Rabu, 20 Februari 2008

Pada saat membongkar isi lemari dan membereskan tumpukan majalah mingguan langgananku, di sebuah halaman terbuka secara tidak sengaja aku bertemu dengan Dr. John Demartini. Kuhentikan sejenak kegiatan beres-beresku dan fokusku beralih padanya untuk beberapa saat. Majalah itu kubeli sudah sekitar sebulan lebih, namun profilenya baru kubaca beberapa hari yang lalu.
Kutipan kata-kata panjangnya yang ingin coba kuingat adalah :
“Figuring out what you want to do is perhaps the single biggest challenge. Like a pebble in your shoe that you just can’t get rid of unless you stop, remove the shoe and find it, the feeling that you want to do something but don’t know what that something is, is a familiar frustration. We change jobs, shift houses, relocate to different cities, countries, even continents; we acquire newer cars, mobile phones; we change our looks, hair colour … yet the pebble in the shoe continues to hurt as you walk. Eventually we settle for the illusion that there’s something better out there but it is out of reach. Simple. The pebble wins. But not if you are a Demartini. “Deep down we all know what we want to do but we have seven primary fears that prevent us from admitting this to ourselves, the first is breaking a moral or spiritual (principle) ; the second is not being smart enough, intelligent enough or not having a degree; the third is the fear that you might fail at it; the fourth is that you might not make money at it or might even lose money doing it; the fifth is losing loved ones or fearing that you may lose the respect of loved ones; the sixth is the fear of rejection; and the seventh is the fear that we don’t have the body, the vitality or the looks it may take to do it. “Selanjutnya,
These seven fears cloud the clarity of our thoughts. Deep inside, we know what we would like to dedicate our lives to but these fears … make us lie to ourselves saying we ‘don’t know’. Selanjutnya lagi,
But if we don’t have the body or the brains for the task we have set for ourselves, we are not going to make it. Not necessarily, The quality of your life’s success depends on the quality of the questions you ask. If you ask yourself question such as : ‘how is the body that I have going to give me the leverage to do what I love ?’ Or, ‘how is my intelligence and education going to help me achieve my goal?’, you will find that there’s a way you can reach it with your given equipment and qualities.
Dr. John Demartini adalah seorang guru dan pimpinan sebuah industry pengembangan personal dan professional. Selama 35 tahun waktunya dihabiskan untuk menemukan prinsip-prinsip universal mengenai hidup. Ia telah menemukan sebuah metode untuknya. Sebuah motode yang dikembangkan dari studynya tentang
Quantum Physics. Metode ini dapat mengurangi stress, menyelesaikan konflik, dan membuka mata serta hati mengenai perspektif baru tentang berbagai tantangan hidup. Demartini yang kulihat di gambar itu terlihat masih muda. Kalau 35 tahun Ia mengkaji ini semua, lalu, sejak berapa tahun Ia memulainya. Wajahnya yang muda dan segar tidak akan ada yang menyangka kalau umurnya sudah 53 tahun. Namun tampak seperti 35 tahun. Lebih dari 10 tahun tampak lebih muda dari usianya. Ia mempunyai rahasia mengapa dirinya tampak muda, menurutnya, “
the secret to looking youthful is to do what you enjoy and enjoy what you do”Demartini menemukan metode dalam menyiasati tantangan hidup bukan karena kegiatan study formal tentang motivasi atau semacamnya. Namun, Ia menemukan ini karena mempelajarinya dengan menjalani hidup sebagai sebuah pemberian tugas besar
(taskmaster).Pada usia 6 tahun, seorang counsellornya mengatakan bahwa kemungkinan Ia tidak akan mampu membaca, menulis, dan berkomunikasi karena setelah didiagnosa bahwa Ia mengalami gejala
dyslexia. Namun, ketika memulai sekolah dasar, Demartini banyak dibantu oleh teman-temannya. Akan tetapi, kedua orangtuanya pindah dari Houston Texas, ke daerah Texas pedesaannya, dimana Demartini kehilangan support dari lingkungan sekolahnya. Pada saat itu, Ia gagal dalam ujian dan akhirnya drop out ketika menginjak usia 14 tahun. Aku jadi ingat ketika dulu sekolah SD, ada satu orang temanku yang tidak pernah naik kelas selama 4 tahun berturut-turut. Ia hanya sanggup naik hingga kelas 4 SD. Sampai akhirnya Ia drop out dan merasa putus asa. Ia adalah anak yang paling besar dikelas waktu itu. Mungkin Ia juga malu dan kehilangan support sama sekali. Aku tidak tahu apakah kasus temanku sama dengan Demartini kecil atau tidak. Tapi, bila merujuk pada metode
Quantum Physic, kurasa mungkin saat ini temanku itu sudah jadi sarjana. Hhmmm…entahlah
Setelah mengalami drop out, Demartini terombang ambing dalam hidup yang tidak menenentu, Selama 4 tahun Ia hanya hidup di jalan-jalan hingga berakhir di kepantaian Hawaii menikmati ombak dengan bermain surfing di pantai utara Oahu yang terkenal.
