Tuesday, May 19, 2009

Dubai dan Tempat Kos Baru

Senin, 11 Februari 2008

Ini adalah flat kelima yang aku tempati sejak dua bulan yang lalu. Flat ini cukup nyaman dan cukup udara. Meskipun dalam satu kamar berukuran kira-kira 6x7 meter. Kamarku sekarang ini ada balconynya. Dalam sekamar kami bersembilan. Dua orang adalah sepasang suami istri semacam pemilik kamar yang menyewakan kamar yang disewanya. Suaminya adalah rekan kerjaku di restoran. Pemilik kamar yang asli ada di ruang yang lain. Mereka sepasang suami istri yang berbeda agama berkebangsaan srilangka. Suaminya beragama muslim sementara istrinya nasrani. Sebenarnya ruangan yang mereka gunakan awalnya adalah ruang tamu. Namun akhirnya digunakan sebagai ruang pribadi mereka. Dalam flat kami ada 8 ruangan. 5 ruangan adalah kamar. Meskipun dalam satu kamar tidak hanya satu group penyewa. Bisa tiga pasangan suami istri, atapun pun suami istri dan para single baik laki-laki single maupun perempuan, dengan menggunakan partisi untuk menyekat ruang masing-masing. Dua ruangan adalah kamar mandi dan toilet. Satu toilet ada di salah satu ruang kamar. Satu ruangan lagi cukup besar adalah dapur. Dimana ruangan ini tempat pertemuan satu sama lain untuk sekedar berbagi cerita, dan lain-lain.


Gedung tempatku tinggal cukup megah. Ditengah-tengahnya di sediakan ruangan terbuka sehingga gedung ini cukup punya udara. Dilantai tiga malah ada semacam ruangan besar terbuka yang bisa kulihat dari lantaiku lantai enam. Setiap sore kalau kebetulan aku sedang off atau masuk pagi, sesekali kusempatkan untuk melihat anak-anak tetangga flatku sedang bermain bola. Dubai dan kehidupannya sangat kontras dengan sukabumi ( hee..) sebagai kota kecil Jawa barat dengan kehidupannya. (ya iyya lah..hee..) Di Sukabumi sana, antara satu rumah dengan rumah yang lain saling mengenal hingga jarak terjauh sekalipun. Di sini, satu gedung yang terdiri dari sejumlah flat bisa dianggap sebagai satu RT atau RW atau kelurahan. Tapi antara satu flat dengan flat lainnya saling acuh. Mungkin hanya dalam satu fl
at yang masih memungkinkan untuk bertegur sapa dan hanya sekadar berbagi cerita.

Di dalam flat yang sekarang ini, terdiri dari ragam bangsa juga. Dulu, aku tidak kenal dengan bangsa Myanmar, sekarang sahabat-sahabat baruku itu menempati kamar lain bertetanggaan denganku. Mereka punya aksen yang khas ketika berbicara bahasa Inggris. Seperti bercampur dengan dialek bahasa cina. Kadang cukup sulit untuk bisa memahami maksud percakapan mereka. Di kamar lain aku punya tetangga Srilangka kakak beradik yang cukup dekat denganku. Ada juga sepasang suami istri antara suaminya yang berbangsa Nepal dengan isterinya yang filipina. Dan sepasang Nepal lainnya. Sementara di kamarku, adalah para jomblo-jomblo yang datang dari negara berbeda-beda. (Ha….ha.. kaciaaan…deh. ) Mungkin cuma Amira temanku asal Morocco ini yang punya pacar. Tapi aku juga tidak tahu pasti. Atau juga Shirin temanku Egypt ini. Tapi mungkin juga dia punya pacar, hanya suatu hari dia bilang padaku ana mauhib. Maksudnya ga cinta. Tahu kan Shazia temanku yang berkebangsaan Pakistan? Dia salah satu temanku yang paling dekat. Dia pun jomblo. Meskipun teman laki-lakinya yang dekat ada. Katanya mau cari bule aja. Ha..ha.. heran..sampai kapan sih bule selalu jadi central. Caappee ddeehh...


Mungkin sulit membayangkan sekamar bersembilan bagi mereka yang biasa hidup enak; sekamar sendiri lengkap dengan pasilitas pribadi lainnya termasuk kamar mandi di dalam. Tapi di Dubai, jangan bermimpi bisa memperoleh itu semua betapapun kita tidak terbiasa di tanah air sana. Tempat tidur yang disediakan biasanya bertingkat. Tempat tidurku ditingkat atas. Tempat tidurku menghadap ke balcony. Karena aku tinggal di lantai enam, aku bisa leluasa melihat ke luar dengan ketinggian itu melihat aktivitas orang-orang di kejauhan sana langsung dari tempat tidurku. Seperti nonton televisi berdimensi banyak. He..Bagiku, sekamar dengan banyak orang seperti ini seperti di pesantren dulu. Kalo dibandingkan sih, flatku jauh lebih nyaman dibanding asrama pesantrenku dulu. Lagipula kami sudah seperti keluarga. Mereka hangat dan bersahabat. Kamar, kami gunakan sebagai aktivitas pribadi. Sementara, kalau ingin “sedikit buat keributan” , kami bisa berkumpul di ruang dapur atau ke luar teras depan.


Buat mereka yang ingin sedikit lebih baik mempunyai tempat tinggal, minimal harus mempunyai penghasilan tetap sekurang-kurangnya 10.000 -15.000 dirham. Silahkan untuk menikmati satu buah flat sederhana dengan luas gedung kurang lebih 8x7 m2. dengan harga sewa kira2 60.000-70.000 dhs pertahun. Tapi, tinggal bersama orang lain yang sudah kita kenal atau paling tidak berprilaku baik, lebih dibutuhkan di Dubai ini. Tinggal sendiri dalam satu flat pasti akan sangat sepi. Kehidupan di sini kering dan sangat individualis. Mempunyai pasangan seperti sudah sebuah keharusan bagi hampir semua orang di sini. Setiap orang setiap harinya hanya disibukkan dengan pekerjaan dan gaya hidup konsumtif lainnya; shopping, clubbing, dan kegiatan hiburan lainnya. Bagi single yang hidup di Dubai, ujian yang sangat berat hee..terutama buat para bujangan.


Bagaimana sisi lain dari kemegahan Dubai ? ada di cerita selanjutnya…masih mau nyimak bukan? : )

No comments:

Post a Comment