Wednesday, May 20, 2009

Lentera Hati

Jum'at, 29 Agustus 2008

Ini adalah tulisan dari mantan pimpinan redaksi Metro TV Andy F Noya. Beliau juga merupakan favorit saya untuk acara "Kick Andy" yang diasuhnya. Semoga bisa menginspirasi..

Banyak yang bertanya mengapa saya mengundurkan diri sebagai pemimpin redaksi Metro TV. Memang sulit bagi saya untuk meyakinkan setiap orang yang bertanya bahwa saya keluar bukan karena ¡pecah kongs dengan Surya Paloh, bukan karena sedang marah atau bukan dalam situasi yang tidak menyenangkan. Mungkin terasa aneh pada posisi yang tinggi, dengan power yang luar biasa sebagai pimpinan sebuah stasiun televisi berita, tiba-tiba saya mengundurkan diri.

Dalam perjalanan hidup dan karir, dua kali saya mengambil keputusan sulit. Pertama, ketika saya tamat STM. Saya tidak mengambil peluang beasiswa ke IKIP Padang. Saya lebih memilih untuk melanjutkan ke Sekolah Tinggi Publisistik di Jakarta walau harus menanggung sendiri beban uang kuliah. Kedua, ya itu tadi, ketika saya memutuskan untuk mengundurkan diri dari Metro TV.

Dalam satu seminar, Rhenald Khasali, penulis buku Change yang saya kagumi, sembari bergurau di depan ratusan hadirin mencoba menganalisa mengapa saya keluar dari Metro TV. Andy ibarat ikan di dalam kolam. Ikannya terus membesar sehingga kolamnya menjadi kekecilan. Ikan tersebut terpaksa harus mencari kolam yang lebih besar.

Saya tidak tahu apakah pandangan Rhenald benar. Tapi, jujur saja, sejak lama saya memang sudah ingin mengundurkan diri dari Metro TV. Persisnya ketika saya membaca sebuah buku kecil berjudul Who Move My Cheese.Bagi Anda yang belum baca, buku ini bercerita tentang dua kurcaci. Mereka hidup dalam sebuah labirin yang sarat dengan keju. Kurcaci yang satu selalu berpikiran suatu hari kelak keju di tempat mereka tinggal akan habis. Karena itu, dia selalu menjaga stamina dan kesadarannya agar jika keju di situ habis, dia dalam kondisi siap mencari keju di tempat lain. Sebaliknya, kurcaci yang kedua, begitu yakin sampai kiamat pun persediaan keju tidak akan pernah habis.

Singkat cerita, suatu hari keju habis. Kurcaci pertama mengajak sahabatnya untuk meninggalkan tempat itu guna mencari keju di tempat lain. Sang sahabat menolak. Dia yakin keju itu hanya dipindahkan oleh seseorang dan nanti suatu hari pasti akan dikembalikan. Karena itu tidak perlu mencari keju di tempat lain. Dia sudah merasa nyaman. Maka dia memutuskan menunggu terus di tempat itu sampai suatu hari keju yang hilang akan kembali. Apa yang terjadi, kurcaci itu menunggu dan menunggu sampai kemudian mati kelaparan. Sedangkan kurcaci yang selalu siap tadi sudah menemukan labirin lain yang penuh keju. Bahkan jauh lebih banyak dibandingkan di tempat lama.

Pesan moral buku sederhana itu jelas: jangan sekali-kali kita merasa nyaman di suatu tempat sehingga lupa mengembangkan diri guna menghadapi perubahan dan tantangan yang lebih besar. Mereka yang tidak mau berubah, dan merasa sudah nyaman di suatu posisi, biasanya akan mati digilas waktu.

Setelah membaca buku itu, entah mengapa ada dorongan luar biasa yang menghentak-hentak di dalam dada. Ada gairah yang luar biasa yang mendorong saya untuk keluar dari Metro TV. Keluar dari labirin yang selama ini membuat saya sangat nyaman karena setiap hari keju itu sudah tersedia di depan mata. Saya juga ingin mengikuti lentera jiwa saya. Memilih arah sesuai panggilan hati. Saya ingin berdiri sendiri.

Maka ketika mendengar sebuah lagu berjudul Lentera Hati yang dinyanyikan Nugie, hati saya melonjak-lonjak. Selain syair dan pesan yang ingin disampaikan Nugie dalam lagunya itu sesuai dengan kata hati saya, sudah sejak lama saya ingin membagi kerisauan saya kepada banyak orang.
Dalam perjalanan hidup saya, banyak saya jumpai orang-orang yang merasa tidak bahagia dengan pekerjaan mereka. Bahkan seorang kenalan saya, yang sudah menduduki posisi puncak di suatu perusahaan asuransi asing, mengaku tidak bahagia dengan pekerjaannya. Uang dan jabatan ternyata tidak membuatnya bahagia. Dia merasa lentera jiwanya ada di ajang pertunjukkan musik. Tetapi dia takut untuk melompat. Takut untuk memulai dari bawah. Dia merasa tidak siap jika kehidupan ekonominya yang sudah mapan berantakan. Maka dia menjalani sisa hidupnya dalam dilema itu. Dia tidak bahagia.

Ketika diminta untuk menjadi pembicara di kampus-kampus, saya juga menemukan banyak mahasiswa yang tidak happy dengan jurusan yang mereka tekuni sekarang. Ada yang mengaku waktu itu belum tahu ingin menjadi apa, ada yang jujur bilang ikut-ikutan pacar (yang belakangan ternyata putus juga) atau ada yang karena solider pada teman. Tetapi yang paling banyak mengaku jurusan yang mereka tekuni sekarang -- dan membuat mereka tidak bahagia -- adalah karena mengikuti keinginan orangtua.

Dalam episode Lentera Jiwa (tayang Jumat 29 dan Minggu 31 Agustus 2008), kita dapat melihat orang-orang yang berani mengambil keputusan besar dalam hidup mereka. Ada Bara Patirajawane, anak diplomat dan lulusan Hubungan Internasional, yang pada satu titik mengambil keputusan drastis untuk berbelok arah dan menekuni dunia masak memasak. Dia memilih menjadi koki. Pekerjaan yang sangat dia sukai dan menghantarkannya sebagai salah satu pemandu acara masak-memasak di televisi dan kini memiliki restoran sendiri. Saya sangat bahagia dengan apa yang saya kerjakan saat ini, ujarnya. Padahal, orangtuanya menghendaki Bara mengikuti jejak sang ayah sebagai dpilomat.

Juga ada Wahyu Aditya yang sangat bahagia dengan pilihan hatinya untuk menggeluti bidang animasi. Bidang yang menghantarkannya mendapat beasiswa dari British Council. Kini Adit bahkan membuka sekolah animasi. Padahal, ayah dan ibunya lebih menghendaki anak tercinta mereka mengikuti jejak sang ayah sebagai dokter.Simak juga bagaimana Gde Prama memutuskan meninggalkan posisi puncak sebuah perusahaan jamu dan jabatan komisaris di beberapa perusahaan. Konsultan manajemen dan penulis buku ini memilih tinggal di Bali dan bekerja untuk dirinya sendiri sebagai public speaker.

Pertanyaan yang paling hakiki adalah apa yang kita cari dalam kehidupan yang singkat ini? Semua orang ingin bahagia. Tetapi banyak yang tidak tahu bagaimana cara mencapainya.

Karena itu, beruntunglah mereka yang saat ini bekerja di bidang yang dicintainya. Bidang yang membuat mereka begitu bersemangat, begitu gembira dalam menikmati hidup. Bagi saya, bekerja itu seperti rekreasi. Gembira terus. Nggak ada capeknya, ujar Yon Koeswoyo, salah satu personal Koes Plus, saat bertemu saya di kantor majalah Rolling Stone. Dalam usianya menjelang 68 tahun, Yon tampak penuh enerji. Dinamis. Tak heran jika malam itu, saat pementasan Earthfest2008, Yon mampu melantunkan sepuluh lagu tanpa henti. Sungguh luar biasa. Semua karena saya mencintai pekerjaan saya. Musik adalah dunia saya. Cinta saya. Hidup saya, katanya.

Berbahagialah mereka yang menikmati pekerjaannya. Berbahagialah mereka yang sudah mencapai taraf bekerja adalah berekreasi. Sebab mereka sudah menemukan lentera jiwa mereka.

Terimakasih Mas Andy atas tulisannya. Keep inspiring, stay smart and happy ...

Edensor

Sabtu, 23 Agustus, 2008

Aku ingin mendaki puncak tantangan, menerjang batu granit kesulitan, menggoda marabahaya, dan memecahkan misteri dengan sains. Aku ingin menghirup berupa-rupa pengalaman lalu terjun bebas menyelami labirin liku-liku hidup yang ujungnya tak dapat disangka. Aku mendamba kehidupan dengan kemungkinan-kemungkinan yang bereaksi satu sama lain seperti benturan molekul uranium : meletup tak terduga-duga, menyerap, mengikat, mengganda, berkembang, terurai, dan berpencar ke arah yang mengejutkan. Aku ingin ke tempat-tempat yang jauh, menjumpai beragam bahasa dan orang-orang asing. Aku ingin berkelana, menemukan arahku dengan membaca bintang gemintang. Aku ingin mengarungi padang dan guru-gurun, ingin melepuh terbakar matahari, limbung dihantam angin, dan menciut dicengkeram dingin. Aku ingin kehidupan yang menggetarkan, penuh dengan penaklukan. Aku ingin hidup ! ingin merasakan saripati hidup !”

Ini adalah sebuah penggalan kata-kata yang tertuang dalam novel ke tiga dari tetralogi laskar pelangi yang berjudul Edensor. Novel ini juga merupakan nominator khatulistiwa literary award tahun 2007. Novel kisah pengalaman pribadi sang penulis Andrea Hirata ini bercerita mengenai bagian dari kisah perjalanan hidupnya dalam pencarian jati diri dan cinta. Tema yang tidak baru pada dasarnya, Namun kita akan tenggelam dan terinspirasi menyimak lika-liku hidup yang dijalaninya sebagai anak desa yang miskin namun berani mewujudkan mimpinya untuk melanjutkan pendidikan hingga ke Paris.

Ikal, demikian tokoh utama dalam cerita ini, yang juga merupakan nama kecil Andrea Hirata adalah seorang anak yang lahir dari pedalaman desa belitong, Bangka Belitung. Lingkungan yang membesarkannya adalah lingkungan buta huruf. Bersama kesembilan teman-teman sekolahnya sejak SD hingga SMP, Ikal, Arai, Lintang, Mahar adalah diantara anak-anak cerdas yang lahir dari perut bumi pertiwi ini. Bakat-bakat alam kecerdasan yang menonjol dari mereka masing-masing, dibuktikan secara alami, nyata dan luar biasa. (laskar pelangi)

Sejak kanak-kanak, masa remaja hingga dewasa terutama Ikal dan Arai, dua tokoh utama dalam novel ini, terbiasa bekerja di sela-sela kegiatan sekolahnya. Jalan hidupnya yang keras mengajarinya banyak hal tentang pentingnya memiliki dan mewujudkan mimpi untuk keluar dari lingkaran kemiskinan yang melilitnya melalui pendidikan apapun resikonya. Ikal dan Arai adalah juga dua orang berjiwa petualang yang senang belajar (Sang Pemimpi). Kecerdasannya dibuktikan lewat prestasi akademisnya yang menonjol. Semangat inilah yang mendatangkan pelukan semesta untuk merengkuh impian mereka hingga ke Paris. Meskipun malang bagi Arai, di tengah perjalanan studinya, Ia terserang penyakit pernafasan genetis yang membuatnya harus menjalani perawatan dan kembali ke tanah air.

Dua kutipan yang coba ku ingat di awal tulisannya adalah : “Jika hidup ini seumpama rel kereta api dalam eksperimen relativitas Einstein, maka pengalaman demi pengalaman yang menggempur kita dari waktu ke waktu adalah cahaya yang melesat-lesat di dalam gerbong di atas rel itu. Relativitasnya berupa seberapa banyak kita dapat mengambil pelajaran dari pengalaman yang melesat-lesat itu. Analogi Eksperimen itu tak lain, karena kecepatan cahaya bersifat sama dan absolute, dan waktu relative tergantung kecepatan gerbong, maka pengalaman yang sama dapat menimpa siapa saja, namun sejauh mana, dan secepat apa pengalaman yang tadi memberi pelajaran pada seseorang, hasilnya akan berbeda, relative satu sama lain”.

Menyimak kisah yang tertuang dalam novel Edensor ini, memberikanku satu lagi pelajaran tentang buah dari optimisme dan kerja keras. Aku jadi ingat rekan-rekan kerjaku yang semakin hari tampak semakin lupa pada kedua spirit ini. Tawa yang pudar, semangat hidup yang rapuh kerap mewarnai hari-hari ku di tempat kerja. Mungkinkah dunia yang ada di benak mereka itu hanya dunia yang terbatas pada apa yang mereka jalani sehari-hari? Berkutat dengan rutinitas kerja yang membosankan, mengandalkan nasib pada manajemen yang dikelola orang-orang tanggung, sementara dalam diri tidak punya keberanian bahkan lintasan pikiran untuk “bermimpi” dan melahirkan “dunia-dunia alternatif” yang mungkin saja berpeluang mewujud tanpa MERUSAK dunia sehari-hari yang secara relatif “kurang menjanjikan”. Just break your own pack !!! Oh..come on Guys..keep up your spirit !!! where’s your positive energy ???

