Tuesday, May 19, 2009

Asmara di Dubai

Jumat, 21 September 2007


Sore ini, Shara seorang nasrani berkewarganegaraan Pakistan datang ke flatku. Ini adalah flat ke-empat yang kutempati sejak dua bulan setengah yang lalu. Shara adalah temannya Shazia, teman sekamarku yang juga sama berasal dari Pakistan. Namun Shazia beragama muslim. Setelah beberapa bulan menghilang, Shara datang pada saat aku sedang memasak untuk berbuka puasa. Ia tampak sumringah karena kebetulan perutnya pun keroncongan.

Kedatangannya kali ini untuk mencari biblenya yang tertinggal dan beberapa barang lainnya yang belum sempat diambil saat ia menginap selama beberapa hari dulu. Sambil menunggu Shazia yang masih di kantor, dan juga menunggu azan berkumandang, Shara menanyakan satu pertanyaan tentang apakah berdosa bila membunuh. dan aku melihat matanya berkaca-kaca. sebelum terlihat jatuh air matanya, Ia beranjak sebentar untuk mengecek mobilenya yang sedang dicharge di dapur. Dan Ia pun kembali duduk di meja makan dengan ekspresi yang dibuat senormal mungkin. meskipun aku merasakan di dalam hatinya, penuh dengan gemuruh.

Sekitar sebulan yang lalu, Rythm, teman kamarku yang lain yang berasal dari India, yang juga teman kerjanya Shazia, sempat sedikit bercerita tentang kehidupan yang dialami Shara. Saat ini Shara sedang mengandung seorang bayi buah percintaannya dengan sang kekasih di Dubai. Malangnya, kekasihnya tidak mau menikahinya. Shara pun kebingungan harus diapakan bayi itu. Marah, sedih, kecewa, menyesal, dan segala bentuk perasaan perih lainnya, tentu berkecamuk saat itu. Dalam kebingungannya, dimana saat itu Ia pun sedang tidak bekerja, akhirnya ia memutuskan untuk kembali ke Pakistan. Namun entah kenapa, kini Ia kembali lagi ke Dubai, dan menanyakan padaku tentang dosa tidaknya membunuh.

Di meja makan di hadapanku, Ia seakan tidak lagi bergairah dengan masakanku yang sebelumnya sempat tertarik. Ia hanya menatap makanan sekilas dan mengambil "Gulf News", newspaper yangkubeli sore ini. Ia membuka halaman demi halaman pada rubrik lowongan pekerjaan. Ia pun menanyakan apakah ada lowongan di tempatku bekerja.

Shara yang kutemui saat ini sedikit berbeda dengan dua bulan yang lalu. Aku sempat menyelidiki wajahnya yang sebetulnya manis juga. Kuturunkan pandanganku saat Ia tak memperhatikanku pada bagian perutnya yang terlihat membesar yang ditutupinya dengan jaket berbahan jeans biru itu. Perutnya memang membesar. Berbeda dengan dua bulan yang lalu.

Aku tidak tahu persis seperti apa kehidupan yang menimpanya. Aku hanya mendapatkan gambaran singkat dari Ryhtm, dan menangkap wajah gundah pada setiap kali Ia datang. Ia pun tidak bercerita dengan gamblang tentang masalahnya. Akupun sungkan untuk mengoreknya. Aku hanya mendengarkan saat ia hanya bercerita singkat tentang kesalahan yang Ia buat dimana Ia telah mempercayai penuh orang yang menghianatinya. Saat itu, aku hanya bisa mengatakan bahwa setiap orang pernah keliru. Besar kecilnya, kekeliruan tetaplah kekeliruan. tapi tidak seorangpun bisa merubah masa yang sudah lewat. Ketika tak seorang pun memaafkan dan menerima kita, kitalah yang harus tampil untuk memaafkan dan menerima diri kita sendiri. Aku pun bilang, untuk fokus dengan apa yang ingin dia lakukan untuk kehidupannya ke depan. Pasti akan ada jalan. Sebenarnya aku sungkan untuk berkata-kata seperti ini. Sebab akupun tidak terlalu dekat dengannya. tapi pada saat itu, Ia meminta saran padaku meskipun tanpa menceritakan masalahnya. Sebagai sesama perempuan, aku bisa merasakan apa yang dirasakannya. Aku hanya ingin membesarkan hatinya. itu saja.

