
Mengawali bulan di penghujung tahun ini masalah demi masalah mulai dari yang paling sepele hingga masalah besar di pekerjaanku semakin bermunculan satu persatu. Puncaknya, sejumlah rekan kerja dari Indonesia diterminasi. Kabarnya sebagian ada yang sudah diberangkatkan minggu lalu dan sebagiannya lagi masih menunggu tiket.
Harus disadari bahwa bekerja di luar negeri tidak segampang di tanah air. Pertama yang harus dibangun adalah mental superbaja dan tingkat fleksibilitas yang tinggi. Bayangkan, di tanah asing tanpa keluarga kita bertemu dan berinteraksi dengan berjubal orang dari aneka latar belakang dan negara dengan membawa sifat dan karakternya masing-masing baik sehari-hari maupun di wilayah professional. Kalau mengatasi ini saja sudah sulit maka entah untuk menghadapi yang lainnya.
Di minggu-minggu awal sebagaimana yang kuceritakan sebelumnya, aku memang seperti orang yang paling bodoh. Hari ke-tiga saja aku sudah menerima bentakan dari maha bosnya tempatku bekerja di depan banyak orang. Pada saat itu sebisa mungkin aku berusaha untuk tenang dan kembali bekerja sebagaimana biasa. Setiap kritikan yang masuk sebisa mungkin aku selalu berusaha untuk menerimanya secara positif. Tidak ada istilah staff baru atau lama. Mereka tidak mau tahu itu. Yang mereka tahu, kita bekerja seperti yang mereka mau. Training yang mereka berikan adalah menjalani pekerjaan itu sendiri. Kitalah yang harus punya peran yang dominan untuk bisa maksimal mempelajari dan memahami pola kerja yang dimaui mereka tanpa menunggu diberi arahan. Kitalah yang harus proaktif. Kitalah yang menolong diri kita sendiri untuk bertahan tidaknya di tempat kita bekerja.
Bekerja apalagi bagi mereka yang pemula, adalah salah satu wahana belajar untuk menjadi mandiri dan dewasa. Bagi mereka yang terutama biasa disupport orang tua, minimal untuk makan sehari-hari dan tempat tinggal, tentu bekerja di luar negeri adalah sebuah ujian yang maha berat. Belum lagi, bila manajemen di tempat kita bekerja kurang terbuka dan menyulitkan. Nerakanya dunia deh. He…jangankan untuk mengatasi masalah di tempat bekerja, masalah kebutuhan sehari-hari saja sudah memusingkan. Terutama masalah tempat tinggal. Benar-benar menyedihkan. Huu…cian banget ciii…:-(
Biasanya yang terjadi ketika masalah yang menimpa tak kunjung teratasi, minimal tidak ada gairah bekerja. Malas. Apalagi kalau sudah terpengaruh rekan kerja yang senasib. Buntutnya mogok bersama, minta kenaikan gaji, dan kalau mentok, resign. Kondisi seperti ini umum terjadi.
Terlepas dari apakah manajemen yang amburadul, temanku pernah berpendapat, dan aku pun menyetujuinya, ada tiga alasan orang tetap bertahan di tempat bekerja dalam kurun waktu yang lama, antara lain; gaji yang memadai, suasana kerja yang kondusif, dan tidak ada pilihan lain yang mau mudah menerima kita bekerja. Ketiga alasan ini menurutku layak untuk menjadi tolak ukur mengapa kita bertahan dan tidaknya di tempat kerja.
Pertama, bila memang gaji yang minim, sejak awal, dicek apakah gaji yang diterima sesuai kontrak atau tidak. Bila sesuai, meskipun minim, tetaplah professional. Sebab, ada prosedur yang harus dilalui untuk kenaikan gaji, diantaranya prestasi, performa, dan loyalitas. Tanya pada diri sendiri, apakah kita sudah cukup memberikan kontribusi untuk pencapaian target perusahaan, kedua apakah kita sudah sangat menunjukkan performa kerja yang memuaskan, dan ketiga bagaimana loyalitas kita terhadap perusahaan. Poin yang terakhir ini relatif diartikan loyal pada diri sendiri sebagai seorang staf yang memiliki integritas dan dedikasi secara professional. Tentunya bukan loyalitas buta tanpa tujuan. Itu tidak mencerminkan seorang yang professional.
