Beberapa minggu yang lalu aku memang agak sibuk. Sebagian staff ditransfer ke PQ baru di kawasan Saikh Zaid Road tepatnya di 21st century building. Beberapa rekan kerja ada juga yang vacation pulang kampung dan ada juga yang sedang umroh. Meskipun begitu, bermunculan wajah-wajah baru. Sebagian dari Indonesia, sebagian dari Nepal, India dan Myanmar.
Keberadaanku di PQ sudah lebih dari setahun. Tentu dalam waktu dekat aku sudah berhak mendapatkan jatah vacation. Mungkin aku pulang ke Indonesia, atau mungkin tetap di Dubai. Aku pun kini bukan berstatus sebagai anak baru lagi seperti beberapa bulan yang lalu. Terus terang, menjadi anak baru tidak selalu mudah. Tidak hanya di sekolah dulu, tapi yang lebih sulit ketika memulai di lingkungan tempat kerja yang baru. Bagi sebagian barangkali tidak ada masalah, tapi yang aku alami seringkali sulit.
Dunia kerja yang kumaknai adalah ruang yang cukup terbuka untuk belajar sekaligus memperoleh penghasilan, berbeda dengan sekolah. Sekolah secara formal memang adalah tempat kita belajar, meskipun pada kenyataannya tidak semua sekolah memerankan fungsi yang seharusnya ; menjadi ruang yang terbuka bagi siapapun yang ingin belajar bahkan kalau memungkinkan tidak perlu keluar biaya. Kalaupun berbiaya, tidak perlu terlalu mahal. Apa boleh buat, begitulah sekolah yang ada ; seringkali dengan biaya tinggi, namun juga tidak seimbang dengan apa yang di hasilkannya.
Hari-hari menjadi anak baru perlahan sudah dapat kulalui. Proses dari anak baru menjadi bukan baru cukup berat. Secara yang kugambarkan di awal, rekan-rekan kerja yang lebih dulu memang kental akan arogansi senioritasnya. Terlebih mereka juga berkelompok. Seperti yang kugambarkan di awal, ini adalah tantangan tersendiri buatku. Secara bertahap aku belajar untuk membuktikan sebagai seseorang yang bermutu dan dapat diandalkan. Tentu saja ini tidak mudah, terlebih ketika tidak ada dukungan yang kondusif dari managemen. Merasa sendiri dan terkadang putus asa. Namun aku belajar untuk menemukan kata kunci dari semua masalah ini ; berpikir positif dan jauh ke depan.
Pada dasarnya dunia hospitality bukan sesuatu yang sulit untuk dipelajari. Yang paling dibutuhkan adalah keterampilan berkomunikasi dan rasa ingin tahu akan berbagai variasi kuliner secara umum. Secara specific, tentu kita harus mengetahui dengan baik produk kita sendiri. Selebihnya keterampilan teknis dalam melayani customer hingga mereka merasa nyaman dan tentu ingin datang kembali. Lebih jauhnya, tentu industri ini dibutuhkan sebuah perangkat managemen yang professional. Dan bekerja di restoran sebagai seorang waiter, hanya tahap awal. Sebagian orang, menganggap pekerjaan ini rendahan. Namun bagiku, pekerjaan apapun tidak ada yang rendah. Yang rendah adalah mereka yang tidak mau bekerja yang justru seringnya merepotkan orang lain karena statusnya sebagai pengangguran. Berbahagialah mereka yang mempunyai pekerjaan. Apapun itu, bekerjalah dengan tekun, cerdas, dan tulus. Sebab tanpa itu, apapun yang kita kerjakan tidak akan berarti apa-apa. Tidak ada sebuah pencapaian yang diperoleh melalui proses yang instant. Sebab segala sesuatu yang instant itu biasanya keropos dan rapuh.
