
Seorang teman yang membaca tulisan di blog-ku berkomentar : " bagus Pit. Aku nanti sering-sering mengunjungi blogmu deh. Biar tahu Saudi .."
Seorang temanku yang lain, yang berkenalan via Internet lewat jalur yahoo massenger, bertanya : " Kemana aja? Jadi ke Dubai? ke Dubai ngapain ? mau jadi TKI yah ? ha..ha.. "
Dua orang temanku ini hanya salah satu dari beberapa komentar yang sampai padaku.
Seperti halnya aku sendiri, pada saat pertama kali memutuskan untuk bekerja dan tinggal di Dubai, bagiku Dubai adalah sebuah istilah asing sebagai sebuah kawasan yang terletak di wilayah Arab. Apa itu Dubai, dimana, bagaimana, gelap. Akhirnya aku coba search lewat internet, coba juga cari informasi lewat teman-teman yang cukup mengetahuinya, hingga akhirnya sampailah aku di Dubai ini.
Apa yang kulihat dari Internet tentang gambaran Dubai, memang tidak terlalu persis sama dengan kenyataan yang sebenarnya. Semua gambaran baik yang kudapat melalui internet maupun informasi dari teman-teman lainnya, cukup menunjukkan bahwa Dubai adalah sebuah kawasan metropolitan arab yang syarat dengan tempat-tempat wisata yang menarik. Bisa dikatakan sebagai syurganya arab ; Semua orang dari berbagai penjuru dunia datang baik yang hanya sekedar untuk berlibur, maupun bekerja dan menetap di sini.

Gambaran-gambaran indah dari berbagai media yang kuketahui, dengan kawasan apartemen mewah yang terbentang megah dan unik membentuk pohon palem di pinggir pantai, sebagai sebuah ciri khasnya, itu hanyalah sebuah proyek yang belum jadi.
Seperti di awal, aku gambarkan, Dubai adalah sebuah negara bagian di kawasan Uni Emirat Arab (UAE) yang sedang membangun. Ia merupakan negara baru yang perkembangannya sangat pesat. Dimana-mana pembangunan.
Belum lama aku membaca sebuah email dari sebuah milis yang kuikuti. Ada 20 kekecewaan dari seorang yang bernama Tia O'neill mengenai Dubai. Bisa dikatakan kekecewaan karena dari ke 20 item itu menegaskan alasan-alasan orang untuk tidak menetap di Dubai.
Secara umum, aku setuju dengan apa yang dipaparkannya. Sebab, hal itu juga merupakan fakta yang kurang lebih aku juga merasakannya. Akan tetapi, lain O'neill, lain juga diriku. penilaian-penilaian itu bagiku meninggalkan beberapa catatan.
Kehidupan orang-orang di Dubai memang sangat materialistis. Warga masyarakat yang tinggal di Dubai dimanjakan dengan fasilitas yang harganya relatif terjangkau oleh sebagian besar masyarakat yang mempunyai pekerjaan yang layak. Sebab, rate salary yang diberikan cukup bisa mengimbangi daya beli masyarakatnya ; seperti mobil, HP, komputer, atau laptop atau barang-barang lainnya. Selain itu, dubai merupakan negara muslim arab yang cukup terbuka dibandingkan dengan negara-negara muslim arab lainnya. Secara umum, Dubai juga merupakan negara yang cukup aman dan relatif stabil. Tinggal serumah tanpa menikah, di sini lumrah. Secara resmi, tentu saja ini tidak dibenarkan secara hukum yang berlaku di sini. Namun pada faktanya, hal ini sudah menjadi rahasia umum. berbeda dengan pengalaman beberapa orang temanku yang pernah tinggal di Kuwait, dimana negara tersebut masih tertutup untuk menerima gaya hidup seperti itu, di Dubai tidaklah demikian.