Namun, momen dipantai inilah yang justru menjadi titik baliknya dalam memaknai hidupnya yang berikut. Saat itu, Demartini berusia 17 tahun. Ia mengalami keracunan serius melalui
strychnine poisoning yang berbahaya hingga hampir menghabisi nyawanya. Tuhan dan nasib baik masih berpihak padanya. Ia diberi kesempatan untuk tetap hidup. Sejak saat itu, melalui perkenalannya dengan Dr. Paul Bragg, Ia terinspirasi untuk mendedikasikan hidupnya dengan menjadi seorang guru, konsultan, dan pilosof.
Dr. Paul Bragg adalah seorang guru berusia 93 tahun yang bijaksana, dan pendukung sikap hidup holistic. Karya Dr. Paul Bragg bersama para muridnya sangat luar biasa dalam menginspirasi Demartini. Hingga Ia memutuskan untuk mengikuti jalur ini dan mempelajari seluk-beluk menjadi seorang chiropractic dan peneliti klinis sehingga Ia dapat membantu menyembuhkan penyakit orang.
Sejak saat itu, Ia menenggelamkan diri dalam kajiannya pada hampir 28.000 teks dari berbagai disiplin ilmu pengetahuan; dimulai dari psikologi, filsafat, metafisik, teologi, neurologi, fisiologi.

Dalam perjalanannya Ia menemukan banyak hal yang membukakan matahatinya. Ia pernah mengenal dan bekerja bersama seorang pengusaha di Afrika selatan yang mencapai sukses sebagai pengusaha tanpa pernah melewati jenjang sekolah tinggi. Pengusaha tersebut dulu sempat berpikir tidak akan pernah mencapai kesuksesan sebanding dengan mereka yang mempunyai gelar pendidikan. Demartini menanyakan padanya apa yang membuatnya special dan mengapa tanpa pendidikan bisa memberikan sebuah manfaat baginya?
Ia berpikir dan menemukan 39 cara dimana ternyata sebenarnya tanpa melalui pendidikan formal dirinya lebih tergerakkan untuk maju, terpacu untuk dapat berinterkasi dengan lebih baik dengan banyak kalangan, Ia banyak menemukan apa yang dia butuhkan secara lebih baik,..hingga Ia berpikir dan merasa bahwa Ia sungguh berhak untuk dapat meraih kesuksesan dan mewujudkan karyanya. Jadi
Menurutnya adalah bukan apa yang terjadi pada kita dengan mengandalkan segala sesuatu yang datang dari luar, tetapi bagaimana kita nmempersepsikan semua itu dari dalam diri kita untuk dapat menentukan kesuksesan kita dan meraih pencapaian yang kita impikan.
28 pertanyaan berikut jawaban yang menyertainya bersamamuDemartini telah memformulasikan 28 pertanyaan yang akan membantu kita dalam melepaskan kungkungan emotional. Ia menyebut ini dengan istilah “memecahkan pengalaman” (
the breakthrough experience) karena mendorong kita menuju momen saat ini dengan membawa perspektif baru.
Menurutnya, hal ini penting untuk ditumbuhkan karena kita selama ini terbius dalam satu sisi cara pandang dan satu sisi kehidupan. Kita ingin kebahagaan tanpa kesedihan atau kesengsaraan, ingin memberi tanpa menerima atau menerima tanpa memberi, ingin mendapat perlakuan baik tanpa ingin menerima perlakuan yang kurang menyenangkan, kesenangan tanpa penderitaan,..dan seterusnya. Padahal hidup ini selalu mempunyai dua sisi. Ada hal yang nampak bagus, namun juga hanya tampak pertengahan atau rata-rata saja, ada yang sulit namun juga ada yang mudah dalam hidup ini. Apa yang membuat
the breaktrough experience yang dimilikinya unik adalah bahwa Ia tidak mencoba untuk mengajarkan kepada orang lain sebuah fantasi namun juga sebuah kegagalan hidup. Secara bertahap Ia mencoba menanamkan pada mereka sesuatu yang realistis, sebuah perspektif yang seimbang sehingga mereka dapat mempunyai sebuah fondasi yang kuat bagi diri mereka sendiri.

Demartini menyarankan untuk segera mencatatkan apa saja yang menjadi tujuan di ujung kepala kita yang paling puncak karena Ia muncul bukan seperti perintah atau aturan khusus yang tiba-tiba datang secara spontan. Hari berikutnya baca kembali, organisasikan, dan perhalus atau menyaringnya. Kemudian baca lagi pada hari berikutnya,…tambahkan, saring, modifikasi dan prioritaskan dalam sebuah daftar.