Di tempat kerja mungkin kita akan bertemu dengan berbagai tipikal orang yang karakternya sulit, terlepas dari latar belakang budaya dan bangsa. Secara umum ada tiga karakter sulit yang mengganggu ketika bekerja bersama mereka; pertama, tipe one man show, semua dilakukan sendiri, kurang percaya akan kemampuan rekan kerjanya karena merasa diri paling tahu. Padahal dalam bekerja semua berperan sebagai team work. Kedua, ignore atau careless, cuek, masa bodoh, malas, tidak peduli, dan sejenisnya. Karakter ini berkebalikan dari yang pertama. Sulit bekerja dengan orang seperti ini karena tidak dapat diandalkan. Orang seperti ini pun bukan bagian dari team work. Ketiga, sentimentil, cengeng, perasa, mudah tersinggung, dan sejenisnya. Dalam wilayah kerja tentu terdiri dari orang-orang dengan watak yang berbeda-beda, Sementara dalam perbedaan itu dituntut untuk kompak dan solid, demi pencapaian target perusahaan. Pemikiran positif dan rasional, lebih dibutuhkan dari pada mental cengeng, mudah tersinggung, perasa dan lain sebagainya. Hal-hal remeh bisa menjadi besar karena diciptakannya sendiri. Kunci vital dalam mengelola beberapa karakter sulit ini, ada pada seorang pimpinan.
Pengelolaan orang dengan karakter di atas, adalah salah satu bagian yang paling mendasar dari tanggung jawab sebagai seorang pemimpin. Oleh karena itu, menjadi pimpinan bukan sesuatu yang mudah pada prakteknya. Ia harus tahu bagaimana mendekati staffnya yang mempunyai titik lemah dan kekuatannya masing-masing. Ia harus dapat membantu mengatasi kelemahan staffnya, dan memaksimalkan potensi yang menjadi kekuatannya. Bagiku, seorang bos dengan seorang pimpinan adalah dua kata dengan makna yang berbeda. Dalam diri pemimpin ada kompetensi dan kapabilitas. Sementara dalam diri seorang bos, hanya lebih kepada posisi dan kekuasaan. Pemimpin pada dasarnya adalah pelayan bagi staff bawahannya. Dan staff bawahan adalah tim sukses bagi lajunya bisnis sebuah perusahaan. Idealnya, kedua peran ini sejajar dan saling melengkapi sehingga terjalin sebuah harmony kerja yang solid. Manakala salah satu peran atau sebagiannya pincang, maka sulit untuk mengharapkan sebuah kondisi kerja yang nyaman dan tentunya berakibat pada kurangnya pencapaian keuntungan yang diharapkan.
Sebagai seorang staff biasa yang juga baru bergelut di bidang ini, memang tidak banyak yang bisa dilakukan ketika berada dalam situasi ini dibarengi dengan keberadaan seorang pimpinan yang berperan sekaligus sebagai seorang bos. Seorang bos, biasanysa hanya menuntut hasil, sementara seorang pimpinan membantu mencapai hasil tersebut terealisasi misalnya tentu dengan mempermudah staffnya melakukan pekerjaan dengan maksimal dengan memberikan petunjuk kerja yang jelas dan konsisten, tidak kabur dan membingungkan. Terutama sebagai staff baru, standard kerja tentu sangatlah penting. Standard kerja yang dibuat secara tertulis lebih efektif dari pada hanya instruksi-instruksi verbal. Sejauh ini aku belum merasakan bekerja dalam pola managemen yang dikelilingi oleh orang-orang yang benar-benar professional. Dalam benakku, seorang pemimpin adalah the best role model bagi staffnya; dia harus lebih hard working, smart, wise, objective, dan helpful atau considerate. Jiwa pemimipin seperti ini akan sangat mewarnai suasana kerja yang kondusif, betatapun banyaknya masalah yang muncul.