Di Kuwait, para petugas keamanan dapat merazia flat-flat yang disewa, apakah ada praktek-praktek terlarang di dalamnya. Sementara di Dubai, pemeriksaan-pemeriksaan seperti itu dianggap mengganggu hak privasi orang. Petugas hanya memeriksa apabila ada laporan terutama yang menyangkut tindakan kriminal seperti praktek obat-obatan terlarang. Seperti beberapa bulan yang lalu, temanku asal Morocco, yang tinggal bersama kekasihnya asal Myanmar, diciduk aparat karena terbukti memiliki kokain sekian gram di kamarnya. Saat ini dia ditahan 4 tahun kurungan atas tuduhan tersebut. Dan yang menegaskan hukumannya adalah krena kepemilikannya tas kokain bukan kehidupan pribadinya dengan perempuan asal Myanmar itu.
Selain itu, secara umum di sini bisa dikatakan aman. Sebelumnya aku juga sempat menggambarkan bahwa orang dapat memarkir kendaraannya di tempat-tempat terbuka tanpa merasa was-was. Belum lama, temanku yang berasal dari Libanon, kunci mobilnya tertinggal di dalam mobil. Ia baru sadar, bahwa kunci mobil itu tidak bersamanya setelah seharian meninggalkan kunci itu di dalam mobilnya. Kami semua tidak ada yang khawatir, kecuali aku. Saat itu, dalam bayanganku, mungkin mobil itu hanya tinggal kenangan. Akan tetapi, teman-temannku malah mentertawakannku. Dengan enteng mereka bilang, kalaupun tidak ada, mungkin orang hanya pinjam untuk pergi ke supermarket selama tidak lebih dari satu jam. Saat itu aku tetap tidak mengerti. Akhirnya mereka menjelaskan bahwa di sini, (di Dubai, red.) mudah untuk melacak kriminal. Sebab, hukum di sini berjalan, aparatnya di mana-mana, dan wilayahnya tidak luas. Singkatnya, ketika dua diantara temanku (yang satunya dari Tunisia, yang sekarang sedang pulang kampung mau merit, hee...Congratulation Siraj..) mengecek, mobil itu masih ada di sana. Dan aku pun akhirnya mengerti.

Prostitusi di Dubai, Seperti yang kuceritakan di awal, O'neill benar, memang terjadi terang-terangan. Bagaimana ini bisa marak, itu juga pertanyaan bagiku. Sebab Dubai adalah negara muslim yang khas muslim Arab. Bukan seperti Turki atau Tunisia yang lebih ke Eropa dan Barat. Tapi inilah realitanya. Jangan heran ketika orang-orang arab yang dengan pakaian kebesarannya yang serba putih itu yang di sebut Kandoorah ini, melakukan transaksi seks di pinggir-pinggir jalan. Ini umum terjadi. Terutama di kawasan Deira, wilayah dimana aku tinggal saat ini. Sejauh ini, aku belum melihat atau mendengar ada razia PSK seperti yang terjadi di beberapa wilayah di tanah air. PSK di sini, seperti seakan-akan bagian dari profesi lain yang diakui di Dubai. Mereka bisa hidup dan "bekerja" dengan leluasa. Mereka hanya mempunyai cuti panjang atau aku dan teman-teman sering menyebut istilah guyonan anual leave atau vacation ketika ramadan tiba. ( secara khusus, bagaimana suasana ramadan di sini akan kuceritakan di bagian yang lain)
Bagi sebagian, abaya dan kandoora hanyalah bagian dari tradisi bangsa arab meskipun secara bersamaan mereka juga mengakui, hal ini bagian dari ajaran agama untuk menutupi aurat. Namun bagi sebagian yang lain abaya bukan hanya tradisi tapi juga pakaian yang dianjurkan oleh ajaran agama sebagai penutup aurat dengan warnanya yang tidak mencolok yang serba hitam tersebut. Dan bahkan bukan hanya rambut yang mereka tutupi, tetapi sebagain dari mereka juga menutupi wajah seluruhnya atau sebagian wajahnya, dimana hanya dua bola matanya saja yang tampak.