Kedua adalah kondisi kerja yang nyaman dan supportif. Dalam dunia tempat kita bekerja, adakalanya orang tetap bertahan padahal gajinya segitu-gitu saja. Apa pasal, rekan kerja yang supportif, dan atasan yang tidak bossy. Setiap orang, butuh sebuah penghargaan dan apresiasi atas setiap jengkal jerih payah yang dilakukannya. Bentuk apresiasi tidak selalu berupa uang, barang atau jabatan, namun sebuah kata “good job” saja, tentu sangat mempunyai arti bagi mereka yang mengharapkan pengakuan. Seorang atasan yang cerdas dan bijak, betapapun tekanan yang diterima dari atasannya lagi luar biasa berat, dia akan mengartikulasikannya kepada bawahan dengan cara yang berbeda, bukan dengan bentuk tekanan yang serupa. Tekanan demi tekanan dalam sebuah pekerjaan itu lumrah. Bahkan seakan dibenarkan. Namun, apakah tekanan akan selalu berkorelasi dengan pencapaian tujuan yang diinginkan atau tidak, tampaknya masih perlu diuji. Dalam logika kapitalisme, memang setiap usaha apapun, selalu bertujuan untuk memperoleh untung yang besar, dengan menekan biaya produksi sekecil mungkin. Hal ini, berimbas pada hilangnya atau paling tidak menipisnya sisi nilai humanis dalam pencapaian keuntungan tersebut. Pada akhirnya, uang dan keuntungan yang jadi pandu, kita yang bekerja adalah semata-mata alat. Sadar atau tidak, itulah yang terjadi.
Ketiga, tidak banyak perusahaan yang mudah menerima kita bekerja. Singkatnya, tidak ada pilihan lain. Ketika berada dalam situasi ini, memang sulit. Mudah-mudahan alasan ini bukan jadi alasan utama kita bertahan di tempat kerja. Sebab, bila ini yang jadi alasan utama, hal ini lebih mencerminkan bahwa skill kita amat terbatas dan kurang layak jual. Inilah yang kemudian harus disadari ketika kita merasa tidak ada pilihan lain. Buntutnya, menjalani pekerjaan tidak dari hati, malas, dan tentu tidak maksimal. Keluar dari pekerjaan bingung mau kerja apa, tapi bekerja di tempat yang tidak kondusif juga siksaan. Buah simalakama.
Dari ketiga uraian singkat ini, mana sekiranya yang membuat kita tidak tahan atau istilahnya bete di tempat kita bekerja sekarang ini. Aku pribadi juga hampir berada di poin yang ketiga sebetulnya. Selama aku bekerja, aku hanya sedikit belajar bagaimana menjadi pimpinan yang bisa menghargai staffnya. Itupun tidak menyeluruh yang aku pelajari sebab terbentur gaji yang minim saat itu. Selebihnya para pimpinan di tempatku bekerja sudah seperti bos-bos cilik yang tidak objektif dan fair. Tapi, sebagai manusia yang berhak menikmati hidup, aku harus menyiasati itu untuk fokus pada hal-hal yang lebih prinsip dan prioritas. Seperti, belajar kearsipan, membangun relasi sana-sini, belajar mengorganisasi berbagai kegiatan, dan lain-lain yang terkait tanggungjawabku, terlepas dari kurangnya penghargaan dan gaji yang minim. Kemudian kita pulalah yang mengetahui batasan waktu yang realistis hingga kapan kita bisa mentolelir hal-hal yang kurang kondusif untuk kenyamanan kita bekerja dan pengembangan diri selanjutnya, untuk pindah ke tempat kerja yang baru berbekal ilmu gratis dari tempat kerja yang lama.

