Sunday, August 16, 2009

“You can buy almost anything in Dubai, and now You can buy a friend !!”


Ada sebuah tren yang muncul belakangan di Dubai. Yaitu sebuah jasa penyaluran TEMAN. Jasa ini hanya diperuntukan bagi perempuan yang membutuhkan teman di Dubai. Harga yang di tawarkan mulai dari 800 dirham atau kira-kira dua juta rupiah perhari untuk menemani belanja di mal dan ngobrol sambil minum kopi. Jasa penyaluran TEMAN EKSLUSIF atau ‘Exlusively yours’ ini harganya dapat bervariasi tergantung permintaan dari klien.

Tujuan usaha ini professional. May Russel sebagai pemilik dan menejernya mengatakan bahwa banyak para pebisnis yang datang ke Dubai mengajak istri mereka dan tidak dapat menemani sang istri berkeliling karena bekerja. Sementara itu, sebagai pendatang baru, tidak mudah untuk menemukan teman yang dapat dipercaya untuk menemani. Jasa inilah bisa dijadikan alternatif yang aman.

Tidak hanya itu, jasa ini juga melayani para perempuan yang hidupnya kesepian. Sebagai kota besar yang sedang pesat membangun, dimana orang banyak disibukkan oleh pekerjaan, hingga tidak ada waktu berteman, jasa ini pun salah satu cara mengatasinya. Dan banyak alasan lain yang mendasari usaha ini di jalankan.

Meskipun industri ini relatif baru di Dubai, namun ini lumrah berlaku di kota-kota besar di Amerka. Jasa ini dinamakan the female chaperone service. Bagi perempuan yang ingin datang ke sini dan membutuhkan TEMAN, bisa kunjungi websitenya di www.eyint.com

Mengapa usaha ini hanya diperuntukkan bagi perempuan, sebab kota ini memang tidak terlalu ramah terutama terhadap perempuan. Untuk tidak mengeneralisasi, banyak fakta yang menunjukkan keadaan dimana perempuan masih begitu rentan berjalan sendirian di tempat-tempat tertentu termasuk pergi dengan jasa taksi.

Selanjutnya, tentu saja informasi ini hanya berlaku bagi mereka yang berkantong tebal. Kondisi dimana orang butuh teman, kesepian, malu, takut, adalah keadaan alamiah manusia tak terkecuali mereka yang hidupnya pas-pasan. Lalu bagaimana bila mereka tidak sanggup menyewa sebuah jasa TEMAN EKSLUSIF ini? Tidak usah gelisah. Percayakan pada diri sendiri untuk mengatasinya. Masih banyak cara untuk mengatasi rasa sepi, bosan, malu, takut dan lain-lain meskipun dalam keadaan kantong yang pas-pasan. Tidak semua hal dapat dibeli dengan uang. Apalagi membeli seorang teman. Uang bukanlah segalanya.

Aku jadi ingat, suatu hari aku pernah mempunyai pekerjaan sampingan sebagai TEMAN perempuan lokal. Sebagai seorang muslim konservatif, Ia tidak diperbolehkan berjalan jauh sendirian. Ia pun mempercayaiku untuk menemaninya. Hingga saat ini aku tidak pernah tahu rupa wajahnya karena selalu ditutupi cadar. Seluruh pakaiannya hitam yang lazimnya dinamakan abaya. Kami bertemu secara tidak sengaja saat ia berkunjung ke restoranku. Saat itu aku tidak berniat menjadi TEMAN perjalanannya. Aku hanya menawarkan diri untuk mencarikan TEMAN untuknya melalui teman-temanku. Sebab saat itu aku berpikir pekerjaan ini pasti membosankan.

Saat aku menawari teman-temanku untuk pekerjaan ini di sela-sela hari libur mereka, awalnya mereka antusias tapi kemudian mereka merasa ragu saat tahu bahwa pekerjaan mereka hanya menemani sang nyonya selama perjalanan. Rata-rata temanku itu non muslim dan bagi mereka tradisi berbusana yang dikenakan sang nyonya ini aneh meskipun tidak bagiku. Bukan hanya caranya berpakaian namun alasan menemani ini pun buat mereka terdengar aneh. Meskipun pada akhirnya mereka mengerti saat kujelaskan. Akan tetapi bukan berarti mereka menerima pekerjaan ini. Apa boleh buat, akulah yang jadi teman sang nyonya ini pada akhirnya.

Ada banyak hal menarik yang tidak dapat kuceritakan secara khusus di sini bagaimana bentuk perTEMANan kami. Singkatnya, karena ia butuh TEMAN yang bisa di panggilnya setiap saat ia melakukan perjalanan, dan akupun tidak selalu punya waktu untuk menemaninya ( hanya hari libur ), perTEMANan kamipun hanya berlangsung beberapa saat. Yang aku tahu hanya namanya dan nomor telepon. Mungkin kalau suatu saat kami berpapasan di suatu tempat, aku tidak dapat mengenalinya. Hanya ia yang mengenaliku. Kadang-kadang lucu juga kalau ingat itu.

Lalu bagaimana bila rasa bosan dan sepi hinggap atau kadang-kadang merasa takut sendiri ?

Aku hanya bisa menggambarkan secara umum. Hal yang paling mendasari untuk melakukan sesuatu apapun itu adalah tujuan. Tentukan tujuan utama kita. Biasanya adalah untuk memperoleh lebih banyak uang dan pengalaman. Pertama kali aku berencana untuk bekerja dan tinggal di sini, hal yang aku siapkan sejak awal adalah informasi tentang hal yang terkait dengan tempat yang aku diami saat ini. Mulai dari budaya, masyarakatnya, detail pekerjaan, peraturan-peraturan, dan lain-lain.

Kedua, mental. Setelah mengetahui dengan jelas informasi yang dibutuhkan, siapkanlah mental yang positif. Buatlah serangkaian alternatif positif yang bisa dijadikan antisipasi bila hal-hal tidak menyenangkan terjadi.

Mental yang positif diantaranya respek. Jangan berusaha menghakimi sesuatu yang tampak berbeda dengan apa yang biasa kita pahami. Berusaha untuk berpikir terbuka terhadap orang lain yang berbeda. Belajarlah untuk fleksibel.

Hal yang membuat kita merasa bosan adalah tujuan hidup yang kabur. Biasanya lingkungan pergaulan mempunyai pengaruh yang kuat atas cara berpikir kita dan atas setiap keputusan yang kita ambil. Berusahalah untuk tidak terpengaruh dan bangunlah rasa percaya dengan kemampuan diri sendiri untuk dapat mengubah keadaan betapapun buruknya. Tentu saja dalam prosesnya ini tidak mudah. Satu persatu teman kita biasanya pergi entah karena alasan ketidakcocokan dengan cara berpikir kita atau karena tidak tahan dengan cobaan hidup yang dialami.

Hal yang juga sangat penting untuk menjadi bekal bekerja di negeri orang adalah keterampilan. Jangan pernah sekali-kali pergi bekerja ke luar negeri tanpa memiliki keterampilan yang jelas. Terutama keterampilan bahasa. Persiapkan segala sesuatunya dengan matang. Dan jangan pernah berhenti belajar, berpikir kreatif, dan tekun.

Terakhir, berapapun penghasilan kita, Menabunglah. Menabunglah. Menabunglah. Tidak semua orang beruntung dalam hidup dan pekerjaan mereka. Tapi bukan berarti harapan hidup kedepan yang lebih baik terkunci. Membiasakan diri menabung adalah menanamkan harapan hidup di masa depan. Orang yang tidak biasa menabung artinya orang yang tidak yakin akan masa depannya. Kalau tidak yakin dengan masa depan yang lebih baik, janganlah menciptakan mimpi apapun di benak kita. Sebab percuma saja. Mimpi itu tidak akan menjadi nyata. Ini hanya masalah pilihan keyakinan.

Mencari teman sebetulnya gampang-gampang susah. Aku mempunyai kategori dalam mengelompokkan orang-orang yang kukenal. Ada teman bekerja, ada teman kamar, ada temannya teman, dll. Tapi teman yang memiliki pola berpikir yang sama inilah yang sulit. Ada banyak cara untuk sekedar menambah teman pergaulan diantaranya bergabung dengan kegiatan arisan atau amal yang juga banyak diadakan di Dubai. Memang biasanya ini buat mereka yang berkantong cukup lumayan. Atau juga kamu bisa bergabung dengan berbagai kelompok pecinta olahraga seperti sepeda, jogging, dll. Bergabung dengan kegiatan seperti ini lebih natural untuk menemukan teman dan tidak perlu keluar biaya yang terlalu banyak dari pada menyewa jasa di atas. Sebab bagi yang berkantong tebal yang sanggup menyewa jasa TEMAN INSTAN ini, bukan berarti persoalan mereka berhenti sampai di situ. Sebab TEMAN EKSLUSIF itu bukanlah teman yang sebetulnya kita butuhkan. Lebih dari itu,Jiwa kitalah teman sejati kita. Rawatlah jiwa itu, dan janganlah membiarkan jiwa itu pergi dari diri kita. 

Saturday, August 15, 2009

Untuk Kita yang Mencintai Hidup dan Perbedaan


Sekitar beberapa tahun yang lalu saya menonton sebuah film tentang perselisihan antara muslim Pakistan dan hindu serta sikh India yang pada saat itu masih bersatu di bawah pemerintahan kolonialisme Inggris pada sepanjang abad 18 hingga pertengahan abad 19. Pada puncaknya kedua kelompok agama ini dipisahkan untuk menempati wilayah yang berbeda. Kelompok muslim yang berada di India terpaksa harus bermigrasi ke wilayah Pakistan. Sementra kelompok sikh dan hindu yang berada di Pakistan juga terpaksa harus bermigrasi ke wilayah India.

Sebuah film yang digarap apik dimana aktor berdarah India Yahudi, yang juga memenangkan penghargaan atas perannya ini, Ben Kingsley terlibat di dalamnya. Ia berperan sebagai Mahatma Gandhi salah satu tokoh kunci yang mewakili agama hindu dan sikh.

Pada dasarnya Gandhi tidak menyetujui pemisahan ini. Pengungsian massal ini di pandangnya terlalu membawa resiko yang sangat mahal. Bukan hanya materil tapi juga tidak menjamin kedua kelompok yang berselisih ini akan berdamai dan persoalan ketegangan keduanya pun akan selesai begitu saja. Namun usaha-usaha diplomasi yang dilakukannya pun tidak membawa hasil sebagaimana impiannya atas India yang mayoritas berpenduduk Hindu dan Sikh bisa berdampingan dengan Pakistan yang mayoritas muslim. Secara sendirian Ia berhadapan dengan sejumlah tokoh penting terutama dari kelompok muslim Pakistan yang menghendaki pemisahan wilayah India dengan Pakistan diantaranya Muhammad Ali Jinnah dan Jawaharlal Nehru atas Hindu dan Sikh. Gagasan Gandhi mengenai integrasi ini membawa kematian pada akhirnya. Ia tewas ditangan ekstemis hindu yang menganggap Gandhi telah menodai keyakinan agamanya.

Hari ini sejak lebih dari dua tahun saya tinggal di negara yang banyak dari jumlah penduduknya berasal dari kedua negara tesebut; India dan Pakistan. Saya pun sempat merasakan tinggal dalam satu kamar bersama perwakilan dari kedua negara tersebut selama lebih dari setahun. Amu yang berasal dari India dan Shazia yang berasal dari Pakistan. Kedua temanku ini lahir dari generasi yang tidak merasakan secara langsung getirnya kehilangan tanah air, keluarga dan harta karena perang agama yang terjadi pada beberapa dekade silam. Selain itu mereka berasal dari keluarga mapan dan terdidik. Sehingga sentimen sentimen kebencian yang masih tersisa hingga saat ini tidak dirasakan oleh kedua temanku ini. Lain halnya bila mereka berasal dari keluarga serba kekurangan. Di luar sana bukan berarti kebencian dan sinisme diantara kedua bangsa ini pupus. Sebab ketengangan ini tidak bisa dilepaskan dari sejarah pahit masa silam maupun ketidak adilan baik secara ekonomi, sosial dan politik yang dialami kedua bangsa hingga saat ini.