Di tanah air, atau di sebagain wilayah negara lainnya, apabila bertemu orang yang berpakaian serba hitam, apalagi yang ditutupi wajahnya, kemudian yang laki-lakinya serba putih, maka barangkali kita akan serta merta melihat mereka sebagai ekstremis. Dan akan lebih mengejutkan lagi bila ternyata orang-orang yang dianggap ekstremis ini berbelanja di pusat-pusat belanja Pasar Raya misalnya, orang akan dibuat aneh oleh keberadaan mereka oleh karena penilaian kita yang sepihak itu. (ha..ha..selamat bingung dan berputar-putar dengan pikiran sendiri..ha..)
Aku pribadi tidak melihat ada sisi yang buruk dari tradisi berbusana warga lokal di sini. Bagiku, tradisi ini bagian dari kekayaan yang dimiliki warga arab terutama UAE sebagai bagian dari ciri khasnya yang ingin coba dipertahankan. Oleh karena itu, dengan tingkat akses dati pertukaran budaya yang tinggi dewasa ini, maka sangat mungkin bila otoritas di sini sangat menganjurkan warga aslinya untuk tetap menggunakan abaya dan kandoora sebagai bagian dari warisan budaya mereka.
Berbeda dengan di tanah air dan di bagian wilayah negara-negara, mereka yang berbusana seperti ini barangkali akan sangat sulit memperoleh akses bekerja dan kebutuhan dasar lainnya. Jangankan pada mereka yang berpakaian serba hitam ini, pada mereka yang hanya berpakaian panjang biasa dan menutupi kepalanya saja, sudah sulit. Entah kecurigaan macam apa yang merasuki orang-orang yang mempersulit akses mereka untuk memperoleh hak-hak mereka sebagai manusia bebas.
Kalau O’neill melihat ada yang keliru dari pakaian jeans di dalam yang berbungkus abaya, bagiku tidak ada masalah. Dalam dunia dewasa ini yang semakin tercampur antara budaya satu dengan lainnya, terutama di UAE dan Dubai sebagai negara muslim arab yang cukup terbuka bagi masuknya budaya luar, tentu kemungkinan terdapat akulturasi, modifikasi, asimilasi, yang salah satu contoh kecilnya tercermin dari corak berbusana, hal ini sah-sah saja. Lumrah-lumrah saja. Apa yang salah dengan itu?
Aku juga punya pendapat sendiri tentang masyarakat lokal yang datang ke restoranku. Aku bisa katakana hampir semuanya ramah dan tidak neko-neko. Aku sangat respek terhadap mereka dalam cara mereka memperlakukan kami. Meskipun mereka komplain, tetapi sopan dan tetap membayar. Berbeda dengan warga pendatang, termasuk warga eropa, saya hanya bisa mengatakan sebagian saja dari mereka yang tidak neko-neko. Sebagiannya lagi, minimal menunjukkan wajah yang sangat tidak menyenangkan. Bila dulu secara apriori aku menganggap orang-orang arab secara umum kasar, tidak manusiawi, dan bodoh. Anggapan itu ingin aku ubah. Aku tetap bisa merasakan kehangatan mereka, sikap apa adanya dan kesederhanaan. Lain warga local UAE atau Dubai khususnya, lain lagi dengan warga arab Libanon, Syiria, Jordan, dan Mesir. Pada sebagain mereka, ada kecenderungan arogansi. Demikian juga dengan tamu-tamu lainnya. Mereka sebagian ada yang selalu ingin tampak berpendidikan, lebih terpelajar, “wah”, bersikap berjarak, dan “jaim”.