Terlepas dari ini,kita juga perlu menuliskan tujuh tahap tindakan. Tanyakan pada diri sendiri langkah apa saja yang akan diambil pada hari ini, yang akan membawa langkah kita lebih dekat pada tujuan kita besok harinya. Pada ujung hari, lihat hal-hal yang telah kita lakukan dan coret semua itu dalam daftar.
Pada hari berikutnya, tulis lagi tujuh tahap tindakan selanjutnya. Beberapa diantaranya mungkin hanya sebuah pengulangan, namun tidak menjadi masalah. Bersama setiap hari yang kita lalui, kita akan melihat kejelasan dalam tujuan kita dan kita akan memahami bahwa kitalah yang menyesuaikan dan mencocokkan dalam setiap tahap tindakan yang kita lakukan.
Demartini percaya bahwa tujuan hidup yang kita miliki berkembang seiring dengan pertumbuhan usia, dan oleh karena itu, mencapainya menjadi sebuah proses perjalanan
(journey) bukan tujuan akhir
(destination). Bagi mereka yang tekun dan gigih dalam melakukan dan menjalani apa yang mereka sukai, pada akhirnya akan menciptakan kehidupannya sebagaimana yang mereka sukai. Jika kita mengambil satu atau lebih tindakan setiap harinya menuju semua itu, maka kita akan mengalami kemajuan ke arah sebuah kehidupan sebagaimana yang kita inginkan.
Dulu Ia memimpikan untuk dapat mempunyai kesempatan berkeliling dunia, menginjakkan kaki pada setiap negara yang ada di dalam peta. Masih ada beberapa negara yang belum dapat Ia kunjungi saat ini..namun pada saat yang bersamaan juga Ia menyadari bahwa Ia telah dapat memujudkan mimpi Ia yang dulu dan memenuhinya dengan sangat baik.

Langkahnya sendiri dulu dalam mencapai berbagai tujuannya dimulai dengan belajar membaca. Sebab hingga usiannya yang ke 17 Ia masih belum dapat membaca dengan benar. Sebagaimana yang diutarakannya, pada usia 17 tahun, saat itu Ia mengambil sebuah buku dan membacanya halaman demi halaman. Pada saat itu Ia mengalami gejala
dyslexia bahkan hingga 5 tahun yang lalu pengaruh gejala tersebut masih sangat kuat menyiksanya. Namun, lambat laun, penyakit itu pelan-pelan berkurang sejak Ia mencoba mengembangkan metodeloginya, yang disebutnya, The Demartini Method, untuk membantu menghilangkan kesulitan-kesulitan itu karena penyakitnya. Saat ini Ia malah begitu akrab dengan
dyslexia dalam pekerjaan yang digelutinya.
The Demartini MethodThe Demartini Method, singkatnya, membantu orang dalam mengintegrasikan pikiran dan otak mereka untuk dapat berfungsi dengan lebih baik. Metode tersebut adalah serangkaian pertanyaan yang ditanyakan seseorang terhadap dirinya sendiri. Pertanyaan-tertanyaan yang bersifat probing atau penyelidikan ini cenderung untuk membawa pada keseimbangan persepsi kita serta membuka hati kita agar hanya dapat dipenuhi dengan rasa syukur, cinta, dan mengakui serta memberikan apresiasi pada diri kita dan orang lain di sekitar kita.
Menurutnya, cara ini dapat menghilangkan kungkungan emosional yang berasal dari dalam diri kita dan orang-orang sekitar kita. Cara ini bahkan membuat kita menjadi lebih terinspirasi dengan hidup kita. Bukankah kita adalah kapten dan nakhoda dari kapal kita sendiri? Realitanya adalah bahwa kita dapat menyesuaikan jalan hidup milik kita sendiri. Sejak Ia hampir menemui ajal pada usianya yang ke 17 tahun itu, Demartini telah belajar sesuatu yang baru, dan telah mengubah jalan hidupnya. Ia mengubah jalan itu berkali-kali. Menurutnya, kita mempunyai kapasitas dan kemampuan dalam mempersepsikan sebuah kejadian ke dalam cara-cara yang tak terhitung jumlahnya. Selanjutnya bagaimana kita mempersepsikan semua itu hingga dapat membawa arah jalan yang ingin kita ambil. Jadi, meskipun ada yang namanya takdir tuhan (
divine design) namun menurutnya kita dapat mempunyai kapasitas dan kemampuan untuk dapat mengubah dan menyelaraskannya dan sisi manusia kita akan menyesuaikan diri bersamanya.