Sehari-hari saya berbaur dengan warga India dan Pakistan selain dengan warga Arab dan Filipina. Kadangkala hal-hal remeh bisa menjadi cukup serius dan membawa perdebatan sengit yang tak jarang memunculkan sentimen kebangsaan dan agama pada akhirnya. Hal ini seringkali terjadi. Tentu saja bukan berarti warga negara yang bukan Pakistan dan India tidak melakukan hal yang sama.

Meskipun kedua negara tersebut kini tengah menancapkan pembangunan dan menunjukan sejumlah kemajuan di berbagai bidang kehidupan sejak kemerderkaaanya dari kolonialisme Inggris yang menjajah negeri itu kira-kira selama satu setengah abad, namun jumlah penduduk yang hidup di bawah garis kemiskinan masih sangat signifikan jumlahnya. Bukan hanya itu, kedua negara yang berselisih ini juga masih memiliki masalah internal lain di dalamnya seperti perpecahan antara kelompok dan suku juga munculnya sejumlah kelompok-kelompok ekstemis yang acapkali menteror kehidupan dan pembangunan yang sedang berjalan hingga saat ini. Hal-hal yang dikhawatirkan Gandhi nampaknya terbukti. Masalah India dan Pakistan tidak cukup bisa teratasi hanya dengan memisahkan kedua kelompok beragama tersebut dalam wilayah yang berbeda. Tapi harus menyetuh akar masalah yang paling fundamental ; keadilan sosial dan pembentukan budaya toleransi antar kelompok beragama.


Bila kamu pernah menyimak sebuah film yang memenangkan oscar baru-baru ini berjudul Slumdog Millionare, banyak kisah dari tokoh utamanya di masa kecil hingga dewasa yang menggambarkan tentang itu semua di dalamnya. Atau bila kamu pernah menonton film lain yang berjudul Partition, juga menceritakan hal senada dimana seorang pasangan berbeda agama muslim dan hindu sikh yang mempunyai seorang anak kecil dipisahkan satu sama lain oleh keluarga mereka. Dan tentu saja masih berserakan kisah-kisah yang sama terlepas dari perselisihan antara India dan Pakistan yang selalu menyayat hati.

Kolonial Inggris yang berabad-abad silam menyebarkan kekuasaannya di sebagian besar wilayah di bumi ini, pada bulan agustus enam dekade silam akhirnya mengakui kedaulatan beberapa bangsa di Asia diantaranya India dan Malaysia setahun kemudian. Persatuan India akhirnya dipisahkan menjadi dua wilayah India dan Pakistan. Sehingga hari kemerdekaan keduanya berselang satu hari. India dianggap merdeka setelah Pakistan. Dan hari selanjutnya Indonesia yang merdeka dari Kolonial Belanda dua tahun lebih awal meskipun setelah kemerdekannya Indonesia masih berada dalam penjajahan Jepang hingga meletusnya Bom di dua kota kunci Jepang Hirosima dan Nagasaki oleh tentara sekutu pada perang dunia ke dua hingga membebaskan Indonesia pada akhirnya.

Sekali-kali kita perlu melihat gambaran kehidupan ini dari kaca mata lain. Sekali-kali pikiran kita perlu melompat jauh melampaui dari apa yang biasa kita alami dan pahami. Kita akan menemukan satu buah pemahaman tentang hidup yang lebih luas dan kita menjadi semakin kecil di dalamnya. Namun bukan berarti kita tidak memiliki kekuatan untuk dapat mengubah keadaan sekecil apapun itu. Mahatma Gandhi adalah tokoh bagi warga India, sebagaimana keluarga Butho adalah tokoh bagi warga Pakistan. Dan Kita pun memiliki tokoh-tokoh pejuang kemerdekaan di masa silam diantaranya Sukarno-Hatta. Apa yang membuat perjuangan mereka berhasil dan tidak mudah orang melupakannya adalah komitmen mereka atas apa yang mereka yakini untuk di perjuangkan.

Baru-baru ini setelah pemilihan presiden beberapa pekan yang lalu, kembali Indonesia dikejutkan oleh ledakan bom yang terjadi di tempat yang pernah terjadi sebelumnya. Entah motifnya apa, terlepas dari siapa pelakunya, tidakkah ini mengherankan bagi kita yang berpikir jernih. Adakah yang lebih berharga dari hidup selain melanjutkannya hingga tuntas tanpa memutuskan jalurnya dengan menghancurkan diri sendiri dan orang lain. Tidakkah ini mengherankan bagi mereka yang berakal sehat bahwa kita semua hanya terdiri dari darah dan daging dengan sumber yang sama tapi terlahir ke dunia ini dengan pilihan berbeda yang sudah ditetapkan. Siapa yang ingin hidup miskin, cacat,bodoh, gagal, dan hancur sia-sia? Bukankah kita ingin terlahir sempurna tanpa cacat, lahir dari keluarga berada, terdidik, dll. Benarkah itu semua takdir yang sama sekali tidak dapat diubah? Belajarlah lagi pada sejarah.

Tentu saja hidup ini kadang-kadang sulit. Tapi bisakah kita sejenak untuk tidak berpikir bahwa menjalani hidup itu begitu sulit. Bisakah kita percayakan pada kemampuan diri untuk dapat mengubahnya. Hidup kadangkala memang tidak adil tampaknya. sebagian orang begitu beruntung dan sebagiannya lagi tidak. Namun bukalah mata hati dan pikiran kita, bukankah begitu banyak orang-orang dalam sejarah yang menjadi mutiara bagi masyarakat di sekitarnya baik skala kecil maupun lintas benua dan sejarah, padahal mereka berasal dari "lumpur yang kotor" yang tampaknya juga mustahil bisa mengubah "dunia".

Hidup hanyalah masalah pilihan. Bagi kita yang menghendaki perubahan, hidup berjuang terseok-seok adalah lebih baik dari pada mati konyol dan kalah sebagai pecundang sebelum pertempuran usai.

Untuk India, Pakistan, Indonesia, malaysia dan negara-negara yang merayakan kemerdekaan pada bulan ini, Selamat !!! perjalanan masih panjang. bukan hanya Chairil Anwar akupun bahkan ingin hidup lebih dari seribu tahun lagi. Sekali hidup berarti dan sudah itu mati, kawan !
Katanya...

Peace :)

Friday, July 31, 2009

Hidup adalah kesunyian hidup masing-masing


Ini adalah tulisan seorang teman waktu sama-sama di FORMACI.Saat ini Ia sedang mengambil kuliah hukum di universitas Melbourne Australia. semoga bisa menginspirasi.

Hidup adalah kesunyian nasib masing-masing, kawan! Siapa yang menyangka K pernah bercita-cita jadi artis sinetron? Siapa yang menyangka pula dia akan menginap beberapa tahun di hotel prodeo? Siapa yang menyangka seorang kawan yang selalu berprestasi, punya bakat yang hebat sebagai pemimpin, tiba-tiba jadi aktivis Jamaah Tablig? Siapa yang menyangka seorang kawan yang begitu jenaka, sedikit 'ngawur' tiba-tiba jadi ajengan? Dan banyak lagi cerita yang bisa anda tambahkan.

Siapa yang menyangka Hirata akan mendarat di Eropa, menyusuri gang-gang di Venice, menikmati senang dan menantangnya belajar di Sorbonne, sementara Lintang tetap mondar-mandir dengan truknya di Belitong mengangkut pasir. Seorang kawan dekatku harus tetap menghemat waktu tidur malam karena harus menjaga warung burjonya. Seorang kawanku yang lain sedang bergulat dengan arsip-arsip kuno di sudut kota Kairo. Aku sedang berdebar-debar menunggu anak pertamaku lahir dari sudut jalan Decarle. Seperti Hirata dan Lintang, dulu kami bersama-sama, belajar di sebuah tempat yang sama, dengan guru yang sama, di lingkungan yang sama. Namun nasib yang sunyi menyeretku ke mari, dan mereka ke sana. Ah.. hidup.

Qabil dan Habil lahir dari satu rahim yang sama, Hawa. Namun kenapa yang satu jadi mahluk setengah dewa sementara yang lain jadi durjana? Bawang Merah dan Bawang Putih adik kakak, dididik oleh orang tua yang sama, tapi kenapa mereka menjadi pribadi yang berbeda. Kenapa?

Hidup akan terus berlangsung. Mungkin K kelak justru jadi presiden dan aku pulang kampung jadi petani. Mungkin kawanku yang setiap malam begadang menjaga warungnya 20 tahun yang akan datang sudah menjadi bos kios selular (dia bilang akan buka usaha baru) atau jadi pengusaha sukses. Siapa tahu? Hidup mengalir ke arah yang tak terduga sebelumnya. Chairil Anwar menggambarkan semua ini dengan sebuah kalimat indah: hidup adalah kesunyain nasib masing-masing. Seorang kawan menambahkan: hidup adalah kesetiaan kita pada proses.

Kita boleh makan makanan yang sama, ngaji pada guru dan kyai yang sama, belajar menggunakan sylabus yang sama, bahkan lahir dari rahim yang sama, tapi kenapa setiap kita berbeda? Setiap kita akan menapaki jalan hening nasib. Langkah-langkah itu jarang sekali kita sadari. Namun kalau ada kawan yang sepuluh tahun tak bersua dengan kita, kita bisa melihat jejak keheningan nasib hidupnya. Juga jejak dari kesetiaannya pada usaha dan proses.

Aku jadi ingat Fromm, Erich Fromm. Dia seorang psikolog aliran psikoanalisa. Aku mengkajinya dulu di Fromaci. Samar-samar teorinya masih menempel di benakku. Kata dia, setiap kita, setiap manusia, adalah mahluk unik. Tak ada satupun wajah yang sama, tak ada satupun sidik jari yang serupa. Bahkan kepribadianpun tidak ada yang sepenuhnya identik. Kata dia, yang membuat semua ini terjadi adalah karena kita manusia ini adalah mahluk yang 'menjadi', 'to be'. Wahib dengan bagus menggambarkan bahwa dirinya bukanlah Wahib, dia adalah 'mewahib'. Jadi, anda bukan Koko, tapi 'mengkoko', 'mengjoko', 'mengumam', dan 'menzezen' (Uh sangat janggal dan aneh, apalagi membaca urutan nama yang terakhir!). Setiap kita, K, Udin, Zezen, dan anda adalah mahluk yang akan terus menjadi, 'becoming', berproses dan berubah. Berubah adalah esensi manusia. Tidak ada gambaran utuh K karena K akan senantiasa bermetamorfosa, berubah, menjadi.

Itu adalah hakikat dasar manusia. Sebelum anakku lahir, aku sama sekali tidak punya gambaran seperti apakah dia. Mungkin akan tergambar sedikit wajahnya: ia akan merupakan gabungan wajahku dan wajah istriku. Namun aku sama sekali tidak akan tahu siapa dia, siapa anakku, sampai dia lahir, berproses, satu persatu mengumpulkan kecakapan membangun ke-diriannya. Itulah yang membedakan antara anakku dengan kursi indah dari Jepara. Sebelum sebuah kursi 'lahir' ke dunia, si pengrajin sudah memperoleh gambaran dan pengetahuan utuh tentang kursi yang ingin 'dilahirkannya'. Kalau saya menulis kata 'botol' atau 'kuris' di benak anda pasti akan ada sebuah gambaran umum yang mana setiap kita pasti akan memeiliki kesamaan dalam menggambarkannya. Namun jika aku menulis 'Wahid' atau 'Firman' setiap kita pasti akan memiliki gambaran berdeda. Manusia adalah mahluk yang eksistensinya ada mendahului esensinya, sementara benda adalah mahluk yang mana esensinya ada sebelum menjelma dalam kenyataan.