Entah apa yang membuat ini berbeda. Barangkali arab yang dianggap terbelakang namun di sisi lain juga merupakan Negara yang kaya, merupakan tuan rumah. Sementara mereka yang “menumpang hidup” sebagian juga berasal dari negara-negara maju, seperti Australia, German, India, dan terutama UK. Aku juga sering mendengar hampir semua warga Eropa, Amerika, dan UK, yang berbincang denganku, mereka tidak suka dengan warga lokal dengan alasan yang beragam terutama masalah professionalisme mereka di wilayah kerja.
Dalam beberapa hal, aku rasa memang inilah kekurangan yang harus di benahi dalam tradisi bangsa arab dalam berhubungan dengan bangsa lain di dunia kerja. Suasana kerja yang mendahulukan kelompoknya, gaya patron dan klien yang masih kuat, style kerja yang lamban, dan malas. Kalau melihat dari perilaku orang Arab sini umumnya dengan warga Eropa atau barat lainnya, seperti perbandingan warga desa yang ramah, jujur, apa adanya dengan warga kota yang dingin, cerdik dan intelek. Begitulah kalau disederhanakan.
Akan tetapi, Muhammad Rasyid sebagai rulernya Dubai dan Vice Presidennya UAE ini, juga seorang yang visioner, berkarakter, punya pengaruh dan sangat kaya. Selama aku tinggal di Dubai ini, aku banyak membaca tentang kebijakan-kebijakannya untuk memajukan Dubai khususnya dan UAE untuk tampil sebagai Negara Arab timur tengah yang bermartabat dan tidak dipandang sebelah mata oleh Negara-negara yang dianggap unggulan oleh dunia. Seperti memberikan kesempatan seluas mungkin untuk warganya untuk memperoleh pendidikan setinggi mungkin dengan menyediakan anggaran cukup untuk sektor ini dan selalu menyediakan program beasiswa bagi warganya untuk sekolah ke luar negeri.
Masih Bersambung ...
Seorang temanku yang lain, yang berkenalan via Internet lewat jalur yahoo massenger, bertanya : " Kemana aja? Jadi ke Dubai? ke Dubai ngapain ? mau jadi TKI yah ? ha..ha.. "
Dua orang temanku ini hanya salah satu dari beberapa komentar yang sampai padaku.
Seperti halnya aku sendiri, pada saat pertama kali memutuskan untuk bekerja dan tinggal di Dubai, bagiku Dubai adalah sebuah istilah asing sebagai sebuah kawasan yang terletak di wilayah Arab. Apa itu Dubai, dimana, bagaimana, gelap. Akhirnya aku coba search lewat internet, coba juga cari informasi lewat teman-teman yang cukup mengetahuinya, hingga akhirnya sampailah aku di Dubai ini.
Apa yang kulihat dari Internet tentang gambaran Dubai, memang tidak terlalu persis sama dengan kenyataan yang sebenarnya. Semua gambaran baik yang kudapat melalui internet maupun informasi dari teman-teman lainnya, cukup menunjukkan bahwa Dubai adalah sebuah kawasan metropolitan arab yang syarat dengan tempat-tempat wisata yang menarik. Bisa dikatakan sebagai syurganya arab ; Semua orang dari berbagai penjuru dunia datang baik yang hanya sekedar untuk berlibur, maupun bekerja dan menetap di sini.

Gambaran-gambaran indah dari berbagai media yang kuketahui, dengan kawasan apartemen mewah yang terbentang megah dan unik membentuk pohon palem di pinggir pantai, sebagai sebuah ciri khasnya, itu hanyalah sebuah proyek yang belum jadi.
Seperti di awal, aku gambarkan, Dubai adalah sebuah negara bagian di kawasan Uni Emirat Arab (UAE) yang sedang membangun. Ia merupakan negara baru yang perkembangannya sangat pesat. Dimana-mana pembangunan.
Belum lama aku membaca sebuah email dari sebuah milis yang kuikuti. Ada 20 kekecewaan dari seorang yang bernama Tia O'neill mengenai Dubai. Bisa dikatakan kekecewaan karena dari ke 20 item itu menegaskan alasan-alasan orang untuk tidak menetap di Dubai.
