
Mirdiff, 2 September 2007
* Sebuah Renungan ...
Usia Bumi ini barangkali sudah sedemikian tua. Seorang Graham Hancock yang membuktikan melalui researchnya, bahwa pernah ada sebuah peradaban maju di muka bumi ini sejak beribu-ribu tahun sebelum masehi, yang kemudian lenyap tak berbekas karena proses alam yang disebut earth-crust displacement.
Lain dengan Al Gore, Ia memaparkan bahwa kita wajib ekstra hati-hati akan niscayanya sebagian ekosistem dan mahluk hidup hanyut perlahan-lahan akibat global warming. Artinya, sangat mungkin bumi masih melakukan evolusi. Dan peradaban yang sudah tampak mapan ini juga akan lenyap lagi, berganti dengan peradaban baru. Dan begitu seterusnya. Endingnya bagaimana? siapa yang bisa memastikan. setiap teori-teori yang muncul, selalu ada teori-teori baru yang membantahnya. Dan barangkali memang tidak akan ada ending. Bumi dan proses perubahannya, endless.
Ada banyak cara manusia menjalani hidup. Ada banyak sudut dalam manusia memandang hidup. Cara dan sudut pandang tersebut sangat mungkin dipengaruhi oleh banyak hal ; keluarga, masyarakat, tradisi, doktrin agama, dan lain-lain. Semua pengaruh ini telah memasuki alam bawah sadar manusia selama kurun waktu tertentu. Selain itu, ada juga pengaruh dari pengalaman yang sangat pribadi. Seperti pengalaman spiritual yang hanya bisa diketahui dan dirasakan oleh pelakunya sendiri.
Hari ini, jam s
etengah enam sore, Mirdiff dan restoranku tetap berjalan seperti biasa. Tepat di jam ini, aku berdiri di depan counter sebagai kasir. Temanku yang lain sedang mengelap sendok, pisau, dan garfu di bagian sudut yang lain. Di sebelahnya, temanku yang lain hanya berdiri menghadap meja-meja yang sebagian besarnya kosong. Karena summer, tidak banyak pengunjung yang datang. Mereka terlihat bercakap-cakap. Entah apa yang sedang mereka percakapkan. Mungkin tentang masa depan masing-masing, mungkin tentang model handphone terbaru, mungkin juga tentang keluarga masing-masing yang mereka tinggalkan di negaranya masing-masing dan ada perasaan rindu ingin pulang dan berkumpul dengan keluarga.
Agak jauh dari jangkauan mataku, dua orang temanku yang sedang break, mungkin sedang menyantap steak sandwich sambil asyik membaca koran hari ini "emirate today". Dan jauh di Indonesia sana, di kota kecil sukabumi, tempat lahirku, pada jam yang sama, tentunya waktu bagian sukabumi, ibuku mungkin sedang menonton sinetron kesayangannya, dan bapakku mungkin sedang menunggui warung. Sementara adikku yang perempuan, mungkin sedang mengeloni anaknya tidur.
* Sebuah Renungan ...
Usia Bumi ini barangkali sudah sedemikian tua. Seorang Graham Hancock yang membuktikan melalui researchnya, bahwa pernah ada sebuah peradaban maju di muka bumi ini sejak beribu-ribu tahun sebelum masehi, yang kemudian lenyap tak berbekas karena proses alam yang disebut earth-crust displacement.
Lain dengan Al Gore, Ia memaparkan bahwa kita wajib ekstra hati-hati akan niscayanya sebagian ekosistem dan mahluk hidup hanyut perlahan-lahan akibat global warming. Artinya, sangat mungkin bumi masih melakukan evolusi. Dan peradaban yang sudah tampak mapan ini juga akan lenyap lagi, berganti dengan peradaban baru. Dan begitu seterusnya. Endingnya bagaimana? siapa yang bisa memastikan. setiap teori-teori yang muncul, selalu ada teori-teori baru yang membantahnya. Dan barangkali memang tidak akan ada ending. Bumi dan proses perubahannya, endless.
Ada banyak cara manusia menjalani hidup. Ada banyak sudut dalam manusia memandang hidup. Cara dan sudut pandang tersebut sangat mungkin dipengaruhi oleh banyak hal ; keluarga, masyarakat, tradisi, doktrin agama, dan lain-lain. Semua pengaruh ini telah memasuki alam bawah sadar manusia selama kurun waktu tertentu. Selain itu, ada juga pengaruh dari pengalaman yang sangat pribadi. Seperti pengalaman spiritual yang hanya bisa diketahui dan dirasakan oleh pelakunya sendiri.