Itulah kenapa hidup menjadi hening. Kita akan menapaki jalur kita masing-masing, dalam hening. Hakikat kita akan terus menjadi, 'becoming' karena kita bukan benda. Semoga semuanya akan berubah, menjadi ke arah yang lebih baik, bergerak ke pendulum kedewasaan dan kebijaksanaan. Berproses dalam damai. Peace...

Decarle, 28/07/09


Terimakasih Zezen. Semoga anakmu terlahir secerdas bapaknya dan menentramkan kedua orangtuanya :)

Wednesday, May 20, 2009

Lentera Hati

Jum'at, 29 Agustus 2008

Ini adalah tulisan dari mantan pimpinan redaksi Metro TV Andy F Noya. Beliau juga merupakan favorit saya untuk acara "Kick Andy" yang diasuhnya. Semoga bisa menginspirasi..

Banyak yang bertanya mengapa saya mengundurkan diri sebagai pemimpin redaksi Metro TV. Memang sulit bagi saya untuk meyakinkan setiap orang yang bertanya bahwa saya keluar bukan karena ¡pecah kongs dengan Surya Paloh, bukan karena sedang marah atau bukan dalam situasi yang tidak menyenangkan. Mungkin terasa aneh pada posisi yang tinggi, dengan power yang luar biasa sebagai pimpinan sebuah stasiun televisi berita, tiba-tiba saya mengundurkan diri.

Dalam perjalanan hidup dan karir, dua kali saya mengambil keputusan sulit. Pertama, ketika saya tamat STM. Saya tidak mengambil peluang beasiswa ke IKIP Padang. Saya lebih memilih untuk melanjutkan ke Sekolah Tinggi Publisistik di Jakarta walau harus menanggung sendiri beban uang kuliah. Kedua, ya itu tadi, ketika saya memutuskan untuk mengundurkan diri dari Metro TV.

Dalam satu seminar, Rhenald Khasali, penulis buku Change yang saya kagumi, sembari bergurau di depan ratusan hadirin mencoba menganalisa mengapa saya keluar dari Metro TV. Andy ibarat ikan di dalam kolam. Ikannya terus membesar sehingga kolamnya menjadi kekecilan. Ikan tersebut terpaksa harus mencari kolam yang lebih besar.

Saya tidak tahu apakah pandangan Rhenald benar. Tapi, jujur saja, sejak lama saya memang sudah ingin mengundurkan diri dari Metro TV. Persisnya ketika saya membaca sebuah buku kecil berjudul Who Move My Cheese.Bagi Anda yang belum baca, buku ini bercerita tentang dua kurcaci. Mereka hidup dalam sebuah labirin yang sarat dengan keju. Kurcaci yang satu selalu berpikiran suatu hari kelak keju di tempat mereka tinggal akan habis. Karena itu, dia selalu menjaga stamina dan kesadarannya agar jika keju di situ habis, dia dalam kondisi siap mencari keju di tempat lain. Sebaliknya, kurcaci yang kedua, begitu yakin sampai kiamat pun persediaan keju tidak akan pernah habis.

Singkat cerita, suatu hari keju habis. Kurcaci pertama mengajak sahabatnya untuk meninggalkan tempat itu guna mencari keju di tempat lain. Sang sahabat menolak. Dia yakin keju itu hanya dipindahkan oleh seseorang dan nanti suatu hari pasti akan dikembalikan. Karena itu tidak perlu mencari keju di tempat lain. Dia sudah merasa nyaman. Maka dia memutuskan menunggu terus di tempat itu sampai suatu hari keju yang hilang akan kembali. Apa yang terjadi, kurcaci itu menunggu dan menunggu sampai kemudian mati kelaparan. Sedangkan kurcaci yang selalu siap tadi sudah menemukan labirin lain yang penuh keju. Bahkan jauh lebih banyak dibandingkan di tempat lama.

Pesan moral buku sederhana itu jelas: jangan sekali-kali kita merasa nyaman di suatu tempat sehingga lupa mengembangkan diri guna menghadapi perubahan dan tantangan yang lebih besar. Mereka yang tidak mau berubah, dan merasa sudah nyaman di suatu posisi, biasanya akan mati digilas waktu.

Setelah membaca buku itu, entah mengapa ada dorongan luar biasa yang menghentak-hentak di dalam dada. Ada gairah yang luar biasa yang mendorong saya untuk keluar dari Metro TV. Keluar dari labirin yang selama ini membuat saya sangat nyaman karena setiap hari keju itu sudah tersedia di depan mata. Saya juga ingin mengikuti lentera jiwa saya. Memilih arah sesuai panggilan hati. Saya ingin berdiri sendiri.

Maka ketika mendengar sebuah lagu berjudul Lentera Hati yang dinyanyikan Nugie, hati saya melonjak-lonjak. Selain syair dan pesan yang ingin disampaikan Nugie dalam lagunya itu sesuai dengan kata hati saya, sudah sejak lama saya ingin membagi kerisauan saya kepada banyak orang.
Dalam perjalanan hidup saya, banyak saya jumpai orang-orang yang merasa tidak bahagia dengan pekerjaan mereka. Bahkan seorang kenalan saya, yang sudah menduduki posisi puncak di suatu perusahaan asuransi asing, mengaku tidak bahagia dengan pekerjaannya. Uang dan jabatan ternyata tidak membuatnya bahagia. Dia merasa lentera jiwanya ada di ajang pertunjukkan musik. Tetapi dia takut untuk melompat. Takut untuk memulai dari bawah. Dia merasa tidak siap jika kehidupan ekonominya yang sudah mapan berantakan. Maka dia menjalani sisa hidupnya dalam dilema itu. Dia tidak bahagia.

Ketika diminta untuk menjadi pembicara di kampus-kampus, saya juga menemukan banyak mahasiswa yang tidak happy dengan jurusan yang mereka tekuni sekarang. Ada yang mengaku waktu itu belum tahu ingin menjadi apa, ada yang jujur bilang ikut-ikutan pacar (yang belakangan ternyata putus juga) atau ada yang karena solider pada teman. Tetapi yang paling banyak mengaku jurusan yang mereka tekuni sekarang -- dan membuat mereka tidak bahagia -- adalah karena mengikuti keinginan orangtua.

Dalam episode Lentera Jiwa (tayang Jumat 29 dan Minggu 31 Agustus 2008), kita dapat melihat orang-orang yang berani mengambil keputusan besar dalam hidup mereka. Ada Bara Patirajawane, anak diplomat dan lulusan Hubungan Internasional, yang pada satu titik mengambil keputusan drastis untuk berbelok arah dan menekuni dunia masak memasak. Dia memilih menjadi koki. Pekerjaan yang sangat dia sukai dan menghantarkannya sebagai salah satu pemandu acara masak-memasak di televisi dan kini memiliki restoran sendiri. Saya sangat bahagia dengan apa yang saya kerjakan saat ini, ujarnya. Padahal, orangtuanya menghendaki Bara mengikuti jejak sang ayah sebagai dpilomat.

Juga ada Wahyu Aditya yang sangat bahagia dengan pilihan hatinya untuk menggeluti bidang animasi. Bidang yang menghantarkannya mendapat beasiswa dari British Council. Kini Adit bahkan membuka sekolah animasi. Padahal, ayah dan ibunya lebih menghendaki anak tercinta mereka mengikuti jejak sang ayah sebagai dokter.Simak juga bagaimana Gde Prama memutuskan meninggalkan posisi puncak sebuah perusahaan jamu dan jabatan komisaris di beberapa perusahaan. Konsultan manajemen dan penulis buku ini memilih tinggal di Bali dan bekerja untuk dirinya sendiri sebagai public speaker.

Pertanyaan yang paling hakiki adalah apa yang kita cari dalam kehidupan yang singkat ini? Semua orang ingin bahagia. Tetapi banyak yang tidak tahu bagaimana cara mencapainya.

Karena itu, beruntunglah mereka yang saat ini bekerja di bidang yang dicintainya. Bidang yang membuat mereka begitu bersemangat, begitu gembira dalam menikmati hidup. Bagi saya, bekerja itu seperti rekreasi. Gembira terus. Nggak ada capeknya, ujar Yon Koeswoyo, salah satu personal Koes Plus, saat bertemu saya di kantor majalah Rolling Stone. Dalam usianya menjelang 68 tahun, Yon tampak penuh enerji. Dinamis. Tak heran jika malam itu, saat pementasan Earthfest2008, Yon mampu melantunkan sepuluh lagu tanpa henti. Sungguh luar biasa. Semua karena saya mencintai pekerjaan saya. Musik adalah dunia saya. Cinta saya. Hidup saya, katanya.

Berbahagialah mereka yang menikmati pekerjaannya. Berbahagialah mereka yang sudah mencapai taraf bekerja adalah berekreasi. Sebab mereka sudah menemukan lentera jiwa mereka.

Terimakasih Mas Andy atas tulisannya. Keep inspiring, stay smart and happy ...

Edensor

Sabtu, 23 Agustus, 2008

Aku ingin mendaki puncak tantangan, menerjang batu granit kesulitan, menggoda marabahaya, dan memecahkan misteri dengan sains. Aku ingin menghirup berupa-rupa pengalaman lalu terjun bebas menyelami labirin liku-liku hidup yang ujungnya tak dapat disangka. Aku mendamba kehidupan dengan kemungkinan-kemungkinan yang bereaksi satu sama lain seperti benturan molekul uranium : meletup tak terduga-duga, menyerap, mengikat, mengganda, berkembang, terurai, dan berpencar ke arah yang mengejutkan. Aku ingin ke tempat-tempat yang jauh, menjumpai beragam bahasa dan orang-orang asing. Aku ingin berkelana, menemukan arahku dengan membaca bintang gemintang. Aku ingin mengarungi padang dan guru-gurun, ingin melepuh terbakar matahari, limbung dihantam angin, dan menciut dicengkeram dingin. Aku ingin kehidupan yang menggetarkan, penuh dengan penaklukan. Aku ingin hidup ! ingin merasakan saripati hidup !”

Ini adalah sebuah penggalan kata-kata yang tertuang dalam novel ke tiga dari tetralogi laskar pelangi yang berjudul Edensor. Novel ini juga merupakan nominator khatulistiwa literary award tahun 2007. Novel kisah pengalaman pribadi sang penulis Andrea Hirata ini bercerita mengenai bagian dari kisah perjalanan hidupnya dalam pencarian jati diri dan cinta. Tema yang tidak baru pada dasarnya, Namun kita akan tenggelam dan terinspirasi menyimak lika-liku hidup yang dijalaninya sebagai anak desa yang miskin namun berani mewujudkan mimpinya untuk melanjutkan pendidikan hingga ke Paris.

Ikal, demikian tokoh utama dalam cerita ini, yang juga merupakan nama kecil Andrea Hirata adalah seorang anak yang lahir dari pedalaman desa belitong, Bangka Belitung. Lingkungan yang membesarkannya adalah lingkungan buta huruf. Bersama kesembilan teman-teman sekolahnya sejak SD hingga SMP, Ikal, Arai, Lintang, Mahar adalah diantara anak-anak cerdas yang lahir dari perut bumi pertiwi ini. Bakat-bakat alam kecerdasan yang menonjol dari mereka masing-masing, dibuktikan secara alami, nyata dan luar biasa. (laskar pelangi)

Sejak kanak-kanak, masa remaja hingga dewasa terutama Ikal dan Arai, dua tokoh utama dalam novel ini, terbiasa bekerja di sela-sela kegiatan sekolahnya. Jalan hidupnya yang keras mengajarinya banyak hal tentang pentingnya memiliki dan mewujudkan mimpi untuk keluar dari lingkaran kemiskinan yang melilitnya melalui pendidikan apapun resikonya. Ikal dan Arai adalah juga dua orang berjiwa petualang yang senang belajar (Sang Pemimpi). Kecerdasannya dibuktikan lewat prestasi akademisnya yang menonjol. Semangat inilah yang mendatangkan pelukan semesta untuk merengkuh impian mereka hingga ke Paris. Meskipun malang bagi Arai, di tengah perjalanan studinya, Ia terserang penyakit pernafasan genetis yang membuatnya harus menjalani perawatan dan kembali ke tanah air.