Sementara di halaman paling awal, sebuah kutipan yang diinterpretasikannya dari Harun Yahya adalah : “Hidup dan nasib bisa tampak berantakan, misterius, fantastis, dan sporadis, namun setiap elemennya adalah sub system keteraturan dari sebuah desain holistic yang sempurna. Menerima kehidupan berarti menerima kenyataan bahwa tak ada hal sekecil apapun terjadi karena kebetulan. Ini fakta penciptaan yang tak terbantahkan.”


I always believe that whatever happens in our lives, there’s always reason behind that. We have our own pieces of mosaics to mend as our own pictures. Find them out then reveal the secret. Life is a blessing. So, don’t waste your time and energy for being depressed of –could be—nothing. Open your mind and Enjoy Guys…!

***********

Hidup, Manusia, dan Segala Tingkah Polahnya (bag II)

Kamis, 22 Mei 2008

Mengapa hidup kadang tidak ramah pada kita ? mungkin pertanyaan ini pernah atau kadang, bahkan sering kita lontarkan pada diri kita sendiri ? dan pernahkah ada jawaban yang kita punya saat pertanyaan itu terus-menerus muncul ?

Beberapa hari yang lalu teman kerjaku dari Nepal terlihat sedih. Pasalnya, karena kesalahan kecil yang dibuatnya membuatnya berhadapan dengan ancaman transfer tempat kerja. Selain itu, secara staff baru, Ia merasa Ia juga berusaha bekerja semaksimal mungkin untuk memberikan performa kerja sebagaimana yang diharapkan manajemen. Sebagai staff yang lebih lama, aku berusaha mendorongnya untuk tidak larut memikirkan baik ancaman transfer, maupun kesalahannya. Sakit memang ketika sebuah usaha yang jujur tidak mendapatkan sebuah apresiasi justru malah dituduh tidak bertanggung jawab apalagi hanya karena kesalahan yang begitu sepele.

Beberapa waktu yang lalu, aku mendapat kabar bahwa seorang kameramen al-Jazeera asal Sudan bernama Sami al-Hajj akhirnya dibebaskan setelah kurang lebih enam tahun mendekam di penjara Guantanamo yang konon paling seram atas tuduhan yang tidak pernah dilakukannya. Ia sendiri dihukum penjara tanpa melalui proses pengadilan. Saat itu ia meninggalkan seorang bayi laki-laki yang kini sudah berusia enam tahun. Apa itu Guantanamo, bagaimana dan siapa saja yang menghuninya, aku tidak dapat membayangkan bagaimana image seram yang ada padanya sebagai penjara yang paling mengerikan di dunia. Menurutnya, tikus lebih di perlakukan manusiawi dari pada manusia sendiri. Syit ! what a hell ! benakku.


Sekitar sebulan yang lalu, aku menyaksikan akting si cantik Angelina Jolie dalam A Mighty Heart. Sebuah film yang diangkat dari kisah nyata. Ia memerankan tokoh Marianne pearl dengan sangat bagus dimana Ia menjadi seorang istri wartawan yahudi yang diculik dan akhirnya di bunuh dengan keji oleh para teroris ketika kunjungannya ke Karachi beberapa tahun yang lalu pasca peristiwa 11 september. Dalam cerita itu di gambarkan mereka adalah sepasang pengantin baru yang sedang bahagia karena sang istri sedang mengandung. Kesamaan visi dan idealisme membuat mereka bertemu dan sebuah tanggung jawab profesi membawanya berada di Karachi. Terlepas dari tuduhan sebagai mata-mata, keyahudian Danny Pearl sang suami ternyata menjadi momok yang membahayakan nyawanya yang berada di tengah-tengah ektremis kelompok muslim Karachi. Dan identitas yahudi ini pun tidak pernah Ia tutupi ketika orang menanyakan agamanya sebab dengan pikiran positif dan terbukanya, mungkin baginya tidak ada yang keliru dengan itu. Seluruh keluarganya Yahudi maka Ia pun terlahir sebagai seorang Yahudi, tentu saja bukan keinginannya.

Dan beberapa bulan yang lalu, seorang penjual gorengan bunuh diri di Serang, Banten. Mahalnya biaya hidup dan ketidak seimbangan antara daya beli, kebutuhan dan pendapatan, membuatnya putus asa dan terpaksa menghabisi nyawanya dengan meninggalkan istri dan beberapa anak-anaknya yang masih berusia sekolah dan pertumbuhan.

Dan barangkali setahun yang lalu. Tiga orang anak kecil meninggal sia-sia dibunuh sang ibu yang khawatir tidak dapat membesarkan anaknya dengan baik. Menurutnya membunuhnya lebih baik dari pada menyaksikan ketidakbahagiaan ketiga buah hatinya. Oh my God …

Sekitar dua minggu yang lalu, sebagian rekan kerjaku berduka ketika badai topan dahsyat meluluh lantakkan sebagian wilayah di negaranya, Myanmar. Beberapa dari mereka, termasuk korban. Meskipun keluarganya selamat, namun topan dahsyat itu telah menghancurkan rumah mereka. Rasanya habis jatuh tertimpa tangga, melihat kondisi politik di negaranya yang memanas, dibarengi datangnya bencana alam yang mengejutkan. Selanjutnya, menyusul kemudian gempa di China yang menewaskan puluhan ribu nyawa melayang sia-sia.

Sayed Ali, seorang bapak di Afganistan, terpaksa menjual anak perempuannya yang baru tumbuh remaja seharga 2000 $ karena untuk menyelamatkan anak-anaknya yang lain dari kematian karena kelaparan. Negara yang akut dilanda konflik dan peperangan ini mengakibatkan merajalelanya jumlah pengangguran dan kelaparan. Sayed Ali hanya seorang dari puluhan ribu bahkan mungkin ratusan ribu lainnya yang bernasib serupa. Sehari-hari , Ia mengais bekas sisa makanan yang dikumpulkannya jadi satu tempat untuk dibawa pulang. Dengan perih Ia berbohong pada keluarganya bahwa Ia diberi atau membeli makanan itu. Ketika ditanya tentang anak perempuannya, dikatakannya bahwa Ia tidak akan pernah memaafkan dirinya seumur hidupnya.

Sekitar tiga hari yang lalu, sebutlah Siti, seorang pembantu rumah tangga di Sharjah, negara bagian dekat Dubai. Selama 20 bulan bekerja, majikannya tidak pernah membayar upahnya yang dijanjikan sebesar 600 dirham perbulan. (beberapa kali lipat dari gajiku yang bekerja hanya 8 jam, plus public holiday, off, dan vacation, juga staffmeal). Ia bekerja dari pagi hingga jam satu malam tanpa libur. Ia pun tidak pernah diberi kesempatan untuk menghubungi keluarganya karena handphonenya di tahan sang majikan. Bersyukur sekarang Ia bisa sedikit menghirup udara dan berada di tangan konsulat RI di Dubai.


Saat ini Dubai sedang musim panas. Konon pada puncaknya, temperatur bisa mencapai hingga di atas 50 derajat celcius. Sebab di media tidak pernah tercatat hingga sebanyak itu. Tahun lalu aku bisa merasakan tingkat kepanasan itu. Diam di rumah adalah pilihan yang terbaik pada saat itu. Bisnis restoranku pun sepi. Customer lebih memilih berlibur ke luar negeri atau tinggal di rumah. Musim dingin lebih singkat dari musim panas. Terus terang, meskipun bagi sebagian orang yang terbiasa dingin, terutama teman-teman Libanon ku yang kebagian datangnya salju di negara mereka bila musim tiba, bagiku, musim dingin di Dubai, benar-benar membuat badanku kaku sulit bergerak. Sementara itu, dibawah gedung tempatku tinggal, ada beberapa orang yang menghuni pelataran yang digunakan sebagai tempat parkir mobil. Mereka kujumpai sedang terlelap tidur setiap kali aku berangkat kerja, yang hanya beralaskan kardus dengan posisi tangan dilipat dan kaki ditekuk. Aku tahu, mereka pasti merasa dingin sekali. Tapi aku juga tidak tahu siapa dan dari mana mereka datang, tidakkah mereka punya tempat tinggal, kalau memang mereka bekerja di wilayah proyek konstruksi depan gedungku, tidakkah perusahaan menjaminkan asrama bagi mereka? Cerita ini barangkali mirip dengan berita yang kubaca di koran lokal beberapa minggu yang lalu. Puluhan imigran yang terbengkalai ketika mereka tiba di Dubai dengan status illegal. Mereka datang melalui agen tak resmi yang memalsukan berbagai dokumen sebagai persyaratan untuk bekerja di Dubai. Sebagian besar berasal dari India, Pakistan, srilangka, dan Bangladesh. Berminggu-minggu mereka menempati sebuah taman di kawasan Karamah, wilayah lain yang dekat dengan Deira. Kusaksikan gambar sejumlah orang terbaring dengan tatapan kosong.


Gambaran ketidakramahan ini hanya nol koma sekian sekian dari betapa tak terhitungnya cerita tentang kegetiran demi kegetiran hidup yang berserak di muka bumi ini. Kegetiran manakah yang kita alami sehari-hari ? adakah kegetiran yang kita alami dari sesuatu yang kita tak berdaya mengubahnya, ataukah itu drama kegetiran yang kita ciptakan sendiri dan masih dapat kita modifikasi, susun ulang, atau kita ubah ? Dan dimanakah posisi kita, ditengah-tengah ancaman kepunahan sebagian ekosistem dibumi yang tak terelakkan akibat efek pemanasan global ini, adakah setitik embun yang bisa kita teteskan untuk meredakan hidup yang kadang getir ini ? pernahkah kita bersyukur saat kita masih bisa bangun pagi, melihat sinar matahari masuk lewat jendela kamar kita, dan kita masih bisa menghirup segar udara pagi, menikmati indahnya bangun, melemaskan otot sebelum beranjak melangkah menuju kamar mandi, merasakan sejuknya disiram air, dan harumnya sentuhan sabun mandi, lalu nikmatnya menyantap sarapan pagi sebelum kembali melakukan aktivitas bekerja.

Selama di Dubai, aku banyak bersentuhan dengan warga negara Libanon. Beberapa dari mereka kukenal dengan sangat baik. Paras yang indah dan kekayaan alam yang berlimpah, mengenal Libanon dari dekat melalui orang-orangnya, sangat disayangkan kini kondisi politik di negaranya kian memanas. Mereka sangat kental persaudaraan sesama bangsanya dan kental nasionalismenya. Setiap kali aku berkunjung ke tempat mereka, kerapkali yang dibicarakan adalah masalah negerinya. Tayangan pidato Hassan Nasrullah pun akhirnya menjadi makananku sehari-hari. Musik dan lagu-lagu yang seringkali diputar adalah lagu-lagu arab dan lagu-lagu patriotismenya kelompok Hizbullah. Sayangnya mereka mempunyai gaya hidup yang mahal. Mempunyai negara yang kacau balau dan tinggal di Dubai yang kering dan membosankan plus biaya hidup yang mahal, seperti buah simalakama.


Beberapa tahun yang lalu, aku ingat sebuah film berjudul Life is Beautiful atau dalam judul lainnya yang berbahasa Italia yaitu La Vida Bella. Sebuah komedi satir yang dimainkan Roberto Benigni sebagai seorang yahudi asal Italia yang terseret dalam jebakan kamp konsentrasi pada perang dunia dua saat rezim Nazi berkuasa di Jerman. Dalam cerita itu Ia selalu menciptakan tawa dalam setiap kejadian pahit yang dialaminya. Sebagai manusia dan laki-laki pada umumnya, Ia juga mengalami jatuh cinta pada seorang wanita, pacaran, menikah dan berkeluarga. Di tengah-tengah dunia yang sedang berperang, dan terlahir sebagai komunitas etnis minoritas yang diperlakukan diskriminatif bahkan terancam dimusnahkan, Ia seakan-akan berusaha menciptakan dan berada dalam dunia tawanya sendiri.