Secara umum, aku setuju dengan apa yang dipaparkannya. Sebab, hal itu juga merupakan fakta yang kurang lebih aku juga merasakannya. Akan tetapi, lain O'neill, lain juga diriku. penilaian-penilaian itu bagiku meninggalkan beberapa catatan.
Dubai bukanlah kalimantan atau kawasan-kawasan yang dilalui garis katulistiwa lainnya yang punya sejumlah besar pepohonan dan lahan-lahan hijau di dalamnya, yang beriklim tropis, dan lain-lain. Dubai bukanlah Belanda yang khas dengan bunga Tulipnya yang membentang membentuk karpet megah. Harus diakui bahwa Dubai hanyalah kawasan gurun pasir di pinggir laut. Itulah realitanya. Sebuah kawasan padang pasir yang coba disulap menjadi kawasan layak huni dengan berbagai kreasi-kreasi artifisialnya.
Kehidupan orang-orang di Dubai memang sangat materialistis. Warga masyarakat yang tinggal di Dubai dimanjakan dengan fasilitas yang harganya relatif terjangkau oleh sebagian besar masyarakat yang mempunyai pekerjaan yang layak. Sebab, rate salary yang diberikan cukup bisa mengimbangi daya beli masyarakatnya ; seperti mobil, HP, komputer, atau laptop atau barang-barang lainnya. Selain itu, dubai merupakan negara muslim arab yang cukup terbuka dibandingkan dengan negara-negara muslim arab lainnya. Secara umum, Dubai juga merupakan negara yang cukup aman dan relatif stabil. Tinggal serumah tanpa menikah, di sini lumrah. Secara resmi, tentu saja ini tidak dibenarkan secara hukum yang berlaku di sini. Namun pada faktanya, hal ini sudah menjadi rahasia umum. berbeda dengan pengalaman beberapa orang temanku yang pernah tinggal di Kuwait, dimana negara tersebut masih tertutup untuk menerima gaya hidup seperti itu, di Dubai tidaklah demikian.Di Kuwait, para petugas keamanan dapat merazia flat-flat yang disewa, apakah ada praktek-praktek terlarang di dalamnya. Sementara di Dubai, pemeriksaan-pemeriksaan seperti itu dianggap mengganggu hak privasi orang. Petugas hanya memeriksa apabila ada laporan terutama yang menyangkut tindakan kriminal seperti praktek obat-obatan terlarang. Seperti beberapa bulan yang lalu, temanku asal Morocco, yang tinggal bersama kekasihnya asal Myanmar, diciduk aparat karena terbukti memiliki kokain sekian gram di kamarnya. Saat ini dia ditahan 4 tahun kurungan atas tuduhan tersebut. Dan yang menegaskan hukumannya adalah krena kepemilikannya tas kokain bukan kehidupan pribadinya dengan perempuan asal Myanmar itu.
Selain itu, secara umum di sini bisa dikatakan aman. Sebelumnya aku juga sempat menggambarkan bahwa orang dapat memarkir kendaraannya di tempat-tempat terbuka tanpa merasa was-was. Belum lama, temanku yang berasal dari Libanon, kunci mobilnya tertinggal di dalam mobil. Ia baru sadar, bahwa kunci mobil itu tidak bersamanya setelah seharian meninggalkan kunci itu di dalam mobilnya. Kami semua tidak ada yang khawatir, kecuali aku. Saat itu, dalam bayanganku, mungkin mobil itu hanya tinggal kenangan. Akan tetapi, teman-temannku malah mentertawakannku. Dengan enteng mereka bilang, kalaupun tidak ada, mungkin orang hanya pinjam untuk pergi ke supermarket selama tidak lebih dari satu jam. Saat itu aku tetap tidak mengerti. Akhirnya mereka menjelaskan bahwa di sini, (di Dubai, red.) mudah untuk melacak kriminal. Sebab, hukum di sini berjalan, aparatnya di mana-mana, dan wilayahnya tidak luas. Singkatnya, ketika dua diantara temanku (yang satunya dari Tunisia, yang sekarang sedang pulang kampung mau merit, hee...Congratulation Siraj..) mengecek, mobil itu masih ada di sana. Dan aku pun akhirnya mengerti.