Kedatangan Shara kali ini mengingatkanku pada segudang cerita asmara teman-teman kamarku ...

Ruwena, atau biasa dipanggil Weng, seorang perempuan mungil berasal dari Filipina. Dengan wajahnya yang masih sangat tampak belia, hampir tidak akan ada orang yang menyangka kalau usianya saat ini sudah mencapai 29 tahun. Keinginannya yang terbesar saat ini adalah ingin menikah, mempunyai anak, dan berkeluarga. Malang, Kekasih warga lokal yang dipacarinya selama 3 tahun itu, pergi meninggalkannya bersama perempuan lain. Hal itu diketahuinya saat Ia kembali dari liburan di tanah airnya. Sebagaimana yang diceritakannya padaku, Saat itu hatinya merasa bedebar. Ada rasa rindu yang mendalam untuk menemui kekasih yang tidak ditemuinya sejak lebih dari dua bulan. Apa boleh buat, yang diterimanya adalah berita tidak menyenangkan tentang pernikahan kekasihnya dengan perempuan yang juga berasal dari Filipina. Setiap hari selama berminggu-minggu, yangIa lakukan hanya menangis di tempat tidur. Entah anugerah atau malapetaka, segumpal darah calon manusia yang masih ranum yang ada di rahimnnya, keluar. Weng mengandung seorang janin hasil hubungannya dengan sang kekasih, namun Ia keguguran. Selain menangis, setiap hari yang dilakukannya hanya berdoa. Di sekeliling tempat tidurnya, berjajar gambar-gambar yang dipanggil Yesus dan Maria. Ada juga semacam sapu tangan yang berisi tulisan doa dari alkitab yang juga di tempelnya di dinding dekat tempat tidurnya. Ia bilang padaku, kalau kita yakin, Lord akan mengabulkan doa kita. Aku hanya diam dan mengangguk. Aku bisa merasakan perih yang ada dihatinya. Badannya yang kurus itu semakin nyata. Tapi itu semua sudah berlalu.

Saat ini Weng sudah bisa kembali menata hidupnya ke depan. Pekerjaan yang baru yang kini ditekuninya sebagai sales di sebuah perusahaan retail ternama itu pun, memberinya gaji yang lebih dari cukup. Bulan lau, Ia memperoleh komisi hampir sebesar gajinya. Weng kini mempunyai seorang kekasih yang sebangsa yang tidak dicintainya. Ia selalu bilang, aku memang bodoh, sebab hingga saat ini cintaku hanya untuk dia (mantannya red.) Ia hanya bilang, Ia kesepian.

Seorang perempuan matang berusia kepala empat bernama Randa. Seorang Ibu dan Egyptian yang telah memiliki dua orang anak remaja. Kedua anaknya tinggal di negaranya Mesir bersama sang suami. Pada minggu-minggu awal kedatangannya di flat kami, setiap ada waktu luang Ia selalu mengunci diri di kamar mandi. Salah seorang teman pernah mendengar isakan dari dalam kamar mandi. Terkadang aku perhatikan pandangannya kosong. Randa ini adalah seorang perawat di sebuah health care di kawasan elit Jumeirah.

Sebagaimana dengan Shara, aku juga tidak terlalu dekat dengan Randa. Saat-saat kita sedang berdua, aku kadang bertanya apa yang sedang dipikirkannya. sebab kadang Ia hanya diam menatap sesuatu dengan cukup lama. ''nothing...'' jawabnya singkat sambil sedikit senyum.

Minggu berikutnya, aku melihat beberapa kali Randa mabuk. Sesekali Ia tertawa dan bicara terpatah-patah. Ia sering tidak sadarkan diri dan sering tidur di kasurku. Kalau sudah begitu, sulit sekali untuk membangunkannya. Terpaksa aku mengungsi menginap di tempat teman yang lain yang berbeda flat.

