Tuesday, May 19, 2009

Sudah bijaksanakah kita ?

Selasa, 6 November, 2007



Hari ini aku belajar tentang kebijaksanaan dari Monika Ardelt, Seorang professor sosiologi dari Universitas Florida yang melakukan penelitian untuk mencari tahu apa itu kebijaksanaan.

Menurutnya, kebijaksanaan hanya mempunyai efek kalau kita internalisasi. Kebijaksaan bukanlah kata-kata yang sering kita dengar dari ceramah-ceramah, atau yang kita kutip dari peribahasa-peribahasa, lalu lantas kita menganggap kita sudah memiliki kebijaksanaan itu. Tidak begitu.

Kebijaksanaan juga tidak sekaku yang didefinisikan oleh Paul Baltes, seorang psikolog dan direktur dari The Max Planck Institute for Human Development di Berlin. Menurut Baltes, orang-orang yang bijaksana adalah mereka yang memiliki nasihat, penilaian, dan wawasan yang dikecualikan.

Menurut Ardelt, definisi itu terlalu kaku, terlalu intelektual dan tidak inspiratif. Layaknya seorang musisi yang memainkan keahlian teknik bermusik tetapi tanpa ada passion atau sentuhan rasa dan hasrat.

Ardelt sendiri membedakan antara orang yang ahli tentang kebijaksanaan, atau seorang yang professional tentang itu, dengan orang yang memiliki kebijaksanaan itu sendiri.
Menurutnya, kebijaksanaan berbeda bentuknya karena berbeda-beda lahirnya. Orang yang cukup memiliki fleksibilitas dalam memandang sesuatu dengan menggunakan berbagai sudut pandang, ini juga merupakan bagian dari kebijaksanaan. Orang yang berani memandang hidup, tidak plin-plan dalam bersikap dan menerima kekurangan yang dimilikinya, ini juga bagian dari kebijaksanaan.


Ardelt belajar kebijaksanaan dari seorang lelaki senja berusia 77 tahun, seorang pensiunan kepala sekolah. Pada akhir seluruh hidup yang dijalaninya, Ia hanya melihat bahwa segala masalah yang ada hanya semacam games. Poinnya hanya terletak pada bagaimana game itu dimainkan bukan untuk ditakuti. Dan Ia juga tidak membiarkan sesuatu apapun memaksa dan menguasainya.

Ardelt juga belajar kebijakasanaan dari seorang ibu rumah tangga berusia 85 tahun, yang ritme hidupnya sangat rutin. Dengan keyakinannya, Ia mengajarkan lakukanlah apapun yang sudah seharusnya dilakukan, terlepas dari apakah kamu suka atau tidak.

Strategi ini akhirnya membantunya mengatasi kejenuhan hidupnya, bahkan ketika Ia menghadapi penderitaan setelah operasi kedua lututnya hingga Ia tidak dapat berjalan, kecuali dengan tongkat. Namun Ia masih bisa menjalani hidupnya dengan normal.

Ardelt juga belajar kebijaksanaan pada seorang perempuan 59 tahun yang hanya 10 tahun mengenyam bangku pendidikan dimana ia akan berpura-pura tertidur, di dekat anak-anaknya, ditengah-tengah badai hanya untuk membuat anak-anaknya tenang. Hal ini juga bisa dilakukan pada saat situasi berkabung dipemakaman.

Pada studinya tahun 1998, Ia melakukan research, dengan mewawancarai 82 orang perempuan dan 39 orang laki-laki antara usia 58-82 tahun. Intinya Ia ingin mengetahui apakah mereka bahagia dalam hidupnya serta alasan yang menyertainya. Ia ingin melihat bagaimana kaitannya antara kebijaksanaan dihadapkan dengan masalah kesehatan dan keuangan sebagai faktor penting sebagai ukuran kesenangan. Akan tetapi, pada kenyataannya, kebijaksanaan mengalahkan keduanya secara tegas.


Baru-baru ini, Ardelt ingin menemukan strategi apa yang dipakai baik oleh orang yang bijaksana maupun orang yang secara relatif tidak bijaksana ketika dihadapkan pada kesulitan dan cobaan dalam hidupnya.

Kemudian Ia memulai dengan menanyakan kepada 180 orang relawan yang berusia senja tanpa menyebutkan identitas mereka dengan melakukan test yang disebutnya “personality and ageing well study”. Questionaire ini dibuatnya untuk mengukur bagaimana setiap individu mengukur dirinya tentang kebijaksanaan berdasarkan pada kualitas diri yang biasa dikelompokkan sebagai ukuran kebaikan, seperti : selflessness, compassion, objectivity, flexibility, kedalaman serta pemahaman tentang hidup, dan human nature secara tidak plin-plan.

Ardelt memilih tiga orang dengan score tertinggi dan tiga orang lainnya dengan score terendah. Dia menyimpulkan bahwa orang-orang berusia senja yang bijaksana, menggunakan tiga strategi utama dalam mengatasi masalah-masalahnya. Antara lain :

1. berjarak dengan diri sendiri dari krisis atau masalah tersebut,
2. secara aktif berusaha keras mengatasi kesulitan saat sakit dari pada selalu mengasihani atau merasa kasihan pada diri sendiri (self pity and pain)
3. Ketika krisis atau masalah tersebut semakin meningkat, mereka menerapkan semacam kode personal atau yang disebut “life lessons” ; seperti sikap yang dimiliki oleh pensiunan kepala sekolah tadi yang tidak akan membiarkan sesuatu diluar dirinya menguasainya atau memaksanya. Atau juga seperti yang dilakukan oleh seorang ibu rumah tangga pasca operasi kedua lututnya dengan selalu melakukan apa yang perlu dan seharusnya dilakukan, suka atau tidak. (kalau istilah kita, “ya udah, ..mau diapain? Hee..”)

Sementara pada mereka yang memiliki score terendah, adalah mereka yang cenderung tidak berdaya dan sangat rapuh ketika mengalami ujian berat dalam hidupnya. Mereka menderita saat mengalami ujian dan kendala dalam hidupnya tanpa mencoba dan berusaha mempelajari dan memahami situasi dan berusaha mengatasinya. Mereka malah cenderung berfikir dan meyakini bahwa tidak ada yang bisa dilakukan untuk mengatasi kendala-kendala tersebut, seperti masalah keuangan, kesehatan, dan perilaku dari pasangan yang menyimpang.

Sementara itu, menurutnya, mereka yang bijaksana, secara dramatis mereka jarang mengeluh dan secara nyata bahkan mereka menujukkan reaksi bahagia dan menikmati anugerah hidupnya. Hal ini berbeda dengan mereka yang memilki score rendah, mereka selalu membuka diskusi panjang selama interview dan tidak pernah berhenti dari kosa kata keluhan demi keluhan.


Self-absorption dan ketidakbahagiaan yang timbul secara bersamaan telah menjadi tema yang berulang dalam observasinya. Ia mengatakan : “ It’s striking to me just how harmful self-centredness is to the individual “

Bagaimana dengan kita, boleh setuju atau tidak dengan definisi dan pendapatnya, namun, sudah mampukah kita untuk bijaksana dalam hidup yang kita jalani ?

Hidup terlalu singkat, bu, pak, bo’ ya…jangan mengeluh terus toh maass…mbak yuuukk…. Peace!!

No comments:

Post a Comment