Tuesday, May 19, 2009

Dubai dan Kehidupanku di dalamnya ( bag I )


Deira, 20 Maret 2007

Ini adalah negara pertama yang aku kunjungi dimana aku tinggal dan hidup dalam kurun waktu paling sebentar mungkin dua tahun. Di sini aku bekerja sebagai server di sebuah restoran Belgia. Sebuah restoran alternatif yang menawarkan jenis makanan berbahan dasar roti dengan tidak menggunakan bahan pengawet ( no preservatif). Semua makanannya didesain berbahan alami dan sehat. Direstoranku tidak diperbolehkan merokok. Hingga saat ini baru ada dua cabang yang beroperasi di Dubai. Restoran ini bernama Le Pain Quotidien. Bahasa perancis yang kalo diartikan ke bahasa Inggris yaitu the daily bread. Customer di restoranku sekitar 85% nya ekspat. Masyarakat lokal yang datang tidak sebanyak ekspatnya. Para ekspat ini rata-rata adalah orang-orang eropa yang kebetulan singgah dan menetap di Dubai. Karyawan di tempatku bekerja di dominasi oleh warga Libanon dan Filipina. Tapi ada juga yang berasal dari Nepal, India, Srilangka, dan Indonesia tentunya.


Aku tinggal di kawasan Deira. Sebuah kota lama yang cukup ramai dan sibuk. Di semua kawasan Dubai, memang selalu tampak ramai dan sibuk bahkan hingga 24 jam. Paling cepat toko-toko tutup jam 12 malam sampai jam 2 malam. Sementara kantor-kantor, bank-bank, banyak yang masih beropersai hingga jam 9 sampai jam 10 malam. Kalau ada yang berkesempatan berkunjung ke Dubai, maka kamu akan saksikan Dubai sedang melakukan pembangunan infrastruktur dimana-mana. Gedung-gedung perkantoran, apartemen, perhotelan, pusat perbelanjaan, arena wisata dan hiburan, jalan tol, jalan layang, dan sebagainya. Meskipun begitu, di sini suasananya cukup tenang, tidak sesemrawut Jakarta. Meskipun berdebu, tapi bukan karena debu polusi kendaraan atau pabrik-pabrik melainkan debu pasir. Karena lahan sekitar memang berbahan dasar pasir. Semua pembangunan tersebut tentunya cukup direncanakan dengan baik oleh pemerintah Dubai. Dan pada jam-jam berangkat kerja dan pada saat pulang kerja, akan juga tampak kemacetan lalu-lintas di mana-mana. Untuk yang satu ini, Dubai hampir sama dengan Jakarta dan kota-kota besar lainnya di seluruh pelosok dunia yang masih bermasalah dengan kemacetan lalu lintasnya. Meskipun begitu, tingkat kemacetan di sini tidak separah Jakarta. Dimana kita akan selalu dibuat stress karenanya.

Jarak antara tempat tinggalku dengan tempatku bekerja cukup jauh. Hampir satu jam tempuh dengan menggunakan kendaraan pribadi. Sebagai sarana transportasi umum, di sini terdapat beberapa bis umum dan taksi. Namun, Rata-rata orang di sini memiliki kendaraan pribadi atau sewa. Kendaraan taksi di sini seringkali tidak selalu mudah kita berhentikan meskipun di dalamnya tidak terdapat penumpang. Entah apa yang membuat para sopir taksi itu enggan berhenti. Apalagi pada pagi hari ketika orang-orang bergegas menuju tempat kerja. Hal ini berbeda sekali dengan taksi-taksi yang bisa kita dapatkan dengan mudah di Jakarta. Baik harga sewa kendaraan maupun sewa taksi relatif mahal bila dibandingkan dengan memiliki kendaraan pribadi atau sewa. Tidak heran untuk orang yang sudah menetap di Dubai dan punya penghasilan menengah ke atas, mereka lebih memilih untuk membeli kendaraan. Kendaraan di Dubai cukup murah. Tentunya untuk ukuran kurs dirham. Antara 40 sampai lebih dari 100 ribu dirham. itupun dengan mencicil selama kurang lebih 4 tahun, dimana setiap bulannya cukup menyicil sebesar 400 dhs sampai lebih dari 1000 dhs. Bila dibandingkan dengan rate salary di sini, seorang pelayan restoran seperti akupun sangat mungkin untuk memiliki kendaraan mobil baru yang lumayan. Namun meskipun begitu, justru biaya pembuatan lisensi kendaraannya bisa dua sampai 3 kali lipat. Tapi, itupun masih bisa di anggap murah untuk kurs dirham. Sebab rata-rata untuk pekerja professional, sekurang-kurangnya bisa berpenghasilan 5 sampai 6 ribu dirham perbulan. Seorang manager operasional yang membawahi restoran 4 buah sekaliber Le Pain Quotidien saja minimal bisa mengantongi 20 sampai 50 ribu dirham setiap bulannya.