Dua kutipan yang coba ku ingat di awal tulisannya adalah : “Jika hidup ini seumpama rel kereta api dalam eksperimen relativitas Einstein, maka pengalaman demi pengalaman yang menggempur kita dari waktu ke waktu adalah cahaya yang melesat-lesat di dalam gerbong di atas rel itu. Relativitasnya berupa seberapa banyak kita dapat mengambil pelajaran dari pengalaman yang melesat-lesat itu. Analogi Eksperimen itu tak lain, karena kecepatan cahaya bersifat sama dan absolute, dan waktu relative tergantung kecepatan gerbong, maka pengalaman yang sama dapat menimpa siapa saja, namun sejauh mana, dan secepat apa pengalaman yang tadi memberi pelajaran pada seseorang, hasilnya akan berbeda, relative satu sama lain”.

Menyimak kisah yang tertuang dalam novel Edensor ini, memberikanku satu lagi pelajaran tentang buah dari optimisme dan kerja keras. Aku jadi ingat rekan-rekan kerjaku yang semakin hari tampak semakin lupa pada kedua spirit ini. Tawa yang pudar, semangat hidup yang rapuh kerap mewarnai hari-hari ku di tempat kerja. Mungkinkah dunia yang ada di benak mereka itu hanya dunia yang terbatas pada apa yang mereka jalani sehari-hari? Berkutat dengan rutinitas kerja yang membosankan, mengandalkan nasib pada manajemen yang dikelola orang-orang tanggung, sementara dalam diri tidak punya keberanian bahkan lintasan pikiran untuk “bermimpi” dan melahirkan “dunia-dunia alternatif” yang mungkin saja berpeluang mewujud tanpa MERUSAK dunia sehari-hari yang secara relatif “kurang menjanjikan”. Just break your own pack !!! Oh..come on Guys..keep up your spirit !!! where’s your positive energy ???

Sementara di halaman paling awal, sebuah kutipan yang diinterpretasikannya dari Harun Yahya adalah : “Hidup dan nasib bisa tampak berantakan, misterius, fantastis, dan sporadis, namun setiap elemennya adalah sub system keteraturan dari sebuah desain holistic yang sempurna. Menerima kehidupan berarti menerima kenyataan bahwa tak ada hal sekecil apapun terjadi karena kebetulan. Ini fakta penciptaan yang tak terbantahkan.”


I always believe that whatever happens in our lives, there’s always reason behind that. We have our own pieces of mosaics to mend as our own pictures. Find them out then reveal the secret. Life is a blessing. So, don’t waste your time and energy for being depressed of –could be—nothing. Open your mind and Enjoy Guys…!

***********

Hidup, Manusia, dan Segala Tingkah Polahnya (bag II)

Kamis, 22 Mei 2008

Mengapa hidup kadang tidak ramah pada kita ? mungkin pertanyaan ini pernah atau kadang, bahkan sering kita lontarkan pada diri kita sendiri ? dan pernahkah ada jawaban yang kita punya saat pertanyaan itu terus-menerus muncul ?

Beberapa hari yang lalu teman kerjaku dari Nepal terlihat sedih. Pasalnya, karena kesalahan kecil yang dibuatnya membuatnya berhadapan dengan ancaman transfer tempat kerja. Selain itu, secara staff baru, Ia merasa Ia juga berusaha bekerja semaksimal mungkin untuk memberikan performa kerja sebagaimana yang diharapkan manajemen. Sebagai staff yang lebih lama, aku berusaha mendorongnya untuk tidak larut memikirkan baik ancaman transfer, maupun kesalahannya. Sakit memang ketika sebuah usaha yang jujur tidak mendapatkan sebuah apresiasi justru malah dituduh tidak bertanggung jawab apalagi hanya karena kesalahan yang begitu sepele.

Beberapa waktu yang lalu, aku mendapat kabar bahwa seorang kameramen al-Jazeera asal Sudan bernama Sami al-Hajj akhirnya dibebaskan setelah kurang lebih enam tahun mendekam di penjara Guantanamo yang konon paling seram atas tuduhan yang tidak pernah dilakukannya. Ia sendiri dihukum penjara tanpa melalui proses pengadilan. Saat itu ia meninggalkan seorang bayi laki-laki yang kini sudah berusia enam tahun. Apa itu Guantanamo, bagaimana dan siapa saja yang menghuninya, aku tidak dapat membayangkan bagaimana image seram yang ada padanya sebagai penjara yang paling mengerikan di dunia. Menurutnya, tikus lebih di perlakukan manusiawi dari pada manusia sendiri. Syit ! what a hell ! benakku.


Sekitar sebulan yang lalu, aku menyaksikan akting si cantik Angelina Jolie dalam A Mighty Heart. Sebuah film yang diangkat dari kisah nyata. Ia memerankan tokoh Marianne pearl dengan sangat bagus dimana Ia menjadi seorang istri wartawan yahudi yang diculik dan akhirnya di bunuh dengan keji oleh para teroris ketika kunjungannya ke Karachi beberapa tahun yang lalu pasca peristiwa 11 september. Dalam cerita itu di gambarkan mereka adalah sepasang pengantin baru yang sedang bahagia karena sang istri sedang mengandung. Kesamaan visi dan idealisme membuat mereka bertemu dan sebuah tanggung jawab profesi membawanya berada di Karachi. Terlepas dari tuduhan sebagai mata-mata, keyahudian Danny Pearl sang suami ternyata menjadi momok yang membahayakan nyawanya yang berada di tengah-tengah ektremis kelompok muslim Karachi. Dan identitas yahudi ini pun tidak pernah Ia tutupi ketika orang menanyakan agamanya sebab dengan pikiran positif dan terbukanya, mungkin baginya tidak ada yang keliru dengan itu. Seluruh keluarganya Yahudi maka Ia pun terlahir sebagai seorang Yahudi, tentu saja bukan keinginannya.

Dan beberapa bulan yang lalu, seorang penjual gorengan bunuh diri di Serang, Banten. Mahalnya biaya hidup dan ketidak seimbangan antara daya beli, kebutuhan dan pendapatan, membuatnya putus asa dan terpaksa menghabisi nyawanya dengan meninggalkan istri dan beberapa anak-anaknya yang masih berusia sekolah dan pertumbuhan.

Dan barangkali setahun yang lalu. Tiga orang anak kecil meninggal sia-sia dibunuh sang ibu yang khawatir tidak dapat membesarkan anaknya dengan baik. Menurutnya membunuhnya lebih baik dari pada menyaksikan ketidakbahagiaan ketiga buah hatinya. Oh my God …

Sekitar dua minggu yang lalu, sebagian rekan kerjaku berduka ketika badai topan dahsyat meluluh lantakkan sebagian wilayah di negaranya, Myanmar. Beberapa dari mereka, termasuk korban. Meskipun keluarganya selamat, namun topan dahsyat itu telah menghancurkan rumah mereka. Rasanya habis jatuh tertimpa tangga, melihat kondisi politik di negaranya yang memanas, dibarengi datangnya bencana alam yang mengejutkan. Selanjutnya, menyusul kemudian gempa di China yang menewaskan puluhan ribu nyawa melayang sia-sia.

Sayed Ali, seorang bapak di Afganistan, terpaksa menjual anak perempuannya yang baru tumbuh remaja seharga 2000 $ karena untuk menyelamatkan anak-anaknya yang lain dari kematian karena kelaparan. Negara yang akut dilanda konflik dan peperangan ini mengakibatkan merajalelanya jumlah pengangguran dan kelaparan. Sayed Ali hanya seorang dari puluhan ribu bahkan mungkin ratusan ribu lainnya yang bernasib serupa. Sehari-hari , Ia mengais bekas sisa makanan yang dikumpulkannya jadi satu tempat untuk dibawa pulang. Dengan perih Ia berbohong pada keluarganya bahwa Ia diberi atau membeli makanan itu. Ketika ditanya tentang anak perempuannya, dikatakannya bahwa Ia tidak akan pernah memaafkan dirinya seumur hidupnya.

Sekitar tiga hari yang lalu, sebutlah Siti, seorang pembantu rumah tangga di Sharjah, negara bagian dekat Dubai. Selama 20 bulan bekerja, majikannya tidak pernah membayar upahnya yang dijanjikan sebesar 600 dirham perbulan. (beberapa kali lipat dari gajiku yang bekerja hanya 8 jam, plus public holiday, off, dan vacation, juga staffmeal). Ia bekerja dari pagi hingga jam satu malam tanpa libur. Ia pun tidak pernah diberi kesempatan untuk menghubungi keluarganya karena handphonenya di tahan sang majikan. Bersyukur sekarang Ia bisa sedikit menghirup udara dan berada di tangan konsulat RI di Dubai.


Saat ini Dubai sedang musim panas. Konon pada puncaknya, temperatur bisa mencapai hingga di atas 50 derajat celcius. Sebab di media tidak pernah tercatat hingga sebanyak itu. Tahun lalu aku bisa merasakan tingkat kepanasan itu. Diam di rumah adalah pilihan yang terbaik pada saat itu. Bisnis restoranku pun sepi. Customer lebih memilih berlibur ke luar negeri atau tinggal di rumah. Musim dingin lebih singkat dari musim panas. Terus terang, meskipun bagi sebagian orang yang terbiasa dingin, terutama teman-teman Libanon ku yang kebagian datangnya salju di negara mereka bila musim tiba, bagiku, musim dingin di Dubai, benar-benar membuat badanku kaku sulit bergerak. Sementara itu, dibawah gedung tempatku tinggal, ada beberapa orang yang menghuni pelataran yang digunakan sebagai tempat parkir mobil. Mereka kujumpai sedang terlelap tidur setiap kali aku berangkat kerja, yang hanya beralaskan kardus dengan posisi tangan dilipat dan kaki ditekuk. Aku tahu, mereka pasti merasa dingin sekali. Tapi aku juga tidak tahu siapa dan dari mana mereka datang, tidakkah mereka punya tempat tinggal, kalau memang mereka bekerja di wilayah proyek konstruksi depan gedungku, tidakkah perusahaan menjaminkan asrama bagi mereka? Cerita ini barangkali mirip dengan berita yang kubaca di koran lokal beberapa minggu yang lalu. Puluhan imigran yang terbengkalai ketika mereka tiba di Dubai dengan status illegal. Mereka datang melalui agen tak resmi yang memalsukan berbagai dokumen sebagai persyaratan untuk bekerja di Dubai. Sebagian besar berasal dari India, Pakistan, srilangka, dan Bangladesh. Berminggu-minggu mereka menempati sebuah taman di kawasan Karamah, wilayah lain yang dekat dengan Deira. Kusaksikan gambar sejumlah orang terbaring dengan tatapan kosong.