Terlepas dari itu semua, bagiku, bekerja di bidang ini sangat menyenangkan. Aku dapat bertemu dengan berbagai macam orang. Orang yang datang tentu ada yang tetap namun juga ada yang baru. Ada seni dalam berkomunikasi dengan mereka. Pembicaraan yang berlangsung hanya seputar hal-hal ringan. Namun bukan berarti tidak ada pertukaran informasi yang berarti. Setiap pagi aku bertemu dengan Sally, seorang British berusia 50an yang selalu datang dengan balutan busana kerja yang pantas. Ia tampak smart dan bersemangat menjalani hari-harinya. Selain itu Ia pun sangat pemurah. Ia biasa sarapan dengan raisin bagel, welldone toasted atau scone yang disajikan dengan latte skim milk. Setiap akhir pekan Sally datang bersama suami dan terkadang anak perempuannya yang sudah dewasa. Ketika mereka disandingkan aku mencadainya dengan sebutan kembar unik. Dan Ia pun tertawa justru meresponku dengan menyebut mereka berdua terrible twin. Hee…. Sally akan bertanya ketika aku terkadang tidak terlalu bicara banyak dengannya, Why you so quiet now..?
Ada juga Christine. Seorang Ibu muda dengan dua anak laki-lakinya yang lucu dan cerdas ini biasa datang pagi hari bersama suaminya yang berasal dari New Zealand. Sementara itu Christine berasal dari hongkong. Perpaduan dua ras ini melahirkan anak-anak yang unik. Seperti Sally, Christine dan keluarganya selalu datang bahkan seringkali lebih dari sekali dalam sehari. Kegemaran keluarga ini adalah sarapan dengan toasted sunflower bagel di sajikan dengan butter dan jam dengan flavour berries, bersama dua buah latte strong. Sementara untuk anak-anaknya adalah chocolate croissant, atau almond croissant, dan chocolate muffin disajikan dengan dua gelas cold milk. Berbeda dengan Sally yang tidak terlalu bermasalah dengan makanan, keluarga Christine sangat perfectionist. Ada seni tersendiri memahami apa yang dimaui customer dengan bermacam-macam seleranya. Dan adalah tugasku dan teman-teman untuk bisa melayaninya dengan tulus. Suatu hari Christine berkomentar tentangku, why you always look so happy ?. Tentu saja aku senang bila Ia melihatku begitu.
Ada juga Shirin. Ibu berusia matang ini, setiap pagi Ia biasa minum coffee ole light sebelum berangkat kerja. Aroma coffee ole yang dibawanya ke tempat kerja mengundang beberapa koleganya untuk memesan kopi yang sama di restoranku. Tentu saja ada kebanggaan tersendiri bagiku yang biasa membuatkan coffee ole untuknya. Pada setiap akhir pekan Ia juga biasa datang bersama keluarganya. Bila Ia tidak bisa datang, Ia akan mengirim orang untuk memesan kopi dari storeku. Pada saat aku off, esoknya dia akan bertanya padaku, where’re you yesterday ? dengan aksen britishnya
Ada juga Mr. and Mrs. Booker,sepasang suami istri baya yang berasal dari England. Pada saat pertama kali datang, mereka bertemu denganku. Mrs. Booker memesan small latte, sementara Mr. Booker memesan large hot chocolate. Mrs. Booker menyukai latte dari storeku. Hingga saat ini mereka berdua adalah regular customer di restoranku. sepasang suami istri ini, sangat pemurah. Tidak jarang mereka memberikan bingkisan untuk kami. Sebagai counter staff yang lebih fokus di wilayah counter untuk layanan take away, seringkali aku tidak selalu dapat mengobrol leluasa dengan mereka, terutama apabila pada saat sibuk. Mr. Booker terkadang mencandaiku dengan komentar, why you not talking to me today? Ok, I don’t want to talk to you anymore, hee…
Selain perkenalanku dengan mereka dan customer lainnya yang tidak aku sebutkan, aku memang menyukai pekerjaanku, terlepas dari masalah yang ada. Sebab buatku, hidup adalah masalah itu sendiri. Biarkan masalah itu kecil kalau memang kecil adanya. Dan jangan dibuat lebih besar kalau masalah itu sudah besar. Dalam setiap masalah kita menjadi belajar sesuatu untuk memecahkannya. Dan aku percaya, bahwa dalam setiap masalah pasti akan selalu ada jalan keluar, cepat atau lambat. Buat teman-temanku,berpikirlah keluar dari kotak sebab hidup ini singkat, just enjoy what you do, and do what you enjoy, as Demartini said, thanks to him…: )
No comments:
Post a Comment