Tuesday, May 19, 2009

Tempat Kos Baru dan Orang-orangnya

Al Muraqabat Road, 12 Mei 2007, 13 : 20

Sudah dua bulan setengah aku lalui hari-hari di Dubai ini. Sudah 3 Flat yang aku tempati. Dan kini aku tinggal bersama dua orang Srilangka dan dua orang Indonesia. Ruangan sempit yang berukuran kurang lebih 4x4 meter ini, kami tempati berlima, dengan kamar mandi di luar, untuk kamar kami dan kamar sebelah. Serta ada satu ruangan dapur terpusat untuk seluruh kamar yang berjumlah 6 kamar yang berukuran kurang lebih sama. Di dalam satu flat yang berjumlah 6 kamar itu, semua penghuninya berkewarganegaraan filipina. Hanya kamar kami yang bukan. Entahlah, bagaimana asal muasalnya sehingga di seluruh sudut wilayah di Dubai ini hampir selalu kujumpai warga filipina. Sangat banyak. Terkadang aku seperti merasa berada di negara filipina saja. Selain itu, jumlah warga filipina yang begitu massif ini, membuat mereka pun cenderung mengeksklusifkan diri. Contohnya di setiap flat sewaan, selalu di dominasi oleh mereka. Mereka hanya mau menerima yang biasa mereka panggil terhadap sesama warganya "kabayan" dan kebanyakan cenderung enggan menerima warga negara lain. Meskipun untuk menerima warga negara yang memiliki wajah yang kurang lebih sama dengan mereka. Seperti aku yang dari Indonesia.

Selain itu, ada semacam kepercayaan diri dimana secara apriori setiap kali mereka menjumpai orang yang berwajah sama dengan mereka, maka secara otomatis mereka langsung berbicara dengan bahasa tagalognya. Seakan semua orang yang memiliki garis wajah serupa sudah dapat dipastikan berasal dari negara yang sama. Hal itu juga terjadi padaku. Setiap kali aku berada di tempat umum, mereka langsung berbicara panjang dengan tagalongnya tanpa ada prolog terlebih dahulu. Akan tetapi herannya, ketika dikonfirmasi bahwa aku bukan kabayan atau filipino (orang filipina) , mereka hanya bilang sorry dan tidak jadi berbicara.

Dalam sebuah negara multikultural memang tampaknya kecenderungan orang untuk mementingkan kelompoknya akan semakin kental. seperti contoh kecil tadi. orang filipina, hanya mau bersama orang filipina lagi. Orang Libanon, hanya akan mendahulukan orang Libanon lagi. Ditempatku bekerja, seluruh petingginya, rata-rata Libanese, yaitu orang yang berasal dari negar Libanon. Bila ada dua orang yang memiliki kopetensi sama, maka yang akan didahulukan adalah yang Libanese itu untuk dipromosikan. Inilah tantangan terbesar yang sulit untuk dihindari ketika aku juga mungkin ada kemungkinan mempunyai kesempatan berkompetisi untuk meraih posisi lebih baik di tempatku bekerja. Sementara, orang indonesia sangat jarang di sini. apalagi yang mempunyai pengaruh dan posisi di perusahaan-perusahaan. lebih jauh mengenai ini akan ku gambarkan secara khusus. Nah, di tempat kos yang baru ini, aku juga punya cerita tentang teman-temanku yang kurasa menarik juga untuk di simak.

Yang pertama, namanya Dalangka. Bisa dibilang Ia pemilik kamar ini. berkebangsaan Srilangka. Rata-rata teman-teman sekamar kurang suka dengannya. sebab belakangan mereka tahu bahwa Ia membuat bisnis dengan menyewakan kembali kamar yang di sewanya. Ia menyekat sedikit lahan untuknya dengan tiga lembar gorden yang besar. Ia juga menyediakan ranjang dan tempat tidur untuk kami. Ia mengurus perabotan dan membayarkan listrik dan air dari uang sewa kami setiap bulannya sebesar @ Dhs 550. Ia sendiri tidak perlu membayar setiap bulannya. karena uang itu sudah dapat menutupi biaya sewa kamar yang hanya Dhs. 1600 saja diluar biaya listrik dan air. bisa dikatakan genap Dhs. 2000 dengan itu semua. tapi memang Ia akan terpaksa menombok kalau kamar itu kurang orang. Tapi Ia juga akan mempunyai laba kalau kamar itu full 4 orang. 5 orang plus dirinya. Ruangan kami berlima ini cukup sempit. Bayangkan bila masing-masing membawa barang-barang dan pakaian. hanya sekitar 4x4 m2 saja. hanya Ia sendiri yang punya lemari. sementara, sehari-hari pakaian kami simpan di koper.

