
Apa itu Cinta, aku pun tidak tahu pasti. Erich Fromm bilang, mencinta adalah menjadi bukan memiliki. Tapi aku, bukan hanya tidak memiliki, tapi juga tidak menjadi. Hidup yang ku jalani saat ini pun tanpa itu. Kalaupun ini kulakukan, bukan cinta yang melandasinya, tapi kata hati. Itulah satu-satunya yang selalu jadi petunjukku.
Terkadang aku membayangkan hidup bersama teman-teman yang turut mendewasakanku di Jakarta sana. Tapi aku pun tidak pernah merasa berada dalam naungan cinta yang kumau. Merasa terasing dan tetap sepi.
Apa yang kugambarkan ini bukan dalam kerangka aku merasa paling menderita di dunia ini. Tentu saja bukan. Bunda Theresa bilang, tebarkanlah cinta, maka kamu akan dicintai. Gandhi pun mengajarkan hal yang serupa. Cintailah meskipun berbeda.
Saat ini dan seperti sebelumnya, tidak ada cinta itu dalam hatiku. Aku merasa dingin. Tak punya hasrat untuk mencinta.
Satu-satunya yang menjadi alasanku untuk berkunjung ke negara ini karena aku jenuh dengan keriuhan di kotaku. Di negaraku. Aku bosan dengan semua itu. Dan tawaran perjalanan inilah yang menawarkan alternatif padaku. Aku pun mengangguk. Tentu saja anggukan ini tak begitu saja dengan mudah dilakukan. Sama sekali tidak mudah.
Terkadang aku membayangkan hidup bersama teman-teman yang turut mendewasakanku di Jakarta sana. Tapi aku pun tidak pernah merasa berada dalam naungan cinta yang kumau. Merasa terasing dan tetap sepi.
Apa yang kugambarkan ini bukan dalam kerangka aku merasa paling menderita di dunia ini. Tentu saja bukan. Bunda Theresa bilang, tebarkanlah cinta, maka kamu akan dicintai. Gandhi pun mengajarkan hal yang serupa. Cintailah meskipun berbeda.
Saat ini dan seperti sebelumnya, tidak ada cinta itu dalam hatiku. Aku merasa dingin. Tak punya hasrat untuk mencinta.
Satu-satunya yang menjadi alasanku untuk berkunjung ke negara ini karena aku jenuh dengan keriuhan di kotaku. Di negaraku. Aku bosan dengan semua itu. Dan tawaran perjalanan inilah yang menawarkan alternatif padaku. Aku pun mengangguk. Tentu saja anggukan ini tak begitu saja dengan mudah dilakukan. Sama sekali tidak mudah.
Di sini, aku mencoba membuat jarak dengan gaya hidup yang bersifat konsumtif dan hedonis, dimana rata-rata orang bergaya hidup serupa. Aku membuat ruang yang sangat besar untuk mempelajari diriku sendiri dimana itu tidak bisa leluasa kulakukan di Jakarta sana. Aku terlalu disibukkan dengan hal-hal yang menyiksa. Aku tidak punya ruang untuk diriku sendiri.

Dubai memang sebuah negara muslim yang cukup menghormati kebebasan individu. Di sini aman. Tapi Dubai adalah Dubai. Semua orang yang datang dan hidup di dalamnya sangat syarat dengan beragam kepentingan dan tujuan. kasarnya, di sini, orang tidak perduli dengan orang lain. Setiap orang umumnya hanya saling memanfaatkan satu sama lain untuk kesenangan-kesenangan yang semu. Di sini, tidak bisa dengan mudah mempercayai orang. Betapapun mereka adalah orang yang kita kenal sehari-hari. Karena yang tampak di permukaan, seringkali tidak seperti apa yang ada di dalamnya. Di Dubai, tidak ada "cinta". Kehidupan yang berjalan di sini amat kering dan sangat materialis. Tapi paling tidak, aku punya ruang untuk diriku sendiri. Karena pada dasarnya betapapun pilihan-pilihan yang ada sangat beresiko, tapi masih ada pilihan yang membuat kita aman. Semua hanya bersifat pilihan saja di sini. Maka, jangan sekali-kali mencoba memilih yang penuh dengan resiko yang menjerumuskan. Seperti aku. Di sini aku tetap seorang pitri. Perempuan yang lahir di Sukabumi sana yang sangat biasa saja. Ia akan tetap menjadi pitri yang semakin matang, dan tetap sederhana.
Di Jakarta sana, dulu aku hanya memiliki sedikit pilihan. Dan pilihan-pilihan itu pun sangat sulit. Kedatanganku ke Dubai juga karena aku ingin menambahkan pilihan dalam daftar jalan hidupku. Hingga pilihan demi pilhan itu akan semakin membebaskanku. Sebab fitrah itulah yang berhak kuraih. Betapapun aku terseok menggapainya. Itu bagian dari resiko.
Cinta memang spirit. Tanpa itu, hidup yang berjalan terasa hambar. Tapi aku berusaha untuk mempunyai spirit sekalipun tidak ada cinta. Sebab tujuanku hanya menyelamatkan diriku dari belenggu. Entah cinta yang mana yang membawa spirit. Aku tidak pernah menemukannya. Bagiku, keduanya selalu terpisah. Cinta yang biasa ditawarkan, hanya membawa belenggu-belenggu baru. Dan bagiku, itu bukan cinta. Berbahagialah bagi mereka yang kini sudah menemukannya. Selamat dan rawatlah itu.
Oh Cinta, bilamanakah engkau menghampiriku….?
No comments:
Post a Comment