Dalam banyak hal, aku merasa beruntung ketika aku terlahir ke dunia dalam kondisi fisik yang baik, nyaris sempurna. Orang tua yang sederhana dan bertanggung jawab, saling support dalam perekonomian keluarga. Mereka memberiku keleluasaan mengenal dunia seperti apa yang kuinginkan, meskipun pada awalnya sulit mendapatkan restu dan kepercayaan mereka, namun cinta mereka meluluskan pendirianku pada akhirnya. Aku pun terlahir di tengah-tengah komunitas homogen yang dominan dari berbagai unsurnya. Aku lahir sebagai perempuan yang pada umumnya tertarik pada laki-laki. Tentu berbeda bila aku memiliki kecenderungan seks sesama jenis, resistensi masyarakat akan sangat kuat menentangku, keluargakupun mungkin akan merasa aib memilikiku. Aku juga terlahir sebagai seorang muslim di tengah-tengah mayoritas warga muslim di wilayahku, di kotaku, dan di negaraku. Tradisi dan keyakinan islam yang diajarkan padaku juga yang mayoritas muslim menganutnya. Tentunya kondisi ini mengamankanku. aku tidak tahu apa yang akan menimpaku bila aku terlahir ditengah-tengah keluarga yang menganut keyakinan ajaran islam seperti yang dianut Ahmadiyah, Salamullah, dan minoritas lainnya. Meskipun mereka sama-sama berasal dari agama yang sama. Aku juga tidak tahu bila aku terlahir sebagai seorang nasrani yang sulit masuk sekolah negeri seperti di sumatera barat, kecuali jika aku memakai jilbab, betapa mungkin aku juga akan merasa sangat tertekan, aku juga tidak tahu bila aku terlahir di wilayah yang penguasanya memaksakan warga perempuannya memakai jilbab, yang menghukumku bila aku keluar malam, dan sebagainya. Aku juga tidak tahu bila aku terlahir dari keluarga minoritas Tionghoa atau Konghucu yang hidup ditengah-tengah penguasa dan masyarakat yang tidak mengakui kepercayaan kami, apalagi memfasilitasi kami untuk beribadah. Aku juga tidak tahu bila aku terlahir dalam sebuah kawasan konflik dan peperangan, dimana aku tidak dapat leluasa menikmati masa kanak-kanak dan remajaku apalagi bersekolah karena adanya wajib militer sejak dini atau kesukaran lainnya. Aku juga tidak tahu bila aku terlahir sebagai warga kulit hitam di Afrika Selatan, atau wilayah lainnya yang mendiskreditkan kami. Aku beruntung. Hidup dan nasib baik benar-benar berada dipihakku. Namun jiwaku tetap gelisah, sebab semua yang kusebutkan tadi, benar-benar terjadi. Mereka hidup ditengah-tengah kita di belahan bumi yang lain. Jauh, tapi hidup dan nyata dalam keseharian kita. Pernahkah kita sejenak merenungkan semua ini?


Sesulit apapun kondisi ekonomi negeriku, aku tidak pernah tidak punya makanan. Separah apapun kekeringan yang melanda bumi, aku tidak pernah kehausan. Sedahsyat apapun bencana alam yang menimpa saudara-saudaraku, aku bersyukur, aku tetap mempunyai tempat tinggal yang layak. Lalu, adakah alasan untuk aku selalu berkeluh kesah ? rasanya waktu begitu berharga bila selalu diisi dengan keluhan. Apa yang kita takutkan dalam hidup ini barangkali hanya sebuah drama yang kita ciptakan sendiri. Toh, sesuatu yang besar yang kita takutkan pasti terjadi, sebuah kematian. siapa yang bisa menghindari itu. Kita berpacu dengan waktu, bangunlah, beranjak, cuci muka, bercermin, lakukanlah sesuatu untuk hidup kita, sebab usia terus mengerogoti jasad kita. Dimanapun adanya, apalagi di kota-kota besar seperti Dubai, orang begitu sibuk dengan urusan perut, gengsi, dan perlombaan citra dan kekayaan. rasanya segalanya menjadi murah ketika persahabatan, cinta, keluarga, diukur dengan semua itu untuk mengikatnya. Bukankah uang yang kita cari hanya alat. Realitanya segala sesuatu perlu uang. Namun uang bukan segalanya. Kitalah yang menentukan untuk menjadi siapa yang kita inginkan.

Untuk teman-temanku, semoga tetap bisa menikmati hidup ini betapapun sulitnya. percayalah, diatas kesulitan akan selalu ada kemudahan dan jalan keluar. Bukankah orang-orang sukses mengajarkan bahwa untuk bisa sukses perlu jatuh berkali-kali. Dan mengapa harus takut dianggap tidak sukses kalau sukses adalah diri kita sendiri. bersabarlah dan tetap tersenyum.

Bersambung...

I and My Job World

Kamis, 24 April 2008

Beberapa minggu yang lalu aku memang agak sibuk. Sebagian staff ditransfer ke PQ baru di kawasan Saikh Zaid Road tepatnya di 21st century building. Beberapa rekan kerja ada juga yang vacation pulang kampung dan ada juga yang sedang umroh. Meskipun begitu, bermunculan wajah-wajah baru. Sebagian dari Indonesia, sebagian dari Nepal, India dan Myanmar.

Keberadaanku di PQ sudah lebih dari setahun. Tentu dalam waktu dekat aku sudah berhak mendapatkan jatah vacation. Mungkin aku pulang ke Indonesia, atau mungkin tetap di Dubai. Aku pun kini bukan berstatus sebagai anak baru lagi seperti beberapa bulan yang lalu. Terus terang, menjadi anak baru tidak selalu mudah. Tidak hanya di sekolah dulu, tapi yang lebih sulit ketika memulai di lingkungan tempat kerja yang baru. Bagi sebagian barangkali tidak ada masalah, tapi yang aku alami seringkali sulit.

Dunia kerja yang kumaknai adalah ruang yang cukup terbuka untuk belajar sekaligus memperoleh penghasilan, berbeda dengan sekolah. Sekolah secara formal memang adalah tempat kita belajar, meskipun pada kenyataannya tidak semua sekolah memerankan fungsi yang seharusnya ; menjadi ruang yang terbuka bagi siapapun yang ingin belajar bahkan kalau memungkinkan tidak perlu keluar biaya. Kalaupun berbiaya, tidak perlu terlalu mahal. Apa boleh buat, begitulah sekolah yang ada ; seringkali dengan biaya tinggi, namun juga tidak seimbang dengan apa yang di hasilkannya.



Hari-hari menjadi anak baru perlahan sudah dapat kulalui. Proses dari anak baru menjadi bukan baru cukup berat. Secara yang kugambarkan di awal, rekan-rekan kerja yang lebih dulu memang kental akan arogansi senioritasnya. Terlebih mereka juga berkelompok. Seperti yang kugambarkan di awal, ini adalah tantangan tersendiri buatku. Secara bertahap aku belajar untuk membuktikan sebagai seseorang yang bermutu dan dapat diandalkan. Tentu saja ini tidak mudah, terlebih ketika tidak ada dukungan yang kondusif dari managemen. Merasa sendiri dan terkadang putus asa. Namun aku belajar untuk menemukan kata kunci dari semua masalah ini ; berpikir positif dan jauh ke depan.

Pada dasarnya dunia hospitality bukan sesuatu yang sulit untuk dipelajari. Yang paling dibutuhkan adalah keterampilan berkomunikasi dan rasa ingin tahu akan berbagai variasi kuliner secara umum. Secara specific, tentu kita harus mengetahui dengan baik produk kita sendiri. Selebihnya keterampilan teknis dalam melayani customer hingga mereka merasa nyaman dan tentu ingin datang kembali. Lebih jauhnya, tentu industri ini dibutuhkan sebuah perangkat managemen yang professional. Dan bekerja di restoran sebagai seorang waiter, hanya tahap awal. Sebagian orang, menganggap pekerjaan ini rendahan. Namun bagiku, pekerjaan apapun tidak ada yang rendah. Yang rendah adalah mereka yang tidak mau bekerja yang justru seringnya merepotkan orang lain karena statusnya sebagai pengangguran. Berbahagialah mereka yang mempunyai pekerjaan. Apapun itu, bekerjalah dengan tekun, cerdas, dan tulus. Sebab tanpa itu, apapun yang kita kerjakan tidak akan berarti apa-apa. Tidak ada sebuah pencapaian yang diperoleh melalui proses yang instant. Sebab segala sesuatu yang instant itu biasanya keropos dan rapuh.

Di tempat kerja mungkin kita akan bertemu dengan berbagai tipikal orang yang karakternya sulit, terlepas dari latar belakang budaya dan bangsa. Secara umum ada tiga karakter sulit yang mengganggu ketika bekerja bersama mereka; pertama, tipe one man show, semua dilakukan sendiri, kurang percaya akan kemampuan rekan kerjanya karena merasa diri paling tahu. Padahal dalam bekerja semua berperan sebagai team work. Kedua, ignore atau careless, cuek, masa bodoh, malas, tidak peduli, dan sejenisnya. Karakter ini berkebalikan dari yang pertama. Sulit bekerja dengan orang seperti ini karena tidak dapat diandalkan. Orang seperti ini pun bukan bagian dari team work. Ketiga, sentimentil, cengeng, perasa, mudah tersinggung, dan sejenisnya. Dalam wilayah kerja tentu terdiri dari orang-orang dengan watak yang berbeda-beda, Sementara dalam perbedaan itu dituntut untuk kompak dan solid, demi pencapaian target perusahaan. Pemikiran positif dan rasional, lebih dibutuhkan dari pada mental cengeng, mudah tersinggung, perasa dan lain sebagainya. Hal-hal remeh bisa menjadi besar karena diciptakannya sendiri. Kunci vital dalam mengelola beberapa karakter sulit ini, ada pada seorang pimpinan.


Pengelolaan orang dengan karakter di atas, adalah salah satu bagian yang paling mendasar dari tanggung jawab sebagai seorang pemimpin. Oleh karena itu, menjadi pimpinan bukan sesuatu yang mudah pada prakteknya. Ia harus tahu bagaimana mendekati staffnya yang mempunyai titik lemah dan kekuatannya masing-masing. Ia harus dapat membantu mengatasi kelemahan staffnya, dan memaksimalkan potensi yang menjadi kekuatannya. Bagiku, seorang bos dengan seorang pimpinan adalah dua kata dengan makna yang berbeda. Dalam diri pemimpin ada kompetensi dan kapabilitas. Sementara dalam diri seorang bos, hanya lebih kepada posisi dan kekuasaan. Pemimpin pada dasarnya adalah pelayan bagi staff bawahannya. Dan staff bawahan adalah tim sukses bagi lajunya bisnis sebuah perusahaan. Idealnya, kedua peran ini sejajar dan saling melengkapi sehingga terjalin sebuah harmony kerja yang solid. Manakala salah satu peran atau sebagiannya pincang, maka sulit untuk mengharapkan sebuah kondisi kerja yang nyaman dan tentunya berakibat pada kurangnya pencapaian keuntungan yang diharapkan.

Sebagai seorang staff biasa yang juga baru bergelut di bidang ini, memang tidak banyak yang bisa dilakukan ketika berada dalam situasi ini dibarengi dengan keberadaan seorang pimpinan yang berperan sekaligus sebagai seorang bos. Seorang bos, biasanysa hanya menuntut hasil, sementara seorang pimpinan membantu mencapai hasil tersebut terealisasi misalnya tentu dengan mempermudah staffnya melakukan pekerjaan dengan maksimal dengan memberikan petunjuk kerja yang jelas dan konsisten, tidak kabur dan membingungkan. Terutama sebagai staff baru, standard kerja tentu sangatlah penting. Standard kerja yang dibuat secara tertulis lebih efektif dari pada hanya instruksi-instruksi verbal. Sejauh ini aku belum merasakan bekerja dalam pola managemen yang dikelilingi oleh orang-orang yang benar-benar professional. Dalam benakku, seorang pemimpin adalah the best role model bagi staffnya; dia harus lebih hard working, smart, wise, objective, dan helpful atau considerate. Jiwa pemimipin seperti ini akan sangat mewarnai suasana kerja yang kondusif, betatapun banyaknya masalah yang muncul.


Terlepas dari itu semua, bagiku, bekerja di bidang ini sangat menyenangkan. Aku dapat bertemu dengan berbagai macam orang. Orang yang datang tentu ada yang tetap namun juga ada yang baru. Ada seni dalam berkomunikasi dengan mereka. Pembicaraan yang berlangsung hanya seputar hal-hal ringan. Namun bukan berarti tidak ada pertukaran informasi yang berarti. Setiap pagi aku bertemu dengan Sally, seorang British berusia 50an yang selalu datang dengan balutan busana kerja yang pantas. Ia tampak smart dan bersemangat menjalani hari-harinya. Selain itu Ia pun sangat pemurah. Ia biasa sarapan dengan raisin bagel, welldone toasted atau scone yang disajikan dengan latte skim milk. Setiap akhir pekan Sally datang bersama suami dan terkadang anak perempuannya yang sudah dewasa. Ketika mereka disandingkan aku mencadainya dengan sebutan kembar unik. Dan Ia pun tertawa justru meresponku dengan menyebut mereka berdua terrible twin. Hee…. Sally akan bertanya ketika aku terkadang tidak terlalu bicara banyak dengannya, Why you so quiet now..?