Gambaran ketidakramahan ini hanya nol koma sekian sekian dari betapa tak terhitungnya cerita tentang kegetiran demi kegetiran hidup yang berserak di muka bumi ini. Kegetiran manakah yang kita alami sehari-hari ? adakah kegetiran yang kita alami dari sesuatu yang kita tak berdaya mengubahnya, ataukah itu drama kegetiran yang kita ciptakan sendiri dan masih dapat kita modifikasi, susun ulang, atau kita ubah ? Dan dimanakah posisi kita, ditengah-tengah ancaman kepunahan sebagian ekosistem dibumi yang tak terelakkan akibat efek pemanasan global ini, adakah setitik embun yang bisa kita teteskan untuk meredakan hidup yang kadang getir ini ? pernahkah kita bersyukur saat kita masih bisa bangun pagi, melihat sinar matahari masuk lewat jendela kamar kita, dan kita masih bisa menghirup segar udara pagi, menikmati indahnya bangun, melemaskan otot sebelum beranjak melangkah menuju kamar mandi, merasakan sejuknya disiram air, dan harumnya sentuhan sabun mandi, lalu nikmatnya menyantap sarapan pagi sebelum kembali melakukan aktivitas bekerja.

Selama di Dubai, aku banyak bersentuhan dengan warga negara Libanon. Beberapa dari mereka kukenal dengan sangat baik. Paras yang indah dan kekayaan alam yang berlimpah, mengenal Libanon dari dekat melalui orang-orangnya, sangat disayangkan kini kondisi politik di negaranya kian memanas. Mereka sangat kental persaudaraan sesama bangsanya dan kental nasionalismenya. Setiap kali aku berkunjung ke tempat mereka, kerapkali yang dibicarakan adalah masalah negerinya. Tayangan pidato Hassan Nasrullah pun akhirnya menjadi makananku sehari-hari. Musik dan lagu-lagu yang seringkali diputar adalah lagu-lagu arab dan lagu-lagu patriotismenya kelompok Hizbullah. Sayangnya mereka mempunyai gaya hidup yang mahal. Mempunyai negara yang kacau balau dan tinggal di Dubai yang kering dan membosankan plus biaya hidup yang mahal, seperti buah simalakama.


Beberapa tahun yang lalu, aku ingat sebuah film berjudul Life is Beautiful atau dalam judul lainnya yang berbahasa Italia yaitu La Vida Bella. Sebuah komedi satir yang dimainkan Roberto Benigni sebagai seorang yahudi asal Italia yang terseret dalam jebakan kamp konsentrasi pada perang dunia dua saat rezim Nazi berkuasa di Jerman. Dalam cerita itu Ia selalu menciptakan tawa dalam setiap kejadian pahit yang dialaminya. Sebagai manusia dan laki-laki pada umumnya, Ia juga mengalami jatuh cinta pada seorang wanita, pacaran, menikah dan berkeluarga. Di tengah-tengah dunia yang sedang berperang, dan terlahir sebagai komunitas etnis minoritas yang diperlakukan diskriminatif bahkan terancam dimusnahkan, Ia seakan-akan berusaha menciptakan dan berada dalam dunia tawanya sendiri.

Dalam banyak hal, aku merasa beruntung ketika aku terlahir ke dunia dalam kondisi fisik yang baik, nyaris sempurna. Orang tua yang sederhana dan bertanggung jawab, saling support dalam perekonomian keluarga. Mereka memberiku keleluasaan mengenal dunia seperti apa yang kuinginkan, meskipun pada awalnya sulit mendapatkan restu dan kepercayaan mereka, namun cinta mereka meluluskan pendirianku pada akhirnya. Aku pun terlahir di tengah-tengah komunitas homogen yang dominan dari berbagai unsurnya. Aku lahir sebagai perempuan yang pada umumnya tertarik pada laki-laki. Tentu berbeda bila aku memiliki kecenderungan seks sesama jenis, resistensi masyarakat akan sangat kuat menentangku, keluargakupun mungkin akan merasa aib memilikiku. Aku juga terlahir sebagai seorang muslim di tengah-tengah mayoritas warga muslim di wilayahku, di kotaku, dan di negaraku. Tradisi dan keyakinan islam yang diajarkan padaku juga yang mayoritas muslim menganutnya. Tentunya kondisi ini mengamankanku. aku tidak tahu apa yang akan menimpaku bila aku terlahir ditengah-tengah keluarga yang menganut keyakinan ajaran islam seperti yang dianut Ahmadiyah, Salamullah, dan minoritas lainnya. Meskipun mereka sama-sama berasal dari agama yang sama. Aku juga tidak tahu bila aku terlahir sebagai seorang nasrani yang sulit masuk sekolah negeri seperti di sumatera barat, kecuali jika aku memakai jilbab, betapa mungkin aku juga akan merasa sangat tertekan, aku juga tidak tahu bila aku terlahir di wilayah yang penguasanya memaksakan warga perempuannya memakai jilbab, yang menghukumku bila aku keluar malam, dan sebagainya. Aku juga tidak tahu bila aku terlahir dari keluarga minoritas Tionghoa atau Konghucu yang hidup ditengah-tengah penguasa dan masyarakat yang tidak mengakui kepercayaan kami, apalagi memfasilitasi kami untuk beribadah. Aku juga tidak tahu bila aku terlahir dalam sebuah kawasan konflik dan peperangan, dimana aku tidak dapat leluasa menikmati masa kanak-kanak dan remajaku apalagi bersekolah karena adanya wajib militer sejak dini atau kesukaran lainnya. Aku juga tidak tahu bila aku terlahir sebagai warga kulit hitam di Afrika Selatan, atau wilayah lainnya yang mendiskreditkan kami. Aku beruntung. Hidup dan nasib baik benar-benar berada dipihakku. Namun jiwaku tetap gelisah, sebab semua yang kusebutkan tadi, benar-benar terjadi. Mereka hidup ditengah-tengah kita di belahan bumi yang lain. Jauh, tapi hidup dan nyata dalam keseharian kita. Pernahkah kita sejenak merenungkan semua ini?


Sesulit apapun kondisi ekonomi negeriku, aku tidak pernah tidak punya makanan. Separah apapun kekeringan yang melanda bumi, aku tidak pernah kehausan. Sedahsyat apapun bencana alam yang menimpa saudara-saudaraku, aku bersyukur, aku tetap mempunyai tempat tinggal yang layak. Lalu, adakah alasan untuk aku selalu berkeluh kesah ? rasanya waktu begitu berharga bila selalu diisi dengan keluhan. Apa yang kita takutkan dalam hidup ini barangkali hanya sebuah drama yang kita ciptakan sendiri. Toh, sesuatu yang besar yang kita takutkan pasti terjadi, sebuah kematian. siapa yang bisa menghindari itu. Kita berpacu dengan waktu, bangunlah, beranjak, cuci muka, bercermin, lakukanlah sesuatu untuk hidup kita, sebab usia terus mengerogoti jasad kita. Dimanapun adanya, apalagi di kota-kota besar seperti Dubai, orang begitu sibuk dengan urusan perut, gengsi, dan perlombaan citra dan kekayaan. rasanya segalanya menjadi murah ketika persahabatan, cinta, keluarga, diukur dengan semua itu untuk mengikatnya. Bukankah uang yang kita cari hanya alat. Realitanya segala sesuatu perlu uang. Namun uang bukan segalanya. Kitalah yang menentukan untuk menjadi siapa yang kita inginkan.

Untuk teman-temanku, semoga tetap bisa menikmati hidup ini betapapun sulitnya. percayalah, diatas kesulitan akan selalu ada kemudahan dan jalan keluar. Bukankah orang-orang sukses mengajarkan bahwa untuk bisa sukses perlu jatuh berkali-kali. Dan mengapa harus takut dianggap tidak sukses kalau sukses adalah diri kita sendiri. bersabarlah dan tetap tersenyum.

Bersambung...

I and My Job World

Kamis, 24 April 2008

Beberapa minggu yang lalu aku memang agak sibuk. Sebagian staff ditransfer ke PQ baru di kawasan Saikh Zaid Road tepatnya di 21st century building. Beberapa rekan kerja ada juga yang vacation pulang kampung dan ada juga yang sedang umroh. Meskipun begitu, bermunculan wajah-wajah baru. Sebagian dari Indonesia, sebagian dari Nepal, India dan Myanmar.

Keberadaanku di PQ sudah lebih dari setahun. Tentu dalam waktu dekat aku sudah berhak mendapatkan jatah vacation. Mungkin aku pulang ke Indonesia, atau mungkin tetap di Dubai. Aku pun kini bukan berstatus sebagai anak baru lagi seperti beberapa bulan yang lalu. Terus terang, menjadi anak baru tidak selalu mudah. Tidak hanya di sekolah dulu, tapi yang lebih sulit ketika memulai di lingkungan tempat kerja yang baru. Bagi sebagian barangkali tidak ada masalah, tapi yang aku alami seringkali sulit.

Dunia kerja yang kumaknai adalah ruang yang cukup terbuka untuk belajar sekaligus memperoleh penghasilan, berbeda dengan sekolah. Sekolah secara formal memang adalah tempat kita belajar, meskipun pada kenyataannya tidak semua sekolah memerankan fungsi yang seharusnya ; menjadi ruang yang terbuka bagi siapapun yang ingin belajar bahkan kalau memungkinkan tidak perlu keluar biaya. Kalaupun berbiaya, tidak perlu terlalu mahal. Apa boleh buat, begitulah sekolah yang ada ; seringkali dengan biaya tinggi, namun juga tidak seimbang dengan apa yang di hasilkannya.



Hari-hari menjadi anak baru perlahan sudah dapat kulalui. Proses dari anak baru menjadi bukan baru cukup berat. Secara yang kugambarkan di awal, rekan-rekan kerja yang lebih dulu memang kental akan arogansi senioritasnya. Terlebih mereka juga berkelompok. Seperti yang kugambarkan di awal, ini adalah tantangan tersendiri buatku. Secara bertahap aku belajar untuk membuktikan sebagai seseorang yang bermutu dan dapat diandalkan. Tentu saja ini tidak mudah, terlebih ketika tidak ada dukungan yang kondusif dari managemen. Merasa sendiri dan terkadang putus asa. Namun aku belajar untuk menemukan kata kunci dari semua masalah ini ; berpikir positif dan jauh ke depan.

Pada dasarnya dunia hospitality bukan sesuatu yang sulit untuk dipelajari. Yang paling dibutuhkan adalah keterampilan berkomunikasi dan rasa ingin tahu akan berbagai variasi kuliner secara umum. Secara specific, tentu kita harus mengetahui dengan baik produk kita sendiri. Selebihnya keterampilan teknis dalam melayani customer hingga mereka merasa nyaman dan tentu ingin datang kembali. Lebih jauhnya, tentu industri ini dibutuhkan sebuah perangkat managemen yang professional. Dan bekerja di restoran sebagai seorang waiter, hanya tahap awal. Sebagian orang, menganggap pekerjaan ini rendahan. Namun bagiku, pekerjaan apapun tidak ada yang rendah. Yang rendah adalah mereka yang tidak mau bekerja yang justru seringnya merepotkan orang lain karena statusnya sebagai pengangguran. Berbahagialah mereka yang mempunyai pekerjaan. Apapun itu, bekerjalah dengan tekun, cerdas, dan tulus. Sebab tanpa itu, apapun yang kita kerjakan tidak akan berarti apa-apa. Tidak ada sebuah pencapaian yang diperoleh melalui proses yang instant. Sebab segala sesuatu yang instant itu biasanya keropos dan rapuh.

