Suatu malam aku dikejutkan oleh suara tangisan seorang perempuan dari balcony. Mungkin saat itu sudah jam dua atau tiga pagi. Ameera temanku asal Morocco meledakkan tangisnya pada dini hari itu. Saat itu aku hanya sayup-sayup mendengar dari balik selimut Ia sedang berbicara dengan seseorang melalui mobilenya. Tangisan itu terasa dalam. Seakan Ia menyimpan sesuatu yang begitu perih di balik kemolekan parasnya. Ia berbicara dengan bahasa yang hanya kumengerti sedikit-sedikit. Meskipun begitu aku tahu Ia amat terluka hatinya. Meskipun aku tidak tahu persis hal apa yang begitu membuatnya teramat bersedih.
Ameera datang ke Dubai kira-kira setahun yang lalu. Ia berprofesi sama seperti aku, waitress. Sebuah pekerjaan yang banyak orang meremehkannya. Ia bekerja di sebuah restoran sekaligus discotic yang dimiliki dan banyak dikunjungi oleh orang-orang arab. Ameera tidak bisa berbicara bahasa Inggris. Ia hanya mengerti bahasa perancis. Tapi Ia juga malas mengasah percakapan bahasa Inggrisnya. Sementara bukan hanya bahasa Arab yang dominan, akan tetapi Inggris juga luas digunakan sebagai bahasa resmi di Dubai. Selebihnya bahasa Hindi, Tagalog dan Perancis.
Perkenalanku dengannya berawal ketika Ia menyewa tempat tidur di kamar kami sekitar dua bulan yang lalu. Setiap malam Ia berangkat sekitar jam 8, dan pulang pada sekitar jam 3 dini hari. Pada saat kami terbangun, kadang Ia tertidur. Banyaknya penghuni yang menempati kamar kami, tentu menimbulkan keributan yang kadang membangunkannya. Terutama ketika diantara kami ada yang off hari itu. Ketika ia terbangun, Ia pun bergabung dengan kami bersenda gurau, berdansa, dan tertawa. Kadang aku iseng merekam kegiatan yang berlangsung dengan kamera digitalku. Pernah aku mewawancarainya seakan aku seorang penyiar dan Ia narasumbernya dengan bahasa arabku yang masih belum lancar, hee…Pertemanan kami kadang menghiburnya.
Sekitar sebulan yang lalu, aku jarang melihat Ameera pergi pada malam hari. Seringkali Ia hanya seharian tidur di kamar. Terlebih ketika Ia mengalami sakit perut setelah makan hilwah pemberian Shereen, teman kamar Egyptianku. Saat itu aku dan Shereen menyiapkan teh hijau khas morocco yang membuat kondisinya lebih baik. Saat itu Ia bilang padaku dalam bahasa arab : “bilams ana maridhah, elyoum ana maridhah, bukra ana maridhah, khalats, anarruhul mustashfa..,” intinya kalau sampai besok masih tetap sakit, dia pasti masuk rumah sakit.
Suatu hari aku, Ameera dan Shereen bercakap-cakap. Shereen yang mengerti bahasa Inggris sangat membantuku berkomunikasi dengan Ameera. Saat itu kami membicarakan masalah sulitnya hidup di Dubai. Ameera menanyakan apakah ada lowongan di tempatku bekerja. Saat ku tanyakan alasannya, Ia bilang sudah sebulan ini Ia bekerja di restoran ini. Sebelumnya Ia bekerja di sebuah hotel yang menjamin penghasilan lebih hingga Ia bisa menyewa sebuah kamar yang nyaman untuk dirinya sendiri. Tempat kerja sebelumnya memang menyediakan visa kerja selama tiga tahun, dan ia masih memiliki sisa dua tahun lagi untuk bisa diakui secara legal sebagai pekerja di Dubai. Namun tempat kerja yang disukainya itu direnovasi dan terpaksa ia menganggur saat ini. Renovasi tersebut kemungkinan berlangsung hingga dua tahun ke depan. Waktu yang cukup lama untuk menunggu hingga tempat kerjanya buka kembali. Untuk bisa survive, Ia ditawari bekerja di restoran yang sekaligus diskotik sebagaimana yang Ia sebut markaz ‘arabee. Ia tidak senang bekerja di sana. Yang kutangkap dari kata-katanya, customer yang datang sering “tidak sopan”. Kadang aku memang melihat aura tidak mood ketika Ia malam-malam harus pergi bekerja dengan persiapan dandanan yang cukup lama itu. Meskipun jam 8 berangkat, namun sejak jam setengah tujuh dirinya sudah mematut-matut diri di depan cermin dengan seperangkat alat kosmetiknya.