Ada juga Christine. Seorang Ibu muda dengan dua anak laki-lakinya yang lucu dan cerdas ini biasa datang pagi hari bersama suaminya yang berasal dari New Zealand. Sementara itu Christine berasal dari hongkong. Perpaduan dua ras ini melahirkan anak-anak yang unik. Seperti Sally, Christine dan keluarganya selalu datang bahkan seringkali lebih dari sekali dalam sehari. Kegemaran keluarga ini adalah sarapan dengan toasted sunflower bagel di sajikan dengan butter dan jam dengan flavour berries, bersama dua buah latte strong. Sementara untuk anak-anaknya adalah chocolate croissant, atau almond croissant, dan chocolate muffin disajikan dengan dua gelas cold milk. Berbeda dengan Sally yang tidak terlalu bermasalah dengan makanan, keluarga Christine sangat perfectionist. Ada seni tersendiri memahami apa yang dimaui customer dengan bermacam-macam seleranya. Dan adalah tugasku dan teman-teman untuk bisa melayaninya dengan tulus. Suatu hari Christine berkomentar tentangku, why you always look so happy ?. Tentu saja aku senang bila Ia melihatku begitu.

Ada juga Shirin. Ibu berusia matang ini, setiap pagi Ia biasa minum coffee ole light sebelum berangkat kerja. Aroma coffee ole yang dibawanya ke tempat kerja mengundang beberapa koleganya untuk memesan kopi yang sama di restoranku. Tentu saja ada kebanggaan tersendiri bagiku yang biasa membuatkan coffee ole untuknya. Pada setiap akhir pekan Ia juga biasa datang bersama keluarganya. Bila Ia tidak bisa datang, Ia akan mengirim orang untuk memesan kopi dari storeku. Pada saat aku off, esoknya dia akan bertanya padaku, where’re you yesterday ? dengan aksen britishnya

Ada juga Mr. and Mrs. Booker,sepasang suami istri baya yang berasal dari England. Pada saat pertama kali datang, mereka bertemu denganku. Mrs. Booker memesan small latte, sementara Mr. Booker memesan large hot chocolate. Mrs. Booker menyukai latte dari storeku. Hingga saat ini mereka berdua adalah regular customer di restoranku. sepasang suami istri ini, sangat pemurah. Tidak jarang mereka memberikan bingkisan untuk kami. Sebagai counter staff yang lebih fokus di wilayah counter untuk layanan take away, seringkali aku tidak selalu dapat mengobrol leluasa dengan mereka, terutama apabila pada saat sibuk. Mr. Booker terkadang mencandaiku dengan komentar, why you not talking to me today? Ok, I don’t want to talk to you anymore, hee…


Selain perkenalanku dengan mereka dan customer lainnya yang tidak aku sebutkan, aku memang menyukai pekerjaanku, terlepas dari masalah yang ada. Sebab buatku, hidup adalah masalah itu sendiri. Biarkan masalah itu kecil kalau memang kecil adanya. Dan jangan dibuat lebih besar kalau masalah itu sudah besar. Dalam setiap masalah kita menjadi belajar sesuatu untuk memecahkannya. Dan aku percaya, bahwa dalam setiap masalah pasti akan selalu ada jalan keluar, cepat atau lambat. Buat teman-temanku,berpikirlah keluar dari kotak sebab hidup ini singkat, just enjoy what you do, and do what you enjoy, as Demartini said, thanks to him…: )

Dr. John Demartini

Rabu, 20 Februari 2008

Pada saat membongkar isi lemari dan membereskan tumpukan majalah mingguan langgananku, di sebuah halaman terbuka secara tidak sengaja aku bertemu dengan Dr. John Demartini. Kuhentikan sejenak kegiatan beres-beresku dan fokusku beralih padanya untuk beberapa saat. Majalah itu kubeli sudah sekitar sebulan lebih, namun profilenya baru kubaca beberapa hari yang lalu.

Kutipan kata-kata panjangnya yang ingin coba kuingat adalah : “Figuring out what you want to do is perhaps the single biggest challenge. Like a pebble in your shoe that you just can’t get rid of unless you stop, remove the shoe and find it, the feeling that you want to do something but don’t know what that something is, is a familiar frustration. We change jobs, shift houses, relocate to different cities, countries, even continents; we acquire newer cars, mobile phones; we change our looks, hair colour … yet the pebble in the shoe continues to hurt as you walk. Eventually we settle for the illusion that there’s something better out there but it is out of reach. Simple. The pebble wins. But not if you are a Demartini. “Deep down we all know what we want to do but we have seven primary fears that prevent us from admitting this to ourselves, the first is breaking a moral or spiritual (principle) ; the second is not being smart enough, intelligent enough or not having a degree; the third is the fear that you might fail at it; the fourth is that you might not make money at it or might even lose money doing it; the fifth is losing loved ones or fearing that you may lose the respect of loved ones; the sixth is the fear of rejection; and the seventh is the fear that we don’t have the body, the vitality or the looks it may take to do it. “

Selanjutnya, These seven fears cloud the clarity of our thoughts. Deep inside, we know what we would like to dedicate our lives to but these fears … make us lie to ourselves saying we ‘don’t know’.

Selanjutnya lagi, But if we don’t have the body or the brains for the task we have set for ourselves, we are not going to make it. Not necessarily, The quality of your life’s success depends on the quality of the questions you ask. If you ask yourself question such as : ‘how is the body that I have going to give me the leverage to do what I love ?’ Or, ‘how is my intelligence and education going to help me achieve my goal?’, you will find that there’s a way you can reach it with your given equipment and qualities.


Dr. John Demartini adalah seorang guru dan pimpinan sebuah industry pengembangan personal dan professional. Selama 35 tahun waktunya dihabiskan untuk menemukan prinsip-prinsip universal mengenai hidup. Ia telah menemukan sebuah metode untuknya. Sebuah motode yang dikembangkan dari studynya tentang Quantum Physics. Metode ini dapat mengurangi stress, menyelesaikan konflik, dan membuka mata serta hati mengenai perspektif baru tentang berbagai tantangan hidup. Demartini yang kulihat di gambar itu terlihat masih muda. Kalau 35 tahun Ia mengkaji ini semua, lalu, sejak berapa tahun Ia memulainya. Wajahnya yang muda dan segar tidak akan ada yang menyangka kalau umurnya sudah 53 tahun. Namun tampak seperti 35 tahun. Lebih dari 10 tahun tampak lebih muda dari usianya. Ia mempunyai rahasia mengapa dirinya tampak muda, menurutnya, “the secret to looking youthful is to do what you enjoy and enjoy what you do”

Demartini menemukan metode dalam menyiasati tantangan hidup bukan karena kegiatan study formal tentang motivasi atau semacamnya. Namun, Ia menemukan ini karena mempelajarinya dengan menjalani hidup sebagai sebuah pemberian tugas besar (taskmaster).

Pada usia 6 tahun, seorang counsellornya mengatakan bahwa kemungkinan Ia tidak akan mampu membaca, menulis, dan berkomunikasi karena setelah didiagnosa bahwa Ia mengalami gejala dyslexia. Namun, ketika memulai sekolah dasar, Demartini banyak dibantu oleh teman-temannya. Akan tetapi, kedua orangtuanya pindah dari Houston Texas, ke daerah Texas pedesaannya, dimana Demartini kehilangan support dari lingkungan sekolahnya. Pada saat itu, Ia gagal dalam ujian dan akhirnya drop out ketika menginjak usia 14 tahun. Aku jadi ingat ketika dulu sekolah SD, ada satu orang temanku yang tidak pernah naik kelas selama 4 tahun berturut-turut. Ia hanya sanggup naik hingga kelas 4 SD. Sampai akhirnya Ia drop out dan merasa putus asa. Ia adalah anak yang paling besar dikelas waktu itu. Mungkin Ia juga malu dan kehilangan support sama sekali. Aku tidak tahu apakah kasus temanku sama dengan Demartini kecil atau tidak. Tapi, bila merujuk pada metode Quantum Physic, kurasa mungkin saat ini temanku itu sudah jadi sarjana. Hhmmm…entahlah

Setelah mengalami drop out, Demartini terombang ambing dalam hidup yang tidak menenentu, Selama 4 tahun Ia hanya hidup di jalan-jalan hingga berakhir di kepantaian Hawaii menikmati ombak dengan bermain surfing di pantai utara Oahu yang terkenal.

Namun, momen dipantai inilah yang justru menjadi titik baliknya dalam memaknai hidupnya yang berikut. Saat itu, Demartini berusia 17 tahun. Ia mengalami keracunan serius melalui strychnine poisoning yang berbahaya hingga hampir menghabisi nyawanya. Tuhan dan nasib baik masih berpihak padanya. Ia diberi kesempatan untuk tetap hidup. Sejak saat itu, melalui perkenalannya dengan Dr. Paul Bragg, Ia terinspirasi untuk mendedikasikan hidupnya dengan menjadi seorang guru, konsultan, dan pilosof.

Dr. Paul Bragg adalah seorang guru berusia 93 tahun yang bijaksana, dan pendukung sikap hidup holistic. Karya Dr. Paul Bragg bersama para muridnya sangat luar biasa dalam menginspirasi Demartini. Hingga Ia memutuskan untuk mengikuti jalur ini dan mempelajari seluk-beluk menjadi seorang chiropractic dan peneliti klinis sehingga Ia dapat membantu menyembuhkan penyakit orang.

Sejak saat itu, Ia menenggelamkan diri dalam kajiannya pada hampir 28.000 teks dari berbagai disiplin ilmu pengetahuan; dimulai dari psikologi, filsafat, metafisik, teologi, neurologi, fisiologi.


Dalam perjalanannya Ia menemukan banyak hal yang membukakan matahatinya. Ia pernah mengenal dan bekerja bersama seorang pengusaha di Afrika selatan yang mencapai sukses sebagai pengusaha tanpa pernah melewati jenjang sekolah tinggi. Pengusaha tersebut dulu sempat berpikir tidak akan pernah mencapai kesuksesan sebanding dengan mereka yang mempunyai gelar pendidikan. Demartini menanyakan padanya apa yang membuatnya special dan mengapa tanpa pendidikan bisa memberikan sebuah manfaat baginya?

Ia berpikir dan menemukan 39 cara dimana ternyata sebenarnya tanpa melalui pendidikan formal dirinya lebih tergerakkan untuk maju, terpacu untuk dapat berinterkasi dengan lebih baik dengan banyak kalangan, Ia banyak menemukan apa yang dia butuhkan secara lebih baik,..hingga Ia berpikir dan merasa bahwa Ia sungguh berhak untuk dapat meraih kesuksesan dan mewujudkan karyanya. Jadi
Menurutnya adalah bukan apa yang terjadi pada kita dengan mengandalkan segala sesuatu yang datang dari luar, tetapi bagaimana kita nmempersepsikan semua itu dari dalam diri kita untuk dapat menentukan kesuksesan kita dan meraih pencapaian yang kita impikan.


28 pertanyaan berikut jawaban yang menyertainya bersamamu
Demartini telah memformulasikan 28 pertanyaan yang akan membantu kita dalam melepaskan kungkungan emotional. Ia menyebut ini dengan istilah “memecahkan pengalaman” (the breakthrough experience) karena mendorong kita menuju momen saat ini dengan membawa perspektif baru.

Menurutnya, hal ini penting untuk ditumbuhkan karena kita selama ini terbius dalam satu sisi cara pandang dan satu sisi kehidupan. Kita ingin kebahagaan tanpa kesedihan atau kesengsaraan, ingin memberi tanpa menerima atau menerima tanpa memberi, ingin mendapat perlakuan baik tanpa ingin menerima perlakuan yang kurang menyenangkan, kesenangan tanpa penderitaan,..dan seterusnya. Padahal hidup ini selalu mempunyai dua sisi. Ada hal yang nampak bagus, namun juga hanya tampak pertengahan atau rata-rata saja, ada yang sulit namun juga ada yang mudah dalam hidup ini. Apa yang membuat the breaktrough experience yang dimilikinya unik adalah bahwa Ia tidak mencoba untuk mengajarkan kepada orang lain sebuah fantasi namun juga sebuah kegagalan hidup. Secara bertahap Ia mencoba menanamkan pada mereka sesuatu yang realistis, sebuah perspektif yang seimbang sehingga mereka dapat mempunyai sebuah fondasi yang kuat bagi diri mereka sendiri.


Demartini menyarankan untuk segera mencatatkan apa saja yang menjadi tujuan di ujung kepala kita yang paling puncak karena Ia muncul bukan seperti perintah atau aturan khusus yang tiba-tiba datang secara spontan. Hari berikutnya baca kembali, organisasikan, dan perhalus atau menyaringnya. Kemudian baca lagi pada hari berikutnya,…tambahkan, saring, modifikasi dan prioritaskan dalam sebuah daftar.

Terlepas dari ini,kita juga perlu menuliskan tujuh tahap tindakan. Tanyakan pada diri sendiri langkah apa saja yang akan diambil pada hari ini, yang akan membawa langkah kita lebih dekat pada tujuan kita besok harinya. Pada ujung hari, lihat hal-hal yang telah kita lakukan dan coret semua itu dalam daftar.