Di tempat kerja mungkin kita akan bertemu dengan berbagai tipikal orang yang karakternya sulit, terlepas dari latar belakang budaya dan bangsa. Secara umum ada tiga karakter sulit yang mengganggu ketika bekerja bersama mereka; pertama, tipe one man show, semua dilakukan sendiri, kurang percaya akan kemampuan rekan kerjanya karena merasa diri paling tahu. Padahal dalam bekerja semua berperan sebagai team work. Kedua, ignore atau careless, cuek, masa bodoh, malas, tidak peduli, dan sejenisnya. Karakter ini berkebalikan dari yang pertama. Sulit bekerja dengan orang seperti ini karena tidak dapat diandalkan. Orang seperti ini pun bukan bagian dari team work. Ketiga, sentimentil, cengeng, perasa, mudah tersinggung, dan sejenisnya. Dalam wilayah kerja tentu terdiri dari orang-orang dengan watak yang berbeda-beda, Sementara dalam perbedaan itu dituntut untuk kompak dan solid, demi pencapaian target perusahaan. Pemikiran positif dan rasional, lebih dibutuhkan dari pada mental cengeng, mudah tersinggung, perasa dan lain sebagainya. Hal-hal remeh bisa menjadi besar karena diciptakannya sendiri. Kunci vital dalam mengelola beberapa karakter sulit ini, ada pada seorang pimpinan.


Pengelolaan orang dengan karakter di atas, adalah salah satu bagian yang paling mendasar dari tanggung jawab sebagai seorang pemimpin. Oleh karena itu, menjadi pimpinan bukan sesuatu yang mudah pada prakteknya. Ia harus tahu bagaimana mendekati staffnya yang mempunyai titik lemah dan kekuatannya masing-masing. Ia harus dapat membantu mengatasi kelemahan staffnya, dan memaksimalkan potensi yang menjadi kekuatannya. Bagiku, seorang bos dengan seorang pimpinan adalah dua kata dengan makna yang berbeda. Dalam diri pemimpin ada kompetensi dan kapabilitas. Sementara dalam diri seorang bos, hanya lebih kepada posisi dan kekuasaan. Pemimpin pada dasarnya adalah pelayan bagi staff bawahannya. Dan staff bawahan adalah tim sukses bagi lajunya bisnis sebuah perusahaan. Idealnya, kedua peran ini sejajar dan saling melengkapi sehingga terjalin sebuah harmony kerja yang solid. Manakala salah satu peran atau sebagiannya pincang, maka sulit untuk mengharapkan sebuah kondisi kerja yang nyaman dan tentunya berakibat pada kurangnya pencapaian keuntungan yang diharapkan.

Sebagai seorang staff biasa yang juga baru bergelut di bidang ini, memang tidak banyak yang bisa dilakukan ketika berada dalam situasi ini dibarengi dengan keberadaan seorang pimpinan yang berperan sekaligus sebagai seorang bos. Seorang bos, biasanysa hanya menuntut hasil, sementara seorang pimpinan membantu mencapai hasil tersebut terealisasi misalnya tentu dengan mempermudah staffnya melakukan pekerjaan dengan maksimal dengan memberikan petunjuk kerja yang jelas dan konsisten, tidak kabur dan membingungkan. Terutama sebagai staff baru, standard kerja tentu sangatlah penting. Standard kerja yang dibuat secara tertulis lebih efektif dari pada hanya instruksi-instruksi verbal. Sejauh ini aku belum merasakan bekerja dalam pola managemen yang dikelilingi oleh orang-orang yang benar-benar professional. Dalam benakku, seorang pemimpin adalah the best role model bagi staffnya; dia harus lebih hard working, smart, wise, objective, dan helpful atau considerate. Jiwa pemimipin seperti ini akan sangat mewarnai suasana kerja yang kondusif, betatapun banyaknya masalah yang muncul.


Terlepas dari itu semua, bagiku, bekerja di bidang ini sangat menyenangkan. Aku dapat bertemu dengan berbagai macam orang. Orang yang datang tentu ada yang tetap namun juga ada yang baru. Ada seni dalam berkomunikasi dengan mereka. Pembicaraan yang berlangsung hanya seputar hal-hal ringan. Namun bukan berarti tidak ada pertukaran informasi yang berarti. Setiap pagi aku bertemu dengan Sally, seorang British berusia 50an yang selalu datang dengan balutan busana kerja yang pantas. Ia tampak smart dan bersemangat menjalani hari-harinya. Selain itu Ia pun sangat pemurah. Ia biasa sarapan dengan raisin bagel, welldone toasted atau scone yang disajikan dengan latte skim milk. Setiap akhir pekan Sally datang bersama suami dan terkadang anak perempuannya yang sudah dewasa. Ketika mereka disandingkan aku mencadainya dengan sebutan kembar unik. Dan Ia pun tertawa justru meresponku dengan menyebut mereka berdua terrible twin. Hee…. Sally akan bertanya ketika aku terkadang tidak terlalu bicara banyak dengannya, Why you so quiet now..?

Ada juga Christine. Seorang Ibu muda dengan dua anak laki-lakinya yang lucu dan cerdas ini biasa datang pagi hari bersama suaminya yang berasal dari New Zealand. Sementara itu Christine berasal dari hongkong. Perpaduan dua ras ini melahirkan anak-anak yang unik. Seperti Sally, Christine dan keluarganya selalu datang bahkan seringkali lebih dari sekali dalam sehari. Kegemaran keluarga ini adalah sarapan dengan toasted sunflower bagel di sajikan dengan butter dan jam dengan flavour berries, bersama dua buah latte strong. Sementara untuk anak-anaknya adalah chocolate croissant, atau almond croissant, dan chocolate muffin disajikan dengan dua gelas cold milk. Berbeda dengan Sally yang tidak terlalu bermasalah dengan makanan, keluarga Christine sangat perfectionist. Ada seni tersendiri memahami apa yang dimaui customer dengan bermacam-macam seleranya. Dan adalah tugasku dan teman-teman untuk bisa melayaninya dengan tulus. Suatu hari Christine berkomentar tentangku, why you always look so happy ?. Tentu saja aku senang bila Ia melihatku begitu.

Ada juga Shirin. Ibu berusia matang ini, setiap pagi Ia biasa minum coffee ole light sebelum berangkat kerja. Aroma coffee ole yang dibawanya ke tempat kerja mengundang beberapa koleganya untuk memesan kopi yang sama di restoranku. Tentu saja ada kebanggaan tersendiri bagiku yang biasa membuatkan coffee ole untuknya. Pada setiap akhir pekan Ia juga biasa datang bersama keluarganya. Bila Ia tidak bisa datang, Ia akan mengirim orang untuk memesan kopi dari storeku. Pada saat aku off, esoknya dia akan bertanya padaku, where’re you yesterday ? dengan aksen britishnya

Ada juga Mr. and Mrs. Booker,sepasang suami istri baya yang berasal dari England. Pada saat pertama kali datang, mereka bertemu denganku. Mrs. Booker memesan small latte, sementara Mr. Booker memesan large hot chocolate. Mrs. Booker menyukai latte dari storeku. Hingga saat ini mereka berdua adalah regular customer di restoranku. sepasang suami istri ini, sangat pemurah. Tidak jarang mereka memberikan bingkisan untuk kami. Sebagai counter staff yang lebih fokus di wilayah counter untuk layanan take away, seringkali aku tidak selalu dapat mengobrol leluasa dengan mereka, terutama apabila pada saat sibuk. Mr. Booker terkadang mencandaiku dengan komentar, why you not talking to me today? Ok, I don’t want to talk to you anymore, hee…


Selain perkenalanku dengan mereka dan customer lainnya yang tidak aku sebutkan, aku memang menyukai pekerjaanku, terlepas dari masalah yang ada. Sebab buatku, hidup adalah masalah itu sendiri. Biarkan masalah itu kecil kalau memang kecil adanya. Dan jangan dibuat lebih besar kalau masalah itu sudah besar. Dalam setiap masalah kita menjadi belajar sesuatu untuk memecahkannya. Dan aku percaya, bahwa dalam setiap masalah pasti akan selalu ada jalan keluar, cepat atau lambat. Buat teman-temanku,berpikirlah keluar dari kotak sebab hidup ini singkat, just enjoy what you do, and do what you enjoy, as Demartini said, thanks to him…: )

Dr. John Demartini

Rabu, 20 Februari 2008

Pada saat membongkar isi lemari dan membereskan tumpukan majalah mingguan langgananku, di sebuah halaman terbuka secara tidak sengaja aku bertemu dengan Dr. John Demartini. Kuhentikan sejenak kegiatan beres-beresku dan fokusku beralih padanya untuk beberapa saat. Majalah itu kubeli sudah sekitar sebulan lebih, namun profilenya baru kubaca beberapa hari yang lalu.

Kutipan kata-kata panjangnya yang ingin coba kuingat adalah : “Figuring out what you want to do is perhaps the single biggest challenge. Like a pebble in your shoe that you just can’t get rid of unless you stop, remove the shoe and find it, the feeling that you want to do something but don’t know what that something is, is a familiar frustration. We change jobs, shift houses, relocate to different cities, countries, even continents; we acquire newer cars, mobile phones; we change our looks, hair colour … yet the pebble in the shoe continues to hurt as you walk. Eventually we settle for the illusion that there’s something better out there but it is out of reach. Simple. The pebble wins. But not if you are a Demartini. “Deep down we all know what we want to do but we have seven primary fears that prevent us from admitting this to ourselves, the first is breaking a moral or spiritual (principle) ; the second is not being smart enough, intelligent enough or not having a degree; the third is the fear that you might fail at it; the fourth is that you might not make money at it or might even lose money doing it; the fifth is losing loved ones or fearing that you may lose the respect of loved ones; the sixth is the fear of rejection; and the seventh is the fear that we don’t have the body, the vitality or the looks it may take to do it. “

Selanjutnya, These seven fears cloud the clarity of our thoughts. Deep inside, we know what we would like to dedicate our lives to but these fears … make us lie to ourselves saying we ‘don’t know’.

Selanjutnya lagi, But if we don’t have the body or the brains for the task we have set for ourselves, we are not going to make it. Not necessarily, The quality of your life’s success depends on the quality of the questions you ask. If you ask yourself question such as : ‘how is the body that I have going to give me the leverage to do what I love ?’ Or, ‘how is my intelligence and education going to help me achieve my goal?’, you will find that there’s a way you can reach it with your given equipment and qualities.


Dr. John Demartini adalah seorang guru dan pimpinan sebuah industry pengembangan personal dan professional. Selama 35 tahun waktunya dihabiskan untuk menemukan prinsip-prinsip universal mengenai hidup. Ia telah menemukan sebuah metode untuknya. Sebuah motode yang dikembangkan dari studynya tentang Quantum Physics. Metode ini dapat mengurangi stress, menyelesaikan konflik, dan membuka mata serta hati mengenai perspektif baru tentang berbagai tantangan hidup. Demartini yang kulihat di gambar itu terlihat masih muda. Kalau 35 tahun Ia mengkaji ini semua, lalu, sejak berapa tahun Ia memulainya. Wajahnya yang muda dan segar tidak akan ada yang menyangka kalau umurnya sudah 53 tahun. Namun tampak seperti 35 tahun. Lebih dari 10 tahun tampak lebih muda dari usianya. Ia mempunyai rahasia mengapa dirinya tampak muda, menurutnya, “the secret to looking youthful is to do what you enjoy and enjoy what you do”

Demartini menemukan metode dalam menyiasati tantangan hidup bukan karena kegiatan study formal tentang motivasi atau semacamnya. Namun, Ia menemukan ini karena mempelajarinya dengan menjalani hidup sebagai sebuah pemberian tugas besar (taskmaster).