Hampir semua kebutuhan sehari-hari di sini bisa diperoleh dengan mudah dengan harga yang juga cukup terjangkau. Biaya yang cukup mencekik adalah pada harga sewa flat. Di bulan-bulan pertama saat baru tiba di sini, perusahaan tempatku bekerja memberikan fasilitas akomodasi. Gambarannya sangat berubah 180 derajat pada saat fasilitas tempat tinggal itu habis dan kita terpaksa harus angkat kaki mencari tempat tinggal sendiri. Fasilitas apartemen yang lumayan mewah, berubah menjadi sebuah flat yang sangat-sangat sederhana dengan jumlah orang tiap kamar lebih dari 4 sampai 10 orang untuk ruangan berukuran 4x3 sampai 5x6 saja. Dengan bentuk tempat tidur yang bertingkat. Untuk kondisi tersebut, biaya yang dikeluarkan sekitar 500 sampai 700 dirham sudah termasuk listrik. Namun jika ingin yang sedikit lebih nyaman dengan hanya 2-3 orang saja dalam satu kamar berukuran kecil, maka biaya yang dikeluarkan sekitar 1000-1250 tiap orangnya. Namun, diluar semua itu, semua harga kebutuhan sehari-hari, termasuk sandang, cukup murah.

Dubai adalah sebuah Negara baru yang multikultural. Ia bisa dikatakan sebagai melting pot yang memberikan ruang bagi para pencari kerja di seluruh dunia untuk bekerja dan menetap di sini. Hampir semua kebangsaan ada di sini. Bagiku Dubai Negara yang pada beberapa hal bisa mengakomodir nilai-nilai liberal di dalamnya. Seperti halnya contoh dalam menerapkan aturan tata kesusilaan di masyarakatnya, masyarakat di sini diperbolehkan tinggal satu atap bersama pasangannya tanpa terikat sebuah pernikahan. Memang hal ini tidak diatur secara resmi, akan tetapi telah menjadi common sense yang dilegalkan secara diam-diam. Namun, hal ini bukan berarti kita bisa leluasa bermesraan, berciuman, ataupun hanya sekedar bergandengan tangan di tempat-tempat umum. Para petugas yang menemukan hal ini terjadi akan memberikan minimal punishment berupa denda paling kurang 500 dirhams. Jumlah yang lumayan yang bila di tukar ke dalam rupiah sekitar 1,3 juta rupiah. Begitulah yang kuamati sejauh ini.

Akan tetapi, Dubai adalah tempat yang aman. Meskipun ada juga tindakan kriminal, tapi sangat jarang. Aku juga bisa saksikan kendaraan yang parkir di tempat-tempat terbuka tanpa mereka merasa takut kendaraannya dicuri atau dikerjai orang. Namun, bagi para perempuan yang berjalan sendirian terutama pada larut malam, bersiap-siaplah paling kurang digoda, atau diikuti orang tak dikenal, atau juga diikuti kendaraan. Tapi, tidak usah takut karena hal itu tergantung bagaimana kita menanggapinya. Sebab, di Dubai ini banyak juga para perempuan yang bekerja sebagai wanita penghibur. Di wilayah tertentu seperti Deira atau Bur Dubai misalnya, mulai jam delapan malam, akan banyak dijumpai para perempuan ini bertebaran di pinggir-pinggir jalan. Hal ini sudah menjadi lumrah. Keadaan ini juga tidak jarang terjadi padaku. Sebab, seringkali aku berjalan sendirian pada larut tengah malam melewati pertokoan yang sebagiannya sudah tutup. Mobil-mobil yang hampir semua dikendarai oleh warga berkebangsaan arab atau india dan pakistan berhenti, menyamai langkahku, membukakan pintu, menyodori sejumlah uang, atau hanya sekedar menyapa atau bersiul. Sedikitpun aku tidak pernah menanggapinya. Maka mereka pun akan berlalu begitu saja. Mereka tidak pernah sampai mengganggu secara fisik, dan membuat kita merasa tidak aman. Sejauh yang kualami yang terjadi adalah mereka hanya cukup tahu bahwa aku bukan bagian dari perempuan penghibur, atau perempuan yang bisa mereka kencani. Dan mereka pun akan berlalu dengan sendirinya. selain itu, para petugas keamanan juga sangat responsif dalam menangani kekurangnyamanan ini.

Bersambung ...

1 comment:

  1. boleh share untuk id facebook atau yang lainnya di karenakan saya mau bertanya banyak tentang biaya kehidupan awal didubai,id fb = Taufan Slkcrbn

    ReplyDelete