan dari negara-negara arab yang berasal dari Mesir, Iraq, Sudan, dan Jordania untuk membantu kementerian luar negeri UAE dalam merancang operasi dan prosedur-prosedur internalnya ketika pertemuan liga arab di mesir pada 1971 berlangsung. Ia juga terpengaruh secara emosional ketika konflik di dunia arab meningkat seperti perang sipil yang terjadi di Libanon dan konflik yang berlangsung antara Syiria dan Iraq. Pada pertemuan Liga Eropa-Arabpun, kemampuannya dalam memediasi dan mencapai solusi dan kesepakatan terbukti bahwa Ia seorang yang cakap dalambidang politik dan kapabel dalam membangun persahabatan yang kuat antar bangsa.
Ghubash dikenal sebagai seorang penulis yang berpendidikan dan berbudaya, Ia juga seorang pengarang, dan seorang ahli bahasa meskipun cita-cita utamanya menjadi seorang insinyur. Ia menyadari arti pentingnya seorang insinyur yang handal untuk membangun negaranya. Hingga akhirnya Ia baru bisa menyandang gelar insinyur setelah 20 tahun pengembaraannya di berbagai negara dan kembali lagi ke tanah air. Selama perjalanannya ke berbagai negara tersebut, Ghubash bekerja keras dan belajar untuk mengandalkan pada diri sendiri dan memanfaatkan setiap kesempatan untuk dapat mengenyam pendidikan. Dia juga belajar banyak bahasa dan bekerja pada bidang yang bermacam-macam di negara-negara Eropa sebelum memperoleh gelar insinyurnya dari Universitas Science dan Technology Leningrad.
Pengalaman yang Ia peroleh ketika perjalanannya pada negara-negara antara kapitalis dan sosilais ini memberinya pemahaman yang mendalam pada bidang politik, public relation, dan kontradiksi-kontradiksi sosial. Selain itu, hal ini juga membantunya tumbuh melampaui perannya sebagai seorang insinyur yang handal sekaligus seorang intelektual dengan sebuah visi untuk membangun negaranya. Ghubash sangat menggemari karya-karya dari Albert Camus, Jean Paul Sartre dan Moliere setelah dia belajar bahasa Inggris di Bahrain dan bahasa Perancis di Paris.
Semua yang Ia pelajari dimanfaatkannya ketika Ia kembali ke tanah kelahirannya Ras Al Khaimah. Ia memainkan peran yang sangat vital dalam perencanaan di bidang agrikulrura, wilayah-wilayah penghunian, mendesign peta, mengorganisir kepemilikan dan survey-survey lahan serta mewujudkan proyek-proyek di bidang transportasi dan lingkungan. Semua pengetahuan dan wawasan budayanya yang tersebar luar melalui artikel-artikelnya, dipublikasikan oleh majalah Ras Al Khaimah.
Ketika negara federasi UAE terbentuk dan berdiri pada tahun 1971, Ghubash adalah salah seorang diantara yang pertama kali menggambarkan bentuk negara federasi. Shaikh Zayed Bin Sultan Al Nahyan sebagai seorang yang ahli dalam memahami karakter seseorang mengakui jasa, kebaikan dan potensinya dan menunjuk Ghubash untuk menjabat sebagai Menteri Negara UAE pertama untuk urusan luar negeri pada 12 Desember 1973.
Anak-anak Ghubash tumbuh dan dibesarkan dalam lingkungan intelektual dan memiliki kecerdasan dan rasa ingin tahu yang sama satu sama lainnya.
Menurut Nusseibeh, kematiannya merupakan korban dari terorisme buta dimana Ia juga seorang yang bersuara keras mengecam pendudukan Palestina dan menghabiskan seluruh hidupnya untuk membelanya. Pada peringatan kematiannya, bangsa ini berpikir kembali bagaimana dampak yang mendalam atas kejahatan terorisme yang tidak hanya terasa bagi individu namun juga pada skala umat manusia secara keseluruhan.
No comments:
Post a Comment