
Deira, Shalahuddin 13 April 2007
Ini hari ke-13 bulan ke-dua aku bekerja. Memasuki bulan ke-dua ini aku dipindahkan ke cabang lain di kawasan Up Town Mirdiff. Tentu saja aku senang. Bagiku, Mirdiff ini tempat yang romantis. Sepi, tata kotanya tidak terlalu padat, dan lokasi tempatku bekerja adalah sebuah kawasan apartemen mewah yang cukup tenang. selain itu, jarak tempuh Up Town Mirdiff dengan Deira hanya 10-15 menit saja. 30 menit kalau macet. Berbeda dengan tempat sebelumnya di Mall of Emirates (MoE), di Mirdiff penduduk lokalnya cukup banyak. Bisa dikatakan 50-50 perbandingannya dengan para ekspatnya. Entahlah kenapa aku lebih suka di sini. Padahal, customer yang datang ke restoranku tentu saja tidak seramai di MoE.
Hari demi hari aku mencoba belajar banyak hal. Mulai dari karakter dan aksen Inggris dari orang-orang yang punya latar belakang yang berbeda-beda, hingga menu-menu yang harus dihafal. Mulai dari bahan-bahannya, asal negara yang memproduksinya, cara meracik dan membuatnya, hingga cara penyajiannya. Sedikit demi sedikit, pelan-pelan, aku mulai terbiasa dengan itu semua.
Hari demi hari aku mencoba belajar banyak hal. Mulai dari karakter dan aksen Inggris dari orang-orang yang punya latar belakang yang berbeda-beda, hingga menu-menu yang harus dihafal. Mulai dari bahan-bahannya, asal negara yang memproduksinya, cara meracik dan membuatnya, hingga cara penyajiannya. Sedikit demi sedikit, pelan-pelan, aku mulai terbiasa dengan itu semua.
Hhmm..di minggu-minggu awal, sungguh aku seperti orang yang paling bodoh. Banyak hal-hal bodoh yang aku lakukan. Dan parahnya lagi, para pimpinanku di tempat kerja, baik yang di MoE maupun yang di Mirdiff, seringkali tidak bisa toleran dengan itu semua. Dan mereka selalu mengancam bahwa aku akan dipulangkan. Atau minimal dapat warning letter. Padahal, kesalahanku sekitar salah sebut. Atau kurang cepat bergerak. Maklumlah tidak terbiasa. Lagipula mereka tidak sedikitpun memberikan training atau pengarahan dulu untuk aku dan satu orang temanku yang sama-sama tidak berpengalaman sebelum benar-benar dipekerjakan. Sementara mereka menuntut kita seperfect mungkin dan secepat mungkin. Singkatnya, kita dicemplungin, silahkan belajar sendiri, dan kalau salah, silahkan tanggung sendiri akibatnya. Begitulah watak orang-orang tempatku bekerja. Mereka berkebangsaan libanon dan filipina. Kalau diambil hati, memang makan hati. Tapi aku selalu berfikir bahwa ini semua merupakan bagian dari dinamika dan resiko bekerja ; dibentak atasan, dikritik, dimarahi, atau paling kurangnya ditegur secara halus.Secara anak baru, teman-temanku juga terkadang tidak banyak membantu. Malah aku melihat kesan ada semacam nuansa arogansi senioritas yang terasa sangat kuat. Mereka juga berkelompok. Entahlah, kenapa itu yang terasa. mungkin, selain memang bawaan personal masing-masing, hal ini parahnya juga semakin dikuatkan oleh pengelolaan dan sikap dari managemen yang sulit. Gaya manajemen yang sulit ini jalin menjalin dengan karakter personalnya tadi. tapi aku secara pribadi, tertantang untuk bisa mengatasi keadaan ini minimal untuk diriku sendiri dimana tentu aku akan semakin tertantang bagaimana bis
a mengelola konflik yang kadang timbul dalam diri aku ketika berada terus-menerus dalam situasi ini tanpa bisa berbuat sesuatu. yah, tanpa bisa merubah sesuatu. paling tidak saat ini. sebab statusku masih percobaan. selain itu, aku hanya outsider, partikel yang paling terkecil dalam struktur tempat aku bekerja. tantangan pengelolaan diri ini adalah step awal dan pondasi yang harus aku kuatkan hingga paling tidak aku bisa berada pada titik aman. titik aman bahwa mereka bisa mengandalkanku dan aku bukan berstatus percobaan lagi.
No comments:
Post a Comment