Pada hari berikutnya, tulis lagi tujuh tahap tindakan selanjutnya. Beberapa diantaranya mungkin hanya sebuah pengulangan, namun tidak menjadi masalah. Bersama setiap hari yang kita lalui, kita akan melihat kejelasan dalam tujuan kita dan kita akan memahami bahwa kitalah yang menyesuaikan dan mencocokkan dalam setiap tahap tindakan yang kita lakukan.

Demartini percaya bahwa tujuan hidup yang kita miliki berkembang seiring dengan pertumbuhan usia, dan oleh karena itu, mencapainya menjadi sebuah proses perjalanan (journey) bukan tujuan akhir (destination). Bagi mereka yang tekun dan gigih dalam melakukan dan menjalani apa yang mereka sukai, pada akhirnya akan menciptakan kehidupannya sebagaimana yang mereka sukai. Jika kita mengambil satu atau lebih tindakan setiap harinya menuju semua itu, maka kita akan mengalami kemajuan ke arah sebuah kehidupan sebagaimana yang kita inginkan.

Dulu Ia memimpikan untuk dapat mempunyai kesempatan berkeliling dunia, menginjakkan kaki pada setiap negara yang ada di dalam peta. Masih ada beberapa negara yang belum dapat Ia kunjungi saat ini..namun pada saat yang bersamaan juga Ia menyadari bahwa Ia telah dapat memujudkan mimpi Ia yang dulu dan memenuhinya dengan sangat baik.


Langkahnya sendiri dulu dalam mencapai berbagai tujuannya dimulai dengan belajar membaca. Sebab hingga usiannya yang ke 17 Ia masih belum dapat membaca dengan benar. Sebagaimana yang diutarakannya, pada usia 17 tahun, saat itu Ia mengambil sebuah buku dan membacanya halaman demi halaman. Pada saat itu Ia mengalami gejala dyslexia bahkan hingga 5 tahun yang lalu pengaruh gejala tersebut masih sangat kuat menyiksanya. Namun, lambat laun, penyakit itu pelan-pelan berkurang sejak Ia mencoba mengembangkan metodeloginya, yang disebutnya, The Demartini Method, untuk membantu menghilangkan kesulitan-kesulitan itu karena penyakitnya. Saat ini Ia malah begitu akrab dengan dyslexia dalam pekerjaan yang digelutinya.


The Demartini Method

The Demartini Method, singkatnya, membantu orang dalam mengintegrasikan pikiran dan otak mereka untuk dapat berfungsi dengan lebih baik. Metode tersebut adalah serangkaian pertanyaan yang ditanyakan seseorang terhadap dirinya sendiri. Pertanyaan-tertanyaan yang bersifat probing atau penyelidikan ini cenderung untuk membawa pada keseimbangan persepsi kita serta membuka hati kita agar hanya dapat dipenuhi dengan rasa syukur, cinta, dan mengakui serta memberikan apresiasi pada diri kita dan orang lain di sekitar kita.

Menurutnya, cara ini dapat menghilangkan kungkungan emosional yang berasal dari dalam diri kita dan orang-orang sekitar kita. Cara ini bahkan membuat kita menjadi lebih terinspirasi dengan hidup kita. Bukankah kita adalah kapten dan nakhoda dari kapal kita sendiri? Realitanya adalah bahwa kita dapat menyesuaikan jalan hidup milik kita sendiri. Sejak Ia hampir menemui ajal pada usianya yang ke 17 tahun itu, Demartini telah belajar sesuatu yang baru, dan telah mengubah jalan hidupnya. Ia mengubah jalan itu berkali-kali. Menurutnya, kita mempunyai kapasitas dan kemampuan dalam mempersepsikan sebuah kejadian ke dalam cara-cara yang tak terhitung jumlahnya. Selanjutnya bagaimana kita mempersepsikan semua itu hingga dapat membawa arah jalan yang ingin kita ambil. Jadi, meskipun ada yang namanya takdir tuhan (divine design) namun menurutnya kita dapat mempunyai kapasitas dan kemampuan untuk dapat mengubah dan menyelaraskannya dan sisi manusia kita akan menyesuaikan diri bersamanya.

Sebagai ilustrasi pada poin ini, Demartini membawa kita pada kejadian saat usianya 17 tahun ketika Ia memakan tumbuhan strychnine yang beracun itu. Ia juga mengalami masalah kekacauan syaraf dan harus melalui waktu 12 tahun untuk dapat menghilangkan gejalanya. Melalui kejadian ini, Ia tidak pernah lagi merokok. Ia juga hanya terfokus untuk mempelajari hukum-hukum kehidupan. Sehingga momen hampir meninggal tersebut mengubah sejarah jalan hidupnya.

Ketika itu Ia bergabung dengan kelas yang diasuh Dr. Paul Bragg. Ia mengajarkan tentang tubuh, pikiran dan semacamnya yang menginspirasikan Demartini untuk melakukan hal yang sama bersama orang lain, berbagi ide dan gagasan yang mungkin dapat membantu mereka dalam meluaskan hidup mereka dan membawanya kepada kehidupan yang lebih bermakna.

Pada saat usianya 24 tahun, Demartini telah dapat meraih gelar sarjana di bidang ilmu Biologi dan Biokimia dari Universitas Houston pada tahun 1978. pada usianya ke 28, Demartini menerima gelar Doktor dari Texas Chiropractic College dan lulus dengan magnum cum laude.

Ia kemudian memulai karirnya dengan membuka praktik sebagai seorang chiropractic. Pada tahun 1984, Demartini memulai karir ceramahnya, terutama dalam penyampaiannya pada organisasi-organisasi kesehatan dan perawatan. Selama beberapa tahun selanjutnya karir ceramahnya menyita banyak waktunya hingga akhirnya Ia memutuskan untuk full time di bidang ini.

Karya John Demartini juga telah menarik banyak perhatian di Afrika Selatan dalam membantu meningkatkan mutu pendidikan. Ia telah menjalankan berbagai program bagi para remaja dan para mahasiswa muda tentang bagaimana menetapkan nilai (value determination), dengan menghubungkannya dengan kurikulum, tujuan dan kebutuhan di dunia kerja. Sistem yang digerakkan oleh seluruh nilai-nilai ini digabungkan dalam sebuah kurikulum sekolah.

Demartini mengatakan bahwa cara ini telah mengakibatkan meningkatnya tingkat kehadiran siswa di sekolah. Para siswa menjadi lebih tertarik untuk membaca dan daya ingat mereka pun meningkat. Mereka kini tahu bagaimana merancang tujuan dan menciptakan tingkat kepercayaan dirinya. Mereka juga belajar tentang cara berkomunikasi secara efektif sehingga dapat mengurangi konflik yang muncul.
Ia mengatakan, Jika Ia sebagai orangtua, maka ia akan menciptakan bagaimana menggunakan teori ini untuk menjadi orangtua yang efektif. Jika anda ingin menghubungkan apa yang menginspirasi anak anda dengan apa yang ingin anda ajarkan, Misalnya, anak anda menyukai video games, maka kita jangan mengganggunya. Karena mereka akan selalu menyukai untuk memelajari tentang apa yang menginspirasi mereka, bukan apa yang menginspirasi anda para orang tua. Jadi, apabila matematika atau geografi yang ingin anak anda pelajari, adalah tugas anda untuk menemukan cara bagaimana mengajarkan ini semua melalui video games yang digemarinya.dan seterusnya.

‘The world’ is his oyster
John Demartini melakukan perjalanan hampir 300 hari dalam setahun. Terkadang Ia naik kapal pesiar bernama TheWorld, dimana Ia melangsungkan berbagai workshopnya. Ia mempunyai rumah di Houston, New York dan beberapa di Australia, namun Ia jarang menempati rumah-rumahnya ini. Ia lebih banyak menghabiskan waktu dalam perjalanan. Sang isteri meninggal secara mengejutkan sekitar tiga tahun yang lalu akibat terserang penyakit kanker, meskipun baru-baru ini Ia telah menemukan cintanya yang lain.

Ia mempunyai tiga orang anak. Dua orang sudah masuk perguruan tinggi. Ia mengatakan, Ia tidak pernah memaksakan anaknya untuk melakukan apa yang diinginkannya. Ia hanya meminta anaknya mengikuti caranya menjalani hidup namun merekalah yang memutuskan apa yang ingin mereka lakukan dalam hidupnya.

Pada tanggal 3 februari lalu, John datang ke Dubai untuk mengisi ceramah. Kedatangannya membawa 35 tahun studynya tentang perilaku manusia (human behaviour) dan memaksimalkan potensi manusia (maximising human potential). Pada kata-kata terakhirnya yang dapat aku kutip di majalah itu, Ia mengatakan “ I am going to help inspire whoever happens to be in front of me to live their lives absolutely to the fullest…”

Semoga bisa menginspirasi …. 
makasih buat Bayu yang dah pinjemin beberapa foto cantiknya buat ngisi blogku..:)

Tuesday, May 19, 2009

Pekatnya Sisi Lain Dubai (Part I)

Rabu, 20 Februari 2008


Suatu malam aku dikejutkan oleh suara tangisan seorang perempuan dari balcony. Mungkin saat itu sudah jam dua atau tiga pagi. Ameera temanku asal Morocco meledakkan tangisnya pada dini hari itu. Saat itu aku hanya sayup-sayup mendengar dari balik selimut Ia sedang berbicara dengan seseorang melalui mobilenya. Tangisan itu terasa dalam. Seakan Ia menyimpan sesuatu yang begitu perih di balik kemolekan parasnya. Ia berbicara dengan bahasa yang hanya kumengerti sedikit-sedikit. Meskipun begitu aku tahu Ia amat terluka hatinya. Meskipun aku tidak tahu persis hal apa yang begitu membuatnya teramat bersedih.

Ameera datang ke Dubai kira-kira setahun yang lalu. Ia berprofesi sama seperti aku, waitress. Sebuah pekerjaan yang banyak orang meremehkannya. Ia bekerja di sebuah restoran sekaligus discotic yang dimiliki dan banyak dikunjungi oleh orang-orang arab. Ameera tidak bisa berbicara bahasa Inggris. Ia hanya mengerti bahasa perancis. Tapi Ia juga malas mengasah percakapan bahasa Inggrisnya. Sementara bukan hanya bahasa Arab yang dominan, akan tetapi Inggris juga luas digunakan sebagai bahasa resmi di Dubai. Selebihnya bahasa Hindi, Tagalog dan Perancis.


Perkenalanku dengannya berawal ketika Ia menyewa tempat tidur di kamar kami sekitar dua bulan yang lalu. Setiap malam Ia berangkat sekitar jam 8, dan pulang pada sekitar jam 3 dini hari. Pada saat kami terbangun, kadang Ia tertidur. Banyaknya penghuni yang menempati kamar kami, tentu menimbulkan keributan yang kadang membangunkannya. Terutama ketika diantara kami ada yang off hari itu. Ketika ia terbangun, Ia pun bergabung dengan kami bersenda gurau, berdansa, dan tertawa. Kadang aku iseng merekam kegiatan yang berlangsung dengan kamera digitalku. Pernah aku mewawancarainya seakan aku seorang penyiar dan Ia narasumbernya dengan bahasa arabku yang masih belum lancar, hee…Pertemanan kami kadang menghiburnya.

Sekitar sebulan yang lalu, aku jarang melihat Ameera pergi pada malam hari. Seringkali Ia hanya seharian tidur di kamar. Terlebih ketika Ia mengalami sakit perut setelah makan hilwah pemberian Shereen, teman kamar Egyptianku. Saat itu aku dan Shereen menyiapkan teh hijau khas morocco yang membuat kondisinya lebih baik. Saat itu Ia bilang padaku dalam bahasa arab : “bilams ana maridhah, elyoum ana maridhah, bukra ana maridhah, khalats, anarruhul mustashfa..,” intinya kalau sampai besok masih tetap sakit, dia pasti masuk rumah sakit.


Suatu hari aku, Ameera dan Shereen bercakap-cakap. Shereen yang mengerti bahasa Inggris sangat membantuku berkomunikasi dengan Ameera. Saat itu kami membicarakan masalah sulitnya hidup di Dubai. Ameera menanyakan apakah ada lowongan di tempatku bekerja. Saat ku tanyakan alasannya, Ia bilang sudah sebulan ini Ia bekerja di restoran ini. Sebelumnya Ia bekerja di sebuah hotel yang menjamin penghasilan lebih hingga Ia bisa menyewa sebuah kamar yang nyaman untuk dirinya sendiri. Tempat kerja sebelumnya memang menyediakan visa kerja selama tiga tahun, dan ia masih memiliki sisa dua tahun lagi untuk bisa diakui secara legal sebagai pekerja di Dubai. Namun tempat kerja yang disukainya itu direnovasi dan terpaksa ia menganggur saat ini. Renovasi tersebut kemungkinan berlangsung hingga dua tahun ke depan. Waktu yang cukup lama untuk menunggu hingga tempat kerjanya buka kembali. Untuk bisa survive, Ia ditawari bekerja di restoran yang sekaligus diskotik sebagaimana yang Ia sebut markaz ‘arabee. Ia tidak senang bekerja di sana. Yang kutangkap dari kata-katanya, customer yang datang sering “tidak sopan”. Kadang aku memang melihat aura tidak mood ketika Ia malam-malam harus pergi bekerja dengan persiapan dandanan yang cukup lama itu. Meskipun jam 8 berangkat, namun sejak jam setengah tujuh dirinya sudah mematut-matut diri di depan cermin dengan seperangkat alat kosmetiknya.