Hari ini, jam s
etengah enam sore, Mirdiff dan restoranku tetap berjalan seperti biasa. Tepat di jam ini, aku berdiri di depan counter sebagai kasir. Temanku yang lain sedang mengelap sendok, pisau, dan garfu di bagian sudut yang lain. Di sebelahnya, temanku yang lain hanya berdiri menghadap meja-meja yang sebagian besarnya kosong. Karena summer, tidak banyak pengunjung yang datang. Mereka terlihat bercakap-cakap. Entah apa yang sedang mereka percakapkan. Mungkin tentang masa depan masing-masing, mungkin tentang model handphone terbaru, mungkin juga tentang keluarga masing-masing yang mereka tinggalkan di negaranya masing-masing dan ada perasaan rindu ingin pulang dan berkumpul dengan keluarga.Agak jauh dari jangkauan mataku, dua orang temanku yang sedang break, mungkin sedang menyantap steak sandwich sambil asyik membaca koran hari ini "emirate today". Dan jauh di Indonesia sana, di kota kecil sukabumi, tempat lahirku, pada jam yang sama, tentunya waktu bagian sukabumi, ibuku mungkin sedang menonton sinetron kesayangannya, dan bapakku mungkin sedang menunggui warung. Sementara adikku yang perempuan, mungkin sedang mengeloni anaknya tidur.

Masih pada jam yang sama. Mutamba, seorang imigran ilegal di Afrika Selatan, mungkin masih mengantri berdesakan, berjubal meminta swaka pada pemerintah setempat karena hidup yang terlunta di Zimbabwe sana. Sebuah negara miskin di Afrika yang diperkirakan oleh para ahli sebagai negara yang paling terpuruk di dunia dengan tingkat inflasi mencapai 7000 persen.
Apa yang membuat Mutamba tahan mengantri berhari-hari adalah karena sebuah harapan. Harapan untuk bisa tinggal di negara setempat. Harapan untuk dapat memperbaiki hidup yang hampir mustahil dicapai di negeri asalnya. Harapannya barangkali hanya tinggal harapan. Ia tahu itu. Tapi ia tidak punya pilihan. Ia hanya punya harapan. Meskipun Ia tahu, harapannya kecil untuk bisa terwujud. Sebab, pemerintah Afrika Selatan, tetap akan mendeportasi para imigran ini, karena status kepengungsian mereka adalah karena faktor ekonomi.
Setiap harinya, ratusan Zimbabwean tiba di Afrika Selatan untuk mengadu nasib. Mereka sebagian besar berstatus ilegal. Pemerintah setempat tentu saja tidak punya kapasitas untuk menampung mereka. Sebagian besar para imigran yang datang ini berusia produktif antara 20-an. Mereka yang beruntung bisa tinggal pun, hanya bekerja pada pekerjaan-pekerjaan kasar, atau berjualan di perempatan atau pertigaan lampu merah.
Masih pada jam yang sama, Melody, perempuan ramah berkebangsaan Filipina langganan Blueberry Cheese Cake di restoranku itu, barangkali sedang shopping di Mall o
f Emirate. Salah satu diantara mall yang diperkirakan termegah di dunia. Mungkin saat ini ketiga anaknya yang lucu blesteran Filipina Inggris turut serta juga bersama suaminya. Setiap saat mereka datang, selalu tampak kebahagiaan dan keharmonisan diantara sesamanya. Ia memanggil sang suami "my love" yang kadang masih sungkan bila ada kami di sekitar mereka. begitu pun sang suami memangggilnya dengan sebutan yang sama saat Ia hendak menyuapinya sesendok Salmon Quiche yang juga makanan langganan yang biasa mereka pesan.Entah dengan Roy, seorang lelaki baya 60-an berkebangsaan Irlandia yang hidup bersama keponakannya Sean. Hari ini mereka tidak datang ke restoranku. Mungkin saat ini seperti biasa Roy sedang berjalan-jalan tanpa tujuan sambil merenungi nasibnya. Keluarganya di Thailand, tidak sudi menemaninya tinggal di Dubai. Mereka lebih memilih menetap di tanah kelahiran sang isteri. Sementara Roy tidak punya pilihan. Diusianya yang tidak lagi produktif, hanya dubai yang membuatnya bisa memperbaiki taraf hidupnya secara materil. Tapi Roy kesepian. berkali-kali Ia mengutuki kehidupannya dan orang-orang di Dubai secara umum. Cara Ia memandang sekeliling sangat sinis. Hal ini tidak jauh berbeda dengan Sean. Setiap saat ada kesempatan bercakap-cakap, Sean mengatakan hal yang senada. Senyum dan tawanya satir. Sebagaimana di ketahui, selama beratus-ratus tahun, Irlandia tidak pernah selesai berkonflik. Saat Sean masih belia, Setiap hari Ia menyaksikan korban-korban mati di depan matanya. Beberapa keluarganya ikut raib diantaranya. Betahun-tahun, Roy dan Sean hidup dan tinggal dari satu negara ke negara lain. Keahlian mereka di bidang IT lah yang membuat mereka cukup punya akses mendapat pekerjaan yang cukup baik pada setiap negara yang mereka kunjungi.