Prostitusi di Dubai, Seperti yang kuceritakan di awal, O'neill benar, memang terjadi terang-terangan. Bagaimana ini bisa marak, itu juga pertanyaan bagiku. Sebab Dubai adalah negara muslim yang khas muslim Arab. Bukan seperti Turki atau Tunisia yang lebih ke Eropa dan Barat. Tapi inilah realitanya. Jangan heran ketika orang-orang arab yang dengan pakaian kebesarannya yang serba putih itu yang di sebut Kandoorah ini, melakukan transaksi seks di pinggir-pinggir jalan. Ini umum terjadi. Terutama di kawasan Deira, wilayah dimana aku tinggal saat ini. Sejauh ini, aku belum melihat atau mendengar ada razia PSK seperti yang terjadi di beberapa wilayah di tanah air. PSK di sini, seperti seakan-akan bagian dari profesi lain yang diakui di Dubai. Mereka bisa hidup dan "bekerja" dengan leluasa. Mereka hanya mempunyai cuti panjang atau aku dan teman-teman sering menyebut istilah guyonan anual leave atau vacation ketika ramadan tiba. ( secara khusus, bagaimana suasana ramadan di sini akan kuceritakan di bagian yang lain)
Warga lokal UAE khususnya, memiliki tradisi berbusana yang khas ketika pergi keluar rumah. Bagi yang perempuan, mereka memakai abaya, abaya adalah busana panjang yang berwarna dasar hitam dengan selendang yang disangkukan ke kepala. Bentuk dan corak abaya ini bervariasi, ada yang tertutup penuh, tetapi ada juga yang seperti jas besar dimana tampak belahan panjang dibagian depan sehingga sebagian pakaian di dalamnya, baik celana jeans, rok, atau celana panjang biasa berbahan katun, sebagai pakaian luarnya mereka memakai abaya. Selendang yang disangkutkan ke kepala pun tidak selalu menutupi seluruh rambut
tapi sebagian ada juga yang tampak rambut bagian depannya dengan dikreasikan sedemikian rupa. Pada prakteknya, abaya ini pun tidak hanya digunakan oleh penduduk asli UAE tapi juga dipakai oleh para pendatang. Sementara, yang laki-lakinya memakai kandoora. Kandoora dalah pakaian panjang serba putih dengan bagian depannya tertutup penuh. Sorban di kepala tidak selalu menjadi atribut yang dipasangkan dengan kandoora. Mereka juga biasa memadankannya dengan pet atau topi atau kopiah bundar berwarna putih. Atau tidak memakai hiasan sama sekali.
tapi sebagian ada juga yang tampak rambut bagian depannya dengan dikreasikan sedemikian rupa. Pada prakteknya, abaya ini pun tidak hanya digunakan oleh penduduk asli UAE tapi juga dipakai oleh para pendatang. Sementara, yang laki-lakinya memakai kandoora. Kandoora dalah pakaian panjang serba putih dengan bagian depannya tertutup penuh. Sorban di kepala tidak selalu menjadi atribut yang dipasangkan dengan kandoora. Mereka juga biasa memadankannya dengan pet atau topi atau kopiah bundar berwarna putih. Atau tidak memakai hiasan sama sekali.Konon abaya ini wajib digunakan oleh perempuan warga lokal ketika mereka pergi keluar rumah. Tidak heran setiap saat kami bertemu mereka yang berwajah arab dan memakai abaya, maka sudah dapat dipastikan 99% mereka adalah warga lokal UAE. Abaya ini bagi mereka juga digunakan sebagai pakaian bekerja, sama dengan kandoora. Jangan heran ketika di mall, di kantor-kantor, ataupun di masjid-masjid terutama, mereka memakai pakaian yang sama. Lain halnya dengan di tanah air, ataupun di sebagian wilayah negara lainnya, pakaian seperti ini diidentikkan dengan tokoh-tokoh spiritual atau sebagai bentuk lahiriyah dari keshalehan seseorang. Barangkali kita akan menganggap aneh bila bertemu dengan orang yang pakaiannya serba hitam dan serba putih tertutup di sana-sini berada di Plaza Senayan, atau Pondok Indah Mall, maupun CiToS. Akan tetapi, di sini lumrah dan normal.