Dari obrolan sesekali dengannya dapat kusimpulkan bahwa kini Ia menganggur sama sekali. Pekerjaan terakhirnya sebagai waitress di tempat yang Ia sebut Markaz ‘Arabee itu ditinggalkannya. Ia berniat mencari pekerjaan baru selama visa kerjanya masih berlaku hingga dua tahun lagi ke depan. Sesekali Ia pergi pada larut malam sekitar jam 10 atau jam 11 belakangan ini. Kadang aku menggodanya kalau Ia mau ngedate bersama habebenya (pacarnya). Sedikit-sedikit Ia terbuka bahwa Ia punya pacar orang mesir. Pernah Ia memperlihatkan barang-barang pemberian pacarnya itu. Sebelumnya Ia sempat bilang bahwa selama dua bulan ini Ia survive karena kebaikan temannya. Mungkin temannya itu adalah pacarnya. Atau sebaliknya pacarnya itu temannya. Hee..

Aku terkadang menemukan Ameera dalam kegelapan di ruang dapur pada larut tengah malam saat aku pulang kerja kalau sedang shift malam. Kalau sudah begitu, aku hanya menyapanya sekadarnya saja dan membiarkannya. Mungkin dia sedang berfikir dan ingin sendiri. Terkadang juga aku melihatnya hanya terbaring di tempat tidur dengan pandangan menerawang dalam rentang waktu yang cukup panjang. Pada saat itu pun aku tidak ingin terlalu mengajaknya bicara atau menggodanya. Khawatir mengganggunya. Pernah Ia marah besar pada Amu teman kamar Indiaku yang tidur dikasur atas dekat dengan tempat tidurnya. Pemilik kamar mengikatkan besi pada tempat tidur Amu menyatu dengan besi pada tempat tidur Ameera untuk mengokohkan posisi tempat tidur Amu. Amu yang aktif turun naik tempat tidurnya, mengganggu Ameera saat sedang istirahat. Aku bisa melihat kekesalan yang dalam bercampur perasaan tertekan yang ada di diri Ameera. Sementara akupun merasa kasihan pada Amu sebab sulit untuk tidak menimbulkan suara atau gerakan pada saat Ia turun naik tempat tidurnya. Amu yang tidak bisa bahasa Arab mencoba membela diri : “ what can I do ? “ . Tiba-tiba Ameera datang dengan membawa sebilah pisau dan memotong tali yang mengikatkan kedua tempat tidur mereka, dan mencoba menggeser agak jauh posisi tempat tidur keduanya. Amu hanya diam dengan wajah sedih bercampur kesal dan takut. Kata-kata Ameera yang berulangkali diucapkannya Ana crazy…Ana crazy…khalats…Ana crazy…sambil menujuk-nunjuk keningnya sendiri.


Awalnya aku tidak terlalu perduli dibalik kehidupan Ameera. Namun, aku hanya merasa tersentuh mendengar pertama kalinya Ia menangis. Dan tangisan itu bagiku bermakna dalam. Shereen terbangun dan mendekatinya. Mereka bercakap-cakap dalam bahasa arab. Ada perasaan lega ketika Shereen mencoba menemaninya. Shereen memang lebih dekat dengan Ameera karena banyaknya kesamaan yang mereka miliki terutama bahasa. Akupun mencoba kembali tidur dalam sayup-sayup suara mereka berdua. Sebab jam 5 pagi aku harus bangun untuk bersiap-siap ke tempat kerja. Apalagi aku merasa lelah karena hari sebelumnya aku dapat shift malam.

Tangisan Ameera malam itu tetap menyisakan bekas dalam diriku. Aku dapat membayangkan, betapa membosankan dan tidak menyenangkannya hidup sebagai pengangguran, atas bantuan orang lain, dan di negeri orang. Dubai segala sesuatunya serba mahal. Betapa sulit bagi Ameera yang mungkin terbiasa mempunyai uang dan tinggal di tempat yang nyaman dan privat. Aku hanya berharap kelak ada jalan untuk Ameera bisa secepatnya memperoleh pekerjaan baru sebagaimana yang diinginkannya.

Selain Ameera, ada juga Ranggana, Amu, Shereen, Catu, Tere, Farsana, Joy, dengan ceritanya masing-masing. Masih mau nyimak bukan? : )

Bersambung ………

Dubai dan Tempat Kos Baru

Senin, 11 Februari 2008

Ini adalah flat kelima yang aku tempati sejak dua bulan yang lalu. Flat ini cukup nyaman dan cukup udara. Meskipun dalam satu kamar berukuran kira-kira 6x7 meter. Kamarku sekarang ini ada balconynya. Dalam sekamar kami bersembilan. Dua orang adalah sepasang suami istri semacam pemilik kamar yang menyewakan kamar yang disewanya. Suaminya adalah rekan kerjaku di restoran. Pemilik kamar yang asli ada di ruang yang lain. Mereka sepasang suami istri yang berbeda agama berkebangsaan srilangka. Suaminya beragama muslim sementara istrinya nasrani. Sebenarnya ruangan yang mereka gunakan awalnya adalah ruang tamu. Namun akhirnya digunakan sebagai ruang pribadi mereka. Dalam flat kami ada 8 ruangan. 5 ruangan adalah kamar. Meskipun dalam satu kamar tidak hanya satu group penyewa. Bisa tiga pasangan suami istri, atapun pun suami istri dan para single baik laki-laki single maupun perempuan, dengan menggunakan partisi untuk menyekat ruang masing-masing. Dua ruangan adalah kamar mandi dan toilet. Satu toilet ada di salah satu ruang kamar. Satu ruangan lagi cukup besar adalah dapur. Dimana ruangan ini tempat pertemuan satu sama lain untuk sekedar berbagi cerita, dan lain-lain.


Gedung tempatku tinggal cukup megah. Ditengah-tengahnya di sediakan ruangan terbuka sehingga gedung ini cukup punya udara. Dilantai tiga malah ada semacam ruangan besar terbuka yang bisa kulihat dari lantaiku lantai enam. Setiap sore kalau kebetulan aku sedang off atau masuk pagi, sesekali kusempatkan untuk melihat anak-anak tetangga flatku sedang bermain bola. Dubai dan kehidupannya sangat kontras dengan sukabumi ( hee..) sebagai kota kecil Jawa barat dengan kehidupannya. (ya iyya lah..hee..) Di Sukabumi sana, antara satu rumah dengan rumah yang lain saling mengenal hingga jarak terjauh sekalipun. Di sini, satu gedung yang terdiri dari sejumlah flat bisa dianggap sebagai satu RT atau RW atau kelurahan. Tapi antara satu flat dengan flat lainnya saling acuh. Mungkin hanya dalam satu fl
at yang masih memungkinkan untuk bertegur sapa dan hanya sekadar berbagi cerita.

Di dalam flat yang sekarang ini, terdiri dari ragam bangsa juga. Dulu, aku tidak kenal dengan bangsa Myanmar, sekarang sahabat-sahabat baruku itu menempati kamar lain bertetanggaan denganku. Mereka punya aksen yang khas ketika berbicara bahasa Inggris. Seperti bercampur dengan dialek bahasa cina. Kadang cukup sulit untuk bisa memahami maksud percakapan mereka. Di kamar lain aku punya tetangga Srilangka kakak beradik yang cukup dekat denganku. Ada juga sepasang suami istri antara suaminya yang berbangsa Nepal dengan isterinya yang filipina. Dan sepasang Nepal lainnya. Sementara di kamarku, adalah para jomblo-jomblo yang datang dari negara berbeda-beda. (Ha….ha.. kaciaaan…deh. ) Mungkin cuma Amira temanku asal Morocco ini yang punya pacar. Tapi aku juga tidak tahu pasti. Atau juga Shirin temanku Egypt ini. Tapi mungkin juga dia punya pacar, hanya suatu hari dia bilang padaku ana mauhib. Maksudnya ga cinta. Tahu kan Shazia temanku yang berkebangsaan Pakistan? Dia salah satu temanku yang paling dekat. Dia pun jomblo. Meskipun teman laki-lakinya yang dekat ada. Katanya mau cari bule aja. Ha..ha.. heran..sampai kapan sih bule selalu jadi central. Caappee ddeehh...


Mungkin sulit membayangkan sekamar bersembilan bagi mereka yang biasa hidup enak; sekamar sendiri lengkap dengan pasilitas pribadi lainnya termasuk kamar mandi di dalam. Tapi di Dubai, jangan bermimpi bisa memperoleh itu semua betapapun kita tidak terbiasa di tanah air sana. Tempat tidur yang disediakan biasanya bertingkat. Tempat tidurku ditingkat atas. Tempat tidurku menghadap ke balcony. Karena aku tinggal di lantai enam, aku bisa leluasa melihat ke luar dengan ketinggian itu melihat aktivitas orang-orang di kejauhan sana langsung dari tempat tidurku. Seperti nonton televisi berdimensi banyak. He..Bagiku, sekamar dengan banyak orang seperti ini seperti di pesantren dulu. Kalo dibandingkan sih, flatku jauh lebih nyaman dibanding asrama pesantrenku dulu. Lagipula kami sudah seperti keluarga. Mereka hangat dan bersahabat. Kamar, kami gunakan sebagai aktivitas pribadi. Sementara, kalau ingin “sedikit buat keributan” , kami bisa berkumpul di ruang dapur atau ke luar teras depan.


Buat mereka yang ingin sedikit lebih baik mempunyai tempat tinggal, minimal harus mempunyai penghasilan tetap sekurang-kurangnya 10.000 -15.000 dirham. Silahkan untuk menikmati satu buah flat sederhana dengan luas gedung kurang lebih 8x7 m2. dengan harga sewa kira2 60.000-70.000 dhs pertahun. Tapi, tinggal bersama orang lain yang sudah kita kenal atau paling tidak berprilaku baik, lebih dibutuhkan di Dubai ini. Tinggal sendiri dalam satu flat pasti akan sangat sepi. Kehidupan di sini kering dan sangat individualis. Mempunyai pasangan seperti sudah sebuah keharusan bagi hampir semua orang di sini. Setiap orang setiap harinya hanya disibukkan dengan pekerjaan dan gaya hidup konsumtif lainnya; shopping, clubbing, dan kegiatan hiburan lainnya. Bagi single yang hidup di Dubai, ujian yang sangat berat hee..terutama buat para bujangan.


Bagaimana sisi lain dari kemegahan Dubai ? ada di cerita selanjutnya…masih mau nyimak bukan? : )

Hari libur Bush nasional

Kamis, 1 Januari 2008

Dua malam yang lalu pemilik flatku bertanya apakah aku besoknya libur? Dia bilang esok hari, tepatnya tanggal 14 januari semua jalur jalan akan ditutup. Semua kegiatan kantor libur. Sekitar tiga hari yang lalu, temanku asal Myanmar yang bekerja di kawasan Mall of Emirate sebagai seorang beauty consultant bilang bahwa minggu ini Ia punya libur dua hari. Pada saat itu aku tanyakan kenapa dua hari, tapi Ia sendiri tidak tahu.

Karena minggu ini jadwalku pagi, pada tanggal 14 itu, pagi-pagi sekali aku sudah bangun dan seperti biasa menunggu jemputan dalam balutan angin pagi musim dingin dan derasnya hujan pagi itu. Kami melewati jalur yang tidak biasa karena jalur utama sudah ditutup. Barikade polisi lalu lintas memagari jalan kami. Kami pun memutar arah dan mencoba jalur lain. Dan tetap sama. Banyak jalur kami lewati dan hasilnya nol. Kami kembali pulang. jam 6.20 aku keluar gedung, sedikit berjalan karena mobil jemputan tidak mau memasuki area gedung tempatku tinggal. satu jam empat puluh lima menit kami habiskan di jalan yang seharusnya jarak tempuh tempatku bekerja hanya 30 menit pulang pergi.

Restoran kami tidak jadi buka. Kami tidak menemukan jalan yang kosong dari penjagaan. Managerku kecewa, sebab insting bisnisnya untuk memperoleh pendapatan lebih sebagaimana perkiraannya, terpaksa sia-sia. Dari informasi televisi, beberapa jalur utama lalu lintas akan serempak ditutup pada tepat jam 8.00. nyatanya sejak jam 6.40 an, banyak jalur lintas utama yang sudah ditutup. Jalanan macet oleh kendaraan yang hendak melintas tapi terhalang petugas. Ada yang berbalik arah, ada yang berbelok ke arah yang lain, ada juga beberapa kendaraan yang turun dari mobil. dan berhadap-hadapan dengan petugas. Dari dalam mobil kuperhatikan mereka beradu argumentasi. Tampak wajah-wajah kecewa menghiasi mereka para pengguna jalan. Namun tampaknya sia-sia saja. Ada juga yang berbicara sambil menunjuk jam di tangannya. Barangkali penutupan jalan ini menghambat berbagai rencananya. Kenyataanya jadwal penutupan jalur lintas ini dimajukan tanpa konfirmasi pada public. Semua ini terjadi karena Presiden Amerika George W. Bush akan datang.