Pada usia 6 tahun, seorang counsellornya mengatakan bahwa kemungkinan Ia tidak akan mampu membaca, menulis, dan berkomunikasi karena setelah didiagnosa bahwa Ia mengalami gejala dyslexia. Namun, ketika memulai sekolah dasar, Demartini banyak dibantu oleh teman-temannya. Akan tetapi, kedua orangtuanya pindah dari Houston Texas, ke daerah Texas pedesaannya, dimana Demartini kehilangan support dari lingkungan sekolahnya. Pada saat itu, Ia gagal dalam ujian dan akhirnya drop out ketika menginjak usia 14 tahun. Aku jadi ingat ketika dulu sekolah SD, ada satu orang temanku yang tidak pernah naik kelas selama 4 tahun berturut-turut. Ia hanya sanggup naik hingga kelas 4 SD. Sampai akhirnya Ia drop out dan merasa putus asa. Ia adalah anak yang paling besar dikelas waktu itu. Mungkin Ia juga malu dan kehilangan support sama sekali. Aku tidak tahu apakah kasus temanku sama dengan Demartini kecil atau tidak. Tapi, bila merujuk pada metode Quantum Physic, kurasa mungkin saat ini temanku itu sudah jadi sarjana. Hhmmm…entahlah

Setelah mengalami drop out, Demartini terombang ambing dalam hidup yang tidak menenentu, Selama 4 tahun Ia hanya hidup di jalan-jalan hingga berakhir di kepantaian Hawaii menikmati ombak dengan bermain surfing di pantai utara Oahu yang terkenal.

Namun, momen dipantai inilah yang justru menjadi titik baliknya dalam memaknai hidupnya yang berikut. Saat itu, Demartini berusia 17 tahun. Ia mengalami keracunan serius melalui strychnine poisoning yang berbahaya hingga hampir menghabisi nyawanya. Tuhan dan nasib baik masih berpihak padanya. Ia diberi kesempatan untuk tetap hidup. Sejak saat itu, melalui perkenalannya dengan Dr. Paul Bragg, Ia terinspirasi untuk mendedikasikan hidupnya dengan menjadi seorang guru, konsultan, dan pilosof.

Dr. Paul Bragg adalah seorang guru berusia 93 tahun yang bijaksana, dan pendukung sikap hidup holistic. Karya Dr. Paul Bragg bersama para muridnya sangat luar biasa dalam menginspirasi Demartini. Hingga Ia memutuskan untuk mengikuti jalur ini dan mempelajari seluk-beluk menjadi seorang chiropractic dan peneliti klinis sehingga Ia dapat membantu menyembuhkan penyakit orang.

Sejak saat itu, Ia menenggelamkan diri dalam kajiannya pada hampir 28.000 teks dari berbagai disiplin ilmu pengetahuan; dimulai dari psikologi, filsafat, metafisik, teologi, neurologi, fisiologi.


Dalam perjalanannya Ia menemukan banyak hal yang membukakan matahatinya. Ia pernah mengenal dan bekerja bersama seorang pengusaha di Afrika selatan yang mencapai sukses sebagai pengusaha tanpa pernah melewati jenjang sekolah tinggi. Pengusaha tersebut dulu sempat berpikir tidak akan pernah mencapai kesuksesan sebanding dengan mereka yang mempunyai gelar pendidikan. Demartini menanyakan padanya apa yang membuatnya special dan mengapa tanpa pendidikan bisa memberikan sebuah manfaat baginya?

Ia berpikir dan menemukan 39 cara dimana ternyata sebenarnya tanpa melalui pendidikan formal dirinya lebih tergerakkan untuk maju, terpacu untuk dapat berinterkasi dengan lebih baik dengan banyak kalangan, Ia banyak menemukan apa yang dia butuhkan secara lebih baik,..hingga Ia berpikir dan merasa bahwa Ia sungguh berhak untuk dapat meraih kesuksesan dan mewujudkan karyanya. Jadi
Menurutnya adalah bukan apa yang terjadi pada kita dengan mengandalkan segala sesuatu yang datang dari luar, tetapi bagaimana kita nmempersepsikan semua itu dari dalam diri kita untuk dapat menentukan kesuksesan kita dan meraih pencapaian yang kita impikan.


28 pertanyaan berikut jawaban yang menyertainya bersamamu
Demartini telah memformulasikan 28 pertanyaan yang akan membantu kita dalam melepaskan kungkungan emotional. Ia menyebut ini dengan istilah “memecahkan pengalaman” (the breakthrough experience) karena mendorong kita menuju momen saat ini dengan membawa perspektif baru.

Menurutnya, hal ini penting untuk ditumbuhkan karena kita selama ini terbius dalam satu sisi cara pandang dan satu sisi kehidupan. Kita ingin kebahagaan tanpa kesedihan atau kesengsaraan, ingin memberi tanpa menerima atau menerima tanpa memberi, ingin mendapat perlakuan baik tanpa ingin menerima perlakuan yang kurang menyenangkan, kesenangan tanpa penderitaan,..dan seterusnya. Padahal hidup ini selalu mempunyai dua sisi. Ada hal yang nampak bagus, namun juga hanya tampak pertengahan atau rata-rata saja, ada yang sulit namun juga ada yang mudah dalam hidup ini. Apa yang membuat the breaktrough experience yang dimilikinya unik adalah bahwa Ia tidak mencoba untuk mengajarkan kepada orang lain sebuah fantasi namun juga sebuah kegagalan hidup. Secara bertahap Ia mencoba menanamkan pada mereka sesuatu yang realistis, sebuah perspektif yang seimbang sehingga mereka dapat mempunyai sebuah fondasi yang kuat bagi diri mereka sendiri.


Demartini menyarankan untuk segera mencatatkan apa saja yang menjadi tujuan di ujung kepala kita yang paling puncak karena Ia muncul bukan seperti perintah atau aturan khusus yang tiba-tiba datang secara spontan. Hari berikutnya baca kembali, organisasikan, dan perhalus atau menyaringnya. Kemudian baca lagi pada hari berikutnya,…tambahkan, saring, modifikasi dan prioritaskan dalam sebuah daftar.

Terlepas dari ini,kita juga perlu menuliskan tujuh tahap tindakan. Tanyakan pada diri sendiri langkah apa saja yang akan diambil pada hari ini, yang akan membawa langkah kita lebih dekat pada tujuan kita besok harinya. Pada ujung hari, lihat hal-hal yang telah kita lakukan dan coret semua itu dalam daftar.

Pada hari berikutnya, tulis lagi tujuh tahap tindakan selanjutnya. Beberapa diantaranya mungkin hanya sebuah pengulangan, namun tidak menjadi masalah. Bersama setiap hari yang kita lalui, kita akan melihat kejelasan dalam tujuan kita dan kita akan memahami bahwa kitalah yang menyesuaikan dan mencocokkan dalam setiap tahap tindakan yang kita lakukan.

Demartini percaya bahwa tujuan hidup yang kita miliki berkembang seiring dengan pertumbuhan usia, dan oleh karena itu, mencapainya menjadi sebuah proses perjalanan (journey) bukan tujuan akhir (destination). Bagi mereka yang tekun dan gigih dalam melakukan dan menjalani apa yang mereka sukai, pada akhirnya akan menciptakan kehidupannya sebagaimana yang mereka sukai. Jika kita mengambil satu atau lebih tindakan setiap harinya menuju semua itu, maka kita akan mengalami kemajuan ke arah sebuah kehidupan sebagaimana yang kita inginkan.

Dulu Ia memimpikan untuk dapat mempunyai kesempatan berkeliling dunia, menginjakkan kaki pada setiap negara yang ada di dalam peta. Masih ada beberapa negara yang belum dapat Ia kunjungi saat ini..namun pada saat yang bersamaan juga Ia menyadari bahwa Ia telah dapat memujudkan mimpi Ia yang dulu dan memenuhinya dengan sangat baik.


Langkahnya sendiri dulu dalam mencapai berbagai tujuannya dimulai dengan belajar membaca. Sebab hingga usiannya yang ke 17 Ia masih belum dapat membaca dengan benar. Sebagaimana yang diutarakannya, pada usia 17 tahun, saat itu Ia mengambil sebuah buku dan membacanya halaman demi halaman. Pada saat itu Ia mengalami gejala dyslexia bahkan hingga 5 tahun yang lalu pengaruh gejala tersebut masih sangat kuat menyiksanya. Namun, lambat laun, penyakit itu pelan-pelan berkurang sejak Ia mencoba mengembangkan metodeloginya, yang disebutnya, The Demartini Method, untuk membantu menghilangkan kesulitan-kesulitan itu karena penyakitnya. Saat ini Ia malah begitu akrab dengan dyslexia dalam pekerjaan yang digelutinya.


The Demartini Method

The Demartini Method, singkatnya, membantu orang dalam mengintegrasikan pikiran dan otak mereka untuk dapat berfungsi dengan lebih baik. Metode tersebut adalah serangkaian pertanyaan yang ditanyakan seseorang terhadap dirinya sendiri. Pertanyaan-tertanyaan yang bersifat probing atau penyelidikan ini cenderung untuk membawa pada keseimbangan persepsi kita serta membuka hati kita agar hanya dapat dipenuhi dengan rasa syukur, cinta, dan mengakui serta memberikan apresiasi pada diri kita dan orang lain di sekitar kita.

Menurutnya, cara ini dapat menghilangkan kungkungan emosional yang berasal dari dalam diri kita dan orang-orang sekitar kita. Cara ini bahkan membuat kita menjadi lebih terinspirasi dengan hidup kita. Bukankah kita adalah kapten dan nakhoda dari kapal kita sendiri? Realitanya adalah bahwa kita dapat menyesuaikan jalan hidup milik kita sendiri. Sejak Ia hampir menemui ajal pada usianya yang ke 17 tahun itu, Demartini telah belajar sesuatu yang baru, dan telah mengubah jalan hidupnya. Ia mengubah jalan itu berkali-kali. Menurutnya, kita mempunyai kapasitas dan kemampuan dalam mempersepsikan sebuah kejadian ke dalam cara-cara yang tak terhitung jumlahnya. Selanjutnya bagaimana kita mempersepsikan semua itu hingga dapat membawa arah jalan yang ingin kita ambil. Jadi, meskipun ada yang namanya takdir tuhan (divine design) namun menurutnya kita dapat mempunyai kapasitas dan kemampuan untuk dapat mengubah dan menyelaraskannya dan sisi manusia kita akan menyesuaikan diri bersamanya.

Sebagai ilustrasi pada poin ini, Demartini membawa kita pada kejadian saat usianya 17 tahun ketika Ia memakan tumbuhan strychnine yang beracun itu. Ia juga mengalami masalah kekacauan syaraf dan harus melalui waktu 12 tahun untuk dapat menghilangkan gejalanya. Melalui kejadian ini, Ia tidak pernah lagi merokok. Ia juga hanya terfokus untuk mempelajari hukum-hukum kehidupan. Sehingga momen hampir meninggal tersebut mengubah sejarah jalan hidupnya.

Ketika itu Ia bergabung dengan kelas yang diasuh Dr. Paul Bragg. Ia mengajarkan tentang tubuh, pikiran dan semacamnya yang menginspirasikan Demartini untuk melakukan hal yang sama bersama orang lain, berbagi ide dan gagasan yang mungkin dapat membantu mereka dalam meluaskan hidup mereka dan membawanya kepada kehidupan yang lebih bermakna.

Pada saat usianya 24 tahun, Demartini telah dapat meraih gelar sarjana di bidang ilmu Biologi dan Biokimia dari Universitas Houston pada tahun 1978. pada usianya ke 28, Demartini menerima gelar Doktor dari Texas Chiropractic College dan lulus dengan magnum cum laude.

Ia kemudian memulai karirnya dengan membuka praktik sebagai seorang chiropractic. Pada tahun 1984, Demartini memulai karir ceramahnya, terutama dalam penyampaiannya pada organisasi-organisasi kesehatan dan perawatan. Selama beberapa tahun selanjutnya karir ceramahnya menyita banyak waktunya hingga akhirnya Ia memutuskan untuk full time di bidang ini.

Karya John Demartini juga telah menarik banyak perhatian di Afrika Selatan dalam membantu meningkatkan mutu pendidikan. Ia telah menjalankan berbagai program bagi para remaja dan para mahasiswa muda tentang bagaimana menetapkan nilai (value determination), dengan menghubungkannya dengan kurikulum, tujuan dan kebutuhan di dunia kerja. Sistem yang digerakkan oleh seluruh nilai-nilai ini digabungkan dalam sebuah kurikulum sekolah.