Sama halnya dengan Roy, Sean juga sempat menikah dan memilki seorang anak perempuan dari seorang berkebangsaan Thailand. Kadang aku melihat, Sean adalah prototype pamannya, Roy. Saat ini keduanya mempunyai pacar. Tapi malang, kedua pacarnya kembali ke negara asalnya, Filipina. Mungkin mereka akan kembali ke Dubai, mungkin juga tidak.
Lain dengan Melody, Roy, dan Sean, lain lagi dengan Hamida dan kekasihnya. Hamida adalah langganan soup di restoranku. Perempuan seksi ini entah berasal dari negara mana. Dengan aksen Britishnya yang dibuat-buat, sangat kontras dengan wajah Asianya. Aku tidak pernah mempunyai kesempatan berbincang dengannya. hanya sesekali dengan kekasihnya. Itupun tampak sekali wajah tidak senang yang memancar darinya.
Entah apa yang dilakukannya pada jam-jam ini. Barangkali perempuan yang bekerja sebagai managing director di sebuah perusahaan design grafis ini sedang bercinta dengan kekasihnya, yang belakangan setiap saat mereka berkunjung ke restoranku sudah mulai terang-terangan menunjukkan kemesraannya. Meskipun aku melihat kekasihnya masih bersikap biasa saja.
Berbeda saat pertama kali aku mengenal Hamida; Anggun, tidak banyak bicara, meskipun agak jaim. Lain halnya sekarang, agak cerewet dan angkuh. Mungkin pada saat-saat kemunculan pertamanya di restoranku, mereka berdua masih saling menjajagi. Sang kekasih sedang pendekatan, dan Hamida sedang malu-malu kucing. he.. Aku juga baru mengetahui nama dan pekerjaannya ketika membaca sebuah koran yang memampang profile besar tentang diri dan profesinya. Awalnya aku respek, tapi ketika terjadi perubahan sikap dari hari ke hari yang cenderung memandang remeh profesi kami, serta merta respekku menjadi hilang.
Aku, temank
Kalau Friedman bilang bahwa dunia ini datar karena batas ruang yang sudah samar melalui penemuan demi penemuan canggih dari teknologi yang mengglobal, bagiku, dalam beberapa hal, dunia ini tetap bundar. Sebab di banyak bagian wilayah, manusia-manusia tertentu tidak pernah bisa menikmati hasil yang nyata dari kecanggihan teknologi ini bagi keberlangsungan hidup mereka yang lebih baik, Dan barangkali malah sebaliknya.
Pernahkah Hamida yang angkuh itu sejenak merenung tentang sukses duniawi yang didapatnya? pernahkah Ia berpikir tentang para Mutamba-Mutamba? Apa yang selama ini Ia banggakan sebagai kesuksesan materil, bukankah itu fana? Pernahkah Hamida memikirkan bahwa barangkali perdaban ini kelak akan punah, mengulang sejarah yang sama karena tibanya efek terbesar dari global warming. Pernahkah Ia berpikir bahwa Ia tidak mungkin bisa menghindari usia yang beranjak tua? Pernahkah Ia belajar dari orang-oarng seperti Roy yang hidupnya kesepian di hari tua? Ataukah baginya hidup hanya bagaimana bisa tampil seseksi mungkin, bisa berbicara bahasa Inggris sefasih mungkin, bisa mencapai karir sesukses dan hidup sepopuler mungkin dimana semua itu bisa ia banggakan dengan leluasa dengan memandang rendah orang-orang yang tidak seberuntung dia?
Sekitar 50 tahunan yang lalu, seorang perempuan muda dipanggil theresa r
ela melepaskan kesenangan pribadi seumur hidupnya. Ia rela melakukan perjalanan jauh untuk menemani orang-orang berpenyakit yang miskin di Calcutta India. Pada akhirnya dedikasinya itu dihargai melalui Nobel Peace Prizenya, adalah persoalan lain. Tapi niat tulusnya untuk menemani orang-orang sekarat yang tidak memiliki harapan hidup apalagi memperbaiki keadaan ekonominya ini, adalah sesuatu yang patut menjadi renungan untuk ditauladani. Bagiku, kapasitas dari kita yang terbatas untuk dapat berbuat yang serupa dengannya tentu bukan menjadi masalah. Namun, paling kurang, bagaimana cara kita memandang hidup, manusia yang beragam, bagaimana cara kita menghargai dan memperlakukan hidup, alam dan manusianya, itulah yang patut jadi perhatian masing-masing untuk direnungkan. Sebuah senyuman tulus dari seorang Hamida, tanpa membeda-bedakan siapa dan apa pekerjaan orang yang ditemuinya, bagiku itu saja sudah merupakan pencapaian awal yang baik. apalagi lebih dari itu.bersambung .... : )
No comments:
Post a Comment