Luar biasa. Seorang Bush bisa menggoyang sehari berbagai rencana yang sudah dipersiapkan banyak orang. Ada yang mungkin hendak melahirkan terpaksa menahan sakit sebentar karena antrian mobil menuju arah rumah sakit tertahan petugas. Ada yang mungkin hendak mengejar pesawat untuk pulang menjenguk orang tua yang sudah sekarat atau koma, ada yang bertugas mengantar delivery makanan skala besar untuk restoran-restoran atau hotel atau supermarket, yang mungkin saja isinya kue-kue basah dan pastries ala restoranku seperti tart, cheese cake, roti, soup, terpaksa agak sedikit kurang sempurna karena keterlambatan di jalan. Seperti croissant yang jadi agak alot misalnya. Dan masih banyak lagi contoh yang lainnya. Ah Bush…Bush…gara-gara kamu minggu depan aku tidak akan dapat off. Karena pada hari kamu datang, kami tidak jadi masuk. Padahal, paginya aku tetap harus bangun, kehujanan, kedinginan, menunggu jemputan. Pada jam 4 sore, jalanan sudah kembali dibuka. Beruntung temanku yang kebagian shif siang, mereka punya kelonggaran waktu terlambat tapi tetap mendapatkan off minggu depan. Nasib…nasib….hheee…
Bush..Bush…

Tahun Baru dan Resolusi

Kamis, 17 Januari 2008

Semoga belum terlambat, selamat tahun baru buat para pengunjung blogku.Tahun baru kali ini sebagaimana tahun baru sebelumnya masih sama. Bedanya aku bertahun baru di Negara orang bersama teman-teman baru dan tentu saja lingkungan dan suasana baru. Di sini dingin dan sedang musim hujan. Ternyata Dubai bisa banjir juga!! Hee..hujan selalu punya kesan khusus buatku. Aku selalu menyukai bau hujan. Rasanya damai. Apalagi ketika airnya menyentuh tanah. Rasanya tanah dan aku satu darah daging. Meskipun dingin sekali, menikmati turunnya hujan di Dubai adalah kesan tersendiri buatku.

Pada tahun baru kali ini, tidak ada yang special secara yang biasa umumnya orang lakukan. Tiup terompet, jalan-jalan, party, atau beragam perayaan lainnya. Aku bisa saja membuat ini special meskipun dengan caraku sendiri. Tapi juga aku bisa membuat pergantian tahun ini biasa saja.

Semakin hari aku hanya semakin menyadari bahwa hidup ini singkat. Semakin hari aku semakin tidak ingin menyiakan-nyiakan waktu. Bagaimanapun keadaannya, aku harus selalu dapat menikmati hidup yang ku jalani. Setiap hari adalah istimewa. Setiap hari adalah sebuah pencapaian tertentu.


Sudah hampir genap 11 bulan aku tinggal di Dubai. Semakin hari aku semakin mengenal kawasan ini. Semakin hari aku semakin dapat menyesuaikan dan berkompromi dengan banyak situasi disini. Sejauh ini, alhamdulillah aku baik-baik saja. Kadang sepi melanda, kadang juga rasa bosan datang. Tapi aku selalu bisa mengatasinya dengan menghadirkan mimpi-mimpi yang ingin ku wujudkan satu persatu sebelum tiba saatnya Tuhan memanggilku. Lalu aku bangun lagi, tersenyum, dan menjalani hari-hari seperti biasa. Apa yang tidak membuatku jenuh adalah rasa ingin tahuku tentang banyak hal, dan justru aku tidak tahu apa yang menyebabkanku kadang-kadang timbul rasa bosan.

Suatu hari aku menelepon ibuku, aku bilang aku kangen makan mie ayam dan bubur ayam kesukaanku, kangen makan nasi panas, plus sayur asem, plus tempe goreng, sambel tomat, atau terasi, plus ikan asin. Wwuuuiiihh….yami banget. Apalagi di sini lagi musim dingin. Kadang hujan rintik seharian. Sebuah paket kenyamanan yang begitu indah. Hhmmm…apa boleh buat, aku harus berkompromi lagi. Disini tidak ada tempe. Ada di Karamah. Harus pakai bus untuk ke sana. Hanya ada Tahu. Akhirnya aku masak Tahu goreng, sambel tomat, ikan asin dan sayur sup pakai sosis. Lumayan…hee..

Pada setiap orang yang kukenal yang ku jumpai, selalu kutanyakan apa resolusi mereka di tahun ini. Jawabnya beragam. Mungkin aku bisa menyontek beberapa dari resolusi mereka. Nyatanya, aku punya resolusi sendiri. Ada 8 buah resolusi yang kubuat. Kenapa 8, tidak tahu. Bukan pula karena tahun ini 2008. Semua resolusi ini masih kurahasiakan. Sebelumnya aku tidak punya resolusi. Semuanya mengalir. Terus terang, baru kali ini aku punya resolusi. Dan resolusi yang ku buat cukup menantang bagiku.


Mempunyai resolusi menurutku bisa membuat hari-hari menjadi lebih hidup. Tidak monoton dan rutin. Hari-hari yang kita lalui memang harus selalu hidup dan layak dimaknai dan dirayakan. Sedih, senang, sepi, patah hati, jatuh cinta, patah hati lagi, sedih lagi, jatuh cinta lagi, senang lagi … hanya bagian dinamika hidup. Tidak ada kata menyerah. Semua itu justru membuat kita tambah kuat.

Kalau temanku bilang, sebesar apapun badai, sederas apapun hujan, ia yakin bahwa semakin dekat langkahnya pada takdir. Aku kira begitu. Apa itu takdir, menurutku diantaranya adalah kegelisahan dan kata hati yang selalu memanggil untuk diwujudkan. Kejarlah panggilan hati itu. Panggilan hati itu hanya kita yang merasakan. Kemanapun arah angin membawa, panggilan hati tidak akan mati. Ia selalu meminta kita untuk mewujukannya. Wujudkan itu. Selagi nafas masih bersatu dengan raga, jangan pernah memunculkan kata “tidak mungkin”….sekali lagi, selamat tahun baru dan selamat mewujudkan mimpi kita satu persatu…

Untuk Linda

Minggu, 23 Desember 2007


Dua insan atas nama cinta dipertemukan. keduanya lahir, tumbuh, dan dibesarkan oleh lingkungan yang berbeda, oleh tradisi, tata cara, dan adat kebiasaan yang berbeda. Keduanya menyadari bahwa mereka adalah dua sosok pribadi yang berbeda. Maka, tatkala mereka ingin membaurkan diri satu sama lain, perbedaan awal yang dimiliki bersama, yang mereka bawa, memang itu niscaya, dan tak mungkin disamakan.

Cinta bukanlah hanya sekedar kebersamaan bagi mereka, bukan sekedar saling memberi secara materi, bukan sekedar sebuah pengorbanan, atau hanya sekedar sebuah jalan kenikmatan penyaluran naluri seksual.

Tapi lebih dari itu, cinta sejatinya adalah sebuah semangat hidup, roh untuk terus-menerus tidak membuat pelakunya berhenti menemukan dan mengenali diri. Bagi mereka, cinta tidak boleh membuat orang yang merasakannya menjadi terasing, dan tercerabut dari eksistensinya, hingga ia tidak bisa lagi mengenal dirinya sendiri dengan utuh.

Itulah cinta yang ingin terbangun diantara mereka. Cinta yang bukan menguasai satu atas yang lainnya, cinta yang bisa membuat mereka lebih peka terhadap banyak hal yang membutuhkan sentuhannya.

Cinta yang jujur. Cinta yang agung. Cinta yang bermakna sebagai sebuah kebersamaan yang hidup, saling menguatkan eksistensi masing-masing, bukan menghancurkannya.

Mereka tahu, dunia yang terlihat, yang dialami, dijalani, dan yang dirasakan, memang bukan hanya sekedar pemenuhan urusan perut dan otak, bukan hanya semacam sekedar perlombaan mempertahankan gengsi dan harga diri semata. Ada banyak hal yang tidak tampak dipermukaan, yang ingin dimaknai juga secara seimbang. Dan yang mereka tahu, tidak banyak diantara manusia yang mau menyentuhnya.

Mereka ingin melihat orang yang dicintai tak lebih hanya sebagai seorang manusia biasa. Seorang manusia yang pada dasarnya sama seperti manusia lainnya. Satu sama lain bisa marah, menangis, cengeng, rapuh, manja, urakan, norak, nyebelin, cuek, jorok, dan banyak lagi. Mereka tahu bahwa keduanya tidak selalu seperti tampak di permukaan ; manis, ceria, tangguh, percaya diri, berani, semangat, pintar, dan lain sebagainya. Mereka ingin memperlakukan kekurangan dan kelebihan itu secara adil, melihatnya secara utuh. Sebagai seorang manusia biasa yang jauh dari sempurna. Dan juga sebagai manusia yang punya peran sejajar meskipun dibedakan oleh jenis kelamin.

Bagi keduanya, pernikahan sejatinya adalah sebuah institusi yang sangat sakral. Di dalamnya mengandung sebuah konsekuensi yang jauh dan tanggung jawab yang besar. Dibutuhkan kearifan di dalamnya. Setiap orang tentu ingin mengisi hidup dengan sesuatu yang membuat mereka bahagia dan senang menjalaninya. Dan mereka ingin kebahagiaan itu bisa mereka raih selama mungkin yang mereka bisa harapkan.


Di atas segalanya, mereka juga tidak tahu hingga kapan mereka bisa seiring sejalan. Mereka juga tidak tahu seberapa lama dan kuat sang chemistry tetap bertahan. Satu hal yang pasti yang mereka yakini bahwa persoalan jodoh, sama dengan maut. There’s always invisible hand.. Seperti halnya perjumpaan mereka….

Selamat mengarungi bahtera rumah tangga, Linda yang cantik ; )
Fishroundabout, Deira, Dubai, 23 Desember 2007

The 36-UAE National Day, Congratulation.....!!!!

Senin, 10 Desember 2007


Mengenang Saif Saeed Ghubash..
Berberapa waktu yang lalu tepatnya tanggal 2 - 3 Desember UAE merayakan hari jadinya yang ke 36. Perayaan ini di meriahkan oleh berbagai acara dan atribut yang melambangkan angka 36 dan bendera UAE. Hingga abaya yang dikenakan sebagian perempuan lokalnya pun diberi pita bercorak hitam, merah, hijau dan putih sebagai warna dari bendera UAE. Seperti di bundaran depan restoranku di sekitar kawasan Up Town mirdiff ini, penuh dengan orang-orang yang mengikuti aneka games dalam karnaval pada malam harinya. Ada juga pertunjukkan akrobat dan musik shows oleh artis-artis lokal. Tentu saja suasana ini menguntungkan restoranku yang juga letaknya sangat strategis. Hampir setiap malam padat pengunjung. Terutama pada saat weekend, kamis malam hingga sabtu malam, suasana bisnis di restoranku cukup sibuk hingga kadang kewalahan dan sebagian diantara kami telat untuk break. Selain karena menyambut hari jadinya ini, bulan Desember adalah juga jelang hari natal dan tahun baru. Dubai, dimana terdapat ragam budaya dan agama, juga tidak lepas dari atribut pohon natal di sana sini.

Berbicara tentang negara UAE sebagai negara muslim arab yang terbuka, tidak terlepas dari jasa seorang menteri negara pertama untuk urusan luar negeri Saif Saeed Ghubash periode 70 an. Siapakah dia? Mari kita mengenalnya lebih dekat melalui keluarga dan para sahabatnya:

Mutiara dari Ras Khaimah, salah satu negara bagian di UAE, sosok Saif Ghubash masih jelas teringat dalam lembar sejarah bangsa ini; modern, self-made --yang maju atas usaha sendiri-- , berpendidikan, terbuka, tapi pada saat yang sama ia juga orang yang memegang kuat pada akar tradisi. Bangsa ini tidak hanya mengenangnya pada masa hidupnya, namun juga saat kematiannya yang dramatis. Bukan hanya karena kematiannya disebabkan atas pembunuhan berencana dengan alasan yang tidak pernah jelas, namun juga karena Ia merupakan penggagas dan pelopor berdirinya UAE sebagai negara federasi dengan kerja kerasnya yang luar biasa.

Ghubash dibunuh pada tanggal 23 oktober 30 tahun yang lalu, di bandara Abu Dhabi saat sedang memberikan salam perpisahan pada mantan menteri luar negeri Syiria saat itu, Abdul Halim Khaddam yang sedang melakukan kunjungan ke UAE. Diduga, sasaran pembunuhan sebenarnya ditujukan padanya, namun peluru yang hendak menyerangnya meleset dan menewaskan Ghubash saat perjalanan ke rumah sakit saat itu.


