
Dua insan atas nama cinta dipertemukan. keduanya lahir, tumbuh, dan dibesarkan oleh lingkungan yang berbeda, oleh tradisi, tata cara, dan adat kebiasaan yang berbeda. Keduanya menyadari bahwa mereka adalah dua sosok pribadi yang berbeda. Maka, tatkala mereka ingin membaurkan diri satu sama lain, perbedaan awal yang dimiliki bersama, yang mereka bawa, memang itu niscaya, dan tak mungkin disamakan.
Cinta bukanlah hanya sekedar kebersamaan bagi mereka, bukan sekedar saling memberi secara materi, bukan sekedar sebuah pengorbanan, atau hanya sekedar sebuah jalan kenikmatan penyaluran naluri seksual.
Tapi lebih dari itu, cinta sejatinya adalah sebuah semangat hidup, roh untuk terus-menerus tidak membuat pelakunya berhenti menemukan dan mengenali diri. Bagi mereka, cinta tidak boleh membuat orang yang merasakannya menjadi terasing, dan tercerabut dari eksistensinya, hingga ia tidak bisa lagi mengenal dirinya sendiri dengan utuh.
Itulah cinta yang ingin terbangun diantara mereka. Cinta yang bukan menguasai satu atas yang lainnya, cinta yang bisa membuat mereka lebih peka terhadap banyak hal yang membutuhkan sentuhannya.
Cinta yang jujur. Cinta yang agung. Cinta yang bermakna sebagai sebuah kebersamaan yang hidup, saling menguatkan eksistensi masing-masing, bukan menghancurkannya.
Mereka tahu, dunia yang terlihat, yang dialami, dijalani, dan yang dirasakan, memang bukan hanya sekedar pemenuhan urusan perut dan otak, bukan hanya semacam sekedar perlombaan mempertahankan gengsi dan harga diri semata. Ada banyak hal yang tidak tampak dipermukaan, yang ingin dimaknai juga secara seimbang. Dan yang mereka tahu, tidak banyak diantara manusia yang mau menyentuhnya.
Mereka ingin melihat orang yang dicintai tak lebih hanya sebagai seorang manusia biasa. Seorang manusia yang pada dasarnya sama seperti manusia lainnya. Satu sama lain bisa marah, menangis, cengeng, rapuh, manja, urakan, norak, nyebelin, cuek, jorok, dan banyak lagi. Mereka tahu bahwa keduanya tidak selalu seperti tampak di permukaan ; manis, ceria, tangguh, percaya diri, berani, semangat, pintar, dan lain sebagainya. Mereka ingin memperlakukan kekurangan dan kelebihan itu secara adil, melihatnya secara utuh. Sebagai seorang manusia biasa yang jauh dari sempurna. Dan juga sebagai manusia yang punya peran sejajar meskipun dibedakan oleh jenis kelamin.
Bagi keduanya, pernikahan sejatinya adalah sebuah institusi yang sangat sakral. Di dalamnya mengandung sebuah konsekuensi yang jauh dan tanggung jawab yang besar. Dibutuhkan kearifan di dalamnya. Setiap orang tentu ingin mengisi hidup dengan sesuatu yang membuat mereka bahagia dan senang menjalaninya. Dan mereka ingin kebahagiaan itu bisa mereka raih selama mungkin yang mereka bisa harapkan.

Di atas segalanya, mereka juga tidak tahu hingga kapan mereka bisa seiring sejalan. Mereka juga tidak tahu seberapa lama dan kuat sang chemistry tetap bertahan. Satu hal yang pasti yang mereka yakini bahwa persoalan jodoh, sama dengan maut. There’s always invisible hand.. Seperti halnya perjumpaan mereka….
Selamat mengarungi bahtera rumah tangga, Linda yang cantik ; )
Fishroundabout, Deira, Dubai, 23 Desember 2007
No comments:
Post a Comment