Dua orang temanku Tere dan Mary, _ yang nanti juga kan ku ceritakan_ adalah yang paling banyak memilki barang dan pakaian. terkadang mereka bisa menaruhnya di tempat tidur siapa saja. Sumpek ! he.. tapi, it's ok lah. karena aku bisa pindah kapanpun aku mau. kalau ada yang lebih murah dan lebih nyaman, kenapa tidak? Dalangka ini umurnya sekitar 25 tahun. Ia mengaku sudah menikah. Tapi, ada satu orang temanku yang mengatakan bahwa laki-laki yang sering datang ke kamar kami itu hanya pacarnya. dan bukan suaminya sebagaimana yang sering diakuinya. tapi bagiku tidak masalah. Baik pacar maupun suami, toh urusan mereka. Konon, Dalangka ini hanya pembantu rumah tangga paruh waktu. Hal itu mungkin saja benar adanya, karena aku sering melihatnya pulang pada jam-jam sibuk, dan kemudian tidak lama akan pergi lagi. terkadang jadwalnya juga tidak tentu. kadang bisa seharian tidak pergi. kalaupun pergi, bisa sering pulang. Pernah sekali aku tanya mengenai jadwal kerjanya. Ia hanya bilang lagi break, dan akan pergi lagi. Atau kalau sedang seharian di kamar, dia bilang lagi off. aku sendiri belum sempat menanyakan pekerjaannya secara spesifik. Ia hanya pernah bilang, saat pertama kali kami berkenalan, kalau Ia bekerja di hotel. dan aku lupa di bagian apa dia pernah menyebutkan. konon lagi, Dalangka ini adalah pekerja imigran ilegal. Dia tidak memiliki dokumen yang lengkap dan sah. Sebagaimana beberapa teman lainnya yang mempunyai kasus yang sama.

Sementara itu, adalah tahun ketiga Ia tinggal dan hidup di Dubai. Entah sudah berapa banyak uang yang sudah berhasil dikumpulkannya. Baik sebagai pembantu rumah tangga paruh waktu, maupun sebagai ibu kos ha..ha.. Dalangka ini cukup responsif kalau ada keluhan. kalau AC rusak, ia segera menghubungi pengelola gedung. dan untuk sementara, dia membelikan kipas angin yang cukup besar. meskipun buat aku pribadi, kipas angin itu malah membuat ruangan semakin sumpek dan juga membuat perut semakin kembung karena masuk angin. Sebelumnya tidak ada mesin cuci. Beberapa hari setelah aku masuk, dia membeli mesin cuci baru. Meskipun pada saat itu, dia sendiri bingung dimana harus menaruhnya. karena lorong-lorong yang menghubungkan kamar kami dengan kamar-kamar yang lain dan juga dengan kamar mandi sudah cukup padat terisi, baik oleh rak-rak sepatu, jemuran, cucian kotor, dan juga mesin-mesin cuci yang dimiliki kamar tetangga. Meskipun sudah ada mesin cuci sendiri, tetapi kami tidak pernah menggunakannya sama sekali. karena tidak cukup menghemat waktu dan cukup ribet. hanya dia sendiri yang kadang menggunakannya. Sementara, pakaian kotor cukup kami cuci manual saja. dianggap lebih praktis. padahal biasanya justru dengan mesin cuci harusnya bisa lebih praktis ya ? hee...

Selanjutnya Eva. Ia berasal dari Indonesia. Sama seperti aku, Tere dan Sara atau Ani (Yang terakhir ini adalah penghuni baru yang nanti juga akan kuceritakan). Ia berasal dari Jawa Tengah. Eva ini sangat antik buatku. Ia bisa berbahasa arab sehari-hari, Ia juga bisa berbahasa inggris sehari-hari dengan aksen jawanya yang medok itu. Ia sangat mandiri. Ia juga anak yang manis, ramah, cerdas, imut, dan care pada kami. Ia anak yang jujur, ceria dan berani.

Sehari-hari Ia bekerja sebagai pembantu rumah tangga paruh waktu, merangkap sebagai baby sitter paruh waktu pula di dua keluarga yang berbeda. Dari dua pekerjaan itu, Ia bisa memperoleh penghasilan sekitar kurang lebih 1300 dhs setiap bulannya. Kalau sedang ada tambahan, Ia bisa mengantongi kurang lebih 1500 dhs setiap bulannya.

Sudah dua tahun ini Ia hidup dan tinggal di Dubai. Sebelumnya, selama beberapa bulan pertama, Ia sempat bekerja sebagai pembantu juga tetapi full Time, dimana ini adalah tempat bekerja yang disalurkan oleh sebuah agen tempat dia melamar pertama kali di Indonesia. Sebagaimana yang diceritakannya padaku, Ia tidak merasa kerasan bekerja di tempat atau keluarga tersebut. Karena personaliti dari anggota keluarga yang kasar. Dengan penuh semangat dan berapi-api, ketika bercerita padaku, akhirnya Ia berhasil melarikan diri dari rumah itu. Dan dengan bantuan teman-temannya, tidak lama setelah itu Ia sudah mendapatkan pekerjaan yang baru lagi sebagaimana yang dijalaninya saat ini.

Eva ini luar biasa bagiku. Kenalannya banyak. Ia tidak takut pada siapa-siapa. Padahal, beberapa kejadian cukup membahayakannya. Seperti saat-saat dimana majikannya terdahulu mencarinya beberapa kali lewat jasa sebuah media cetak. Dan saat ini pun, sama halnya dengan Dalangka, Ia tidak punya dokumen yang sah dan lengkap sebagai pekerja imigran legal. Visanya juga sudah hampir kadaluarsa. Sementara passportnya entah dimana. Ia hanya menduga, mantan majikannya mengembalikan passport miliknya ke kantor keimigrasian. Sementara itu, untuk memperpanjang visa, biaya yang dikeluarkan sangat tinggi, antara 6000-10.000 dhs untuk masa berlaku 3 tahun. Atau 1000-1500 dhs untuk visa visit yang hanya berlaku per 2 bulan. Dengan gaji yang sangat minim, mana mungkin Ia sanggup membiayai perpanjangan visanya yang sangat mahal itu.

Oh ya, Eva ini umurnya juga 25 tahun. Bersambung ...

1 comment:

  1. Senang membaca blognya, kebetulan suami sy akan bekerja di dubai. Cukup memberi gambaran mengenai kehidupan di sana. Thanks

    ReplyDelete