Berbeda dengan abaya, kewajiban memakai kandoora sebagai busana keluar rumah lebih fleksibel. Hal ini terbukti dengan seringnya aku melihat warga lokal laki-laki yang tidak selalu memakai kandoora ketika keluar rumah.
Bagi sebagian, abaya dan kandoora hanyalah bagian dari tradisi bangsa arab meskipun secara bersamaan mereka juga mengakui, hal ini bagian dari ajaran agama untuk menutupi aurat. Namun bagi sebagian yang lain abaya bukan hanya tradisi tapi juga pakaian yang dianjurkan oleh ajaran agama sebagai penutup aurat dengan warnanya yang tidak mencolok yang serba hitam tersebut. Dan bahkan bukan hanya rambut yang mereka tutupi, tetapi sebagain dari mereka juga menutupi wajah seluruhnya atau sebagian wajahnya, dimana hanya dua bola matanya saja yang tampak.
Di tanah air, atau di sebagain wilayah negara lainnya, apabila bertemu orang yang berpakaian serba hitam, apalagi yang ditutupi wajahnya, kemudian yang laki-lakinya serba putih, maka barangkali kita akan serta merta melihat mereka sebagai ekstremis. Dan akan lebih mengejutkan lagi bila ternyata orang-orang yang dianggap ekstremis ini berbelanja di pusat-pusat belanja Pasar Raya misalnya, orang akan dibuat aneh oleh keberadaan mereka oleh karena penilaian kita yang sepihak itu. (ha..ha..selamat bingung dan berputar-putar dengan pikiran sendiri..ha..)
Aku pribadi tidak melihat ada sisi yang buruk dari tradisi berbusana warga lokal di sini. Bagiku, tradisi ini bagian dari kekayaan yang dimiliki warga arab terutama UAE sebagai bagian dari ciri khasnya yang ingin coba dipertahankan. Oleh karena itu, dengan tingkat akses dati pertukaran budaya yang tinggi dewasa ini, maka sangat mungkin bila otoritas di sini sangat menganjurkan warga aslinya untuk tetap menggunakan abaya dan kandoora sebagai bagian dari warisan budaya mereka.
Berbeda dengan di tanah air dan di bagian wilayah negara-negara, mereka yang berbusana seperti ini barangkali akan sangat sulit memperoleh akses bekerja dan kebutuhan dasar lainnya. Jangankan pada mereka yang berpakaian serba hitam ini, pada mereka yang hanya berpakaian panjang biasa dan menutupi kepalanya saja, sudah sulit. Entah kecurigaan macam apa yang merasuki orang-orang yang mempersulit akses mereka untuk memperoleh hak-hak mereka sebagai manusia bebas.
Kalau O’neill melihat ada yang keliru dari pakaian jeans di dalam yang berbungkus abaya, bagiku tidak ada masalah. Dalam dunia dewasa ini yang semakin tercampur antara budaya satu dengan lainnya, terutama di UAE dan Dubai sebagai negara muslim arab yang cukup terbuka bagi masuknya budaya luar, tentu kemungkinan terdapat akulturasi, modifikasi, asimilasi, yang salah satu contoh kecilnya tercermin dari corak berbusana, hal ini sah-sah saja. Lumrah-lumrah saja. Apa yang salah dengan itu?