Dari obrolan sesekali dengannya dapat kusimpulkan bahwa kini Ia menganggur sama sekali. Pekerjaan terakhirnya sebagai waitress di tempat yang Ia sebut Markaz ‘Arabee itu ditinggalkannya. Ia berniat mencari pekerjaan baru selama visa kerjanya masih berlaku hingga dua tahun lagi ke depan. Sesekali Ia pergi pada larut malam sekitar jam 10 atau jam 11 belakangan ini. Kadang aku menggodanya kalau Ia mau ngedate bersama habebenya (pacarnya). Sedikit-sedikit Ia terbuka bahwa Ia punya pacar orang mesir. Pernah Ia memperlihatkan barang-barang pemberian pacarnya itu. Sebelumnya Ia sempat bilang bahwa selama dua bulan ini Ia survive karena kebaikan temannya. Mungkin temannya itu adalah pacarnya. Atau sebaliknya pacarnya itu temannya. Hee..
Aku terkadang menemukan Ameera dalam kegelapan di ruang dapur pada larut tengah malam saat aku pulang kerja kalau sedang shift malam. Kalau sudah begitu, aku hanya menyapanya sekadarnya saja dan membiarkannya. Mungkin dia sedang berfikir dan ingin sendiri. Terkadang juga aku melihatnya hanya terbaring di tempat tidur dengan pandangan menerawang dalam rentang waktu yang cukup panjang. Pada saat itu pun aku tidak ingin terlalu mengajaknya bicara atau menggodanya. Khawatir mengganggunya. Pernah Ia marah besar pada Amu teman kamar Indiaku yang tidur dikasur atas dekat dengan tempat tidurnya. Pemilik kamar mengikatkan besi pada tempat tidur Amu menyatu dengan besi pada tempat tidur Ameera untuk mengokohkan posisi tempat tidur Amu. Amu yang aktif turun naik tempat tidurnya, mengganggu Ameera saat sedang istirahat. Aku bisa melihat kekesalan yang dalam bercampur perasaan tertekan yang ada di diri Ameera. Sementara akupun merasa kasihan pada Amu sebab sulit untuk tidak menimbulkan suara atau gerakan pada saat Ia turun naik tempat tidurnya. Amu yang tidak bisa bahasa Arab mencoba membela diri : “ what can I do ? “ . Tiba-tiba Ameera datang dengan membawa sebilah pisau dan memotong tali yang mengikatkan kedua tempat tidur mereka, dan mencoba menggeser agak jauh posisi tempat tidur keduanya. Amu hanya diam dengan wajah sedih bercampur kesal dan takut. Kata-kata Ameera yang berulangkali diucapkannya Ana crazy…Ana crazy…khalats…Ana crazy…sambil menujuk-nunjuk keningnya sendiri.
Awalnya aku tidak terlalu perduli dibalik kehidupan Ameera. Namun, aku hanya merasa tersentuh mendengar pertama kalinya Ia menangis. Dan tangisan itu bagiku bermakna dalam. Shereen terbangun dan mendekatinya. Mereka bercakap-cakap dalam bahasa arab. Ada perasaan lega ketika Shereen mencoba menemaninya. Shereen memang lebih dekat dengan Ameera karena banyaknya kesamaan yang mereka miliki terutama bahasa. Akupun mencoba kembali tidur dalam sayup-sayup suara mereka berdua. Sebab jam 5 pagi aku harus bangun untuk bersiap-siap ke tempat kerja. Apalagi aku merasa lelah karena hari sebelumnya aku dapat shift malam.
Tangisan Ameera malam itu tetap menyisakan bekas dalam diriku. Aku dapat membayangkan, betapa membosankan dan tidak menyenangkannya hidup sebagai pengangguran, atas bantuan orang lain, dan di negeri orang. Dubai segala sesuatunya serba mahal. Betapa sulit bagi Ameera yang mungkin terbiasa mempunyai uang dan tinggal di tempat yang nyaman dan privat. Aku hanya berharap kelak ada jalan untuk Ameera bisa secepatnya memperoleh pekerjaan baru sebagaimana yang diinginkannya.
Selain Ameera, ada juga Ranggana, Amu, Shereen, Catu, Tere, Farsana, Joy, dengan ceritanya masing-masing. Masih mau nyimak bukan? : )
Bersambung ………
No comments:
Post a Comment