Demartini mengatakan bahwa cara ini telah mengakibatkan meningkatnya tingkat kehadiran siswa di sekolah. Para siswa menjadi lebih tertarik untuk membaca dan daya ingat mereka pun meningkat. Mereka kini tahu bagaimana merancang tujuan dan menciptakan tingkat kepercayaan dirinya. Mereka juga belajar tentang cara berkomunikasi secara efektif sehingga dapat mengurangi konflik yang muncul.
Ia mengatakan, Jika Ia sebagai orangtua, maka ia akan menciptakan bagaimana menggunakan teori ini untuk menjadi orangtua yang efektif. Jika anda ingin menghubungkan apa yang menginspirasi anak anda dengan apa yang ingin anda ajarkan, Misalnya, anak anda menyukai video games, maka kita jangan mengganggunya. Karena mereka akan selalu menyukai untuk memelajari tentang apa yang menginspirasi mereka, bukan apa yang menginspirasi anda para orang tua. Jadi, apabila matematika atau geografi yang ingin anak anda pelajari, adalah tugas anda untuk menemukan cara bagaimana mengajarkan ini semua melalui video games yang digemarinya.dan seterusnya.

‘The world’ is his oyster
John Demartini melakukan perjalanan hampir 300 hari dalam setahun. Terkadang Ia naik kapal pesiar bernama TheWorld, dimana Ia melangsungkan berbagai workshopnya. Ia mempunyai rumah di Houston, New York dan beberapa di Australia, namun Ia jarang menempati rumah-rumahnya ini. Ia lebih banyak menghabiskan waktu dalam perjalanan. Sang isteri meninggal secara mengejutkan sekitar tiga tahun yang lalu akibat terserang penyakit kanker, meskipun baru-baru ini Ia telah menemukan cintanya yang lain.

Ia mempunyai tiga orang anak. Dua orang sudah masuk perguruan tinggi. Ia mengatakan, Ia tidak pernah memaksakan anaknya untuk melakukan apa yang diinginkannya. Ia hanya meminta anaknya mengikuti caranya menjalani hidup namun merekalah yang memutuskan apa yang ingin mereka lakukan dalam hidupnya.

Pada tanggal 3 februari lalu, John datang ke Dubai untuk mengisi ceramah. Kedatangannya membawa 35 tahun studynya tentang perilaku manusia (human behaviour) dan memaksimalkan potensi manusia (maximising human potential). Pada kata-kata terakhirnya yang dapat aku kutip di majalah itu, Ia mengatakan “ I am going to help inspire whoever happens to be in front of me to live their lives absolutely to the fullest…”

Semoga bisa menginspirasi …. 
makasih buat Bayu yang dah pinjemin beberapa foto cantiknya buat ngisi blogku..:)

Tuesday, May 19, 2009

Pekatnya Sisi Lain Dubai (Part I)

Rabu, 20 Februari 2008


Suatu malam aku dikejutkan oleh suara tangisan seorang perempuan dari balcony. Mungkin saat itu sudah jam dua atau tiga pagi. Ameera temanku asal Morocco meledakkan tangisnya pada dini hari itu. Saat itu aku hanya sayup-sayup mendengar dari balik selimut Ia sedang berbicara dengan seseorang melalui mobilenya. Tangisan itu terasa dalam. Seakan Ia menyimpan sesuatu yang begitu perih di balik kemolekan parasnya. Ia berbicara dengan bahasa yang hanya kumengerti sedikit-sedikit. Meskipun begitu aku tahu Ia amat terluka hatinya. Meskipun aku tidak tahu persis hal apa yang begitu membuatnya teramat bersedih.

Ameera datang ke Dubai kira-kira setahun yang lalu. Ia berprofesi sama seperti aku, waitress. Sebuah pekerjaan yang banyak orang meremehkannya. Ia bekerja di sebuah restoran sekaligus discotic yang dimiliki dan banyak dikunjungi oleh orang-orang arab. Ameera tidak bisa berbicara bahasa Inggris. Ia hanya mengerti bahasa perancis. Tapi Ia juga malas mengasah percakapan bahasa Inggrisnya. Sementara bukan hanya bahasa Arab yang dominan, akan tetapi Inggris juga luas digunakan sebagai bahasa resmi di Dubai. Selebihnya bahasa Hindi, Tagalog dan Perancis.


Perkenalanku dengannya berawal ketika Ia menyewa tempat tidur di kamar kami sekitar dua bulan yang lalu. Setiap malam Ia berangkat sekitar jam 8, dan pulang pada sekitar jam 3 dini hari. Pada saat kami terbangun, kadang Ia tertidur. Banyaknya penghuni yang menempati kamar kami, tentu menimbulkan keributan yang kadang membangunkannya. Terutama ketika diantara kami ada yang off hari itu. Ketika ia terbangun, Ia pun bergabung dengan kami bersenda gurau, berdansa, dan tertawa. Kadang aku iseng merekam kegiatan yang berlangsung dengan kamera digitalku. Pernah aku mewawancarainya seakan aku seorang penyiar dan Ia narasumbernya dengan bahasa arabku yang masih belum lancar, hee…Pertemanan kami kadang menghiburnya.

Sekitar sebulan yang lalu, aku jarang melihat Ameera pergi pada malam hari. Seringkali Ia hanya seharian tidur di kamar. Terlebih ketika Ia mengalami sakit perut setelah makan hilwah pemberian Shereen, teman kamar Egyptianku. Saat itu aku dan Shereen menyiapkan teh hijau khas morocco yang membuat kondisinya lebih baik. Saat itu Ia bilang padaku dalam bahasa arab : “bilams ana maridhah, elyoum ana maridhah, bukra ana maridhah, khalats, anarruhul mustashfa..,” intinya kalau sampai besok masih tetap sakit, dia pasti masuk rumah sakit.


Suatu hari aku, Ameera dan Shereen bercakap-cakap. Shereen yang mengerti bahasa Inggris sangat membantuku berkomunikasi dengan Ameera. Saat itu kami membicarakan masalah sulitnya hidup di Dubai. Ameera menanyakan apakah ada lowongan di tempatku bekerja. Saat ku tanyakan alasannya, Ia bilang sudah sebulan ini Ia bekerja di restoran ini. Sebelumnya Ia bekerja di sebuah hotel yang menjamin penghasilan lebih hingga Ia bisa menyewa sebuah kamar yang nyaman untuk dirinya sendiri. Tempat kerja sebelumnya memang menyediakan visa kerja selama tiga tahun, dan ia masih memiliki sisa dua tahun lagi untuk bisa diakui secara legal sebagai pekerja di Dubai. Namun tempat kerja yang disukainya itu direnovasi dan terpaksa ia menganggur saat ini. Renovasi tersebut kemungkinan berlangsung hingga dua tahun ke depan. Waktu yang cukup lama untuk menunggu hingga tempat kerjanya buka kembali. Untuk bisa survive, Ia ditawari bekerja di restoran yang sekaligus diskotik sebagaimana yang Ia sebut markaz ‘arabee. Ia tidak senang bekerja di sana. Yang kutangkap dari kata-katanya, customer yang datang sering “tidak sopan”. Kadang aku memang melihat aura tidak mood ketika Ia malam-malam harus pergi bekerja dengan persiapan dandanan yang cukup lama itu. Meskipun jam 8 berangkat, namun sejak jam setengah tujuh dirinya sudah mematut-matut diri di depan cermin dengan seperangkat alat kosmetiknya.


Dari obrolan sesekali dengannya dapat kusimpulkan bahwa kini Ia menganggur sama sekali. Pekerjaan terakhirnya sebagai waitress di tempat yang Ia sebut Markaz ‘Arabee itu ditinggalkannya. Ia berniat mencari pekerjaan baru selama visa kerjanya masih berlaku hingga dua tahun lagi ke depan. Sesekali Ia pergi pada larut malam sekitar jam 10 atau jam 11 belakangan ini. Kadang aku menggodanya kalau Ia mau ngedate bersama habebenya (pacarnya). Sedikit-sedikit Ia terbuka bahwa Ia punya pacar orang mesir. Pernah Ia memperlihatkan barang-barang pemberian pacarnya itu. Sebelumnya Ia sempat bilang bahwa selama dua bulan ini Ia survive karena kebaikan temannya. Mungkin temannya itu adalah pacarnya. Atau sebaliknya pacarnya itu temannya. Hee..

Aku terkadang menemukan Ameera dalam kegelapan di ruang dapur pada larut tengah malam saat aku pulang kerja kalau sedang shift malam. Kalau sudah begitu, aku hanya menyapanya sekadarnya saja dan membiarkannya. Mungkin dia sedang berfikir dan ingin sendiri. Terkadang juga aku melihatnya hanya terbaring di tempat tidur dengan pandangan menerawang dalam rentang waktu yang cukup panjang. Pada saat itu pun aku tidak ingin terlalu mengajaknya bicara atau menggodanya. Khawatir mengganggunya. Pernah Ia marah besar pada Amu teman kamar Indiaku yang tidur dikasur atas dekat dengan tempat tidurnya. Pemilik kamar mengikatkan besi pada tempat tidur Amu menyatu dengan besi pada tempat tidur Ameera untuk mengokohkan posisi tempat tidur Amu. Amu yang aktif turun naik tempat tidurnya, mengganggu Ameera saat sedang istirahat. Aku bisa melihat kekesalan yang dalam bercampur perasaan tertekan yang ada di diri Ameera. Sementara akupun merasa kasihan pada Amu sebab sulit untuk tidak menimbulkan suara atau gerakan pada saat Ia turun naik tempat tidurnya. Amu yang tidak bisa bahasa Arab mencoba membela diri : “ what can I do ? “ . Tiba-tiba Ameera datang dengan membawa sebilah pisau dan memotong tali yang mengikatkan kedua tempat tidur mereka, dan mencoba menggeser agak jauh posisi tempat tidur keduanya. Amu hanya diam dengan wajah sedih bercampur kesal dan takut. Kata-kata Ameera yang berulangkali diucapkannya Ana crazy…Ana crazy…khalats…Ana crazy…sambil menujuk-nunjuk keningnya sendiri.


Awalnya aku tidak terlalu perduli dibalik kehidupan Ameera. Namun, aku hanya merasa tersentuh mendengar pertama kalinya Ia menangis. Dan tangisan itu bagiku bermakna dalam. Shereen terbangun dan mendekatinya. Mereka bercakap-cakap dalam bahasa arab. Ada perasaan lega ketika Shereen mencoba menemaninya. Shereen memang lebih dekat dengan Ameera karena banyaknya kesamaan yang mereka miliki terutama bahasa. Akupun mencoba kembali tidur dalam sayup-sayup suara mereka berdua. Sebab jam 5 pagi aku harus bangun untuk bersiap-siap ke tempat kerja. Apalagi aku merasa lelah karena hari sebelumnya aku dapat shift malam.

Tangisan Ameera malam itu tetap menyisakan bekas dalam diriku. Aku dapat membayangkan, betapa membosankan dan tidak menyenangkannya hidup sebagai pengangguran, atas bantuan orang lain, dan di negeri orang. Dubai segala sesuatunya serba mahal. Betapa sulit bagi Ameera yang mungkin terbiasa mempunyai uang dan tinggal di tempat yang nyaman dan privat. Aku hanya berharap kelak ada jalan untuk Ameera bisa secepatnya memperoleh pekerjaan baru sebagaimana yang diinginkannya.

Selain Ameera, ada juga Ranggana, Amu, Shereen, Catu, Tere, Farsana, Joy, dengan ceritanya masing-masing. Masih mau nyimak bukan? : )

Bersambung ………