Omar Saif Ghubash mengenang sang ayah sebagai seorang pekerja keras. Di ceritakan oleh rekan-rekan ayahnya di Jerman, Ghubash pernah bekerja di pertambangan di Jerman karena untuk menunjang kondisi keuangannya. Omar menyerukan untuk tidak melupakan sang ayah yang mempunyai kebebasan untuk melakukan perjalanan, memiliki kecerdasan dalam mempelajari dan menguasai berbagai bahasa dan berwawasan luas. Menurutnya, sang ayah sangat menikmati hidupnya. Sebuah percakapan yang menarik dan buku-buku yang bagus dan inspiratiflah yang lebih membuatnya senang dari pada mempunyai uang yang banyak. Kualitas hidup yang ditujukkan pada anak-anaknya adalah bahwa apapun tidak ada yang tidak mungkin dalam hidup ini serta nikmatilah hidup hingga tak ada lagi yang tersisa untuk bisa dinikmati.

Untuk itu, bagi Omar besaudara dan seorang ibunya yang berkebangsaan Rusia ini, setelah apa yang menimpa sang ayah dan rasa kehilangan yang tak mungkin bisa digantikan dengan apapun, duduk dan menangisi kepedihan hati atas rasa kehilangan yang terus-menerus bukan cara yang tepat, sementara pada saat yang sama ketika kita menoleh sekeliling dan menyaksikan ada banyak orang yang membutuhkan perhatian kita, itulah yang lebih utama. Bahwa kita harus peduli pada sekeliling kita sebagaimana kita juga membutuhkan kepedulian orang lain pada saat berada dalam posisi yang sama dengan mereka.

Menutur Omar, Ia mengenal ayahnya dalam caranya memandang hidup. Mengapa sang ayah sangat concern dalam melakukan banyak hal karena Ia mengerti dan paham atas penderitaan orang-orang. Ia juga belajar tentang pentingnya mengamati, berekplorasi, berfikir, dan untuk tidak berputus asa. Menurut apa yangdiceritakan ibunya, pada usianya ke 35, sang ayah tidak pernah putus asa meskipun tidak memilki uang sepeserpun. Meskipun usianya baru 6 tahun saat kematian sang ayah, Omar tetap bisa merasakan sosok sang ayah yang hangat, penuh cinta, kebaikan dan selalu siap mendengar setiap keluhan.


The prize – Banipal
Dalam kenangan Ghubash, keluarganya merupakan dukungan utama dalam memperoleh the Banipal Prize for Arabic Literary Translation. Penghargaan terhadap karya terjemahan yang digarap selama lima tahun ini adalah usaha yang lumayan memakan waktu. Karya yang dipublikasikan dalam bahasa Inggris inipun bertujuan untuk menambah literatur tentang profile dunia arab kontemporer serta bentuk penghargaan terhadap arti pentingnya karya-karya yang dihasilkan oleh para translator secara perseorangan. Hal lain yang lebih penting juga adalah dengan adanya tambahan literature ini akan semakin mendorong para penterjemah menghasilkan karya-karya terjemahan yang lebih banyak lagi, serta melalui ini pula dapat mempermudah barat dalam memahami dunia arab.

Salah satu sahabat dekat Ghubash adalah Zaki Anwar Nusseibeh, seorang wakil kepala kewenangan warisan dan kebudayaan Abu Dhabi dan sebagai penasihat menteri urusan kepresidenan. Ghubash dan Nusseibeh pertama kali bertemu ketika Ghubash bekerja pada keme nterian luar negeri sebagai sekertaris pada tahun 1971. Dia diperkenalkan oleh Dr Ebrahim Ebrahim yang membawanya pada acara kementerian untuk menyelenggarakan sebuah seminar bagi para diplomat baru. Dr Ebrahim berkata pada Nusseibeh : “ you have to meet this fantastic person. I wont tell you anything about him, just come and meet him “

Pada saat itu Nusseibeh menjabat sebagai penterjemah Shaikh Zayed Bin Sultan Al Nahyan. Dia juga bekerja di Departemen Informasi yang kemudian menjadi menteri
Informasi setelah negara federasi terbentuk.Diceritakan Nusseibeh, pertemuan pertama melalui makan malam itu mengawali sebuah hubungan persahabatan yang lama, dekat dan luar biasa. Menurutnya, Ghubash tidak seperti pada umumnya warga UAE. Secara kesan fisik, ia selalu mengenakan jas. Ia tidak pernah memakai kandoora seperti warga lokal UAE lainnya. Pada usia mudanya Ia adalah seorang yang memiliki pemikiran liberal bahkan kekiri-kirian. Yang mengagumkan pada diri Ghubash adalah betapa intelek dan juga berwawasan internasional seorang Ghubash yang dikenalnya. Tapi pada saat yang sama Ia juga sangat memegang kuat tradisi, budaya dan warisan yang dimilki Islam, Arab, dan UAE khususnya.



Sekilas mengenai perjalanan intelektualnya, Ghubash pada awalnya belajar Fikih dan Sharia di kota kelahirannya Ras Al Khaimah. Ia memulai dari sekolah dasar pendidikan arab dan Islam. Ghubash meninggalkan tanah kelahirannya pada usia 14 tahun untuk belajar. Tahun 1949, Ia pergi ke Bahrain dan masuk sekolah formal. Selanjutnya Ia berkeliling dunia belajar di berbagai negara tidak hanya bahasa yangdipelajarinya namun juga budaya dan peradabannya. Ghubash hidup selama bertahun-tahun dalam kondisi yang keras dan sulit ketika Ia berkeliling dunia. Ia harus tidur di mesjid-mesjid ketika Ia belajar di Bahrain sebab tidak sanggup membayar sewa kamar. Ia pun terpaksa harus bangun pagi sekali sebelum petugas datang dan bersiap untuk berangkat sekolah. Dalam perjalanan studinya di berbagai negara, Ghubash belajar banyak hal. Ia juga mendapatkan beberapa beasiswa. Gelar akademisnya di peroleh dari Itali, Jerman, Perancis dan terakhir di Rusia, dimana Iapun menikah di sana. Suatu kesempatan Ia pernah bercerita bahwa Ia menyewa jas untuk menikah karena Ia tidak memiliki satupun. Setelah memperoleh gelar sarjana, Ia kembali ke tanah air pada tahun 1969. Menurut Nusseibeh dia memiliki pengetahuan yang fenomenal mengenai sastra serta puisi-puisi tradisional dan modern tidak hanya sastra dan puisi arab namun juga Itali, Jerman, Inggris, dan Amerika.

Pada akhirnya ia menemukan jawaban mengapa Ghubash dapat menguasai semua itu sebab ia merupakan teman dari para penulis dan penyair muda yang berasal dari negara-negara yang ia kunjungi. Mengutip kesannya mengenai Ghubash, menurutnya Ghubash seorang yang mengagumkan,” the more you sat with him, the more you discovered what kind of a person he was; humane, a person of the world and a very strong supporter of the Palestinian goals”.

Menurut Nusseibeh, Ia ingat seorang wakil PLO di Itali, Waeel Zaitar, yang juga seorang penyair dan penulis, adalah salah satu teman dekatnya Ghubash. Ia juga dibunuh oleh teroris palestina. Namun saat Ia masih hidup, Ia sempat berkomentar tentang sahabatnya, bahwa Ghubash dimatanya adalah seorang yang internasional in outlook namun very Arab deep down.

Sosok Ghubash dikenal karena posisinya dalam memperjuangkan keadilan. Dalam kementerian, Ia dikenal sebagai seorang yang keras pendirian, moderat, dan tidak membawa pandangan-pandangan ekstrim apapun. Menurut Nusseibeh, tentu saja selalu ada pihak yang secara khusus menyerangnya sebab Ia belajar di Rusia, menikah dengan seorang berkebangsaan Rusia, selalu mengenakan jas dalam penampilannya, kekiri-kirian, dan selalu memperjuangkan keadilan dan kesetaraan sosial, meskipun demikian Ia bukan seorang yang revolusioner.



Dimata para sahabatnya, Ghubash adalah seorang yang cinta negaranya, seorang sahabat yang setia dan hangat. Ia juga seorang yang memilki semangat hidup, sederhana, rendah hati dan memiliki selera humor yang bagus. Ia juga menunjukkan penghargaan dan penghormatan terhadap para ahli dan konsultan dari negara-negara arab yang berasal dari Mesir, Iraq, Sudan, dan Jordania untuk membantu kementerian luar negeri UAE dalam merancang operasi dan prosedur-prosedur internalnya ketika pertemuan liga arab di mesir pada 1971 berlangsung. Ia juga terpengaruh secara emosional ketika konflik di dunia arab meningkat seperti perang sipil yang terjadi di Libanon dan konflik yang berlangsung antara Syiria dan Iraq. Pada pertemuan Liga Eropa-Arabpun, kemampuannya dalam memediasi dan mencapai solusi dan kesepakatan terbukti bahwa Ia seorang yang cakap dalambidang politik dan kapabel dalam membangun persahabatan yang kuat antar bangsa.

Ghubash dikenal sebagai seorang penulis yang berpendidikan dan berbudaya, Ia juga seorang pengarang, dan seorang ahli bahasa meskipun cita-cita utamanya menjadi seorang insinyur. Ia menyadari arti pentingnya seorang insinyur yang handal untuk membangun negaranya. Hingga akhirnya Ia baru bisa menyandang gelar insinyur setelah 20 tahun pengembaraannya di berbagai negara dan kembali lagi ke tanah air. Selama perjalanannya ke berbagai negara tersebut, Ghubash bekerja keras dan belajar untuk mengandalkan pada diri sendiri dan memanfaatkan setiap kesempatan untuk dapat mengenyam pendidikan. Dia juga belajar banyak bahasa dan bekerja pada bidang yang bermacam-macam di negara-negara Eropa sebelum memperoleh gelar insinyurnya dari Universitas Science dan Technology Leningrad.

Pengalaman yang Ia peroleh ketika perjalanannya pada negara-negara antara kapitalis dan sosilais ini memberinya pemahaman yang mendalam pada bidang politik, public relation, dan kontradiksi-kontradiksi sosial. Selain itu, hal ini juga membantunya tumbuh melampaui perannya sebagai seorang insinyur yang handal sekaligus seorang intelektual dengan sebuah visi untuk membangun negaranya. Ghubash sangat menggemari karya-karya dari Albert Camus, Jean Paul Sartre dan Moliere setelah dia belajar bahasa Inggris di Bahrain dan bahasa Perancis di Paris.



Semua yang Ia pelajari dimanfaatkannya ketika Ia kembali ke tanah kelahirannya Ras Al Khaimah. Ia memainkan peran yang sangat vital dalam perencanaan di bidang agrikulrura, wilayah-wilayah penghunian, mendesign peta, mengorganisir kepemilikan dan survey-survey lahan serta mewujudkan proyek-proyek di bidang transportasi dan lingkungan. Semua pengetahuan dan wawasan budayanya yang tersebar luar melalui artikel-artikelnya, dipublikasikan oleh majalah Ras Al Khaimah.

Ketika negara federasi UAE terbentuk dan berdiri pada tahun 1971, Ghubash adalah salah seorang diantara yang pertama kali menggambarkan bentuk negara federasi. Shaikh Zayed Bin Sultan Al Nahyan sebagai seorang yang ahli dalam memahami karakter seseorang mengakui jasa, kebaikan dan potensinya dan menunjuk Ghubash untuk menjabat sebagai Menteri Negara UAE pertama untuk urusan luar negeri pada 12 Desember 1973.

Anak-anak Ghubash tumbuh dan dibesarkan dalam lingkungan intelektual dan memiliki kecerdasan dan rasa ingin tahu yang sama satu sama lainnya.

Menurut Nusseibeh, kematiannya merupakan korban dari terorisme buta dimana Ia juga seorang yang bersuara keras mengecam pendudukan Palestina dan menghabiskan seluruh hidupnya untuk membelanya. Pada peringatan kematiannya, bangsa ini berpikir kembali bagaimana dampak yang mendalam atas kejahatan terorisme yang tidak hanya terasa bagi individu namun juga pada skala umat manusia secara keseluruhan.

Kitapun bisa belajar padanya, betapa besar kontribusi yang diberikannya pada negara ini dan bagaimana UAE bisa tumbuh, berkembang terus adalah berkat usaha dan dedikasinya sebagai seorang warga negara. Sangat tidak mungkin bagi bangsa ini untuk melupakan jasa Saif Ghubash bahkan setelah 30 tahun kematiannya. Ia adalah milik generasi bangsa ini yang memiki visi dalam mempelopori perubahan dan pembangunan di UAE. Pada lebih dari setengah abad yang lalu sebelum negara federasi ini ada dalam cita-cita, warga negara di sini menderita buta huruf, kemiskinan, kedunguan, serta kebodohan. Namun, bagi generasi selanjutnyalah yang ditunggu untuk dapat memikul tanggung jawab terhadap kemajuan bangsa ini dan membekali diri melalui pendidikan.