Saat ini Randa sudah mulai bisa menyesuaikan diri dengan kehidupannya di Dubai. Ia sudah mulai tampak ceria berbeda dari biasanya. Kami sering memanggilnya mami. Karena usianya yang terpaut jauh dengan kami. Akhir-akhir ini Randa sering pergi bersama laki-laki yang dulu diakui sebagai brothernya. Temanku bilang itu boyfriendnya. Aku sendiri tidak tahu persis karena jarang bercakap-cakap tentang masalah pribadi dengannya. Hanya suatu hari Ia pernah bilang padaku, we can't trust all guys, pitri... all same.. all pitri..

Lain lagi dengan Rythm, perempuan 27 tahun yang 9 tahun pacaran bersama kekasih Indianya yang berkasta brahmana itu dijodohkan dengan perempuan pilihan orang tuanya. Suatu siang Ia datang dengan terisak. Sambil tersedu, Ia bilang, He gonna get married this month...dia tunjukkan sebuah tato bertuliskan Rythm loves Rakesh. Tato itu permanen. Rupanya sebuah perban kecil yang menutupi sebagian lengannya yang tak pernah dilepaskannya itu adalah tato cinta yang sulit hilang. He's my life..I never have any realtions only with him since 9 years ago...melanjutkan isaknya...

Ini adalah Tere. Perempuan asal Yogjakarta ini pernah menetap di Alabama, Amerika Serikat selama lebih dari setahun pada usianya yang ke 22 tujuh tahun yang lalu. Perkenalannya dengan Rick lelaki kelahiran California lewat Internet membawanya ke sana. Setelah lebih dari setahun, hubungan asmarapun bubar dan Ia kembali ke Indonesia.

Saat ini Tere bekerja bersamaku di Le Pain Quotidien sebagai waitress. Ia adalah satu-satunya setelah aku yang tidak mempunyai latar belakang hospitality sama sekali. Ia sering mengeluh pada customer tentang pekerjaan yang tidak disenanginya dan menanyakan pada mereka kemungkinan bisa mendapatkan pekerjaan yang lebih baik di perusahaan mereka. Beberapa customer dekat dengannya. Meskipun tampaknya hanya sebentar-sebentar. Aku juga tidak tahu kenapa. Aku jarang menanyakan hal-hal yang bersifat pribadi padanya.


Sejak pertama datangke Dubai, di minggu-minggu awal, Ia bertemu dengan seorang berkebangsaan Libanon di sebuah stadion olahraga saat kami berdua bersama teman-teman yang lain menonton pertandingan sepak bola di kawasan Safa. Hubungan merekapun tampaknya berlanjut. Dan tampaknya mereka semakin dekat. Lelaki yang dipacarinya hanya sebulan itu, pada saat itu sedang tidak bekerja. Ia dipecat dari tempat kerjanya karena dituduh menggelapkan dokumen. Sulit mencari kembali pekerjaan apalagi dengan reputasi yang sudah jatuh, akhirnya Ia kembali ke Libanon. Sejumlah janji yang diucapkannya hanya tinggal janji. Sebab selang tiga bulan kemudian tidak pernah lagi ada kabar setelah kepergiannya. Namun kali ini Tere temanku ini tak lagi sedih. Ia betemu dengan seorang costumer lokal yang memberinya nomor telepon di awal jumpa. Hubunganpun berlanjut. Keduanya semakin dekat dan merekapun pacaran.

Akhir-akhir ini Ia sering mengeluh karena setelah sebulan tak pernah lagi ada kabar dari sang pacar. Yang kutahu, kini Ia sendiri lagi.

Bagaimana denganku? biarlah aku simpan cerita asmaraku untukku sendiri. Ada deeh... Hiks..: )

1 comment:

  1. assallamuallaikum..
    pitri, aku suka sekali baca blog mu..
    sangat menarik teman..
    apakah sekarang kamu masih di Dubai pit?

    ReplyDelete