Sebagai ilustrasi pada poin ini, Demartini membawa kita pada kejadian saat usianya 17 tahun ketika Ia memakan tumbuhan strychnine yang beracun itu. Ia juga mengalami masalah kekacauan syaraf dan harus melalui waktu 12 tahun untuk dapat menghilangkan gejalanya. Melalui kejadian ini, Ia tidak pernah lagi merokok. Ia juga hanya terfokus untuk mempelajari hukum-hukum kehidupan. Sehingga momen hampir meninggal tersebut mengubah sejarah jalan hidupnya.
Ketika itu Ia bergabung dengan kelas yang diasuh Dr. Paul Bragg. Ia mengajarkan tentang tubuh, pikiran dan semacamnya yang menginspirasikan Demartini untuk melakukan hal yang sama bersama orang lain, berbagi ide dan gagasan yang mungkin dapat membantu mereka dalam meluaskan hidup mereka dan membawanya kepada kehidupan yang lebih bermakna.
Pada saat usianya 24 tahun, Demartini telah dapat meraih gelar sarjana di bidang ilmu Biologi dan Biokimia dari Universitas Houston pada tahun 1978. pada usianya ke 28, Demartini menerima gelar Doktor dari Texas Chiropractic College dan lulus dengan
magnum cum laude.Ia kemudian memulai karirnya dengan membuka praktik sebagai seorang chiropractic. Pada tahun 1984, Demartini memulai karir ceramahnya, terutama dalam penyampaiannya pada organisasi-organisasi kesehatan dan perawatan. Selama beberapa tahun selanjutnya karir ceramahnya menyita banyak waktunya hingga akhirnya Ia memutuskan untuk
full time di bidang ini.
Karya John Demartini juga telah menarik banyak perhatian di Afrika Selatan dalam membantu meningkatkan mutu pendidikan. Ia telah menjalankan berbagai program bagi para remaja dan para mahasiswa muda tentang bagaimana menetapkan nilai (
value determination), dengan menghubungkannya dengan kurikulum, tujuan dan kebutuhan di dunia kerja. Sistem yang digerakkan oleh seluruh nilai-nilai ini digabungkan dalam sebuah kurikulum sekolah.
Demartini mengatakan bahwa cara ini telah mengakibatkan meningkatnya tingkat kehadiran siswa di sekolah. Para siswa menjadi lebih tertarik untuk membaca dan daya ingat mereka pun meningkat. Mereka kini tahu bagaimana merancang tujuan dan menciptakan tingkat kepercayaan dirinya. Mereka juga belajar tentang cara berkomunikasi secara efektif sehingga dapat mengurangi konflik yang muncul.
Ia mengatakan, Jika Ia sebagai orangtua, maka ia akan menciptakan bagaimana menggunakan teori ini untuk menjadi orangtua yang efektif. Jika anda ingin menghubungkan apa yang menginspirasi anak anda dengan apa yang ingin anda ajarkan, Misalnya, anak anda menyukai video games, maka kita jangan mengganggunya. Karena mereka akan selalu menyukai untuk memelajari tentang apa yang menginspirasi mereka, bukan apa yang menginspirasi anda para orang tua. Jadi, apabila matematika atau geografi yang ingin anak anda pelajari, adalah tugas anda untuk menemukan cara bagaimana mengajarkan ini semua melalui video games yang digemarinya.dan seterusnya.
‘The world’ is his oysterJohn Demartini melakukan perjalanan hampir 300 hari dalam setahun. Terkadang Ia naik kapal pesiar bernama TheWorld, dimana Ia melangsungkan berbagai workshopnya. Ia mempunyai rumah di Houston, New York dan beberapa di Australia, namun Ia jarang menempati rumah-rumahnya ini. Ia lebih banyak menghabiskan waktu dalam perjalanan. Sang isteri meninggal secara mengejutkan sekitar tiga tahun yang lalu akibat terserang penyakit kanker, meskipun baru-baru ini Ia telah menemukan cintanya yang lain.
Ia mempunyai tiga orang anak. Dua orang sudah masuk perguruan tinggi. Ia mengatakan, Ia tidak pernah memaksakan anaknya untuk melakukan apa yang diinginkannya. Ia hanya meminta anaknya mengikuti caranya menjalani hidup namun merekalah yang memutuskan apa yang ingin mereka lakukan dalam hidupnya.
Pada tanggal 3 februari lalu, John datang ke Dubai untuk mengisi ceramah. Kedatangannya membawa 35 tahun studynya tentang perilaku manusia (
human behaviour) dan memaksimalkan potensi manusia (
maximising human potential). Pada kata-kata terakhirnya yang dapat aku kutip di majalah itu, Ia mengatakan “
I am going to help inspire whoever happens to be in front of me to live their lives absolutely to the fullest…”Semoga bisa menginspirasi ….
makasih buat Bayu yang dah pinjemin beberapa foto cantiknya buat ngisi blogku..:)