Bekerja, dimanapun, jangan pernah melupakan etika ; kejujuran, profesionalisme, tingkah laku yang sopan, dan tutur kata yang santun. Pelajari dan selami setiap hal sampai sekecil-kecilnya pada setiap kali kita berkesempatan bekerja di suatu tempat. Hal ini akan sangat bermanfaat buat bekal kita bekerja di tempat baru, sekiranya tempat yang lama sudah tidak kondusif. Pahami secara jernih persoalan yang mengelilingi ketika ingin keluar dari tempat kerja, dan persoalan yang mungkin timbul setelah kita keluar dari tempat kerja. Keluarlah secara baik-baik. Sebab kita tidak pernah tahu mungkin kelak kita akan kembali berhubungan dengan rekan kerja atau atasan kita di tempat kerja sebelumnya. Mungkin kelak kita membutuhkan pertolongan mereka. Bila kesan kita baik selama kita bekerja dengan mereka, tentu mereka akan respek dan antuasias membantu kesulitan yang mungkin kita hadapi.
Yang kedua, keluarlah sebentar-sebentar dalam dunia rutinitas yang kadang membuat kita jenuh. Kerjakan hobby kita. Bila hobby kita terlalu mahal, belajarlah lebih fleksible untuk menyukai hobby yang murah.
Ketiga, Tidak setiap orang mempunyai bakat leadership. Tapi setiap orang harus memiliki itu. Luangkan sejenak untuk diam dan mempelajari diri sendiri. Kenali diri dengan baik. Ini penting sebab setiap diantara kita hanya akan berdiri dengan kaki sendiri pada titik tertentu dimana kita dihadapkan pada keadaan tidak ada orang yang mau membantu kita, kitalah pada akhirnya yang harus menolong diri kita sendiri. Untuk itu, jadilah diri sendiri.
Terkait dengan persoalan yang menimpa teman-teman setanah air, aku tidak berada pada posisi salah satunya baik perusahaan atau teman-temanku. Sebab pada kenyataanya, hidup seringkali memang sulit. Jika para pujangga bilang, kejam. Hee…Apa yang terjadi tidak sebagaimana yang dibayangkan. Aku hanya ingin melihat hidup ini pada akhirnya hanya sebuah game. Apakah kita bisa memenangkan game ini berdasarkan aturan yang ada, atau menyerah sebelum game ini usai sebab kita ngotot untuk memaksakan aturan kita.

Sedikit menoleh ke belakang, setiap diantara kami ketika akan bekerja di Dubai ini, pasti memiliki segudang harap sebelum berangkat; gaji yang besar, lingkungan kerja yang lebih baik, rekan kerja berskala internasional, dan lain-lain. Aku ingat bagaimana dulu aku menunggu kurang lebih tiga bulan sebelum berangkat. Dan selama tiga bulan itu pula aku menganggur karena sudah terlanjur mengundurkan diri dari tempat kerja sebelumnya tidak menduga akan tertunda-tunda. Tidak cukup sampai di situ, bagaimana aku dan kelima orang temanku tertinggal pesawat hingga harus menunggu keberangkatan seminggu kemudian. Belum lagi biaya untuk keberangkatan tentu tidak murah. Diantara kami, tentu juga ada bantuan dari sanak keluarga atau pinjam sana-sini. Semua pengorbanan itu akhirnya tak terbayarkan sebab kita terlanjur menyerah dengan keadaan dan terpaksa dipulangkan dengan reputasi yang kurang baik. Bagi mereka yang berasal dari keluarga yang berkecukupan, barangkali pertimbangannya tidak terlalu sulit. Meskipun tetap akan meninggalkan perasaan kecewa. Tapi bagi mereka yang kondisi ekonominya sulit seperti aku, menurutku bertahan ditempat kerja sekarang ini justru lebih baik paling tidak dalam hal keuangan sebelum kembali ke negara asal. Dengan bentuk pekerjaan yang tidak terlalu sulit, gaji yang cukup meskipun tidak besar, dan jam kerja yang pasti, sulit untuk bisa kita peroleh di tanah air. Selebihnya, hanya bagaimana mengelola keuangan itu sendiri dan kontrol diri yang harus kuat.
Untuk teman-temanku, semoga kita semua mencapai setiap bentuk kesuksesan yang kita mau. Perjalanan masih panjang bukan? :-)
Rigga road, jam 3.30 pagi
No comments:
Post a Comment