Aku juga punya pendapat sendiri tentang masyarakat lokal yang datang ke restoranku. Aku bisa katakana hampir semuanya ramah dan tidak neko-neko. Aku sangat respek terhadap mereka dalam cara mereka memperlakukan kami. Meskipun mereka komplain, tetapi sopan dan tetap membayar. Berbeda dengan warga pendatang, termasuk warga eropa, saya hanya bisa mengatakan sebagian saja dari mereka yang tidak neko-neko. Sebagiannya lagi, minimal menunjukkan wajah yang sangat tidak menyenangkan. Bila dulu secara apriori aku menganggap orang-orang arab secara umum kasar, tidak manusiawi, dan bodoh. Anggapan itu ingin aku ubah. Aku tetap bisa merasakan kehangatan mereka, sikap apa adanya dan kesederhanaan. Lain warga local UAE atau Dubai khususnya, lain lagi dengan warga arab Libanon, Syiria, Jordan, dan Mesir. Pada sebagain mereka, ada kecenderungan arogansi. Demikian juga dengan tamu-tamu lainnya. Mereka sebagian ada yang selalu ingin tampak berpendidikan, lebih terpelajar, “wah”, bersikap berjarak, dan “jaim”.
Entah apa yang membuat ini berbeda. Barangkali arab yang dianggap terbelakang namun di sisi lain juga merupakan Negara yang kaya, merupakan tuan rumah. Sementara mereka yang “menumpang hidup” sebagian juga berasal dari negara-negara maju, seperti Australia, German, India, dan terutama UK. Aku juga sering mendengar hampir semua warga Eropa, Amerika, dan UK, yang berbincang denganku, mereka tidak suka dengan warga lokal dengan alasan yang beragam terutama masalah professionalisme mereka di wilayah kerja.
Dalam beberapa hal, aku rasa memang inilah kekurangan yang harus di benahi dalam tradisi bangsa arab dalam berhubungan dengan bangsa lain di dunia kerja. Suasana kerja yang mendahulukan kelompoknya, gaya patron dan klien yang masih kuat, style kerja yang lamban, dan malas. Kalau melihat dari perilaku orang Arab sini umumnya dengan warga Eropa atau barat lainnya, seperti perbandingan warga desa yang ramah, jujur, apa adanya dengan warga kota yang dingin, cerdik dan intelek. Begitulah kalau disederhanakan.
Akan tetapi, Muhammad Rasyid sebagai rulernya Dubai dan Vice Presidennya UAE ini, juga seorang yang visioner, berkarakter, punya pengaruh dan sangat kaya. Selama aku tinggal di Dubai ini, aku banyak membaca tentang kebijakan-kebijakannya untuk memajukan Dubai khususnya dan UAE untuk tampil sebagai Negara Arab timur tengah yang bermartabat dan tidak dipandang sebelah mata oleh Negara-negara yang dianggap unggulan oleh dunia. Seperti memberikan kesempatan seluas mungkin untuk warganya untuk memperoleh pendidikan setinggi mungkin dengan menyediakan anggaran cukup untuk sektor ini dan selalu menyediakan program beasiswa bagi warganya untuk sekolah ke luar negeri.
Masih Bersambung ...
kak kebetulan saya ada tugas cari tau ttg kebudayaan atau kebiasaan dubai. blognya sangat membantu. dubai tuh negara atau kota yah? terus dubai punya lagu kebangsaan ga?
ReplyDeletekeren!!!
ReplyDeletejadi pengen ke dubai, tapi makasi ya kak, blognya sangat membantu untuk tugas saya.
Salam kenal mbaaak, boleh minta email atau alamat ig mbak pipit :)
ReplyDeleteMbak pipit pitri handayani heheehe
ReplyDeleteMakasih kak buat blognya sangat membantu buat saya yang baru mau kerja di dubai
ReplyDeleteMakasih kak buat blognya sangat membantu buat saya yang baru mau kerja di dubai
ReplyDelete